SAMUDERA HATI




Karya:  Selvy Fitriani

  Kakak menyayangimu, bangunlah sayang. Kakak selalu disini..” gumaman kecil itu selalu terulang dari bibir pemuda sunda ini. Warna kulit kuning langsat dengan senyuman yang selalu terlihat sempurna. Tatapan matanya tajam. Poninya menutupi setengah dahinya. Tubuhnya yang cungkring sama sekali tak mengurangi karisma-nya.



 Ramadhan kali ini harus ia lewati di rumah sakit. Pasalnya, penyakit adiknya kembali kambuh. Adik kesayangannya yang menderita kanker otak stadium II. Fatan mengusap wajahnya kasar. Mengingat nasib tragis keluarganya seakan mendorong airmata-nya untuk keluar. Tapi, Fatan selalu berusaha tegar. Tegar dan selalu tegar. Mengingat kematian ibunya saat melahirkan Jessica, ia tetap tegar. Mengingat ayahnya yang kemudian menikah dengan orang yang sama sekali tak wajar jadi ibunya, ia tetap tegar. Tapi, lihatlah. Saat Devita, adik kesayangannya, kembali terbaring dirumah sakit, pertahanan airmata-nya rusak. Dengan lancarnya, air itu keluar dari sudut mata coklat itu.

 Pintu ruangan tempat Devita dirawat terbuka, ada sosok gadis berhijab yang masuk. Hidungnya mancung, pas sekali dengan pipi tirusnya. Balutan jilbab panjang terlihat senada dengan baju, rok, kaos kaki, dan sepatunya. Bibirnya tipis, matanya bulat hampir sempurna. Oh, persis boneka barbie yang berjalan. Lebih tepatnya, barbie muslimah. Jessica masuk menghampiri Fatan, dengan buah-buahan dalam kantong kresek ditangannya.

 “Kakak makan dulu ya...” Jessica menyerahkan buah itu pada Fatan.Fatan memang tidak berpuasa, dengan berbagai alasan. Yang pasti, pemuda ini memang tidak dekat dengan agama. Sama sekali tidak dekat. Fatan berhenti mengusap-usap tangan Devita yang sedari tadi belum terjaga. Tatapan tajam itu kembali menusuk hati Jessica. Tatapan benci dari Fatan. Fatan mengambil buah itu kemudian meletakkannya diatas nakas. Tanpa menawari Jessica duduk, pemuda manis itu kembali mengusap-usap tangan Devita, berharap adiknya segera tersadar.

 Jessica berdiri disisi ranjang Devita yang lain. Dielusnya wajah kakaknya itu. Mirip sekali dengan dia, yang membedakan hanya jilbabnya saja. Jessica berjilbab, sementara Devita belum. Oh ya ada satu lagi yang beda dari Jessica dan Devita. Bukan masalah fisik tapi masalah keberuntungan.

Alunan merdu suara muadzin terdengar, mengajak seluruh muslim untuk menghentikan sejenak aktivitas mereka. Jessica segera menuju masjid yang terletak dirumah sakit ini.

 “Jessi, sholat dulu ya bang. Abang nggak mau ikut?”

 “Iya. Nggak”

 Jawaban yang sudah Jessica duga sebelumnya. Jawabannya singkat sekali. Ini sudah hal biasa. Hati Jessica sudah terlalu luas untuk menangisi sikap abangnya. Gadis itu seakan benar-benar barbie berhati malaikat. Tapi, entah kenapa, Fatan terlalu benci dengan adik kandungnya sendiri. Benci, sebenci-bencinya. Adakah kata yang lebih sadis lagi selain ‘Benci’ kepada saudara sendiri? Tentu ada, lebih dari itu. Fatan muak dengan Jessica.

.
.

 Pemuda berusia 8 tahun ini tak hentinya menangis ketika kabar kematian ibunya selalu terngiang dibenaknya. Sudah 2 tahun lalu ibunya meninggal. Artinya, sudah dua tahun juga orang yang ia benci hadir dikeluarga ini. Si kecil Fatan asyik bermain dengan adiknya yang lucu. Devita yang baru berumur 4 tahun itu selalu menjadi jagoan Fatan. Selalu menghibur hatinya.

 Jessica lebih suka bermain dengan pembantu keluarga ini. Selain ikatan batinnya yang jauh lebih dekat kepada Bik Ima, faktor yang menyebabkannya tidak mau bermain dengan yang lain adalah... Fatan. Jessica kecil seakan bisa mengerti, bahwa Fatan sudah membencinya. Seakan sudah mengerti dengan berbedanya tangisannya dengan Devita. Tangisan Devita seakan surga, yang membuat Fatan tertawa riang. Dan, tak usah bertanya bagaimana arti tangisan Jessica bagi Fatan.

 Mungkin, Fatan terlalu terobsesi dengan anggapannya. Menganggap Jessica-lah yang membunuh ibunya. Jessica-lah yang menghancurkan keluarganya. Jessica-lah yang membuat ia ingin pergi dari rumah. Jessica-lah penghancur segalanya. SEGALANYA TANPA TERKECUALI. Jessica telah sempurna menjadi PENGHANCUR HIDUP Fatan... Penghancur! Tanpa argumen yang.. masuk akal.

.
.

 “Kak Fatan sholat dulu, biar Jessi yang nungguin Kak Devita” Jessica baru selesai sholat.

 “Nggak. Ntar adik gue lo bunuh..”

 DEG...

 Sekali lagi. Hati Jessica sudah terlalu luas untuk menangisi sikap abangnya ini. Hal ini sudah biasa. Biasa sekali. Bahkan jika disuruh menangis, airmatanya tak akan mau keluar lagi. Tragis dan tak logis. Sudah seperti sinetron saja. Tapi ini faktanya. Fatan selalu menganggap Jessica pembunuh. PEMBUNUH! Kata yang tidak cocok diberikan seorang kakak kepada adiknya. Jessica diam. Menarik kursi untuk duduk disisi ranjang yang lain. Belum berani menatap mata abang-nya yang tajam dan...penuh dengan benci.

 “Devi.. bangun sayang, kamu gak mau main sama kakak lagi? Kamu nggak mau jalan sama kakak lagi? Ayo, berjuang dek. Lawan penyakit kamu demi kakak...” Fatan mencium punggung tangan Devi. Mata tajamnya penuh dengan ke-khawatiran dan harapan.

 Ya Allah..
 Kapan? Kapan Jessi bisa menerima kata-kata itu dari Bang Fatan.
 Apa Bang Fatan akan se-khawatir itu jika Jessi sakit?
 Jika iya, Jessi siap menggantikan posisi Kak Devita
 Jessi siap sekali Ya Allah

 Cemburu. Kata itu tentu saja selalu hinggap di hati Jessica. Cemburu dalam hal yang wajar. Cemburu saat abang-nya lebih menyayangi Devita. Cemburu. Cemburu sekali. Asal abang-nya tau, Jessica juga menyayangi abang-nya. Sayang sekali. Tapi, sekali lagi. Hati Jessica sudah terlalu luas untuk menangisi sikap abangnya itu. Luas sekali, mengalahkan samudera. Sebesar apapun ‘racun’ dari Fatan, ia akan tetap terlarut tanpa dampak apapun bagi samudera itu. Bagi hati yang luas itu.

.
.

 Kondisi Devita semakin memburuk. Dokter bilang sekarang gadis cantik itu tengah mengalami fase ‘koma’. Fatan semakin tak karuan. Hatinya tambah disesaki berbagai jarum. Kerongkongannya seakan disesaki oleh kerikil-kerikil panas. Sakit. Tercekat. Jessica juga sama. Bagaimanapun juga ia sangat menyayangi Devita. Secemburu apapun ia terhadap kakak cantiknya itu. Sesakit apapun hatinya. Ia tetap menyayangi Devita. Kini, untuk beberapa tahun lamanya Jessica menahan airmata itu, akhirnya tumpah juga saat mengetahui keadaan Devita. Rasa sesak didadanya saat ini jauh lebih sakit daripada rasa sesaknya saat dimarah, dicaci, dan dimaki oleh Fatan. Ini jauh lebih sakit. Sakiiiit sekali. Demi Allah, samudera yang luas itu telah dimasuki racun dari berbagai lautan. Menyebar.

.
.

 Fatan tak sanggup lagi berdiri. Kakinya juga terasa tertatih menopang badannya. Fatan terduduk lesu disamping sebuah pusara. Berkali-kali tangannya mengelus nisan pusara itu. Dia tak menyangka. Takdir ini...sungguh menyedihkan. Ia harus kehilangan orang yang ia sayangi. Sangat sayangi. Demi Allah, dia sangat menyayangi orang ini.

 Gadis berjilbab disampingnya sama. Terduduk layu dengan kaki sebagai penopang tubuh. Menangis. Menangis untuk kesekian kalinya. Takdir ini sungguh menyedihkan. Ia memeluk Fatan. Memeluk kakaknya. Fatan tak menolak. Ia semakin mendekap adiknya. Kini yang ia hanya miliki hanya adiknya ini, hanya....Devita. DEVITA.

.
.

 Belum lagi kabar Devita yang koma, samudera hati Jessica kembali diracuni oleh berita bahwa kanker otak Devita telah menyebar sampai ke hati. HATI. Tangis Jessica pecah sempurna seharian itu. Tidak sholat, tidak berbuka, tidak mengaji, semuanya penuh tangis.

 Ya Allah
 Jessi mohon, jangan kau cabut nyawa Kak Devi sekarang
 Jessi sangat menyayanginya ya Allah

 Do’a tulus itu telah menembus berbagai lapis langit. Telah membuat merinding makhluk langit karena mendengarnya. Do’a yang begitu tulus... do’a dari seorang adik kepada kakaknya. Do’a itu lantas saja diaminkan oleh penduduk langit, penduduk laut. Tanpa tau, akibat mereka meng-amin-kan do’a itu.

.
.

 Devita sudah sadar walau belum terlalu kuat. Fatan sangat senang. Senang sekali, adik kesayangannya sudah sadar. Seorang suster masuk ke ruang rawat. Ia menyerahkan sebuah surat ke Fatan. Fatan linglung. Surat apa ini? Dari siapa?

“Itu surat dari orang yang mendonorkan hatinya untuk Devita..”

 Perkataan suster itu. Kenapa perkataan itu membuat hati Fatan bergetar hebat. Terguncang.

 Perlahan tapi pasti, Fatan membuka amplop putih itu dengan jari-jari yang mulai bergetar. Mengambil isinya, sebuah kertas. Membuka lipatan kertas tersebut.

Assalammu’alaikum Bang. Ini Jessi, Bang. Jessi minta maaf ya Bang, perginya gak pamit dulu sama Abang, sama Kak Devi juga. Jessi cuma mau bilang kalau Jessi sayang sama Abang, sayang banget Bang. Jessi pengen banget Abang perhatiin Jessi, sayang sama Jessi kayak sayangnya Abang sama Kak Devi. Tapi, Jessi sadar kok Bang, Abang benci Jessi bukannya tanpa alasan. Salam ya Bang buat Kak Devi, semoga kak Devi udah sadar sekarang ya. Aamiin. Udah deh Bang, Jessi takut tambah nangis nulis ini. I Love You Bang. Jangan pernah jauh sama Allah ya Bang, cuma Dia yang bisa kasih solusi buat hidup kita. Buat Kak Devi, Jessi harap kakak mau pakai jilbab ya, pakai aja yang Jessi kak. Udah deh, Jessi udah nangis bener ini. Wassalammu’alaikum J

Jessi

 Airmata itu..keluar. Air mata yang berbeda tapi dari orang yang sama. Air mata yang pertama kalinya untuk Jessica. Air mata pertama dari Abang-nya. Andai Jessica tau, Abang-nya ternyata lebih tersedan kehilangan dia daripada melihat sakitnya Kak Devi. Andai Jessica tau...

 Ya Allah....

 Kini, Fatan betul-betul merasa kehilangan. Kehilangan sang pemilik samudera hati itu. Yang tak pernah lelah. Yang tak pernah mengeluh dengan ejekannya. Yang tidak pernah menangis. Isakan Fatan semakin menjadi. Andai Jessica tau ini.

 Jessi, Abang juga sayang sama Jessi... maaf.. maafin Abang Dek...”

 Jeritan hati itu tak akan pernah mengembalikan Jessica lagi. Jeritan hati itu tak akan pernah terdengar oleh Jessica lagi. Jeritan hati itu ... tidak akan pernah, sampai kapanpun tak pernah disadari oleh Jessica. Tapi,jeritan hati itu dapat membuat Samudera Hati Jessica kembali bersih. Bersih dari racun. Bersih tanpa noda. Bersih tanpa dendam, percayalah. Fatan tersenyum miris, menghapus bulir airmatanya.

”Jangan pernah jauh sama Allah ya Bang, cuma Dia yang bisa kasih solusi buat hidup kita”
Kata-kata itulah yang membuat Fatan kembali terisak. Dengan meninggalkan Devita, pemuda itu segera melangkah ke masjid rumah sakit. Sholat ashar berjamaah. Kakinya berjalan lunglai.

ALLAHU AKBAR...

Suara imam itu membuat hati Fatan semakin bergetar hebat. Ini adalah untuk pertama kalinya dia.. sholat setelah sekian lamanya meninggalkan sholat. Pertama kalinya dia kembali pada Allah setelah sekian tahun lamanya. Pertama kalinya dia terisak dalam sholat. Pertama kalinya dia akan selalu menyimpan nama Jessica dalam hatinya. Pertama kalinya... kebaikan bulan Ramadhan singgah dihatinya. Tetapi, inilah terakhir kalinya dia melihat sang pemilik samudera hati itu. Hilang dari sisinya.

TAMAT ~

Komentar

share!