Secangkir Kisah Ramadhan Tahun Ini




Karya:  Daun Ungu

Udara pagi menusuk. Seakan jendela telah berhasil dijebol arwah angin. Kutarik selimut tebalku yang tersingkap hingga menutup seluruh tubuhku. Arwah dingin itu tidak boleh menyentuhku lagi. Dari jauh terdengar sayup-sayup suara yang tak asing lagi kudengar. Suara yang penah kudengar setahun silam kini terdengar kembali. Suara itu makin mendekat dan mendekat hingga aku bisa mendengarnya meski masih dalam jarak seratus meter. Ah, mereka!


“Sahuur! Sahur! Sahur!”
Orang-orang itu sungguh menganggu tidurku. Tak ayal lagi, bukan hanya teriakan tapi juga dipadukan dengan suara kentongan satpam yang biasa digunakan ketika melihat maling atau ada peringatan untuk warga sekitar. Suara-suara itu saling bersahutan. Aku langsung beranjak bangun dan membasuh wajahku. Ide mereka cukup bagus untuk membangunkan orang malas sepertiku.
Ketika aku ke ruang tengah, ternyata makanan sahur telah tersedia di atas meja. Lengkap dengan minuman kesukaanku, jus melon dan makanan kesukaanku, ayam bakar. Ternyata Ibu telah memasakkan makanan yang spesial di hari pertama puasa ini. Hmm, aromanya sungguh menggoda!
“Yang lain kemana ya?” tanyaku dalam hati. Rumah begitu sepi seperti tidak ditempati oleh siapapun. Ramadhan tahun lalu, biasanya adikku, Dimas, telah duduk manis melihat makanan yang telah tersaji di atas meja. Apalagi menu sahur kali ini ayam bakar. Uh, biasanya kami saling berebut untuk mendapat potongan ayam yang paling besar. Aku lantas mengambil ayam bakar dengan potongan terbesar agar Dimas tidak bisa mendapatkannya lagi. Tiba-tiba setelah aku mengambil potongan ayam itu, Dimas keluar dari balik tirai kamarnya dan menatapku lekat. Aku kaget akan kehadirannya.
“Kakak ambil duluan wekk!” ejekku pada Dimas. Aku tertawa terpingkal-pingkal akan keberhasilanku.
“Silahkan kakak..” ujar Dimas seraya ikut duduk bersama untuk makan sahur. Aku bingung melihat sikapnya kali ini. Sungguh berbeda. Biasanya ia akan mengomel sangat keras sehingga membuat ayah dan ibu marah. Kemudian Dimas tersenyum padaku. Loh, ada apa nih?
“Ayah dan Ibu dimana, Dim?” tanyaku setelah sesuap nasi mendarat di mulutku. Aku melihat ke arah dua tempat duduk yang masih kosong. Dimas menggelang.
Tiba-tiba Ibu dan Ayah keluar dari kamarnya. Mereka mengenakan pakaian putih bersih seperti baju yang Dimas kenakan. Mereka pun ikut duduk bersama menyantap ayam bakar yang sangat spesial ini. Entah mengapa mereka bertiga selalu tersenyum melihatku.
Selesai makan sahur, aku langsung bergegas pergi ke masjid. Pagi ini terasa berbeda. Orang-orang seakan tak menggubrisku. Teman sepermainanku juga tidak mengajakku mengobrol. Ketika aku mulai mengajak mengobrol pun ternyata adzan subuh telah berkumandang. Dia langsung masuk ke masjid tanpa mengajakku ikut bersamanya.
“Heh.. Cobaan, cobaan. Bulan Ramadhan harus banyak-banyak bersabar.” ujarku menenangkan diri. Aku langsung masuk ke dalam masjid dan bersiap-siap sholat fajar. Kemudian disusul sholat subuh.
Selesai sholat subuh, aku langsung tidur kembali.
Siang yang begitu terik membuatku terbangun. Bajuku basah karena keringat. Kalau bukan karena mengantuk, aku tidak akan tidur siang seperti ini. Membuatku sangat risih dengan keringat yang terus mengucur. Aku membasuh wajah dengan air, kemudian berjalan ke arah ruang tengah.
“Gas, kamu sudah bangun?” tanya Ibuku yang lagi-lagi tersenyum. Wajahnya seperti bahagia sekali. Hmm, mungkin beliau senang dengan bulan Ramadhan.
“Iya, Bu. Ibu kok dari tadi sahur tersenyum terus sih? Ada maunya ya?” ujarku cekikikan. Aku kemudian meraih handuk yang terjuntai di kursi, kemudian mengelapkannya ke wajahku yang basah.
“Tidak, Gas. Oh, iya nanti kita pergi ke pemakaman, Gas! Kamu bergegaslah sekarang.”
“Lain kali aja, Bu. Bagas capek..”
“Hanya sekali saja, Gas.. Ibu sangat merindukannya.” pinta Ibu penuh harap. Raut wajahnya kini tampak sedih. Aku tidak tega melihat perempuan bersedih, terlebih lagi beliau adalah ibuku.
“Baiklah kalau itu kemauan Ibu.. Bagas siap-siap dulu ya!” tukasku. Tanpa mendengar tanggapannya aku meninggalkan ibu dengan segala harapannya. Tak membutuhkan waktu lama, aku sudah siap dan tinggal berangkat. Ternyata keluargaku telah siap lebih dulu. Mereka mengenakan pakaian berwarna putih bersih. Beda denganku yang mengenakan baju hitam.
“Ayo, kita berangkat!” teriak Dimas berlagak memimpin jalan. Kami hanya tertawa melihat tingkahnya.
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit dengan berjalan kaki, kami tiba di pemakaman. Pemakaman itu cukup layak. Maksudku, tidak ditelantarkan layaknya makam-makam yang aku lihat di desaku. Tanpa kusadari Ibu, Ayah dan Dimas telah berlarian ke arah tiga makam yang berada di tengah-tengah pemakaman. Aku mengikuti mereka dengan santai sembari melihat nama-nama yang telah tercantum di batu nisan. Hatiku bergetar melihatnya. Secara tidak langsung aku menyadari hakihat kematian. Kematian bisa datang kapanpun. Lihatlah! Ibu saja sedang menangisi sebuah makam yang masih baru.
“Ibu, sudahlah.. Ibu harus sabar.” Aku membujuk Ibu. Kurangkul dia dengan segala tangisan yang ditahan-tahannya. Ia masih terus memandang pusara dihadapannya. Tapi saat kulihat batu nisannya, tidak tampak nama orang tersebut. Sepertinya nama itu belum dipasang atau bagaimana sih?
“Itu siapa, Bu? Sahabat Ibu?” tanyaku sambil terus merangkul Ibu.
“Lebih dari seorang sahabat, Gas..” jawab Ibu lirih. Isak tangisnya masih dapat kudengar walau pelan. Ya, pelan sekali.
Aku masih terus merangkul Ibu. Dari jauh kulihat Dimas dan Ayah yang juga memandang makam dihadapan mereka. Mereka juga terlihat sedih. Sedih sekali. Anehnya, aku tidak ikut bersedih seperti mereka.
Tak jauh dari makam di dekatku, kulihat sebuah lubang berukuran satu kali dua meter menganga di sana. Aku tahu itu pasti lubang untuk makam selanjutnya. Tapi lubang itu tidak dipergunakan dalam waktu dekat, sepertinya pemakaman dengan lubang itu  tidak jadi dilakukan. Tanahnya sudah sedikit ambruk ke dalam dan di sekitar tanah itu sudah ditumbuhi sedikit rumput.
“Ayah! Dimas! Ayo kita pulang!” teriakku dari jauh. Sudah terlalu lama mereka menangisi orang terkasihnya, satu jam penuh! Mereka dengan gontai menghampiriku. Ayah sudah membujuk Ibu untuk segera pulang. Alhamdulillah Ibu sudah mau melepas orang yang katanya lebih dari sahabat itu.
Setelah pulang dari pemakaman, keluargaku sudah ceria kembali. Ibu jadi sering bercanda gurau dengan ayah. Dimas juga sepertinya sudah tahu hakikat mengalah. Semua barang yang kuinginkan dengan senang hati ia berikan. Kecuali satu, ia tidak ingin aku meminjam baju putihnya. Huh! aku juga tidak membutuhkannya!
Tak terasa dua puluh hari Ramadhan kami lewati bersama. Kami selalu sholat tarawih bersama di masjid. Rakaat demi rakat kami lalui dengan penuh khusyuk dan kebahagiaan. Akhirnya sampai juga kami di bulan yang penuh berkah ini. Tak terasa air mataku meleleh mengingat banyaknya dosa yang kuperbuat selama hidupku.
Bulan Ramadhan tahun ini bagiku paling seru. Biasanya ayah tidak bisa ikut sahur dan berbuka bersama kami di rumah. Alasannya karena dinas keluar kota. Dihari-hari biasa, ayah paling tidak suka jalan-jalan bersama keluarga. Dia lebih memilih untuk lembur mengerjakan proyek yang selalu membanjirinya. Seringkali kulihat tumpukan kertas dan berkas yang sangat banyak di meja kerjanya. Hingga aku sendiri tidak dapat melihat kesibukan ayah dibaliknya. Tapi, Alhamdulillah tahun ini kami bisa lengkap hingga hari kedua puluh bulan Ramadhan. Ibu juga rajin menyajikan menu sahur dan buka bersama yang lezat dan bergizi. Siang harinya kami tak lupa keliling komplek, kadang juga jalan ke pantai dekat rumah.
Aku tidak tahu apa yang terjadi, mungkin karena aku sedikit egois semua warga di komplek perumahan mengabaikanku. Saatku menyapa mereka, mereka tidak membalas sapaanku bahkan tidak melihatku. Semua temanku juga seperti memusuhiku. Mereka tidak lagi mengajakku bermain. Hari-hariku kosong tanpa candaan bersama teman-teman. Hanya ada keluarga yang bersedia menjadi tempatku mencurahkan isi hatiku.
Suatu pagi aku berbincang dengan Ibu di teras rumah. Saat itu beliau sedang menikmati secangkir kopi yang hangat. Asapnya mengepul.
“Ibu senang gak dengan Ramadhan tahun ini?” ujarku menyelidik. Aku pun duduk di sebelah kursi Ibu.
“Ibu suka. Semua bulan Ramadhan Ibu senang. Apa lagi bisa meraih Ramadhan bersamamu, wahai laki-laki tinggi nan tampan!” Ibu tersenyum sambil menyeruput kopi hangatnya. Aku tersipu malu dipuji Ibu.
“Bu, kenapa teman-teman menjauhiku?” Akhirnya kuutarakan pertanyaan yang terus mengganjal pikiranku. Ibu tersenyum melihatku.
“Mereka mengurus kehidupannya, Gas. Kita kan ada kehidupan juga. Mungkin mereka terlalu bersemangat dengan bulan Ramadhan sehingga melupakan kerbersamaan dengan teman-teman.” Ibu kembali tersenyum padaku. Aku mengangguk.
Tiba-tiba Ibu terdiam kemudian datang memelukku erat, “Bagas, Ibu sayang kamu, Nak.. Banyak-banyak beribadah ya. Sebentar lagi sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.. Doakan Ibumu, Ayahmu dan Adikmu disini.”Aku kaget karena Ibu tiba-tiba memelukku.
“Asal Ibu terus mengingatkanku, pasti aku bisa melaksanakannya. Bagas selalu berdoa untuk kita sekeluarga, Bu. Ibu tidak perlu khawatir.” ujarku membalas pelukannya.
Hening di antara kami. Ibu masih saja memelukku erat. Entahlah, baru kali ini Ibu memelukku selama ini. Tiba-tiba terdengar isakan tangis dari belakang bahuku. Punggungku juga mulai terasa basah. Ternyata Ibu menangis.
“Sepertinya Ibu tidak bisa mengingatkanmu lagi, Gas..” ucap Ibu sambil terus menangis.
“Ibu kok nangis? Iya, iya deh. Bagas gak akan minta dibangunin sahur dan akan sholat fardhu jamaah terus di masjid.” Aku membelai kepala Ibu yang tertutup jilbab putih. Wangi bunga kasturi dari balik pakaiannya menyeringai masuk ke hidung. Aku belum pernah mencium parfum sewangi ini.
“Parfum Ibu wangi. Beli dimana, Bu?” tanyaku sambil terus membelai kepala Ibu.
Ibu berhenti menangis kemudian tersenyum melihatku, “Kalau kamu rajin beribadah nanti kamu akan mendapatkan parfum seperti yang Ibu pakai.”
“Benar ya, Bu? Bagas tunggu loh!” seruku. Ibu mengangguk. Ia menyeka matanya kemudian Ibu mundur beberapa langkah dan di dekatnya kudapati Ayah dan Dimas berdiri di sana.
“Bagas! Kami akan pergi!” seru Ayah dengan tegasnya.
“Kemana, Yah? Bagas mau ikut!” tegasku tak mau kalah. Ayah yang berdiri tegap dihadapanku tiba-tiba menangis. Baru kali ini aku melihat ayah menangis. Ia menutup matanya untuk menutup kesedihannya. Aku ikut sedih melihat ayah seperti ini.
“Bagas ingin ikut kalian! Hanya kalian yang Bagas miliki saat ini..” lirihku.
“Jangan, Gas.. Kamu harus terus berjuang dalam kehidupanmu... Kamu tidak boleh ikut kami... Kalau kamu rindu kami, kamu bisa berdoa untuk kami!” ujar Ibu lirih.
Aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Ibu. Apakah mereka ingin membuangku?
“Kak Bagas.. Kami mau bertemu Allah, Kak!” teriak Dimas. Matanya berlinang menahan tangis. Aku terperanjat. Air mataku mulai menetes. Aku mendekat ke arah mereka.
“Ayah! Ibu! Bagas janji gak akan nakal lagi! Bagas janji akan selalu patuh sama kalian! Tapi izinkan Bagas ikut kaliaan!” teriakku sambil menangis. Aku berlari mendekati mereka. Tetapi seakan jarak membatasi kami. Meskipun aku telah berlari sekencang mungkin tetap saja aku tidak bisa meraih mereka.
Mereka melihatku dengan iba. Lagi-lagi Ibu menangis. Aku semakin sedih. Aku tidak ingin kehilangan mereka semua Ya Allaaah! Aku berlari semakin kencang mendekati mereka. Tetapi tetap saja, sia-sia.. Hingga akhirnya aku terjatuh dan merasakan sakit yang teramat sangat disekujur tubuhku.
“Selamat tinggal, Gas..” Mereka melambaikan tangan ke arahku. Seketika cahaya menyilaukan menyelimuti mereka dan membawa mereka melesat jauh ke langit. Aku menangis sejadi-jadinya. Tanpa sadar cahaya menyilaukan itu juga menyelimutiku dan membawaku pergi entah kemana.
Aku membuka mata. Rasa sakit yang teramat sangat itu masih terasa di sekujur tubuh. Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Aku melihat suasana di sekitarku. Sebuah ruangan serba putih. Aku pernah mendatangi tempat seperti ini. Tapi dimana..
Tak jauh dari tempatku berbaring, berdiri seorang wanita dengan jilbab dan topi putihnya. Ia berbalik dan kaget malihatku. Ia pun langsung keluar ruangan meninggalkanku seraya berteriak, “Dokter! Dokter! Pasiennya sudah sadar!”
Dokter? Aku langsung melihat sekitar. Alat monitor jantung terletak di dekat kepalaku. Jarum infus juga terpancang di tangan kiriku. Tempat tidur berwarna putih adalah alas berbaringku.Tak jauh dari tempatku ada sebuah sofa panjang. Aku menghela napas.
“Kenapa aku di sini?”
Tak berapa lama kemudian masuklah seorang laki-laki berkacamata dan berpakaian serba putih diikuti oleh perawat yang kulihat tadi. Ia memeriksa mataku. Dia sepertinya senang melihat kondisiku yang sepertinya mulai membaik.
Aku melihat dokter itu. Dokter itu seakan tahu apa yang aku ingin tanyakan, “Syukurlah kamu sudah sadar, Nak. Kamu koma selama dua puluh hari.” Ia tersenyum melihatku. Aku terdiam.
“Dokter....” ujarku lirih. Aku mencoba sekuat tenaga untuk berbicara.
“Ada apa, Nak?”
“Keluargaku... dimana?” Dokter itu terdiam. Kemudian ia tersenyum.
“Kamu istirahatlah dulu, Nak ..Suster! Awasi dia dan periksa terus kondisinya!” Dokter itu kemudian beranjak meninggalkanku. Hanya ada aku dan suster.
“Mbak.. Keluargaku dimana,” tanyaku tak menyerah pada suster yang sedang mengganti tabung infusku. Ia juga tidak mengatakannya. Ia sibuk merapikan tabung infus tanpa mempedulikan pertanyaanku. “Mbak.. Tolong jawablah..” pintaku padanya. Lagi-lagi suster itu juga tidak ingin mengatakannya.
“Mbak.. Aku hanya ingin kepastian..” ujarku lirih. Ia seketika menghentikan kerjanya. Dan kemudian melihatku dengan tatapan sedih. “Mereka telah tiada karena kecelakaan tiga minggu lalu, Dik..” lirih suster itu, kemudian ia melanjutkan kerjanya. Ia menutupi kesedihannya tapi tak bisa ia tutupi sepenuhnya. Air matanya jatuh juga di atas selimutku.
Ya Allah! Aku menangis. Air mataku mengalir deras membasahi bantal. Ternyata benar keluargaku telah tiada. Aku jadi teringat dengan kesedihan Ibu saat di pemakaman. Aku menarik napas panjang. Kuulang semua memoriku tiga minggu silam. Tepat sehari sebelum puasa Ramadhan, kami sekeluarga pergi ke supermarket untuk membeli keperluan puasa. Canda tawa bersama mereka masih terngiang di telingaku. Dimana Dimas terus meronta dan merajuk untuk dibelikan ayam bakar. Kami hanya tertawa dibuatnya. Tanpa di sadari, mobil truk berkecepatan tinggi menghantam keras mobil kami. Entah berapa kali mobil kami terguling hingga akhirnya aku tidak sadarkan diri.
Aku menghela napas. Lagi-lagi air mataku mengucur deras. Ternyata hanya aku yang selamat dari kejadian mengerikan itu. Harus tinggal dengan siapa lagi aku selanjutnya? Mengapa semua orang yang aku sayangi harus pergi mendahuluiku! Kenapa aku tidak ikut mereka saja?!
Selama aku koma, aku menghabiskan dua puluh hari bulan Ramadhanku bersama keluarga untuk terakhir kalinya. Begitu bahagia, aneh sekaligus menyedihkan. Aku tak habis pikir, apakah benar jiwaku telah berpindah ke rumah dan menghabiskan dua puluh hari Ramadhan bersama arwah keluargaku? Arwah yang begitu suci yang membuatku bahagia. Aku tahu dan ingat semua perkataan dan kejadian bersama keluargaku selama koma. Apakah teman-teman mengabaikanku karena mereka tidak bisa melihatku? Benarkah makam yang ditangisi Ibu adalah makamnya sendiri? Lantas lubang makam yang dibiarkan kosong itu milik siapa? Benarkah orang-orang mengira bahwa aku juga akan meninggal?! Ya Allah!!
Masih ada sepuluh hari bulan Ramadhan yang tersisa bagiku untuk berpuasa. Di salah satu malamnya terdapat malam Lailatul Qadar. Malam seribu bulan, yang jika kita beribadah di malam itu maka sama seperti kita beribadah selama seribu bulan. Aku akan memanfaatkan sisa malam itu untuk memohon ampunan kepada Allah. Memohon ampunan untuk diriku, orang tuaku dan adikku.
“Ya Allah terima kasih Engkau telah mempertemukanku dengan keluargaku di bulan Ramadhan ini dan memberikan kesempatan bagiku untuk menikmati indahnya Ramadhan walau hanya sepuluh hari...” Aku memejamkan mata. Aku bersyukur masih diberi kesempatan hidup. Penuh kenikmatan. Saat kumembuka mata, kulihat Ayah, Ibu dan Dimas berdiri dengan pakaian serba putih dan bercahaya tersenyum ke arahku.
“Aku akan menepati janjiku pada kalian!” teriakku pada mereka. Mereka melambaikan tangan dengan senyum tersungging di wajah. Sedetik kemudian, mereka menghilang.

-Tamat

Komentar

share!