Semangkuk Cerita Ramadhan




Karya:  Amalia Dwi Arti


Hari pertama puasa di tetapkan pada tanggal 18 Juni 2015

Tama segera menolehkan kepalanya kearah televisi saat mendengar suara berwibawa sang presenter ketika mengumumkan awal puasa. Kepalanya kemudian kembali berpaling pada laptop yang berada dipangkuannya. Lebih tepatnya pada sebuah file pdf yang menampilkan jadwal ujian semester genap yang telah menanti di depan mata. Kabar baiknya hari pertama ujian akhir semester itu bersamaan dengan hari pertama puasa. Adakah kabar yang lebih baik dari ini? Tama membulatkan matanya saat berulang kali membaca jadwal di layar 14 inchi itu. Ini akan menjadi awal Ramadhan yang tidak menyenangkan karena pertama kalinya gadis berusia 20 tahun itu akan menyambut hari pertama Ramadhan di tempat yang jauh dari keluarga. Ia harus kembali ke kost-an sebelum tanggal 18 untuk menyiapkan diri menghadapi soal dari neraka yang sudah disiapkan oleh dosen-dosen tercinta.



Great! Menyenangkan sekali.” ucap gadis berambut sebahu itu dengan nada datar.

Matanya semakin menatap tanpa minat kea rah jadwal yang masih terpajang manis di layar lapotopnya ketika melihat beberapa mata kuliah yang kurang ia kuasai ternyata di ujikan di hari yang sama.

“Hahaha….. ramadhan kali ini is the best.” Ucapnya sambil tertawa hambar.

Well, ini hanya awal dari kejutan bulan Ramdhan yang akan Tama jalani.

***

“Ini tidak kurang banyak, Bu?” tanya Tama sarkatis kepada wanita yang paling ia cintai.

Wanita yang masih cantik di usianya yang hampir setengah abad itu tersenyum lembut. Tangannya dengan cekatan memasukkan beberapa makanan seperti kerupuk, tumisan tempe kering, peyek, dan sambal pecel kedalam plastik besar. Tidak lupa beberapa kilogram beras sebagai pelengkap penderitaan Tama saat membawa plastik besar itu.

“Biar kamu tidak perlu repot keluar buat cari makan. Tinggal masak nasi. Ini lauknya kan udah ada.”

“Tapi masak aku harus makan ini terus selama dua minggu, Bu?” gerutu Tama sambil mengerucutkan bibirnya tidak imut. Dia memang hanya akan berada di kota sebelah, tempat dimana ia kuliah selama dua minggu untuk menghadapi ujian.

“Kalau kamu bosan beli lauknya aja. Ibu cuma jaga-jaga kalau kamu malas keluar.”

Tama akhirnya mengangguk pasrah. Ini akan menjadi perjalanan panjang selama tiga jam menuju tempat kostnya. Terlebih lagi ia ditemani oleh seplastik besar makanan untuknya selama dua minggu ke depan.

***

Tarawih tidak pernah menjadi semenyebalkan ini bagi Tama hingga malam ini. Ia sudah sangat siap menyambut tarawih yang hanya ada setahun 30 sampai 31 kali. Namun, naasnya ternyata tidak hanya ia yang antusias menyambut tarawih. Hampir semua anak sekampusnya sangat antusias menyambut sholat berakaat banyak itu hingga hampir semua masjid di dekat kostnya penuh.

“Kemana lagi kita, Tam? Semuanya sudah penuh.”tanya Dewi, teman se-kost Tama dengan mukena ungunya.

Tama menghela napas lelah. Ini adalah masjid ketiga yang ia datangi dan semuanya sudah penuh. Kakinya yang tadi bersih karena air wudhu kini menjadi berdebu karena berjalan kesana-kemari untuk mencari masjid yang mau menampun ia dan temannya.

“Coba ke atas dulu, Dik. Di lantai dua sepertinya masih ada yang kosong.” Ucap kakak kelas Tama yang juga bernasib sama dengannya.

Akhirnya mereka naik ke lantai dua dengan susah payah karena setiap sudut masjid sudah dipenuhi oleh para jamaah. Sayangnya, lantai dua pun sudah penuh oleh jamaah wanita dengan mukena warna-warninya. Tama dan Dewi akhirnya memilih duduk di pojok selagi jamaan lainnya tengah melaksanakan sholat ‘Isya. Mereka akan mencoba meminta tempat di sela-sela jamaah lain setelah sholat selesai.

“Alhamdulillah ya Tam. Masih ada tempat.” Ucap Dewi saat akhirnya mereka mendapat tempat di paling pojok.

“Iya, Wi. Tidak sia-sia kita jalan kesana-kemari.”

Ini adalah perjalanan paling melelahkan bagi Tama untuk sampai ke tempat tarawih di sepanjang sejarah hidupnya

***

Jam tangan di atas meja belajarnya menunjukkan waktu setengah sembilan malam saat Tama sampai di kostan setelah melalui waktu yang panjang bersama jamaah lain di masjid yang cukup jauh dari kostnya. Ini juga pertama kalinya bagi Tama menjalani sholat tarawih yang sangat amat lama sekali. Belum lagi beberapa perbedaan dalam bacaan dan tata cara sholat yang biasa ia lakukan di rumahnya. Ini benar-benar kejutan awal dari Ramadhan untuknya tahun ini.

“Sekarang waktunya memberi perhatian pada kalian.” ucap Tama setelah melipat rapi mukenanya. Ia menatap tanpa minat kearah tumpukan buku dan laptop yang tertutup yang di dalamnya menyimpan senjata untuk menghadapi perang di ujian esok hari.

***

“Bagaimana ujian tadi, Tam?” tanya Rahma, sohib di kampus yang selalu menjadi partner in crime gadis bertubuh kurus itu.

Tama memasukkan peralatan menulisnya ke dalam tas sambil mendengus pelan,”Yeah. Amazing. Tanganku keriting gara-gara menulis dua lembar polio.”

Rahma tertawa kecil,”Terus bagaimana tentang tarawih? Masih penuh terus?”

“Nope. Sekarang masjid dekat kost jadi lenggang jadi tidak perlu jauh-jauh.”

“Lega ya?”

“Hu-um. Aku tidak perlu berangkat habis buka lagi buat cari tempat.”

“Syukurlah.”

“Kamu itu seharusnya juga terawih. Jangan nonton drama korea aja.”

“Penyakit malas kan susah di hadapi, Tam” jawab Rahma sambil tertawa,”Kamu langsung pulang hari ini?”

Tama mengangguk,”Ya. Aku sudah kangen masakan rumah. Kamu sendiri kapan?”

“Besok pagi mungkin.”

Dua minggu berlalu tanpa terasa meskipun bagi Tama ini adalah minggu kedua bulan puasa yang begitu luar biasa. Hari-hari di minggu pertama ia harus bergegas ke masjid setelah berbuka agar menjadapat tempat terawih.  Setelah itu belajar untuk menghadapi soal-soal mengerikan dari para dosen tersayang. Untunglah di minggu kedua antusias para mahasiswa mulai mengendur sehingga ia tidak perlu lagi terburu-buru ke masjid karena masih banyak tempat yang kosong. Meskipun ia kesulitan mencari penjual makanan yang semakin berkurang. Namun, kerikirl-kerikil masalah itu tidak akan menghmabat lagi karena hari ini ia akan pulang ke rumah tercinta.

“Yeah. Tumis kangkung! I’m coming!!

***

“Muahahahaha…. Akhirnya sampai juga.” Ucap Tama sambil menjatuhkan dirinya ke atas kasur setelah meletakkan tasnya semabarang.

Setelah ujian selesai jam 11 siang tadi, gadis berkerudung hijau itu langsung menuju ke terminal. Ia dengan senang hati mengucapkan terima kasih untuk sang teman karena mau mengantarkannya ke tempat penunungguan bus. Namun, keberuntungannya hanya sampai disitu karena Tama harus menunggu satu jam lebih untuk mendapat bis yang mengantarkannya pulang ke rumah. Belum lagi godaan softdrink yang dijajakan oleh penjual di dalam bus. Diperparah oleh cuaca panas yang sangat mendukung hasrat untuk mengkonsumsi cairan dingin yang terasa menyegarkan di tenggorokkan. Errr.. oke cukup.

“Tama! Cepat mandi dang anti baju! Jangan tidur!” teriak Ibu Tama dari dapur.

Suara sang ibu yang memang menggelegar membuat Tama langsung terlonjak dari kasurnya. Suara yang selalu ia rindukan saat berada jauh dari rumah namun juga suara yang akan menjadi pembuka di hari-hari puasanya di rumah.

***

Waktu kecil Tama tidak terlalu memperhatikan betapa cepatnya sholat tarawih di mushola dekat rumahnya tetapi malam ini ia benar-benar merasakan betapa cepatnya gerakan sholat dan bacaan yang dilakukan oleh sang imam. Mungkin karena ia terbiasa dengan gerakan lambat dan bacaan jelas dari imam saat ia sholat tarawih di dekat kostnya sehingga kini ia terlihat tidak mampu mengimbangi tempo cepat sholat tarawih ini.

‘Hey, aku belum selesai baca al-fatihah kok sudah sujud.’ Batin Tama di sela-sela sholatnya. Dia tidak khusyuk karena setiap kali surat yang ia baca belum selesai, sang imam pasti sudah terlebih dahulu ruku’.

Akhirnya setelah dengan kecepatan penuh, sholat tarawih 20 rakaat dan sholat witir 3 rakaat dapat dilaksanaan dengan selamat. Tama menghela napas lega karena setelah ini ia bisa pulang. Atau itulah yang ia pikirkan.

“Kak Tama mau kemana?” tanya seorang gadis kecil kepada Tama yang hendak pulang.

“Pulang.”

“Tidak tadarus dulu?”

“Errr…”

“Ayo tadarus dulu, Kak.”

Mata Tama melirik kearah beberapa anak perempuan yang tengah menghadap Al-Qur’an yang terbuka.Beberapa masih duduk di sekolah dasar dan yang lainnya adalah seumuran anak SMP. Tidak tega menolak akhirnya Tama mengiyakan ajakan tadarus bersama anak-anak itu.

Satu giliran terlewati. Kini giliran Tama yang akan membaca.

“Kak, kami pulang dulu ya. Sudah mala mini.”

Gerakan Tama yang baru saja mengarahkan mic di depan mulutnya langsung terhenti.

“Ha? Terus aku sama siapa?”

“Kan banyak orang di luar Kak.” Ucap anak lain sambil menunjuk beberapa orang tua yang duduk-duduk di teras musholla.

“Pulang dulu ya Kak.” Ucap mereka serempak sambil berdiri dan mulai berjalan pergi.

“Woy! Ck, dasar anak-anak jaman sekarang.” Gerutu Tama sok tua sambil menggelengkan kepalanya.

***

Kini tadarus menjadi kegiatan wajib bagi Tama setelah sholat tarawih selesai di lakukan. Meskipun sedikit sebal karena anak-anak kecil selalu meninggalkannya terlebih dahulu namun kesal itu terobati karena beberapa makanan kecil yang dibawakan oleh masyarakat sekitar mushola untuk orang-orang yang tadarus. Lumayan, mendapat pahala sekaligus jajan gratis.

“Aku dulu ya Kak yang tadarus.” Ucap seorang gadis kecil di sampingku.

“Silakan. Terus pulang dulu lagi.”sindir Tama sambil mendengus pelan.

Mendengar itu mereka hanya tertawa.’Aku tidak sedang melucu.’ Batin Tama kesal.

Setelah beberapa kali membaca ada seorang anak yang membawa satu kantung plastik snack ringan. Anak-anak kecil yang sedang bermain di luar mushola langsung berhamburan masuk untuk mengambil snack yang memang menjadi favorit bagi mereka.

‘Dasar anak kecil.’ Batin Tama sambil memablik Al-Qur’an yang sudah selesai di baca.

“Wow! Ada rokoknya. Ayo kita ambil untuk mainan!”

Tama langsung menoleh cepat saat mendengar suara kecil itu. Tangannya segera merampas rokok berwadah putih dengan merek yang dirahasiakan itu.

“Ini tidak boleh diambil. Kalian ambil yang lain saja ya.”bujuk Tama sambil menyembunyikan rokok itu di bawah meja.

Untungnya anak-anak itu hanya mengangguk patuh tanpa bertanya macam-macam. Tama kemudian menatap tidak percaya pada rokok yang kini ada ditangannya.

‘Woy..woy… Ini beneran sumbangan makanan kecil untuk orang yang tadarus. Sulit dipercaya.’ Teriak Tama dalam hati.

Tidak berapa lama anak yang tadi mengantarkan snack itu kembali dengan tersenyum lebar tanpa dosa.

“Maaf, Kak. Ini tadi pesenan ayah. Ternyata ikut tercampur ke dalam snack.”ucapnya dengan wajah innocent.

Aku hanya tertawa hambar untuk menanggapinya.”Hati-hati ya lain kali.”

Selesai masalah satu datang masalah lainnya.

“Kak Tama.. Kak Tama…”

Dua orang gadis kecil mengampirikuyang masih duduk manis menunggu giliran tadarus.

“Ada apa?” tanya Tama mencoba ramah.

“Gelangnya Kak Tama….”

“Ya?”

Tama langsung mengalihkan pandangannya pada gelang manik-manik berwarna hijau pudar dengan tali merah yang ada di pergelangan tangan kirinya.

“Kok jelek ya? Sama kayak Kak Tama!” ucap keduanya bersamaan kemudian berlari pergi.

Gadis yang sebenarnya memang tidak terlalu cantik itu membuka mulutnya kaget mendengar itu. Dalam hati ia menangis pilu karena kenyataan pahit yang dilontarkan oleh makhluk imut dengan wajah polosnya.

“Tidak usah dipikirkan Kak Tama. Anak kecil kan masih polos.”hibur seorang anak SMP di sampingnya.

Tama semakin ingin menangis mendengarnya,”Itu berarti mereka tidak tahu berbohong. Kesimpulannya mereka berkata jujur.”lirih Tama semakin nelangsa.

Ini baru minggu ketiga namun begitu banyak kejadian yang tidak terduga di bulan ramadhan tahun inii bagi Tama. Kejadian apa lagi ya selanjutnya?

___________________________________

Sebuah senyum tidak dapat kutahan saat kejadian-kejadian yang tidak biasa di bulan ramadhan kali ini terlintas di pikiranku. Mungkin itu hanyalah kejadian biasa yang tidak terlalu istimewa. Namun dari kejadian biasa itu menimbulkan sebuah peraasaan istimewa karena berbeda dari biasanya.

Kuketukkan tanganku di atas keyboard laptop. Kejadian tak terduga di ramadhan tahun ini sudah kukumpulkan dalam mangkuk berupa cerita. Jadi, adakah kejadian lain yang menungguku di penghujung ramadhan? Aghh! Aku tidak sabar menunggunya.

Komentar

share!