Secangkir Kopi




Karya:  Nia Carino


Cinta itu ibarat kopi hangat yang mengisi penuh gelas kaca. Terkadang rasanya terlalu manis kadang juga pahit, dan selalu menyisakan endapan disetiap dasar cangkir. Begitu pula dengan kisah kita. Kisah yang telah menyisakan begitu banyak endapan pahit didasar gelas tanpa kita tahu arti dari endapan itu sendiri. 



Hari ini aku menatap gedung yang dulu kelas kita, yang hanya ada hampa dengan sederet meja berdebu dan buku tertata di rak itu. Aku terbayang ketika kita berlarian mengejar ketertinggalan kelas, menguntit langkah berbuah peluh. Seusai pelepasan, akan lama pertemuan ini terhadir, akan rindunya kita tentang segelintir senyuman mungil terukir disudut sana. Saat itu, angin sore menyapaku, menyapu rindu yang sudah kutanam sekian lama dikalbu. Dua tahun lalu, digerbang sekolah tepat dimana aku berdiri sekarang, kita mengakhiri semuanya. Berusaha mengosongkan gelas yang telah lama kita isi dan memecahkanya.

 “Kau tahu, hal yang sulit kau lepaskan itu adalah perasaan tapi ketika alasanmu sangat logis untuk melepaskan perasaan itu, maka kau bisa menjadi sekuat matahari untuk terus bersinar.” Ucapanmu masih terngiang ditelinga ini, dan perlahan membuatku menyadari jika kau memang benar.

“Kau sering meminum kopi?” Tanyamu lagi disiang bolong dan aku hanya mengangguk. “Teh itu bagaikan perasaan dan gelasnya bagaikan hatimu.” Aku menyikapi setiap jeda dari kalimatmu.

“Apa maksudmu?”

Noni, ketika kau mengisi cangkirmu dengan kopi dan gula sama halnya ketika kau mengisi hatimu dengan perasaan. Setelah setiap rasa itu beradu dan terlarut dalam waktu yang lama, maka kita akan menyadari jika cangkir itu bukan satu-satunya tempat untuk membuat kopi, bukan hanya satu-satunya inti dari minuman.” Kau berhenti sejenak, terlihat seperti memilah kata.”Jadi aku ingin kita mengosongkan cangkir itu untuk sementara, menghilangkan setiap rasa didalamnya.”

Langit perlahan memudar dan hanya sebersik cahaya matahari yang masih bersinar. Gemerisik pohon pinus didepan kantor guru terdengar sangat riuh mengiringi adzan asar yang berkumandang merdu, saat itu adalah saat yang paling indah, saat dimana aku bisa merasakan gemerlap kebahagiaan memanggil.

“Semoga kau mengerti ucapanku, sekarang ayo kita buat keputusan sebelum matahari tenggelam.” Mendengar ucapanmu itu, aku pikir sebelum matahari tenggelampun, hatiku sudah sangat tenggelam.

“Perlu kita ingat Noni, pada hakikatnya belum tentu hal yang kita suka itu baik untuk kita.” Lagi lagi kau berucap

 “Cinta yang saat ini adapun belum tentu baik. Sekarang aku tahu bahwa sebenarnya hati perlu dimengerti, hati perlu dipahami




 “Kau benar, kau tahu apa itu takut? Jika kau tahu, maka kau harus belajar darinya.” Kau menatap mataku.“Karena sekarang, bukankah ketakutan kita sama?”

“Aku tidak pernah berpikir jika ketakutan kita sama.”

“Kau pernah berkata jika kita hanya punya dua buah ketakutan, yang pertama adalah takut pada Tuhan, dan yang kedua adalah takut gagal terutama gagal masuk universitas yang kita inginkan satu tahun lagi. Apa kau ingat semua itu?”

“Aku ingat Keval.” Aku berhenti sejenak berusaha mengatur oksigen yang keluar masuk paru-paruku. “Aku mengerti kenapa kita harus mengakhirinya sekarang, karena kau dan aku punya tujuan yang sama.”

Secercah senyum tampak menghiasi bibirmu, membuat cangkirku bergetar dan dengan bersahaja kita mengakhiri percakapan sore itu ditanah gambut yang panas.

Hari setelah semuanya berakhir, rasa kehilangan perlahan menghilang, lenyap, dan terkubur jauh. Bagiku kebersamaan itu sebenarnya tidak hilang, hanya pelakunyalah yang kini tengah mengasingkan diri didunianya masing-masing.

Dipagi pertama ujian nasional aku merasa aku sudah menyerah, tapi aku melihatmu dengan api yang kembali menyala dalam dada membangkitkan semangat dan gejolak mimpi. Mengharapkanmu, rasanya tidak akan sesulit memahami soal-soal. Kau tahu, cangkir yang berisi kopi itu tidak akan pernah ku kosongkan, aku akan menjaganya dan akan menunggumu menambahkan gula kedalamnya hingga terasa manis kembali.

Tahun berlalu dengan sederet kisah kelam. Dipenghujung malam sebelum tes masuk universitas aku bermimpi bertemu denganmu dibulan yang amat suci, tersenyum padamu dan merasakan betapa aku tidak mampu melangkah mendekatimu karena aku belum memiliki sepatu untuk berjalan. Esoknya, mimpi itu membangkitkan semangat dan membuatku percaya bahwa ada waktu dimana aku akan bertemu denganmu. Terkadang, ketika mengingat namamu semua terasa berbeda, barangkali aku lupa bahwa ada yang harus kujaga untuk tetap hangat, secangkir kopi milikku.

Setetes embun dipucuk pinus itu seperti membuka satu halaman yang telah kusobek beberapa tahun lalu. Tapi akhirnya aku mengerti mengapa saat itu kita memang harus berhenti, karena jika tidak maka aku tidak akan pernah bisa sampai dititik ini. Hampir duapuluh tahun usiaku kini, menoreh karir akademik dengan banyak harapan. Aku sangat ingin menulis sebuah buku dan berbagi pengalaman dengan banyak orang tentang pahit manisyang berlalu dan tentu harapan terakhirku adalah bertemu seseorang yang entah ada dimana dia sekarang.

Biarlah rasa manis disecangkir kopi itu memudar. Biarlah ada endapan hitam didasar gelasnya, aku tidak peduli walaupun harus menunggumu menambahkan gula kedalamnya. Kini bukan lagi takut yang akan membuatku berubah dan berusaha. Tapi mimpi dan secangkir teh yang ada dikehidupanku.




Siang ini menjadi siang yang sangat redup, sepulang mengenang tentangmu aku kembali kedalam duniaku. Kembali fokus pada hari-hari yang melelahkan.

“Maaf terlalu lama, ka” Aku dengan tergesa menghampiri ketua BEM yang sedari tadi telah menunggu

Iapun tertawa. “Tidak masalah. Sepertinya kamu habis mengenang seseorang disekolah itu”

“Ah tidak, hanya mengulas cerita masa putih abu saja.”

Ia masih tertawa. “Siapa yang telah kau kenang?”

“Eh aku pikir itu tidak terlalu penting.” Aku terkekeh.

Tak apa, ayo ceritakan. Aku masih penasaran dengan orang yang kau kenang disekolah itu.” Bisikknya seraya menggores jendela kaffe dengan tangannya yang berwarna sawo matang.

Ah, sudahlah. Itu tidak penting, lagipula kalaupun aku menyebutkan nama orang itu, Kakak tidak akan tahu. Lebih baik kita fokus pada rencana kita mengenai penyelenggaraan perlombaan se-Indonesia itu.”

Hening sejenak,

“Aku ingin menceritakannya padamu ka, tapi aku cukup tahu diri. Aku ini bukanlah siapa-siapa. Bukan adikmu atau teman dekatmu, dan kita baru kenal setahun yang lalu. Selain itu, aku hanya anggota organisasi disebuah kampus yang mana kau adalah ketua mahasiswanya.”

Noni?” Sungguh, ia mengagetkanku dan menatapku, membungkam mulutku dengan tatapannya itu.

“Tidakkah kau ingat aku?? Keval Kusuma Darmawangsa” Matanya mulai berbinar dan hatiku seketika berdegup kencang. “Akulah orang yang kau cari selama ini, akulah orang yang selalu membuatmu berpikir keras tentang masa depan. Noni, akulah orang jahat yang memaksamu untuk mengosongkan kopi dicangkirmumu.”

Akupun tercengang, perlahan mengatur nafas dan berusaha menenangkan diri. “Aku tidak tahu jika nama belakangmu Darmawangsa  dan sungguh aku tidak mengosongkan kopi dicangkirku.” Mungkin wajahku terlihat sangat kaget, pipiku mungkin merah merona dan sungguh sulit mengungkapkan jika semua itu adalah kebahagiaan.

Selepas hari ini akan ada hari lain bersamamu, berjalan mengukir kenangan baru hingga kita tahu bahwa cinta yang berakhir itu adalah awal dari cerita yang panjang. Walaupun perlu menunggu lama, tidak masalah karena aku bahagia cangkirku kini telah terisi penuh oleh kopi hangat yang sangat manis. Terimakasih Tuhan, kau telah memberikan kejutan indah dimalam Ramadhan tahun ini.

Komentar

share!