Sepenggal Waktuku Kini Kembali




Karya:  Dean Lise

Tak ku sangka secepat itu orang tuaku pergi. Satu tahun lalu ibu meninggal karena menderita kanker darah. Baru satu bulan lalu bapak menyusul ibu. Aku sangat terpukul saat itu. Padahal 1 minggu lagi bulan Ramadhan di depan mata. Bapak pun menitipkan aku pada mbak Yumna sebelum beliau menghembuskan napas terakhir. 



Aku adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Mungkin selisih umurku dengan kakak-kakakku cukup jauh. Sekarang aku masih duduk di bangku kuliah tingkat 3. Mbak Yumna dan mas Taufiq sudah berkeluarga. Anak mbak Yumna saja sudah kelas 7 SMP. Sepertinya aku lebih cocok dipanggil mas oleh keponakanku karena usia kami tidak terpaut jauh.

Aku sangat menyayangi bapak sampai-sampai bapak meninggal dalam pelukanku. Semoga bapak bahagia bersama ibu di sana. Mungkin mimpi beliau saat bertemu ibu adalah pertanda bahwa beliau akan dipanggil.

Tak terasa esok sudah memasuki 1 Ramadhan. Waktu begitu cepat berputar.

“Bu. Nanti kita jadi Tarawih bareng kan?” tanya Kahfi. “Maaf ya sayang. Ibu harus menyelesaikan urusan kantor. Kamu Tarawih sama om Azka aja ya. Azka, kamu nanti Tarawih kan?” tanya mbak Yumna. “Iya mbak. Udah, Fi, nanti sama om aja.” bujukku. “Ya udah deh kalau gitu. Ayo om kita siap-siap.”

Mas Fahmi, suami mbak Yumna sedang tidak di rumah. Dia sedang bertugas di Jakarta sedangkan kami di Surabaya. Aku merasa sepertinya Kahfi merasa kesepian di rumah. Mungkin dia ingin bisa Tarawih sekeluarga namun sepertinya sangatlah sulit. Bahkan ini sudah ketiga kalinya mas Fahmi tidak lebaran di sini karena memang tidak ada cuti lebaran untuknya. Apa tahun ini juga?

Akhirnya shalat Tarawih selesai juga.

“Om. Ibu kok gak mau Tarawih sih sama aku? Kenapa ibu lebih mentingin pekerjaan? Padahal ibu udah janji.” “Jangan ngomong gitu. Ibumu itu kan sementara single parent jadi kamu harus ngerti. Kalau kamu nanti udah kerja pasti sibuk juga. Kalau perempuan memang gak wajib shalat di masjid.” “Iya sih. paling enggak kan seminggu aja deh Tarawih bareng. Tapi ya udahlah kan masih ada om Azka. Sebenarnya Kahfi kangen sama bapak. Pasti bapak gak bisa lebaran lagi kan bapak harus jaga tangki minyak. Entar kalau ada mercon kan bahaya.” “Nah itu kamu tahu. Kamu kan udah SMP jadi harus tambah pintar. Hebat keponakan om.”


Tiba-tiba ada seorang cewek disenggol motor. Sialnya pengendara motor langsung kabur. Aku pun menghampirinya.

“Kamu gak apa-apa?” tanyaku. “Gak apa kok. Aku yang salah harusnya jalan di trotoar.” dia berusaha berdiri. “Kakimu sepertinya terkilir. Kalau gitu aku antar pulang aja ya.” aku membantunya berdiri. “Gak usah deh. Aku jalan sendiri aja. Gak enak merepotkan kamu.” tolaknya. “Udah gak apa. Kakimu kan terkilir jadi aku bantuin ya.”

Aku menuntunnya jalan perlahan. Kasihan juga dia bila tidak ditolong.

“Oh iya rumahmu dimana?” tanyaku. “Itu di blok C nomor 15. Kalau rumahmu dimana?” “Aku juga di blok C tapi nomor 12. Berarti kita tetanggaan donk?” “Itu bukannya rumah mbak Yumna ya? Kamu siapanya?” “Iya baru kemarin aku tinggal di sini. Aku adiknya. Oh iya kenalin aku Azka.” “Khansa. Salam kenal ya. Eh udah sampai. Kalau gitu aku masuk ya.” “Kamu gak apa masuk sendiri?” “Udah gak apa. Nanti aku panggilin adikku. Sekali lagi makasih ya. Maaf udah repotin kamu.” “Santai aja. Kalau gitu aku pulang ya. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam.”

Tibalah aku di rumah tercinta. Besok sudah puasa. Semoga kegiatan kampus tidak terlalu berat. Paling tidak tugas-tugas tidak ditumpah layaknya hujan membasahi bumi.

“Tadi aku berasa jadi obat nyamuk. Nginggg.” celoteh Kahfi. “Habis tadinya kamu diam aja.” kataku. “Om.” “Apa?” “Kok om mukanya mirip sama mbak Khansa? Eh tapi mbak Khansa tuh baik loh orangnya. Mbak Khansa juga sekampus sama om. Sekedar info aja sih.” “Mirip dari Hongkong. Eh tapi kok gak pernah ketemu ya?” “Om kan jurusan teknik mesin dan mbak Khansa arsitektur. Ya gak bakal ketemu.” “Kok kamu tahu sih?” “Aduh om. Mbak Khansa kan tetanggaku jadi masa aku gak tahu. Udah ah aku mau ke kamar. Aku  punya nomor HPnya loh om.” pancing Kahfi.

Dasar Kahfi selalu mencari gara-gara. Aku pun memutuskan untuk ke kamarku. Sebersit bayangan wajahnya melintas di pikiranku. Sepertinya benar kalau Khansa orangnya baik. Dia juga lemah lembut. Rasanya pikiranku sudah diracuni oleh wajahnya. Kami satu kampus tapi aku baru melihatnya. Semoga besok bisa bertemu dengannya.

***

Setelah dari perpustakaan, aku pun langsung pulang. Di tengah jalan aku melihat Khansa sedang menunggu taksi. Namun pandanganku tertuju pada seorang laki-laki yang sepertinya hendak menjambret tasnya.

“Khansa awas! Ada jambret!” teriakku.

Khansa langsung menyikut dan menendang selangkangan penjambret. Warga di dekat situ menghampiri Khansa dan membawa penjambret ke kantor polisi.

“Kamu gak apa kan?” “Iya gak apa. Untung ada kamu kalau enggak mungkin aku udah jadi korbannya. Tunggu deh. Kamu Azka kan?” “Iya. Tadi gak sengaja aja aku lewat sini. Oh iya kamu mau pulang?” “Iya nih. Tapi dari tadi taksi penuh.” “Ya udah bareng aku aja. Kan kita sekomplek.” “Gak apa nih? Entar ada yang marah lagi?” “Siapa coba yang marah? Mbak Yumna? Hehehe. Udah naik aja. Kan udah mau buka juga.” “Berarti gak ada yang marah donk. OK deh kalau maksa.”

Sayangnya jalanan macet total. Ini pasti karena jam berbuka puasa. Aku pun memutuskan untuk mampir di rumah makan terdekat karena kami harus berbuka puasa.

“Kita mampir dulu aja ya buat buka. Soalnya macet total. Aku naik motor aja susah buat nyelip.” “Iya sih. kalau udah jam buka pasti macet. Gak repotin kamu kan? Aku gak enak udah ditolong 2 kali.” “Kita kan harus saling membantu. Kamu pesan apa? Mbak saya pesan nasi ayam goreng dan es jeruk.” “Aku sama aja deh sama dia mbak.”

Sambil menunggu pesanan, aku dan Khansa berbuka dengan air mineral dulu.

“Kok kamu jauh banget beda umurnya sama mbak Yumna?” “Ya gitu deh. Dulu waktu mbak Yumna kelas 3 SMA, aku baru lahir makanya jauh.” “Pantasan aja. Oh iya. Aku turut berduka cita ya atas meninggalnya bapakmu.” “Makasih ya. Kalau boleh tahu kamu tuh kuliah di ITS juga ya?” “Iya. Emang kenapa?” “Sama donk. Aku anak mesin. Kamu pasti anak arsitektur?” “Kok tahu sih? Dari Kahfi ya?” “Hmmm gimana ya. Soalnya kamu udah berhasil merancang bangunan cinta di hati aku. Hahaha.” “Ih dasar tukang gombal. Kamu anak mesin ya?” “Kan tadi udah aku kasih tahu. Gimana sih.” “Aku kan juga mau gombal. Ah kamu gak asyik.”

Makanan pun telah diantar ke meja kami. Kami bersiap mengisi perut yang sedari tadi siap menampung makanan. Aku dan Khansa bergantian melempar canda untuk mencairkan suasana. Setelah selesai shalat Maghrib di masjid terdekat, aku memutuskan pulang melewati jalan pintas agar tidak terjebak macet. Tidak butuh waktu lama, sekitar 10 menit kami sudah di depan rumah Khansa.

“Makasih ya udah antarin aku. Pokoknya makasih buat semua kebaikan kamu.” “Sama-sama. Kalau gitu aku balik ya.” “Hati-hati ya.”

Baru saja Khansa berbalik badan, entah kenapa mulutku seolah ingin memanggilnya.

“Khansa.” panggilku. “Iya. Kenapa?” dia berbalik. “Kita masih bisa ketemu lagi kan?” itulah kata-kata yang terlontar dari mulutku. “Why not?” jawabnya. “Aku boleh minta nomormu gak? Itu pun kalau boleh.” kataku. “Boleh.”

Ada apa denganku? Kenapa aku mesti meminta nomornya?

Tiba di rumah aku dihadang Kahfi.

“Om. Kok om bisa pulang sama mbak Khansa? Om udah jadian ya?” dia seperti detektif saja. “Kalau ngomong jangan sembarangan. Ya enggaklah. Om gak mau pacaran maunya ta’aruf aja.” jelasku. “Tapi kok om pulang bareng?” tanyanya. “Tadi kebetulan ketemu. Udah kita siap-siap Tarawih yuk.” ajakku.

Kejutan hari ini karena ternyata mas Fahmi ada di rumah.

“Loh mas Fahmi lagi dinas ya?” tanyaku. “Sekarang mas sudah tidak tinggal di Jakarta lagi karena mas sudah dipindah ke sini.” katanya. “Kok gak bilang sih mas?” tanyaku. “Itu sih emang ide mbak buat gak ngasih tahu kamu sama Kahfi.” aambung mbak Yumna. “Asyik akhirnya kita bisa tinggal bareng. Aku kangen banget sama bapak. Akhirnya kita bisa Tarawih bareng dan lebaran bareng.” Kahfi memeluk mas Fahmi. “Ini semua berkah dari Allah yang harus disyukuri. Alhamdulillah Allah masih mendengarkan doa kita.” kata mas Fahmi. “Ibu juga akan ikut Tarawih. Yah berhubung tugas kantor udah selesai jadi ibu ikut.” kata mbak Yumna memberi kejutan. “Asyik. Wah tambah lengkap aja nih. Pak, bu, tadi om Azka boncengan loh sama mbak Khansa.” goda Kahfi. “Kamu pacaran ya sama Khansa? Gak apa sih toh orangnya baik.” kata mbak Yumna. “Fi, ember banget sih. Siapa yang pacaran juga. Ini jadi Tarawih gak sih?” kataku. “Iya udah-udah. Ayo Tarawih. Udah adzan juga.” ajak mas Fahmi.

Akhirnya kami bisa Tarawih bersama. Dulu aku Tarawih bersama bapak dan ibu, tapi sekarang merekalah temanku saat ini. Aku benar-benar berhutang budi dengan mbak Yumna. Dari dulu aku memang tidak berniat pacaran karena lebih baik ta’aruf. Kalau memang jodohku Khansa, aku yakin kami akan didekatkan oleh Allah SWT. Terus terang aku memang merasakan getaran yang berbeda ketika di dekatnya.

***

Sebenarnya apa yang aku rasakan ini? Apa aku jatuh cinta dengannya? Namun apa salahnya? Dia lelaki baik, peduli, dan juga shaleh. Sewaktu dia menolongku, jujur saja ketika melihat matanya aku merasa seolah jantungku berhasil dibuat berirama olehnya. Lalu apa yang bisa ku lakukan? Aku seorang perempuan jadi tidak mungkin aku mengakui perasaanku.

Aku juga tidak ingin larut dalam kegalauanku. Bila berjodoh pasti akan didekatkan oleh Allah. Memang benar jodoh tidak akan kemana tapi kita tetap harus mencarinya. Sejujurnya aku masih takut untuk mencintai lelaki karena aku sering melihat teman-teman perempuanku disakiti oleh pacarnya. Aku juga tidak ingin dipermainkan oleh lelaki.

Aku masih tetap acuh dengan statusku. Adik perempuanku, Fatinah, memang sudah memiliki pasangan. Ibu pernah menanyakanku soal laki-laki. Sudahlah lupakan saja. Semoga rencana Allah yang terbaik untukku. Aku tidak tahu apakah nasibku seperti Siti Fathimah yang menunggu kedatangan Ali bin Abi Thalib untuk melamarnya.

***

Tak terasa 10 hari lagi kami merayakan hari raya Idul Fitri. Saatnya berburu malam Lailatul Qadar. Setelah shalat Tahajud, aku membaca Alquran dan shalawat nabi. Benar-benar malam yang menyejukkan. Allah adalah Maha segalanya. Malam ini aku memohon petunjuk akan perasaan yang timbul di lubuk hati ini. Aku memang tak tahu kapan malam terindah itu datang namun setidaknya di 10 hari terakhir Ramadhan ini, aku berusaha mendekatkan diri pada-Nya.

Setelah shalat, aku melihat foto bapak dan ibu. Wajah mereka memang terlihat mirip. Kata orang bila ada kemiripan wajah kemungkinan berjodoh. Aku ingat Kahfi pernah melepaskan kata-kata bahwa aku mirip dengan Khansa. Semakin membuatku galau hal ini. Jam menunjukkan pukul tiga. Sepertinya mbak Yumna sudah bangun karena terdengar suara piring dari luar.

***

Selamat hari raya Idul Fitri. Hari ini aku shalat Id bersama keluargaku. Setelah sebulan penuh puasa di bulan suci Ramadhan, bulan Syawal pun disambut gembira oleh umat muslim. Setelah shalat Id, mas Taufiq dan keluarga pun datang. Akhirnya 3 bersaudara bisa berkumpul bersama. Aku senang kami bisa menjadi keluarga yang rukun. Walaupun aku yang masih sendiri namun suatu saat aku pasti akan menyusul mereka.

Di tengah tawa bahagia kami, Bi Sarah menghampiri kami dan mengatakan ada tamu. Ternyata Khansa dan keluarganya. Subhanallah, Khansa benar-benar cantik dengan senyum manisnya dan kerudung yang membalut rambutnya sempat membiusku sejenak. Keluargaku pun menyambut mereka dengan suka cita.

Setelah berjabat tangan, Khansa ke teras rumahku. Ternyata dia sedang menerima telepon.

“Telepon dari siapa?” “Oh ini tadi dari sahabatku di Jogja.” “Sahabat apa sahabat?” “Ih benaran sahabat kali.” “Sebenarnya aku kangen sama orang tuaku.” “Sabar ya. Kamu kan masih punya mas Taufiq dan mbak Yumna. Jangan sedih donk. Pasti orang tuamu ikut sedih.” “Makasih ya udah care sama aku. Khan, aku boleh ngomong sesuatu gak?” “Apa?” “Kan bulan Ramadhan tuh kita gak boleh bohong tapi sayangnya aku udah bohongin kamu. Sekarang aku mau jujur kalau aku suka sama kamu.” “Kamu gak lagi mau gombalin aku kan?” “Aku serius.” “Pantas.” “Pantas apa?” “Pantas kamu anak mesin. Karena kamu udah berhasil merakit mesin cinta di hati aku. Hehehe.” “Kamu bisa gombal ya ternyata. Jadi kamu mau kan nungguin aku sampai nanti aku melamar kamu?”

“Eits enak aja. Aku punya pertanyaan nih buat kamu. Kamu dulu SD di SD Kartika Surabaya bukan?” “Iya emang kenapa?” “Kamu ingat gak dulu waktu kelas 2 SD, pas itu kamu digangguin anak-anak terus ada anak perempuan nolongin kamu?” “Ehm iya sih ada.” “Kamu tahu namanya gak?” “Boro boro tahu namanya. Gak sempat kenalan. Kenapa kamu nanyain cewek itu? Emang kita dulu satu SD ya?” “Orang cewek itu aku. Pasti gak nyangka. Aku ingat mbak Yumna dulu antar jemput kamu. Kamu kan dulu tuh kecil, lebih pendek dari aku lagi. Tapi sekarang kok berubah sih?” “Tambah ganteng maksudmu? Hehehe. Mbak Yumna aja tinggi masa aku enggak?”

“Tapi waktu itu aku mau tanya namamu loh, eh bel masuk bunyi.” “Yah walaupun aku gak bisa Ramadhan bareng ortu tapi setidaknya aku dapat berkah baru. Bisa kenal kamu lebih dekat. Jadi gimana jawabannya?” “Walaupun dulu kita ketemu hanya sepenggal waktu, tapi kita ubah sepenggal itu menjadi kesatuan yang utuh. Aku mau nungguin kamu sampai kamu siap melamarku.”

Ramadhan memang bulan penuh berkah dan kali ini berkahnya adalah Khansa.

Komentar

  1. Pnuh kejutan.

    BalasHapus
  2. Enak dibaca......

    BalasHapus
  3. Bagus banget! ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„
    Tapi sempat rada bingung pas tiba2 ganti pov dr Azka ke Khansa...

    BalasHapus
  4. Ada hikmahnya...

    BalasHapus
  5. Bagus critanya..

    BalasHapus
  6. Cerpennya Ok...

    BalasHapus
  7. Bagus ceritanya, cuma emang rada bingung sama pov dari azka ke khansa, overall oke ๐Ÿ‘Œ

    BalasHapus
  8. Nyenengin deh.

    BalasHapus
  9. Bkin penasaran dan so sweer jga.

    BalasHapus
  10. Bagus. Dikemas dgn apik :)

    BalasHapus
  11. bagus banget����

    BalasHapus
  12. Bagus bagus bagus....

    BalasHapus
  13. Bagus.. feel nya dapat. ��

    BalasHapus
  14. Cukup nyenengin..

    BalasHapus
  15. Menyentuh bgt

    BalasHapus
  16. OK. GOOD. ��

    BalasHapus
  17. Ceritanya bagus. Ada hikmahnya ktika melewati ramadhan tanpa ortu.
    Alangkah bagusnya lagi klo ada konflik di ceritanya, biar lebih gregetan.
    Ditunggu cerita2 berikutnya

    BalasHapus
  18. Bagus, alur ceritanya jg runtut. Lebih bgs lagi kalau ada konflik yg sedikit lbh tajam

    BalasHapus
  19. Critanya bagus cuma sudah bisa ditebak endingnya. Walaupun sbenarnya alurnya bagus. Ttap smangat.

    BalasHapus
  20. Bagus. Cba kalau bsa lbh panjang lgi pst lbh mnarik.

    BalasHapus
  21. Sebenarnya ceritanya menarik hanya saja mungkin sedikit bisa ditebak. Tapi ada hikmahnya dri cerita ini.

    BalasHapus
  22. Cukup menarik. Apalagi wktu Azka gak mau pacaran. Ada nilainya.

    BalasHapus
  23. Karna ini cerpen mungkin gk bsa panjang-panjang. Cba bisa lbih panjang lgi. Mungkin konfliknya bisa ditambah. Tpi sudah bagus. Good.

    BalasHapus
  24. Cukup bagus. Agak dibikin lebih wow lagi.

    BalasHapus
  25. Cocok buat remaja kini. ��

    BalasHapus
  26. Menyenangkan....

    BalasHapus
  27. Ternyata lebih baik Ta'aruf ya. OK

    BalasHapus
  28. Kalau ini bukan cerpen pasti bisa panjang. Ternyata sepenggal waktu itu karena flash back. Good.

    BalasHapus
  29. Enak ringan dibacany karna mudah dimengerti

    BalasHapus
  30. Bagus. Tapi penjelasannya ttg latarnya kalo bisa di kembangkan lagi. Keep it up

    BalasHapus
  31. Mudah dimengerti. Santai bawaannya.

    BalasHapus
  32. Cinta butuh pengorbanan.

    BalasHapus
  33. Lebih dibuat ada konflik yang wow deh.

    BalasHapus
  34. Setiap crita pnya kkurangan. Diperbaiki di crita slanjutnya.

    BalasHapus
  35. Runtut ceritanya.

    BalasHapus
  36. Ada maksud di balik cerita. Keren kok

    BalasHapus
  37. Ceritanya lumayan

    BalasHapus
  38. Santai bawaannya. Lanjutkan.

    BalasHapus
  39. Ceritanya gak bikin bingung.

    BalasHapus
  40. Ceritanya gak bikin bingung.

    BalasHapus
  41. Lucu ceritanya

    BalasHapus
  42. Harus lebih dikembangkan. Tapi sudah baik kemasannya. Hanya isinya perlu dibuat greget

    BalasHapus
  43. Well. Bisa jadi bahan bacaan.

    BalasHapus
  44. Senang bisa baca.

    BalasHapus
  45. Ok juga ceritanya

    BalasHapus
  46. Good good good.

    BalasHapus
  47. Semakin bagus ya k depan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!