Selepas Salat Dhuha




Karya:  Chania Widya


Gadis, itulah nama seorang gadis kecil yang duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar. Dia adalah anak yang penuh semangat dan keceriaan. Bertempat tinggal di sebuah kampung yang taat agama, membuat Gadis sejak kecil terlatih untuk taat beribadah. Dan ibadah yang paling disukainya adalah Salat Dhuha. “Gadis, Ibu ingin bertanya, apa alasanmu sampai-sampai kau jarang melewatkan Salat Dhuha?” tanya Ibu di suatu sore selepas Gadis mengaji di masjid. “Kata Pak Ustad, begini Bu... Kalau sering Salat Dhuha, banyak pintu kemudahan dan rezeki yang akan dibuka. Lalu, Pak Ustad juga berkata kalau kita Salat Dhuha maka doa kita akan didengar oleh Allah S.W.T. Itu mengapa Gadis sering sekali Salat Dhuha. Gadis berdoanya banyak lho, Bu!” Sang Ibu tersenyum mendengar jawaban anaknya sembari menimpali, “Anak gadis Ibu memang pandai.”



Gadis sangat menyayangi keluarganya. Ayahnya, Ibunya, dan Rafli, adiknya. Selama Bulan Ramadhan, selepas Salat Maghrib mereka berempat biasa berbuka puasa bersama-sama. Menunya memang sederhana, namun kehangatan keluarga itulah yang sangat tidak sederhana. Menurut Gadis, makan bersama seluruh anggota keluarga dapat memulihkan tenaganya dengan lebih cepat. Dan ketika Bulan Ramadhan datang seperti saat ini, semua kehangatan keluarga kecil itu semakin terasa. Adalah menjadi kesukaan Gadis untuk menyantap semua makanan yang tersaji di meja dengan didampingi sang Ayah. Gadis sangat menikmati makan disamping Ayahnya, mereka berdua memiliki selera makan yang sama.

Selepas Salat Dhuha, Gadis terbiasa untuk berlama-lama berdoa. Namun pagi ini, selepas Salat Dhuha, Gadis justru berdoa begitu sebentar ketika mendengar suara mobil di depan rumah. “Ibu!! Ada mobil, ada mobil!” Gadis dan Rafli begitu gembira karena selama ini mobil yang mereka jumpai bukanlah mobil bagus seperti mobil yang dilihatnya saat ini. Dari dalam rumah, Ibu keluar dengan masih berpakaian daster dan didampingi oleh Ayah yang keluar dengan berpakaian sangat rapi. “Lho, Ayah mau pergi kemana? Gadis ingin ikut Ayah,” ucap Gadis sedikit terkejut melihat Ayahnya yang membawa satu tas besar dan tas ransel. “Ayah akan pergi. Untuk bekerja ke luar kota. Titip Ibu dan Rafli, ya? Jagalah mereka berdua dengan baik. Oh iya, Ayah juga ingin minta maaf, kalau Ayah tidak akan di samping Gadis saat Gadis berulang tahun minggu depan. Ayah juga ingin minta maaf, kalau saat malam lebaran, Ayah tidak akan ada di rumah. Tuntutan pekerjaan ini benar-benar memaksa Ayah.”


Gadis menatap kepergian Ayahnya dengan mata yang begitu berair, berbeda jauh dengan Rafli. “Ibu, kapan Ayah akan kembali? Gadis tidak bisa terlalu lama berpisah dari Ayah, Bu,” tanya Gadis merengek pada Ibunya. “Ayah kembali satu minggu setelah Hari Lebaran. Entahlah, Ibu juga tidak tahu pastinya kapan. Ayah tadi bilang kemungkinan besar setelah Hari Lebaran, tapi masih bisa berubah lagi.” Gadis tidak sanggup menatap halaman rumahnya lagi. Dia memutuskan masuk ke dalam dan mengurung diri di kamar.

Gadis tidak pergi mengaji seperti sore-sore biasanya. Dia menahan dirinya untuk keluar dari kamar. “Mbak, Ayo keluar. Sudah menjelang berbuka,” seru adik kecilnya yang dengan nada lantang memanggil Gadis. Gadis bukan tipe anak yang keras kepala, dia segera keluar. Bungkam mungkin merupakan kata yang paling tepat untuk Gadis. Dirinya keluar dengan kondisi mata yang sembap, hidung kecil yang memerah dan mulut yang terkunci rapat. Ketiga kondisi itu seolah menjadi kawan, kawan pengganti kepergian Ayahnya. “Gadis, sudah ya, Sayang? Ibu tahu kamu sangat bersedih. Tapi coba ikhlaskan kepergian Ayah. Ayah juga pasti akan kembali walaupun kita tidak tahu kapan. Jalani saja semua seperti biasanya. Ibu dan Rafli juga pasti akan menemanimu. Tidak ada yang kita tinggalkan dan tidak ada seorang anakpun yang Ibu biarkan larut dalam kesedihan. Di samping semua itu, tidak baik rasanya kita menjalani Bulan Ramadhan dengan sedih yang berlebihan,” hibur Ibu beberapa saat setelah akhirnya tidak tahan melihat Gadis berbeda dari kondisi biasanya.

Gadis sungguh tidak bisa menahan kesedihannya mengingat Ayah yang sangat dicintainya pergi—walaupun dia tidak tahu kemana Ayah pergi—meninggalkannya begitu saja dengan alasan pekerjaan. Sama sekali tidak seperti Ayah yang biasanya. Saat Bulan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya Ayah tidak pernah pergi dalam waktu yang lama. Di sisi yang lain, Gadis juga tidak bisa menahan rasa iba pada Ibunya yang harus mengurus rumah sendirian kalau Gadis tidak membantu. “Ya Allah, semoga Gadis kuat tanpa Ayah beberapa waktu. Tapi rasanya sedih sekali puasa kali ini berpisah dari Ayah dalam jangka waktu yang lebih lama. Ya Allah, bantu Gadis untuk lebih kuat lagi, agar Gadis bisa menemani Ibu dan Rafli sampai Ayah kembali,” itulah doanya yang diucapkan ketika Gadis mengakhiri Salat Isyanya.

Seolah-olah doa Gadis terkabul, beberapa hari ini Gadis sudah berhasil mengembalikan senyuman manis di wajahnya. “Begitu dong, Mbak. Rafli senang melihat Mbak tersenyum, tampak begitu ceria,” kata Rafli pada saat mereka menggambar di suatu siang. Siang itu mereka bertiga berkumpul di ruang tamu. Menikmati hawa sejuk dan melakukan hobi masing-masing. Tidak lama kemudian, Ibu bertanya, “Apakah nanti sore Gadis mau mengaji lagi? Kalau iya, jangan lupa ajak Rafli dan berikan ini pada Pak Ridwan. Katakan padanya itu tasbih dan sajadah baru dari Ibu.” “Iya, Bu. Nanti akan Gadis sampaikan. Kata Rafli hari ini dia mau libur mengaji lho, Bu.” Rafli yang mendengar perkataan kakaknya langsung membantah, “Tidak kok, Bu! Rafli pasti mengaji!” Dan entah kenapa mereka bertiga kemudian dipenuhi gelak tawa.

Sudah seminggu Ayah tidak berada di rumah. Berbuka puasa dan santap sahurpun masih terasa ‘sedikit’ berbeda dari biasanya. Biasanya kalau berbuka puasa, Gadis menyajikan takjil untuk Ayahnya. Namun sudah seminggu ini, takjil itu dia sajikan untuk Rafli. Biasanya kalau sedang santap sahur mata Gadis terlihat berat untuk membuka, Ayah tidak segan untuk membasuh muka Gadis. Tapi sekarang, Ibu tidak melakukannya untuk Gadis. Ibu justru berkata seperti ini, “Ya dibasuh sendiri, Dis. Sudah besar, kan?” kenangan-kenangan kecil seperti yang Gadis dan Ayah lakukan itulah yang semakin menyebabkan Gadis merindukan Ayahnya.

Pada hari ke delapan kepergian Ayahnya, di suatu sore berderinglah telepon rumah. “Assalamualaikum, rumah Pak Farid disini. Ada yang bisa saya bantu?”

“Wa’alaikum salam. Ini Gadis, ya? Bisa berbicara dengan Bu Farid? Ada yang ingin saya bicarakan. Katakan padanya kalau ini penting.”

“Bapak siapa? Ada perlu apa dengan Ibu saya?”

“Pokoknya saya butuh dengan Bu Farid. Mohon segera.” Gadis yang masih merasa ketakutan segera memanggil Ibunya. “Ibu, ada telepon untuk Ibu. Tidak tahu dari siapa pokoknya dari bapak-bapak.” Ibu sepertinya telah mengetahui s54siapa yang menelpon di siang hari itu. Dengan cepat Ibu menghampiri telepon dan berbicara dengan bapak misterius itu.

Setelah telepon sore itu, Ibu nampak jauh lebih bahagia dari sebelumnya. Sampai-sampai Gadis dan Rafli keheranan. “Ibu, sebenarnya ada apa? Gadis belakangan ini semakin bingung kalau melihat Ibu memasak sambil tersenyum sendiri,” ucap Gadis ketika sedang asyik membaca buku ceritanya. “Tidak ada, semuanya baik-baik saja.” “Hayo! Ibu pasti berbohong! Ada sesuatu yang Ibu sembunyikan, ya? Ceritakan pada kami, Bu,” balas Rafli ketika tahu bahwa Ibu nampaknya menyembunyikan sesuatu. “Baiklah baiklah, kalian memang pandai mengambil hati Ibu. Begini saja, Ibu memberikan sebuah petunjuk. Petunjuk itu disebut dengan kejutan dan rahasia.” Gadis dan Rafli berpikir begitu keras. Kira-kira apakah yang sangat berkaitan dengan kedua kata itu. “Sudah, jangan terlalu dipikir. Nanti menjelang Hari Lebaran, kalian akan tahu dengan sendirinya.”


Selama menjalani hari-hari terakhir di Bulan Ramadhan, Gadis tidak berhenti mendoakan sang Ayah dan berharap agar sebuah keajaiban terjadi. Gadis ingin doanya dikabulkan oleh Allah S.W.T. Gadis ingin segera bertemu Ayahnya. Beberapa hari lagi adalah hari ulang tahunnya dan dia semakin tidak sanggup menghapus rindu dan doa-doa kepada Ayah dari mulutnya. Dia berharap bahwa Allah juga akan segera memberinya kejutan dan rahasia yang dikatakan Ibu.

Dan nampaknya, doa Gadis yang selalu ikhtiar di jalan Allah ini dikabulkan...

Di suatu pagi selepas salat dhuha, Gadis mendapati sesosok pria bertubuh besar yang amat dikenalinya. Itulah Ayahnya! Gadis segera memeluk Ayahnya dengan kedua tangannya yang belum berapa besar. “Ayah!!! Ini kejutan, ya? Ayah bilang tidak akan pulang sampai lebaran?” Sang Ayah tersenyum dan sedikit tertawa geli, “Iya, Gadis. Sebenarnya Ayah hanya membohongi Gadis saja. Ayah tidak sampai hati membiarkan putri kecil ayah berulang tahun dan merayakan lebaran tanpa seorang ayah disisinya.” Tak lama setelah itu, Ayah mengeluarkan sesuatu dari dalam ranselnya. Sebuah liontin dengan bentuk huruf “G” sebagai inisial dari nama Gadis. “Ini hadiah ulang tahun untuk Gadis. Selamat ulang tahun ya, Sayang. Semoga Allah selalu menjadikanmu anak sholehah dan membukakan segala pintu kemudahan dan kelancaran dalam hidup.” Pagi itu, suasana rumah begitu haru. Ada kebahagiaan berbalut jumpa kerinduan yang menyelimuti hari-hari terakhir Bulan Ramadhan.

Komentar

share!