Satu Menjadi Kita




Karya: Tri Setia Agustiani

Ketika itu, hati sedang bergemuruh dengan hebat. Cobaan demi cobaan selalu datang silih berganti seiring berjalannya waktu. Sampai tibalah bulan yang istimewa, bulan di mana manusia berlomba-lomba mendapatkan ampunan dan pahala. Ramadhan telah tiba. Hati manusia memang tercipta untuk menampung segala kebaikan, layaknya fungsi hati yang semestinya membuang racun yang masuk ke dalamnya.
Ini baru awalnya. 


Ramadhan yang semestinya terlaksana dengan damai dan penuh kesabaran, kini malah sebaliknya. Yang seharusnya bersatu, sekarang terpisah. Namun, ketahuilah Allah akan senantiasa bersama kita dan mendengarkan setiap do’a dari hambaNya.
“Maafkan aku.” Tutur Siska dengan wajah menyesal lalu tertunduk. Semua yang mendengar pengakuan Siska nampak tercengang dan ada rasa kecewa padanya.
“Kenapa kau tidak pernah menceritakannya pada kami?” Tanya salah satu temannya.
Siska menggeleng pelan dan semakin menundukkan kepalanya.
“Karena aku tidak mau berbagi kepedihan pada kalian semua. Hal ini sangat berat bagiku dan aku hanya tak ingin membebani kalian.” Jelas Siska. Perlahan buliran bening mengalir dari matanya. Siska menangis.
Siska adalah salah satu murid di kelasnya yang biasa mereka namai Victory karena kemenangan yang tiada hentinya diraih disetiap event. Siska merupakan anak yang pendiam dan terbilang tertutup, kecuali dengan orang terdekatnya yang memang benar-benar ia percaya. Sekarang Victory mendapat cobaan yang berhasil membuat semua isi kelas terpukul dan merasa tak percaya dengan kenyataan pahit itu. Siska terjerat pergaulan bebas yang mengakibatkan ia harus keluar dari sekolahnya tercinta.
“Mana yang namanya Siska itu?”
“Apakah benar dia gadis berjilbab itu?”
“Sungguh tak punya akhlak sama sekali, dan bla..bla..”
“Sudah tahu sekarang ini bulan puasa, masih sempat-sempatnya, seharusnya kan bla..bla.”
Setiap hari kelas Victory harus menerima banyak pertanyaan dan juga tidak sedikit hujatan yang dilontarkan dari mulut kelas lain.
“Aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Kita harus menerima kenyataan yang sangat pahit.” Ucap Sabila frustasi.
“Tenangkan pikiranmu Sabila. Kita semua juga merasakannya, dan kita juga yang akan menanggungnya.” Hibur Putri sambil merangkul pundak Sabila.
“Dan aku mohon pada kalian semua, tolong jangan pernah sedikitpun menyalahkan Siska. Kita sama-sama salah, teman-teman.” Tegas Cinta kepada semua anggotanya. Bisa dikatakan Cinta adalah pemimpin kelas Victory.
Sekarang pandangan para guru pun mulai sedikit berbeda pada kelas Victory yang mulanya adalah kelas yang patut dibanggakan sekarang semenjak kasus itu, kelas ini sering sekali menerima kritikan pedas dari guru-guru pengajar.
Pada bulan Ramadhan ini mereka semua anggota Victory mengambil hikmah positifnya. Mereka semua tetap tidak pernah lupa untuk beribadah seperti mengaji, dan sebagainya. Walaupun ada saja celaan dari setiap orang yang memandang buruk pada mereka.
“Sabila berhenti!” Panggil seseorang yang membuat Sabila menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah seseorang itu.
“Dia lagi.” Batin Sabila sambil malas memandang ke arah orang itu. Orang itu tersenyum kecil.
“Apa kabar Sabila? Kita sudah lama sekali tak bertemu dan kau semakin cantik dengan jilbab yang kau pakai itu.” Orang itu adalah Diska, teman lama Sabila. Ya, teman lama Sabila yang sudah lama membencinya termasuk kelas Victory. Rasanya tak pantas jika harus disebut teman.
“Kabarku baik. Apa maumu?” Sabila sangat malas menanggapinya, ia hanya memalingkan wajah dari Diska yang sedari tadi tersenyum sinis padanya.
“Benarkah kau baik-baik saja sekarang? Aku tidak yakin.” Sindir Diska terkekeh. Sabila geram dibuatnya, ia sedikit mengepalkan tangan kanannya, ingin rasanya ia meninju orang itu sekarang juga. Kalau dirinya tidak puasa mungkin hari itu juga Diska sudah habis. Ia harus benar-benar menahan amarahnya kalau bertemu orang sepertinya lagi.
“Katakan saja apa yang ingin kau katakan, Diska!” Bentak Sabila.
“Hei, sabarlah. Tahan emosimu kalau tak ingin puasamu nanti batal.” Jawab Diska dengan tertawa ringan. Sabila diam, ia ingin menangis tapi ia tak ingin terlihat lemah di depan gadis licik ini. Astaghfirullah! Teriaknya dalam hati.
“Bagaimana rasanya kehilangan? Temanmu yang itu..”
“Namanya Siska.” Potong Sabila membenarkan.
“Yaah terserahlah siapa namanya. Bagaimana sekarang kondisinya? Pasti sedih sekali ya. Sudah mencoreng nama baik sekolah kita, dan keluar begitu saja. Pasti malu banget kalau aku jadi dia.” Celotehnya tanpa merasa bersalah. Sabila yang mendengarnya langsung naik darah.
“Cukup! Ini sama sekali bukan urusanmu! Aku ingatkan jaga bicaramu!” Jawab Sabila sedikit berteriak sambil menunjuk ke arah wajah Diska, namun dengan cepat ditepis oleh Diska.
“Berani sekali kau! Ini juga urusanku, ini juga menyangkut nama baik sekolah!” Tukas Diska kesal.
“Pergilah.” Ucap Sabila pelan. Ia sangat lelah jika harus berhadapan dengan seseorang yang menyebalkan.
“Kenapa? Kau...”
“Pergi dari hadapanku sekarang juga dan jangan pernah muncul lagi!” Sambung Sabila dengan kasar.
“Yayaya, baiklah aku pergi.” Kemudian Diska berlalu pergi. Di jalanan sepi itu hanya ada Sabila yang sedang berdiri mematung. Ia merenung, tatapannya kosong. Dirinya kembali teringat dengan kasus besar yang menyangkut kelasnya. Hatinya berkecamuk, sesak rasanya ketika mengingat setiap celaan dan tatapan tidak suka dari Diska pada dirinya. Sabila menghela nafasnya sejenak kemudian ia memutuskan untuk pulang.
Keesokannya, seperti biasa kegiatan pelajaran di sekolah dilaksanakan dengan lancar. Semua kelas terlihat tenang dan hening. Namun, tidak dengan kelas Victory yang terletak paling depan suasana kelasnya menjadi riuh dan ramai karena pelajaran mereka kebetulan sedang kosong. Mereka yang berada di dalam kini tengah asyik bercanda sampai menimbulkan suara gaduh yang terdengar sampai luar kelas. Hingga suatu waktu mereka tidak menyadari ada yang sedang mengawasi kelas Victory secara diam-diam.
“Lihat saja, kelasnya paling ramai di antara semua kelas. Bagaimana bisa disebut kelas terbaik kalau anak-anaknya saja selalu membuat gaduh, mengganggu saja.” Gerutu Fara seorang diri. Fara adalah salah satu teman sekelas Diska yang juga membenci kelas Victory semenjak kasus itu. Tak disangka ternyata Diska juga sedang berada di sana tanpa sepengetahuan Fara. Kebetulan kelas mereka sebelahan dengan kelas Victory.
Diska punya rencana dan ia langsung bertindak saat itu juga. Ia menuju ruang guru dan mengadukan kelas Victory pada salah satu guru piket, Diska menceritakan kelakuan kelas Victory. Guru piket pun dengan cepat segera menuju ke sana.
“Sedang apa kalian?” Seru Bu Yuli, salah satu guru piket. Semuanya pun tiba-tiba menjadi diam seketika karena terkejut dengan kehadiran Bu Yuli. Bu Yuli memang terkenal paling tegas diantara semua guru.
“Waktunya siapa sekarang?” Tanya Bu Yuli dengan nada sedikit marah.
“Waktunya Pak Trias, Bu.” Jawab Putri. Bu Yuli hanya bisa menggelengkan kepalanya dan masih dengan wajah yang marah dan tegas. Semua masih terdiam kaku karena masih takut sesuatu terjadi.
“Apa kalian sudah diberi tugas?” Tanya Bu Yuli lagi.
“Sudah.” Jawab yang lain.
“Lalu kenapa kalian sekarang tidak mengerjakan tugasnya, malah membuat gaduh tidak punya aturan!” Tegas Bu Yuli berdecak kesal. Semuanya hanya diam tidak ada yang berani menjawabnya.
“Ibu tidak habis pikir, sekarang kalian sudah berbeda. Kalian mulai nakal, susah diatur tidak seperti dulu lagi.” Terang Bu Yuli.
“Apa kalian tahu, sekarang semua guru-guru yang ada di sini tidak pernah berhenti membicarakan kalian semenjak kasus yang memalukan itu.” Tambahnya.
“Dan perubahan kalian sekarang drastis, dari yang baik sekarang menjadi buruk dimata semua orang.” Ucap Bu Yuli sekali lagi. Keadaan masih hening, wajah mereka langsung memucat ketika mendengar kabar buruk dari Bu Yuli tentang kelas mereka. Mereka sudah tak berani lagi menjawab, mereka tertekan.
“Ibu mohon pada kalian, jagalah nama sekolah ini dengan baik. Ibu tahu, ini sulit bagi kalian, tapi kalian harus tetap selalu menjaga diri. Jadikan bulan Ramadhan ini menjadi pembelajaran bagi kita semua, mohon ampunlah pada Tuhan Yang Maha Kuasa.” Tutur Bu Yuli dengan tulus. Jujur, Bu Yuli memanglah guru paling tegas, tapi hatinya sangat lembut.
“Baik Bu, maafkanlah kenakalan kami.”
“Sekarang cepat kerjakan tugas yang sudah diberikan dan dikumpulkan.” Kata Bu Yuli sambil beranjak pergi.
Ketika Bu Yuli sudah tak di sana lagi, semuanya menghembuskan nafas yang sudah sesak ditahan dari tadi. Mereka lega tapi juga khawatir, karena kelasnya masih buruk dimata orang lain. Di sisi lain, ada yang sedang tersenyum kemenangan atas berhasilnya rencana yang baru saja dibuatnya. Ya, orang itu adalah Diska.
“Rasakan itu, Victory abal-abal!” Gumamnya dari kejauhan sambil tersenyum sinis.
Ya Allah, apakah harus sesulit ini cobaan yang telah Engkau berikan? Tapi yakinilah, Dia tidak akan pernah memberi cobaan melebihi batas kemampuan hambaNya.
“Apa yang telah membuatmu hingga sebenci itu pada kami?” Tanya Putri ketika menemui Diska di perpustakaan sekolah. Putri tidak sengaja menabraknya ketika ia hendak mengambil buku, dan pada saat itu juga Diska mengutarakan kalimat yang menunjukkan bahwa ia sangat membenci kelas Putri.
“Aku hanya tidak terima.” Jawab Diska singkat.
“Tidak terima kenapa?” Putri sangat bingung dan penasaran.
“Apa kalian sama sekali tidak menyadarinya? Atau kalian memang pura-pura tidak tahu?” Diska mendengus kasar. Ia benar-benar benci! BENCI!
“Tunggu dulu, apa sih yang kamu bicarakan? Aku benar tidak mengerti. Kurasa kita duduk dulu.” Ajak Putri menunjuk arah tempat duduk depan perpustakaan.
“Oke.” Diska menghela nafas panjang.
“Ceritakan.” Perintah Putri ketika mereka berdua sudah duduk berhadapan.
“Aku hanya tidak terima melihat kalian selalu menjadi kelas yang paling baik, kelas terkompak, dan benar saja hampir semua event di sekolah pekan lalu kelasmulah yang mendapatkan juaranya. Kupikir kelasmu tidak pernah memberi kesempatan kelas lain untuk menang. Karena itu aku iri pada kalian dan aku membenci kalian.” Jelasnya dengan nada yang masih terdengar ketus. Putri tersenyum sedih lalu meraih pundak Diska.
“Ketahuilah, Dis. Ini semua tanpa direncanakan, kami pun sebenarnya tidak pernah berharap kalau kelas kami menang. Semuanya benar-benar di luar dugaan.”
“Dan kutegaskan sekali lagi, kami semua hanya bisa melakukan yang terbaik semampunya. Kami semua telah berusaha keras demi kelas, dan demi sekolah juga.” Ucap Putri dengan lembut. Diska hanya diam terpaku, ia masih ingin mendengar penjelasan yang lain dari Putri.
“Dan tentang kasus yang baru saja terjadi pada kelas kami, itupun juga benar-benar di luar dugaan kami. Kami harus menerima kenyataan itu dengan berat hati, walaupun masih sulit untuk melupakannya. Di satu sisi kami juga harus mendapat hujatan sana sini, kritikan pedas dari guru, pandangan tidak suka dari teman-teman yang lain. Itu semua juga tanpa direncanakan bukan? Kami semua hanya bisa melewati semua itu dengan lapang dada, toh kami bisa apa? Bagi kami hal yang wajar jika mereka semua membenci kami, termasuk kamu.” Cerita Putri dengan hati-hati.
Tubuh Diska mulai gemetar, ia sadar sekarang. Mereka memang boleh menang, mereka memang boleh behagia atas haknya. Tapi ia sadar ketika hati yang berbahagia berubah menjadi pedih, merekapun juga harus menanggungnya secara bersama-sama.
“Maafkan aku.” Kalimat itu begitu saja terucap dari bibir Diska dengan mudahnya. Oh, sepertinya kalimat maaf ini pernah ia dengar sebelumnya. Ya, Putri ingat betul ketika itu Siska juga mengucapkan maaf di hadapan teman-temannya saat kasus itu beredar dan untuk terakhir kalinya ia meninggalkan sekolah ini.
Putri menangis terharu mendengarkan kalimat maaf dari Diska, yang dulunya membencinya juga kelasnya, sekarang Putri benar-benar melihat ketulusan dari seorang Diska.
“Jangan meminta maaf padaku, mohon ampunlah pada Allah SWT. Dialah yang akan mengampuni segala dosa-dosa hambaNya.” Jawab Putri sambil memeluk Diska dengan eratnya.
Suatu hari, sekolah mengadakan kompetisi Hijab Fashion Show antar kelas. Setiap kelas harus mengeluarkan wakil masing-masing kelas minimal dua orang peserta. Ini adalah kesempatan bagi Victory untuk mengkreasikan busana muslim masa kini dengan model hijab, mereka benar-benar bekerja keras. Kelas Victory mengikutkan tiga orang peserta untuk dijadikan model, diantaranya Putri, Sabila, dan Tiara.
Tanpa diduga, pada saat acara berlangsung terlihat Diska juga mengikuti event tersebut. Sabila yang melihatnya langsung malas memalingkan wajah ke sembarang arah, jujur ia masih sakit hati dengan semua kelicikan Diska waktu lalu. Amarahnya tidak bisa terbendung lagi, Sabila sangat emosian tingkat tinggi.
Pada saat pengumuman dibacakan pemenangnya, semua kelas berharap kelasnya bisa menang, namun ada hal mengejutkan ketika itu.
“Selamat kepada Victory! Kalian kalian mendapat apresiasi busana muslim terbaik dan silahkan perwakilan kelas untuk maju ke atas panggung menerima piala penghargaan.” Seru pembawa acara dengan lantang, diikuti oleh tepuk tangan yang meriah dari penonton. Ada juga juga yang kecewa dan tampak tidak terima.
Putri, Sabila, dan juga Tiara nampak bahagia dengan antusias naik ka atas panggung melakukan penyerahan pengahargaan. Tetapi, Putri langsung meminta microphone milik pembawa acara untuk melakukan pidato singkat.
“Terima kasih sebelumnya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kemenangan ini tanpa diduga. Kami, juga berterima kasih pada teman-teman Victory yang sudah menuangkan ide supaya menampilkan hasil yang terbaik. Sebenarnya di samping itu kami sempat melakukan pertengkaran kecil seperti perbedaan pendapat, dan lain-lain. Ada satu lagi..” Putri nampak mengatur suaranya dan kembali berpidato.
“Ada seseorang di balik semua ini dan aku juga berterima kasih padanya.” Ungkapnya. Hingga semua penonton mulai bersuara menampakkan kebingungan, begitu juga Sabila dan Tiara yang tak mengerti maksud Putri.
“Orang itu...” Putri sengaja membuat semua orang penasaran dan ia tersenyum lebar.
“Diska!!” Pekik Putri dengan keras. Semua orang terbelalak langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Diska. Sabila pun juga tak percaya, ia masih terlihat bingung. Diska tak menyangka kalau Putri akan melakukan ini, ia juga tersenyum ikut bahagia.
“Diska silakan maju.” Perintah Putri, membuat Diska langsung berjalan maju menuju panggung. Sabila menganga lebar, semua penonton memandangi Diska sampai tidak berkedip.
“Putri apa yang kau lakukan?” Bisik Sabila.
“Sudahlah.” Jawab Putri. Ketika Diska sudah menaiki panggung dan menerima microphone dari Putri.
“Di sini saya ingin meminta maaf pada kalian teman-teman, termasuk pada kalian Victory. Aku sadar selama ini aku telah salah memandang kalian, aku sempat ingin menghancurkan kalian. Bahwa lama-kelamaan aku tahu bahwa jalinan pertemanan kalian sungguh kuat, sampai akupun tidak bisa mengalahkan kalian. Lalu, aku tahu Sabila juga sangat tidak menyukaiku akupun sebaliknya. Tapi, ketika aku melihat kalian yang selalu bersama, aku mulai tahu apa artinya teman. Dan di bulan Ramadhan ini, aku ingin menyampaikan mohon maaf lahir dan batin. Maukah kalian menjadi temanku?” Pengakuan Diska sangat membuat hati semua penonton merasa tersentuh, Sabila juga. Akhirnya Sabila memeluk Diska dengan erat, mereka menangis bahagia.
“Ya, kita adalah teman!” Teriak Sabila, dan diikuti suara tepuk tangan yang meriah dari semua penonton.
Allah selalu menepati janji, Dia menciptakan hati seseorang dengan sempurna. Allah tidak pernah menjauhkan yang dekat, senantiasa membuat semakin dekat hingga erat. Retakan akibat benturan hebat, kini menjadi utuh saat hati mencoba untuk menguatkan. Ketika diantara satu orang dengan lainnya terpisah, terpecah belah, yang mereka butuhkan hanyalah SATU untuk menjadi KITA. Sama-sama menerima, sama-sama memahami, sama-sama menanggung, dan sama-sama menjadi satu.

Komentar

  1. Ceritanya bagus sekali, hikmah yang didapat juga amat besar. Sukses selalu untuk penulisnya.

    BalasHapus
  2. Ceritanya bagus banget. Inspiratif. Penuh ide. Dan tak terduga. Ketika saya membaca seakan akan saya ikut menjadi bagian dari kelas victory dan merasakan apa yang dirasakan mereka. Sukses buat prnulisnya!

    BalasHapus
  3. Ceritanya sangat bagus dan penuh inspiratif.
    lanjutkan bakatmu dan sukses

    BalasHapus
  4. Cool! Bahasanya mudah dipahami. Seakan-akan, we entered to her story. Success for the author!

    BalasHapus
  5. Ceritanya serasa hidup dan tidak bertele-tele. I like it Victory!!!

    BalasHapus
  6. Ceritanya menarik sekali! Bahasanya mudah di pahami. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari cerita ini. Sukses selalu buat penulisnya!

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!