SEKEJAP TAWA DIPENGHUJUNG 23 RAKAAT




Karya:   Istianah


Bahagia banget yah rasanya ketika kita masih diberi kesempatan untuk dipertemukan lagi dengan bulan ramadhan, ditambah lagi didalamnya selalu terselimut cerita yang penuh dengan drama, tawa, bahagia,, dan duka. Cerita tersebut juga dialami oleh seorang pria yang sedang menduduki bangku kuliah dia adalah Novan, dia selalu ingin dalam setiap puasa di bulan ramadhan yang ia jalani ingin selalu ada sesuatu yang baru, hal yang baru tersebut salah satunya adalah menjadikannya menjadi orang yang lebih baik, hal yang lebih baik tesebut terutama dalam hal ketakwaannya. Bulan ramadhan tahun ini ia ingin menjadi orang yang shaleh, bahkan untuk memenuhi apa yang dia inginkan itu dia sampai berhijrah ke kampung Kakaknya, dimana kondisi tempat tinggal Kakaknya itu adalah sebuah kampung yang kondisi desanya masih sangat kental dengan suasana pedesaannya dan lingkungan agamisnya.


Semenjak Kakaknya menikah dengan gadis dari desa itu, dia menetap tinggal di desa itu dan sesekali dia berkunjung ke rumah orang tuanya, Kata Kakaknya ia merasa lebih nyaman dengan kondisi dan Susana di lingkungan pedesaan dibandingkan dengan bisingnya kehidupan kota. Kakaknya Novan tersebut tentunya sudah sangat terbiasa dengan keadaan dan kondisi di lingkungan desa tersebut, hal itu tentu berbeda dengan Novan yang baru beberapa hari tinggal di desa itu, apalagi Novan berniatan selama 2 minggu ia ingin menghabiskan waktu puasanya di tempat Kakaknya itu. Belum juga dua minggu, hanya baru beberapa hari dia berada di desa tersebut dia sudah merasa terpenjara dengan kehidupan yang sebelumnya tidak pernah ia alamin, dan sangat jauh berbeda dengan kondisi kehidupannya di kota.
“Pantas saja, Kakak aku sekarang menjadi orang yang sangat agamis dan betah disini, ternyata seperti ini kehidupan dia di desa” Ucap Novan yang saat itu sedang tiduran sembari menatap langit-langit kamar tempat dia tidur itu.
Dengan kesungguhan dia yang ingin menjadi orang yang lebih baik, dia sudah terbiasa dengan kondisi yang ada dan sudah dapat terbiasa dengan lingkungan di desa tersebut termasuk dengan kegiatan ke agamaan yang sering di adakan di desa itu. Namun ke adaan yang sudah nyaman ternyata mendadak membuat dia mulai canggung dengan sekitarnya, hal itu dikarenakan kejadian yang pernah membuat dia ingin lari dan pergi secepatnya dari desa itu, bukan kejahatan dan tindakan kriminal yang pernah ia lakukan sampai membuat ia ingin meninggalkan desa itu cepat-cepat karena malu, tapi hal itu disebablan ketika ia sedang shalat tarawih dan ada hal yang sepele yang berujung pada rasa malu yang tidak akan pernah ia lupakan.
Shalat tarawih yang ia lakukan di Mushollah tersebut adalah 23 rakaat, jumlah rakaat yang menurut dia banyak terkadang membuat dia malas ditambah lagi dengan kondisi perut yang terkadang tidak mendukung karena kekenyangan dan mulas. Saat hari itu dia shalat tarawih dan di sampingnya itu adalah anak kecil. Yang namanya anak kecil kalau shalat masih suka bercanda seperti 2 anak kecil yang berdiri di samping Novan saat itu yang suka dorong kanan dan dorong kiri saat shalat, sampai-sampai hal itu membuat Novan kesal bahkan Novan sempat mendorong balik anak kecil yang berdiri di sampingnya itu, gara-gara dorongannya Novan itu, membuat anak tersebut dan teman sebelahnya jadi jatuh.
“ Mangkannya De kalau shlaat jangan becanda dan dorong-dorongan terus, rasain lo pada jatuh haha..” Ucap Novan pada kedua anak yang jatuh karena didorongnya itu sambil tertawa.
Belum lama ia menertawakan kedua anak itu, suara kentut berbunyi dan suara tersebut tidak lain adalah dari Novan kondisi perut dia yang mulas membuat dia langsung bergegas pergi ke toilet. Kondisi ruangan tempat berwudhu dan toilet yang gelap karena lampu yang rusak membuat Novan tidak bisa melihat dengan jelas dimanakah toilet itu. Dia sempat ingin sekalian pulang saja kerumah tapi kondisi perut yang sudah sangat mulas tidak memungkinkan dia untuk ke rumah Kakaknya yang sebenarnya tidak jauh dari musholla itu tapi yang ada dia bisa keburu boker di sarung.
Dia masih celingukan dan sampai pada akhirnya jreng… jrenggg masuklah dia kedalam ruangan itu dan…
“Tolong….. Tolong…..” Suara keras minta tolong terdengar dari arah kamar mandi tersebut, karena hal tersebut membuat orang-orang yang sedang shalat terkaget dibuatnya dan mereka langsung ke tempat sumber suara itu berasal.
Ternyata suara itu adalah suara dari seoarang ibu-ibu yang sedang boker ditoilet itu, dan Novan tidak melihat kalau ada orang diadalamnya, bagaimana mungkin dia bisa melihatnya. Orang itu toilet udah kaya di dalam hutan yang gelap gulita diatambah lagi dengan pintu yang tidak terkunci, jangankan pintu, toilet itu cuman tertutupi oleh sehelai kain panjang. Karena hal tersebut Novan dikira orang jahat sama itu ibu-ibu. Lagian itu ibu-ibu lebay banget bilang si Novan penjahat, kalaupun ada penjahat pasti bakalan mikir berkali-kali kalau melakukan aksi jahatnya di sebuah toilet kaya udah nggak ada tempat lain ajah haha.
Novan yang tadinya berniat pengen boker, niatnya tertunda bahkan rasa mulas itu hilang sekejap karena itu teriakan ibu-ibu dan beberapa orang yang mendatanginya, betapa malunya dia saat dia dikira orang jahat, ketika semua di jelaskan mereka yang melihat kejadian itu di TKP hanya bisa tertawa karena kejadian yang sepele dan ceroboh itu. Kecerobohan dan masalah yang sepele memang simple tapi mendatangkan akibat yang besar seperti besarnya rasa malu yang harus Novan tanggung karena kejadian dan mungkin itu akan jadi kenangan tak terduga dalam ramadhan di hari itu.

Komentar

share!