Sanskrit Shaum




Karya:  Arina Kriswandani

Lantunan suara dari towa masjid samar-samar memenuhi ruang depan.

“Saur…saur...”

Ibu masih sabar mengusap kepalaku yang sejak sejam lalu berkedip-kedip nakal. Pelan-pelan ibu menyanyikan lagu untuk menenangkanku. Suara ibu tak terlalu merdu. Suara pas-pasan itu yang selalu mengantarku terlelap dalam gendongan bersama bubur sumsum di dalam perutku yang pelan-pelan dia suapkan sebelumnya sampai aku kenyang. Setelah meletakkanku di atas kasur, ibu menuju dapur untuk makan sahur.

Setiap kali aku menangis, ibu selalu menyanyikan lagu Tak Lelo Ledhung. Lagu sederhana yang menceritakan seorang ibu yang sedang menidurkan anaknya. Dalam lagu itu, sang ibu berusaha menenangkan tangis anaknya dan mendoakan agar ketika anaknya besar menjadi orang yang berhasil. Seperti itu pula lah doa ibu untukku. Doa ibu yang aku karamkan bertahun-tahun kemudian.

***



Jakarta, 2013

Protagonis atau antagonis tergantung dari seperti apa seseorang itu berperan dalam pikiranmu. Dan aku tidak peduli seperti apa aku berperan dalam pikiran seseorang. Aku menikmati hidupku sekarang. Hidup yang bahagia atas persepsiku.

Tubuhku meliuk beriringan dengan tegukan coctail yang mengalir mulus di kerongkongan pemuda-pemuda di hadapanku. Ku lucuti satu per satu kain yang tertambat di tubuh putih halus seperti butiran salju. Butiran salju yang meleleh lenyap ketika tangan-tangan hangat hendak menjamahku. Satu lucutan dan maha karya itu berdiri di atas meja bar. Hampir semua pria bersorak kesetanan.

Seorang pria naik ke atas meja dengan secaruk uang kertas. Dia ulurkan tangan hendak menyentuhku. Langsung saja aku berbalik seketika lenyap ke belakang.

Aku menari. Aku telanjang. Aku membiarkan pria-pria menyentuhku dengan balasan uang. Aku tersenyum. Aku lupa kapan aku menangis. Aku lupa cara menangis. Dan aku lupa seperti apa cinta yang sebenarnya.

Aku mahasiswi ibu kota yang bekerja di sebuah tempat hiburan malam. Pergaulan membawaku pada sebuah jalan yang awalnya berkilauan. Aku masuk jalan itu. Aku masuk lebih dalam. Sampai aku sadar bahwa sinar itu hanya bias-bias kesementaraan.

Diluar sana, orang berbondong-bondong mendatangi surau. Beberapa datang hanya setahun sekali saja, beberapa lainnya khusyuk berdialog sepihak dengan Yang Maha Kuasa. Bulan itu membius orang-orang untuk menjadi religious tiba-tiba. Mereka bangun lalu makan sahur di tengah malam, padahal sebelumnya selalu menunaikan sholat subuh jam enam. Jamaah rapat di awal-awal bulan namun tereliminasi keengganan mereka ke masjid kemudian.

Pada bulan itu juga pendapatanku menurun. Klub-klub malam dipaksa tutup, tempat-tempat karaoke sering dirazia petugas. Dalam ruang segi empat itu, aku duduk memunggungi malam. Aku matikan lampu dan membiarkan rona bulan masuk melalui lubang persegi jendela kamar. Aku merapal umpatan berulang-ulang. Suaraku mulai serak dikejar angin barat daya. Lalu aku diam terjebak elipsis kegamangan. Tubuhku bergetar perlahan. Bulan tak lagi berona sama. Malam bungkam diguyur hujan lewat. Aku tertunduk. Gelisah melengkung di wajah mendung tak bertudung. Tangis jatuh dari sudut mataku beriringan dengan air dari langit yang gugur tak berdaya ke pelataran. Dua buah garis merah pada satu batang kecil yang aku genggam luruh ke tanah.

Hampir separuh Ramadhan penuh aku berdiam diri di kamar. Tepatnya sejak aku mengetahui kehamilanku. Jangan tanya siapa ayah janin ini. Bahkan aku lupa sudah tidur dengan siapa saja. Aku kotor. Aku hina. Sampai akhirnya, aku melakukan dosa tak terampuni. Aborsi.

Di antara sepetiga malam, resah datang dan pecah lagi gundah. Setiap pasrah yang meninggalkan sisa bara sudah terbakar di tungku harap. Anak perempuan duduk di hadapanku dengan tiba-tiba. Wajah pucat pasinya menyolok mataku lalu diriku jadi kaku. Matanya menangis berdarah-darah . Anak perempuan itu berbisik.

“Ibu...”

Tangisku membeku lalu padam terberai didekap harap dari prahara. Nafasku tersengal-sengal dikejar mimpi buruk tadi malam. Aku terbangun.

Ponselku berdering. Sebuah pesan singkat masuk.

Dek, Ramadhan ini kamu nggak pulang?


Ibu.

***

Solo, 2015

Semalam aku dikepung serdadu kelam. Mereka menembakiku dengan peluru rindu. Sejauh apapun kamu pergi, selalu ada tempat untuk pulang. Sampai dini hari sujud lailku tersendat airmata pada sajadah kusam dan berlubang. Sajadah yang aku pegang malu-malu lantaran terlalu kotor tanganku sejak bertahun-tahun lalu. Gemeretas tasbih di sela jemari sudah usai kulantunkan.

Sementara di luar sana malam berpusing riuh angin. Salamku menutup purnama penuh. Aku masih terjaga. Di sisi kiriku, seorang ibu memicingkan mata. Dia jauh dekatkan ponsel dari jarak pandang. Tak berapa lama, ia tempelkan ponselnya di telinga.

“Nak, ini ibu udah di stasiun, keretanya berangkat jam...,” berlanjut obrolan panjang yang tertelan riuhnya orang berlalu-lalang.

Aku berjalan lagi. Begitu menghentikan kakiku tak jauh dari jalur kereta berhenti, aku terasing dalam atmosfer sepasang manusia yang beradu peluk.

“Capek? Ayo pulang,” kata si wanita lalu mereka lenyap dalam keramaian.

Begitu banyak orang pulang. Mungkin sebanyak itu pula kerinduan yang mereka bawa serta. Ramadhan selalu jadi bulan rindu beradu. Aku pun masih menunggu fajar menjemba subuh hingga pagi datang dan membawaku pulang. Pulang pada ibu yang ,ungkin tidak menungguku.

Sebenarnya, aku tak benar-benar ingin ditunggu. Karena segala yang aku bawa dari perantauan pun rasanya tak akan cukup berani mengetuk pintu rumah ibu sekarang. Tak seperti orang-orang yang pulang dengan membawa serta banyak barang. Tak seperti orang-orang yang sudah ditunggu di tujuan. Aku pulang seorang diri tanpa tahu seperti apa ibu akan menyambutku nanti.

“Segera datang kereta senja utama tujuan Solo Balapan...,” suara memenuhi ruang tunggu stasiun ibu kota.

Seperti hanya sekali pejaman mata, aku sudah sampai di pagar rumah baru ibu. Ibu berdiam menyambutku.

“Bu, aku pulang.”

Ibu masih diam.

“Aku belum membawa apa-apa, Bu. Apa ibu marah?”

Ibu tetap diam.

“Aku kangen, Bu.” Tangisku pecah.

Jangan kau kira ibuku akan mengusap kepalaku atau mendekapku hangat, nyatanya ibuku tetap diam saja.

Aku tersungkur di tanah, di sisi makam baru di bawah pohon kamboja. Aku pulang. Aku pulang tanpa ada yang menyambut kedatangan. Aku pulang tanpa ada peluk pereda rindu yang terhutang.

“Inikah oleh-oleh yang ibu harapkan?” lalu aku lantunkan Al-Fatihah pelan-pelan. Aku membawa banyak doa untukmu ibu. Aku membawa rindu melalui harapan yang semoga dijabah Tuhan. Aku tidak akan pernah lupa kapan Ramadhan terakhirku denganmu, Ibu

Komentar

  1. Hmmmm bnyak2 menghabiskan waktu dngn keluarga, mumpung mereka masih ada :')

    BalasHapus
  2. Good luck for this unexpected cerpen.. :)

    BalasHapus
  3. Good luck for this unexpected cerpen.. :)

    BalasHapus
  4. Arina keren.. salut gery salut coklut deh buat dia...

    BalasHapus
  5. Arina keren.. salut gery salut coklut deh buat dia...

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!