Sedikit Miring




Karya: Irine Dwi Nurtanti

“Sahur…Sahur…. duk tek duk tek… Sahur… Sahur!” teriak mas-mas yang diikuti dengan tabuhan galon kosong untuk membangunkan warga yang akan sahur.


“Oke mas, udah otw ke ruang makan nih mas!” sahutku keras.
“Ya ampun Izka, keras banget.” kata bibi sambil menutup telinga
“Hehehe, bi aku tolong buatkan teh panas ya bi, makasih bi.”
“Iya Izka.”
Dwi Rizka Putri itu nama lengkapku dan aku sering dipanggil Izka oleh teman-temanku juga bibiku. Untuk minggu ini, aku hanya tinggal di rumah bersama bibi karena orang tuaku pergi ke luar kota, sedih rasanya. Tapi nggak papa karena ini masih liburan jadi aku masih bisa bermain bersama tetangga sepuasnya dan rasa sedih pun berganti ceria deh.
“Lah bi, kok lauknya nggak ada?”
“Ini baru mau digoreng ayamnya, biar panas-panas gimana gitu kata ibu kamu.”
“Okee!”
Sreng,sreng,pletak,pletok,derr.
“Nih Izka, udah jadi ayam goreng sama tehnya.” kata bibi senang walaupun terlihat berkeringat dingin.
“Wah makasih bi.”
Nyam-nyam-nyam-nyam enaknya ayam goreng plus teh panasnya, eh.
 “Bi, tehnya lupa dikasih gula ya?”
“Waduh iya nih Ka, sini bibi kasihin.” kata bibi dengan mengambil gelasnya.
Kemudian bibi datang lagi memberi gelasnya.
“Bi, kok jadi asin sih tehnya?” secepat mungkin aku berlari mengambil air putih.
“Ah masa sih, sini bibi cobain.” kata bibi ragu
“Coba deh.”
“Wekkk, kok asin ya?”
“Lah?”
Bibi kembali ke dapur untuk mengecek wadah gula pasir dan memastikan itu gula pasir. Ternyata di sebelah wadah gula ada wadah garam dan bibi mengambil wadah garam kemudian memasukan 3 sendok teh garam dalam teh panas asin itu. Bibi tak sengaja karena kata bibi dia mengantuk saat mengambil wadahnya.
“Maaf ya Izka.” kata bibi menyesal.
“Gakpapa bi, kalau bibi ngantuk tidur dulu aja, habis solat aku mau main petasan hehehe.”
“Heh jangan Izka, nanti saya dimarahin orang tua kamu.” bibi mulai cemas.
“Hahaha ya enggaklah bi, punya petasan aja enggak, hehehe.” aku tertawa.
“Huft lega.”
“Kenapa bi?”
“Nggak papa Izka, hehehe.” bibi tertawa pelan.
Daripada enggak ada kerjaan, mending buat acara dulu buat ngabuburit nanti sore biar terencana gitu. Hmm okelah aku ambil handphone dulu untuk sms Bino, teman sepermainanku di kompleks ini. Wow ternyata setelah aku bilang rencanaku itu dia juga ingin mengajakku ngabuburit bareng yaitu bermain sepakbola di lapangan yang bersebelahan persis dengan rumahku. Dia juga akan mengajak temen-temen yang lain biar seru. Yuhuu jadi nggak sabar nih.
“Ditunggu jam 4 sore!” kataku.
“Jam 3 aja udah main sepak bolanya.” kata Bino.
Hehehe lucu juga si Bino.
Jam 3 sore
          Habis bersih-bersih rumah mbantuin bibi, nggak kerasa kalo sudah jam 3.
“Ha? Jam 3?” aku kaget.
“Ada apa sih Ka?”
“Daa bi!”
“Izkaa!” bibi khawatir.
“Lapangan sebelah bi!” teriakku.
“Jangan malem-malem!”
“Kalo kemaleman laper bi.” kataku, bibi juga aneh-aneh aja.
Wih ternyata udah pada kumpul di lapangan kecuali Bino, di situ ada Tito,Beni,Itong,Tuki,Cidut. Semuanya cowok dan hanya aku yang cewek. Huft.
“Woi, sini gabung!” sorak Beni dan Itong.
“Boni mana?” tanyaku.
“Nah itu dateng.” kata Tito.
“Yuk main.” ucapku.
“Gini, di sini ada 7 orang jadi harus ada yang jadi wasit satu, satu tim terdiri dari 3 anggota, dan kamu maukan jadi wasitnya?” kata Boni.
“Oke gapapa, tapi ntar gantian ya.” kataku tenang.
Haduh, kok begini ya jadinya?  batinku.
Kalau begini terus bosen juga. Eh ada kucing lewat tuh, ambil ikan asin ah dirumah. Kemudian setelah aku mengambilkan ikan asinnya dan sempat juga dimarahin bibi dikira aku mau makan karena nggak kuat puasanya tapi sesudah kujelaskan panjang lebar akhirnya bibi mempercayaiku.
“Meong, sini aku kasih ikan asin.” aku menaruh ikan asin di dekat pohon jambu yang nggak jauh sama lapangan.
Aku terus melihatinya dan akhirnya dimakan juga sama si kucing berwarna putih yang badannya kelihatan kecil juga masih terlihat gemesin. Aduh jadi iba.
“Woi skornya berapa?” kata Boni.
“Ha?”  kataku heran.
“Hm, apa jangan-jangan kamu gak perhatiin ya?” tanya Itong.
“Sepertinya sih iya, hehehe.” kataku ragu.
“Grrrr,,, hahahaha gapapa kok yang penting semua senang, ya gak?” kata Bino.
“Sekarang giliranku nih main sepakbolanya.” semangat 45 nih aku.
“Ayooo…  nah wasitnya sapa dong ini?” kata Bino.
“Ga usah pake wasit yang penting gol.” kata Cidut.
“Wah curang nih.” kataku sewot.
“Hahahaha.” semua tertawa.
“Ayo main sampe nanti Adzan Maghrib ya, pantang pulang sebelum Adzan tiba!” kata Beni dengan semangat berkobar.
“Nah tu Adzan?” kata Bino.
“Wah iya tuh, ayo pulang!” kata Tito.
“Yaudah yuk buka puasa!” kataku.
“Di?” kata mereka semua.
“Di rumah masing-masing,hehehe.” aku pun tak dapat menahan tawa.
     Tapi hanya aku yang tertawa, huh garing banget ya? tapi itu lucu. Batinku.
“Pulang duluan ya?” kataku.
“Ya, hati-hati ya!” kata Bino.
“Tenang, 5 langkah sampe, hehehe.” kataku
Setelah itu aku langsung berbuka puasa yang tak lupa mengucap doa kemudian makan dengan nikmat dan penuh syukur karena-Nya atas hari ini apapun yang terjadi, dari yang terduga hingga tak terduga dan masakan bibi yang super duper enak.
“Mantap,bi!” ucapku dengan mata berbinar.
“Wah makasih ya pujiannya.”
“Iya,bi”
“Izka, kamu nggak?”
“Nggak tau bi.”
“Hm, maksud bibi tadi di kolam ikan ada ikan koi mati satu tinggal kepalanya doang terus bibi ambil pakai plastik buang deh ke tempat sampah.”
“Ha?”
“Iya tadi barusan, kayaknya sih dimakan kucing Ka.”
“Yaampun bi, apa jangan-jangan ikannya dimakan kucing yang tadi aku kasih makan ikan asin ya bi?”
“Wah ndak tau, nggak sempat ditanyain ikannya.”
“Ya harusnya yang ditanyain kucingnya dong bi?”
“Oh iya ya?”
Hehehehehehe.
Semua senang, tidur pun nyenyak.

Komentar

share!