SANTRI KILAT




Karya:  Faela Sufah


Entah apa yang ada dipikiran bapak saya. Mengapa membuat keputusan yang sepihak. Oh, benar-benar sepihak. Bagaimanapun jika melibatkan orang lain, bukankah harus ada musyawarah antara dua pihak. Tapi apa? Hah, sudahlah. Itu sudah menjadi keputusan. Tapi, sayalah korban utamanya.


Hari ini adalah hari pertama puasa. Saya yakin hari yang ditunggu-tunggu kebanyakan orang. Termasuk saya. Tapi, setelah mendengar kabar dari mulut bapak, saya benar-benar berharap hari itu juga bukan Bulan Ramadhan.
“Siap-siap, nanti sore tak antar ke Sarimurni.”
Oke itu cukup menyenangkan awalnya, karena yang terpikir di benak saya adalah mungkin bapak mau membelikan baju baru atau mungkin takjil di Pasar Sore di dekat sana yang memang terkenal sedap-sedap.
“Memangnya ada apa?”
Pertanyaan basa-basi yang saya harap benar-benar terjadi. Tapi, ternyata…
“Tak antar ke pondok.”
What! Kali ini saya benar-benar membual, mengumpat, menghujat. Benar-benar hancur sudah rencana yang telah tersusun rapi dan matang dengan satu keputusan sepihak dari pihak yang tak dirugikan. Hufted.  Dalam perjalanan menuju tempat, yang kuharap hanyalah macet atau hujan atau bapak ada acara. Hash, lagi-lagi tidak tercapai.
Sesampainya tiba di tempat. Apa yang harus saya lakukan sekarang? Dihadapan saya ada mbak-mbak pondok. Haruskah saya hanya senyum? Atau bersalamankah? Ohh, benar-benar suasana yang tak saya inginkan. Canggung. Benar-benar canggung. Setelah melewati masa yang memuakkan itu, saya langsung di bawa ke lantai 3. Mungkin yang terlintas pasti pondok modern, bukan? Tidak sama sekali. Sedikitpun jauh dari kata MODERN.
Baiklah, saya berharap saya mendapat teman yang senasib dengan saya. Gagal lagi. Ternyata semua telah mempersiapkan akan menjadi santri kilat di sana. Bagaimana dengan saya?
Awal memasuki pintu kamar, dipikiran saya hanya ‘lumayan, tak terlalu buruk’. Inilah awal saya menjadi seorang santri kilat di sebuah pesantren. Saya tak tahu budaya apa yang ada di sana, lagi-lagi saya bingung. Haruskah saya pura-pura kenal dengan mbak-mbak ­pondok asli? Atau cuek dan acuk tak acuh? Aduh, untung saja ada yang mengajak berkenalan dulu. Awal percakapan benar-benar tidak biasa. Saya saja dengan orang tua saya jarang berbahasa krama yang seutuhnya bahasa krama tapi di sini saya disuguhi obrolan seperti itu. Paham tidak paham tapi mau bagaimana lagi, saya juga harus menyesuaikan mereka.
Hingga buka puasa pun tiba. Saya dan delapan teman yang juga hanya santri kilat bergabung menjadi satu kelompok. Lima diantra lainnya sebenarnya santri, sedangkan yang lain seperti saya ini. Tapi bedanya, mereka punya niatan di sini. Sedangkan saya sedikitpun tidak.
Kami pun mengambil sepiring nasi. Ini benar-benar di luar dugaan. Gila saja, nasinya benar-benar tidak normal. Terlalu banyak, mungkin dua kali porsi makan di rumah. Lauknya? Setumpuk kangkung yang diurap dengan kelapa tapi tidak merata. Disampingnya ada tempe gembus yang dimasak pakai kecap. Lalu ditengah-tengah ada teh. Hangat tidak dingin juga tidak. Begitulah. Lalu rasanya? Satu kata untuk semuanya ‘hambar’. Ampun dahh, kalau ini ada di rumah saya yakin saya tidak bakal mau makan. Sebelum makan, saya lihat sekeliling. ‘mereka benar-benar lahap’ pikir saya. Apa hanya saya yang merasa ini bukan makanan? Ohh, benar hanya saya. Teman sekelompok saya pun makan dengan gembira. Baiklah, hari pertama harus berbuka dengan sesuatu yang menurut saya tak layak untuk seukuran buka puasa yang biasanya lebih spesial dibanding hari lainnya, tapi mau tidak mau saya harus menghabiskannya. Entahlah, tiba-tiba saja piring ini kosong. Apakah saya makan dengan tidak sadar?
Sebelum berangkat ibu saya berkata, “Kamu tidak perlu bawa banyak makanan, di sana dekat pasar sore. Nanti kalau mau buka beli di sana saja.” Baiklah setidaknya ada rasa tenang. Berarti saya bisa jalan-jalan, pikir saya. Lagi-lagi itu salah besar. Dari sumber terpercaya, di sini semua santri dilarang keras keluar pondok tanpa ijin dan jemputan orang tua. Saya mengaduh lagi. Saya menyesal mengapa tidak membawa bekal beberapa bekal.
Setelah berbuka, kami pun tarawih. Saya kaget untuk ketiga kali. Saya kira sholat tarawih di masjid dekat pondok, ternyata tidak. Kami sholat di aula yang merangkap kamar tidur. Sambil menunggu imam, saya berkenalan dengan jama’ah sekitar.
Sholat tarawihpun selesai dengan tubuh diguyur keringat. Lalu kutanya teman kilat yang lain tentang jadwal setelah ini. Dan ternyata jadwalnya dimulai besok. Sekarang waktunya tidur. Kami mengambil kasur, bukan kasur yang tebal dan lebar. Melainkan kasur tipis dan sempit. Karena sebagian santri pondok di sana pulang dan memilih berpuasa di tempat lain, jadi cukup banyak kasur yang tersisa untuk kami, santri-santri kilat.
Tidur pertama terasa tak nyenyak, tak nyaman. Saya yang biasanya tidur ditemani guling, kini harus rela sendirian. Berselimut sarung yang merupakan bawahan wajib di sana, 30 menit kemudian saya terlelap. Di samping kanan ada orang di samping kiri ada orang. Saya yang biasanya leluasa ke kanan kiri, kini harus rela bertahan di tempat.
Kami pun bangun sahur, dengan nyawa yang belum terkumpul. Saya makan dengan mata agak terpejam. Kukira makanan buka puasa tadi hanya sekali dan lain hari lebih enak. Ternyata sama. Ya, tatanan yang sama. Tapi, entah apa yang membuat saya menghabiskannya padahal saya menghujat setiap kali makan makanan ini. Kini, saya menyadari apapun yang saya dapat, saya harus menghargainya tak peduli apa. Mengeluhpun tak akan mengubah apapun. Bukankah begitu?
Pukul 06.00 kegiatanpun dimulai. Dari simakan Al-Qur’an hingga mengaji kitab-kitab. Kitab-kitab tidaklah bisa dibaca, melainkan harus dipahami, dihayati dan diamalkan. Kami harus benar-benar mendengarkan dengan seksama karena bahasa kitab jauhlah berbeda dari bahasa sehari-hari. Tapi di situlah uniknya. Satu kata mungkin tidak cukup menulis makna dibawahnya (biasa disebut ngabsahi). Untunglah saya pernah mengenyam bangku MDA dulu. Jadi, cukup tahu cara menulis huruf arab tanpa harakat.
Jika mengikuti semua kegiatan dari awal hingga akhir, cukup sulit mencari waktu untuk mandi.  Tapi, untunglah sekarang ada waktu untuk mandi. Langsung saja, saya ke kamar mandi. Ehh, ternyata mulai hari itu juga dilarang mandi di lantai bawah. Siapapun kecuali pengurus dan orang-orang tertentu. Mau tidak mau saya mandi di lantai atas.
Kubuka pintu kamar mandi, seketika saya langsung menutup lagi. Oh, bagaimana ini? Kekagetanku telah mencapai klimaks pada saat itu juga. Bagaimana mungkin saya tidak kaget, di sana ada beberapa orang yang mandi bersama-sama. Masalahnya mereka mandi hanya mengenakan pakaian dalam. Ohh, saya perempuan tapi tentu saja saya malu ada yang melihat bagian tubuh saya. Walau saya tahu mereka pun perempuan. Sejak saat itu, saya benar-benar mencuri-curi waktu agar bisa mandi sendiri. Dan itu benar-benar sulit. Karena setiap kali saya kunci pintu, ada yang masuk entah mandi, cuci muka, cuci baju, wudhu atau bahkan ganti pembalut. Semua jadi satu.
Dua minggu berlalu, saya tak menyangka bisa bertahan. Kami berdelapan pun mulai akrab dan berbicara dengan bahasa jawa pada umumnya seusia kami. Terkadang berbagi cerita, pengalaman, ilmu, bahkan makanan minumanpun kami saling berbagi. Begitupun santri tetap di sana, kami mulai saling menyapa walau hanya senyuman. Di sanalah saya belajar menghargai makanan dan minuman, menghormati teman, mengelola uang, bersabar dan memanfaatkan waktu. Betapa bodohnya saya, memaki makanan padahal ada begitu banyak orang yang bahkan makanpun tak mampu, saya mulai belajar bersyukur dari yang saya punya. Banyak ilmu-ilmu baru yang tak saya dapat di sekolah umum. Setelah pulang dari sana, tentu saja saya tak mendapati makanan yang sama seminggu penuh di meja seperti di tempat itu. Di sanalah saya tahu, ternyata begitu banyak kesalahan kecil yang membawa dosa. Kurasa ini benar-benar Ramadhan yang menarik sepanjang umurku kini. Sungguh unexpexted Ramadhan. :D

Komentar

share!