SAJADAH YANG di HARAMKAN




Karya:  aira shima


Seakan tersesat dan tak tau arah, terbelenggu dalam diri sendiri. Berusaha mendobrak keterbatasan diri, melawan arus fikirannya, dan seakan tak puas dengan semua ini. Pun sampai ia mati.


Mungkin akan berhenti, atau hanya sejenak menghela nafas, sayang itu hanya sesekali.
Sama, masih sama
Bahkan setelah terpejam berulang kali
Sama, tetap sama
Walaupun mengiba ratusan kali
Sama, akan sama
Meskipun telah terhempas ribuan kali
Sama, dan masih tetap akan sama
Apa saja yang ada dihadapannya akan menjadi begitu berarti, bahkan ketika selembar koran pun yang tersisa.
Seakan tak mau mengalah dengan panasnya sinar matahari dan sunyi nya langit malam. Kakinya tak pernah berhenti menuntunnya menyusuri jalan-jalan ibu kota. Badannya masih berdiri kokoh meski diterpa guyuran hujan dan badai. Usianya memang sudah tidak muda lagi bahkan ia menjadi salah satu dari banyak lautan manusia yang menyaksikan hilangnya tanah-tanah lapang menjadi gedung-gedung pencakar langit.
Senada dengan hidupnya yang semakin sulit bernafas, takdir pun masih enggan menunjukkan keberuntungannya. Bertahun-tahun mengucurkan keringat di setiap ruas-ruas jalan, tapi butiran-butiran keringat itu hanya menghasilkan recehan-recehan yang hanya cukup untuk mengganjal perut dengan sebungkus roti saat adzan maghrib berkumandang.
Terasa haram baginya untuk berkhayal. Hal-hal yang tersusun rapi di otaknya tak berani ia wujudkan. Pun saat rasa iba itu menghampirinya. Angannya sudah mulai tergerus oleh waktu. Waktu yang mengajaknya tak bisa bermimpi. Impian yang teramat indah untuk ia wujudkan.
Setiap hari ia melewati tempat yang sama. Tepat di ujung jalan, ada toko yang selalu ia pandangi. Setidaknya sehari sekali ia hampiri dan hanya bisa memandangi dari balik kaca dengan ditemani suara bising kendaraan yang lalu lalang didepannya. Hanya senyuman yang ia tunjukkan saat memandangnya. Untuk beberapa menit ia terpukau, tapi berulang kali ia menepis lamunannya. Tak banyak memang yang bisa ia harapkan selain ia terus berjalan demi mengisi kaleng bekas yang setiap hari ia isi dengan recehan. Walau hanya seratus perak, kaleng itu tak pernah lupa ia isi demi mewujudkan harapannya. Harapan yang entah akan tercapai atau tidak. Sekali lagi, ia memang tak pernah berani bermimpi. Tapi setidaknya kaleng bekas itu bisa mengobati kekhilafannya saat anggan itu datang dan mengobrak abrik hidupnya.
Tak ada yang salah memang saat ia harus bermimpi. Sayang, hatinya selalu berbisik bahwa ia tak pantas melakukannya. Dan ribuan kali ia harus menasehati dirinya agar tak melampaui batas takdirnya.
Seolah takdir yang selalu ia persalahkan. Hidupnya pun tak berani mengubahnya, berubah untuk menjadi lebih terhormat. Entahlah, mungkin usianya sudah mengingatkannya agar tidak banyak menuntut.
Hanya “sajadah” yang  terpajang di toko ujung jalan yang tiap hari ia hampiri saja yang berani ia angankan., itupun tak memberinya keberanian yang cukup pula. Iya, memang hanya sajadah itu yang mengisi lamunannya selama ini. Lamunan yang selalu ia haramkan. Selama ini ia hanya bisa bersujud diatas selembar koran bekas yang selalu ia dapat saat menyusuri ruas-ruas jalan. Bahkan sering ia harus kebingungan mencari alas sujudnya karena sering kali ia harus mengganti alas sujudnya yang rusak karena tetesan air matanya. Ia memang hanya bisa meneteskan air matanya dalam sujud. Apalagi di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini,ia akan lebih lama tenggelam dalam sujud nya. Segala keharaman ia halalkan dalam sujudnya. Tak akan ada yang bisa mengusik ketentraman sujudnya.
Saat dimana ia halal bermimpi,
saat dimana ia menumpahkan tangisannya,
 dan saat dimana ia menggelar ribuan khayalnya yang tak pernah tercapai.

Komentar

share!