Secret Admire




Karya:  Shintya Rizkayani

Aku mengenalmu ketika kita bertemu di sekolah dasar yang sama. Karena rumah kita terbilang tidak begitu jauh dan mungkin orang tua kita juga saling mengenal satu sama lain. SD? Diumur yang terbilang sangat kekanakan itu aku tak pernah merasakan apapun tentang dirimu, gadis kecil yang selalu menangis ketika akan ditinggal pergi oleh ibunya. Saat itu aku berfikir untuk apa menangisi seorang ibu, saat dia pulang ibunya pasti ada di rumah, ia pasti akan bertemu lagi ibunya bukan.
Ia hanyalah gadis cengeng yang selalu meminta bantuan padaku. Berada di balik punggungku ketika orang lain menjahilinya. Tentu aku membantunya meskipun hal itu menggangguku, hanya karena orangtua kami saling mengenal dan kami selalu pulang bersama, maksudku, dia yang memaksaku untuk pulang dengannya. Ia selalu menangis dan mengadu padaku.


Itu SD, ketika kita SMP. Sayangnya kita tidak bersekolah yang sama lagi. Perlahan, aku fikir aku merindukanmu. Merindukan gangguan darimu. Menjauh darimu selama 3 tahun mungkin bukan sesuatu yang mudah untuk dilalui. Terutama tanpamu. Iya, aku mulai menyukaimu.
Tapi aku mulai bimbang, perlahan waktu berlalu. Perasaan ini seakan goyah, entah oleh apa dan karena siapa, aku mulai bimbang. Apa mungkin karena tak pernah bertemu denganmu lagi? Aku mulai menutup perasaanku, aku berfikir mungkin itulah krisis masa remaja. Perasaan yang selalu berubah secara cepat, mungkin.
Tuhan menakdirkan hal lain, kita kembali dalam SMA yang sama. Kau menyapaku namun perasaan itu masih aku simpan rapat di dalam hati.
“Kau?” ucap gadis itu.
“Mila.” Ucapku menmanggil nama gadis itu.
“kita satu sekolah lagi? Hahahaha” ucapnya lagi dengan tawa khasnya. “tapi sepertinya kita tidak satu kelas.” Tebaknya.
“hn?”
Ia menunjuk ke arah kartu yang aku pegang. Kartu bertuliskan kelas 1-1 itu adalah kelasku sekarang.
“aku 1-5. Sayang sekali.” Ucapnya.
“memangnya kenapa?” tanyaku basa-basi.
“setidaknya aku ada teman di kelas. Sudah ya, temanku pasti menunggu di dalam kelas, sampai jumpa lagi Arif.” Ucapnya melambaikan tangan ke arahku dan pergi menuju kelasnya. Ah, akhirnya kita bertemu kembali.
Aku sengaja selalu memperhatikannya, entah itu saat upacara setiap senin pagi atau ketika kegiatan Ramadhan yang selalu ia ikuti setiap tahunnya. Aku berusaha menjadi orang yang bisa dilihat olehnya, oleh Mila. Hingga tahun terakhir kami di SMA.
“jadi, di Ramadhan kali ini siapa yang akan menjadi ketua panitia?” tanya salah seorang temanku, Fahri. Dia adalah ketua pengurus mesjid di sekolah. Sementara aku dan Mila adalah anggota dari kegiatan remaja mesjid di sekolah.
Mila tengah berbincang-bincang dengan temannya ketika aku melihatnya sekilas. Sepertinya, ia juga sedang memikirkan siapa yang akan menjadi ketua pelaksana Ramadhan tahun ini.
“biar aku saja.” Ucapku menyela.
Semua orang tentu saja melihatku, termasuk Mila. Dia terlihat senang dan mengacungkan kedua jempolnya saat kami saling bertatapan.
“baiklah, Arif terimakasih atas partisipasinya. Lalu untuk sekertarisnya?” ucap Fahri.
“Aku, aku.” Ucap Mila antusias. Tentu di dalam hatiku, aku sangat antusias dengan keinginan Mila. Waktu di SMA yang tidak akan lama lagi ini bisa aku lewati dengan momen berharga bersama Mila.
Kami lebih sering berinteraksi di bulan Ramadhan pada tahun terakhir di SMA ini. Karena kegiatan yang melibatkan kami berdualah yang menjadi penyebabnya. Ia seperti biasa, masih seorang gadis yang selalu ceria dengan segudang pekerjaan yang tak pernah selesai. Hingga suatu hari.
“sudah, berhenti!” Ucap Mila ketika teman-temannya sedang membisikan sesuatu, yang kutahu mereka bernama Nadia dan Anjani. Mila memang akrab dengan mereka berdua semenjak masuk SMA.
“ada apa?” tanyaku penasaran.
“gara-gara kalian bapak Ketua kita marah, kan?” ucap Mila pura-pura menyesal.
“aku tidak marah, hanya bertanya.” Ucapku.
“hehe, aku hanya bercanda.” Ucap Mila.
“Arif, kau tidak tahu? Mila baru saja jadian dengan Nanda.” Ucap Anjani dengan antusiasnya.
Hah? Jadian? Maksudnya? Aku memandang heran ke arah Mila.
“jangan menertawakanku.” Ancam Mila dengan salah satu tangannya menghalangi pandanganku untuk menatap ke arahnya.
“tidak, aku tidak akan tertawa.” Ucapku dusta. “siapa Nanda?” tanyaku padanya.
“dia...” Mila sedikit ragu untuk menceritakannya. Yang kulihat, ia menunduk malu dan wajahnya seakan tersenyum mengingat-ingat pria bernama Nanda itu.
“kami bertemu dengan Nanda ketika kami meminta bantuannya untuk mendekor panggung yang nantinya akan di pakai untuk acara terakhir Ramadhan.” Jelas Nadia. “ternyata hanya dalam beberapa kali mereka bertemu, Mila sudah jadian dengannya.” Lanjutnya.
Aku hanya terus menatap Mila, menatap ia yang akan pergi meskipun ia tetap ada dipandanganku. “Selamat.” Ucapku dengan mengelus sekilas pucuk kepalanya. “aku harus segera melaporkan perkembangan acara sekarang, sampai jumpa.” Ucapku pergi meninggalkan mereka dan berita menyedihkan yang baru kuterima.
Aku menyadari, mungkin ini jalan terakhir, harapan terakhirku untuk, setidaknya merasakan perasaan menyukainya tanpa harus mendekap erat tangannya itu. Ya, mungkin ia bukanlah gadis yang akan memiliki sepasang tulang rusukku. Aku akan mengubur perasaanku, tersimpan jauh hingga sulit untuk kembali ke permukaan.
****
Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, sampai sekarang Mila dan pria bernama Nanda itu masih saling berkomunikasi, namun aku mulai menjauh dari kehidupannya, terlalu dekat dengan gadis itu bisa saja membuat perasaan yang sudah terkubur rapat ini kembali bangkit dan menguap ke dasar. Tahun ini adalah tahun pertama kami dengan status sebagai mahasiswa, aku kuliah di salah satu universitas swasta jurusan Teknik Komputer. Sementara Mila, ia kuliah di salah satu universitas swasta yang berbeda denganku, yang kudengar dari ceritanya ia kuliah jurusan Psikologi.
Sayangnya, kampus kami tidaklah memiliki jarak yang cukup jauh. Terkadang, Mila sengaja menghubungiku karena ia ingin bertemu untuk sekedar mengobrol. Entah ia bercerita mengenai kekasihnya yang jarang sekali bisa bertemu dengannya atau menceritakan teman-temannya di kampus yang katanya lajang.
Mila pernah mencoba menjodohkanku dengan temannya, namanya Lia, Lia gadis yang cantik, dan baik, namun aku tidak tertarik padanya. Aku mencoba menutup perasaanku karena dia, Mila. Ketika Mila memperkenalkannya padaku, aku secara terang-terangan menolak untuk mengenal Lia lebih jauh. Bagaimana pun, meski perasaan itu sudah terkubur sangat dalam. Ia tidak menghilang.
****
Ramadhan akhirnya tiba, satu tahun lalu aku masih memakai seragam SMA dan mengurus kegiatan yag diadakan sekolah setiap bulan Ramadhan. Tahun ini, aku sengaja datang hanya untuk melihat bagaimana acara bulan Ramadhan tahun ini di sekolahku. Mila ada disana, tapi yang aku lihat ia sedang murung. Aku mencoba mendekatinya, mungkin aku bisa memberikan nasihat padanya agar ia tidak murung lagi.
“ada apa?” tanyaku.
“aku putus.” Jawabnya.
“hn?” Aku menatap matanya yang entah sedang menerawang kemana.
“aku putus.” Jawabnya lagi.
“bagaimana bisa?”
“aku hanya lelah. Kami memiliki hubungan tapi ia tak pernah peduli. Mungkin aku yang terlalu kekanakan, dan dia terlalu dewasa untukku.” Jelasnya.
“siapa yang memutuskan?”
“aku”
“jika kau yang memutuskan, kenapa kau yang bersedih?”
“itu karena...” Mila menggantungkan kalimatnya. “aku tidak tahu,”
Aku duduk di sampingnya. Aku menatap pemandangan yang ada di hadapanku. Semua ramai dengan stand-stand yang berjajar disana. “kalau berjodoh, Allah pasti tidak akan menempatkanmu pada perasaan yang membuatmu ragu.” Ucapku.
Mila menatapku, “iya, kau benar. Mungkin ini berkah ramadhan untukku. Allah membiarkanku merasakan perasaan sakit ini, agar aku kembali berfikir mengenai semua ini.” Ucapnya.
“sudah jangan bersedih. Jodoh mungkin datang setelah rasa sakit yang kau rasakan sekarang.” Dan Mila kembali tersenyum.
Ada sedikit kelegaan dalam hatiku ketika mendengar Mila sudah tidak bersama pria bernama Nanda itu. Aku tidak berfikir mereka akan putus begitu cepat. Selama ini, yang aku tahu memang Mila dan Nanda jarang sekali bertemu bahkan mereka berkomunikasi hanya lewat telepon atau pun media sosial lainnya. Itupun tidak sesering yang kalian fikir.
Di bulan Ramadhan kali ini, aku bersamanya kembali. Mila menjadi lebih intens untuk pergi bersamaku, entah hanya untuk mengantarnya pulang atau pun berbuka puasa bersama. Aku sadari, aku mulai mencari celah harapan dari hatinya. Aku memang egois, aku adalah pria egois yang memanfaatkan situasi yang seperti ini. Aku ingin mencoba, bukan hanya memendam perasaan yang nantinya mungkin akan terkubur kembali.
Semakin hari, aku merasa Mila sedikit berbeda dari sebelumnya.
“aku kesal dengan teman-temanku.” Ucapnya saat kami tengah menunggu Azan Magrib.
“kenapa?” tanyaku.
“gara-gara aku sering mengajakmu keluar mereka mengira kita pacaran.” Jawabnya.
“kau ingin kita pacaran?” tanyaku.
“hah?” Aku lihat wajah Mila sedikit memerah. “te-tentu saja tidak, kau ini jangan berfikiran yang tidak-tidak.”
Aku tersenyum dan menatap langit-langit kota yang semakin gelap.
“bang, mau beli bunganya?” tiba-tiba saja seorang gadis menawariku setangkai bunga merah. “untuk danus acara kami, satu minggu lagi disini.” Lanjutnya.
“berapa?” tanyaku.
“seikhlasnya saja.” Jawabnya.
Aku mengambil beberapa lembar uang di sakuku dan gadis itu memberikanku setangkai mawar merah.
“terima kasih, kalian pasangan serasih.” Ucapnya.
Aku hanya tersenyum sementara Mila terlihat terkejut mendengarnya.
“untukmu.” ucapku memberikan bunga itu padanya.
“kenapa?” tanyaku.
“mana mungkin aku membawanya ke rumah.” Jawabku.
Mila mengambilnya dengan ragu. Ia menatap bunga yang aku beri sambil tersenyum.
“aku jadi ingat sesuatu.” Aku mengambil sesuatu dari dalam tasku. “ini”
“flashdisk?” ucap Mila.
“aku membuat sesuatu untukmu.” ucapku.
“baiklah.” Mila menyimpan flashdisk itu ke dalam tasnya.
‘Allahuakbar.... Allahuakbar....’
“azan.” Ucap Mila antusias.
Kami kembali melewati azan Magrib bersama. Mungkin di lain hari, suasana ini akan kembali terulang dengan status yang berbeda. Kuharap.
****
Arif, dia adalah temanku sejak kami masih SD. Aku menganggapnya teman, awalnya. Aku mulai menyukainya, semenjak aku putus dengan Nanda dan ia datang seperti biasa, hanya perbedaannya kini kami semakin sering bertemu. Cinta itu tumbuh, ketika intensitas bertemunya semakin sering, antara aku dan Arif. Sayangnya aku terlalu malu untuk mengakuinya. Aku bertahan sebagai temannya karena aku tak ingin ia mejauh dariku. Aku ingin terus bersamanya, apapun statusnya.
Tadi sore, setelah kami berbuka puasa bersama, ia memberikanku bunga mawar, aku senang sekali hingga aku lupa caranya untuk bernafas. Meskipun, mungkin perasaannya tidak sama sepertiku. Juga sebuah flashdisk, tumben sekali ia memberikanku barang semacam ini.
Aku duduk di depan laptopku, menyalakannya dan melihat apa isi dari flashdisk yang diberikan Arif padaku. Sebuah video? Aku membuka video itu, betapa terkejutnya aku ketika melihat detik demi detik video yang dibuat oleh pria itu. Sebuah rangkaian kalimat. Yang mungkin awalnya aku hanya menganggap hal itu mungkin akan menjadi angan-angan semata.
‘Kita saling mengenal untuk waktu yang sangat lama. Perasaan layaknya seorang dewasa belum aku rasakan, bahkan tak pernah aku fikirkan sebelumnya. Namun, ketika pemisah menjadi tamparan keras untukku. Aku menyadarinya, aku mulai menyukaimu. Aku menunggu hingga waktu menyatukan seperti dulu. Benar saja, kita kembali dalam seragam SMA yang sama. Perasaan untukmu tidak berubah, utuh seperti dulu. Aku tetap diam di depanmu. Hingga si bodoh ini kalah oleh orang lain yang tiba-tiba saja hadir. Aku kalah. Aku kubur perasaan itu dalam-dalam, berharap dengan ini aku bisa menemukan perasaan yang sama pada orang yang berbeda. Nyatanya lain, kau tetap berada di pandanganku. Aku mulai kuatir dengan perasaan itu.
Allah mudah sekali membolak-balikan hati manusia. Tiba-tiba kesempatan untukku terbuka lebar, aku mulai menggali perasaan yang dulu pernah ku pendam terlalu dalam. Aku mulai mencari celah itu. Aku memulainya, aku menyukaimu sejak aku tahu kehilanganmu adalah masalah untukku, saat aku tahu melepasmu adalah penyesalan untukku, dan saat aku tahu perasaan itu hanya terkubur, bukan menghilang.’
****
Aku tersenyum melihat file demi file catatan yang ditulis Arif beberapa tahun yang lalu. Aku sengaja membuka laptopnya karena ia sedang sibuk dengan pekerjaannya di luar kota. Sementara aku harus mengurus pasien-pasien yang terkadang sengaja datang ke rumah. Betapa saat-saat itu adalah pengalaman yang akan menjadi pelajarang seumur hidup. Ya, Allah punya cara tersendiri untuk mengikat hati umatnya satu sama lain. Seperti kami, yang selalu mengukir indah kenangan di setiap bulan Ramadhan. Aku melihat  kembali catatan yang sengaja Arif tulis di secarik kertas dan ia tempel di belakang ponselku.
‘Jangan terlalu lelah. Ingat, buah hati kita sedang menunggu untuk melihat betapa indahnya wanita yang kelak akan menjadi surga untuknya.’

Komentar

share!