SAHUR WOY!




Karya:  Nasrul Mujib


Bulan ramadhan adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu umat muslim di seluruh dunia. Umumnya orang-orang akan melaksanakan ibadah puasa bersama keluarga tercinta mereka. Namun berbeda dengan orang-orang yang sangat sibuk dan harus menunggu hari libur untuk bisa berpuasa bersama keluargam, seperti halnya mahasiswa yang sedang ujian akhir semester (UAS) dan menanti hari libur untuk segera pulang ke kampung halaman. 


Selama setahun kuliah di kota Yogyakarta, gue baru nemuin dua orang teman yang udah gue anggap sebagai sahabat. Mereka adalah Parma dan Ady. Mereka ini ibaratkan sebuah handphone yang selalu gue butuhkan. Setiap hari kami selalu pergi ke kampus bersama, jalan-jalan, makan, ngerjain tugas, dll. Walaupun sebenarnya gue tidak satu kos dengan Parma dan Ady (mereka satu kos).
Kampus kami bisa dibilang salah satu kampus yang telat dalam melaksanakan UAS, karena banyak kampus yang sudah lebih dulu mengadakan UAS dan sudah libur. Inilah yang membuat kami harus merasakan puasa di kota orang dan sedang dalam kondisi UAS. Suasana puasa jauh dari orangtua memang sangat terasa ketika tidak ada yang menyiapkan makanan untuk buka puasa dan membangunkan saat sahur. Bagi Parma dan Ady ini adalah pertama kalinya mereka buka puasa dan sahur jauh dari orangtua, namun bagi gue ini adalah ke dua kalinya harus buka puasa dan sahur jauh dari orangtua. Tahun lalu gue sempat menjadi penyiar di salah satu radio Cilacap yang mengharuskan gue buka puasa dan sahur di radio.
Parma: aih gimana ya kita puasa jauh dari orangtua? Kayaknya bakal ga sahur terus nih, soalnya ga ada yang bangunin.
Ady: haha iya par, di rumah kan enak ada yang bangunin. Ga kayak di sini.
Gue: yaelah, tinggal sahur aje susah, ntar lah gue bangunin. Gue udah biasa kok bangun jam segitu.
Ady: serius lo?
Gue: iya lah tenang aja.
Tepat jam tiga dini hari pun gue bangunin mereka yang sedang nyenyaknya tidur. Di situ gue baru sadar kalau mereka memang sangat sulit dibangunkan. Sungguh membutuhkan kesabaran dan kerja keras.
Gue: par, dy, bangun woy.... sahur. (sambil menggerakan tubuh mereka).
*namun mereka tidak menunjukkan tanda-tanda bangun, kemudian gue bangunkan lagi untuk ke dua kalinya.
Gue: bangun lah, udah jam tiga ini... mau sahur ga? (dengan nada tinggi dan menggerakan tubuh mereka)
Ady: hmmmm... jam berapa sih? (sambil mengucek-ucek mata)
Gue: jam tiga lewat, buruan bangun... bangunin tuh Parma, susah banget dibangunin.
*setelah beberapa menitpun akhirnya Parma bangun dan kami bertiga segera menuju warung atau yang sering disebut dengan burjo.
Keesokan harinya kami bangun siang, karena setelah shalat subuh tidur lagi. Untungnya hari ini tidak ada kuliah. Selama puasa, kami banyak menghabiskan waktu di kos untuk sekedar main laptop, nonton film, baca buku, main game, atau bahkan tidur sampai sore. Kumandang adzan pun terdengar, kami bergegas untuk berbuka puasa di burjo. Setelah itu, kami pun tak lupa untuk menunaikan ibadah shalat tarawih di masjid.
Tak terasa jika puasa sudah memasuki hari ke dua puluh, namun Parma dan Ady masih sangat sulit dibangunkan untuk sahur. Saya benar-benar seperti orangtua atau lebih spesifiknya lagi sebagai ibu yang harus membangunkan mereka, tak jarang saya pun sampai kesal dibuatnya.
Gue: dy bangun dy, sahur yok udah jam tiga.
*Ady pun langsung bangun dalam beberapa menit. Namun berbeda dengan Parma yang masih saja susah dibangunkan.
Gue: par bangun par, sahur udah jam tiga.
*tidak ada jawaban.
Gue: par ayo par, mau sahur ga?
*masih tidak ada jawaban.
Gue: udahlah gue cape bangunin lo terus, susah banget dibangunin. Mending kalo gampang bangun. Yaudahlah gue tinggal.
Parma: yaelah gitu aja marah... yaudah ayo.
*dengan masih rasa ngantuk yang menyelimuti, Parma pun bangun untuk sahur.
Suatu ketika gue berpesan kepada mereka untuk merubah kebiasaan mereka yang susah bangun untuk sahur. Gue terus terang kepada mereka jika gue capek bangunin sahur terus. Mereka pun meminta maaf jika telah merepotkan. Semenjak itu, Ady mulai merubah kebiasannya untuk bangun sahur. Terkadang ia tidak tidur agar bisa tidak merepotkan atau bahkan sahur lebih awal sebelum ia tidur. Namun tidak bagi Parma, iya masih tetap pada kebiasaannya yang susah bangun.
UAS telah berakhir, itu artinya libur telah tiba dan waktunya kami untuk pulang ke kampung halaman. Ady lebih dulu pulang ke kampung halamannya Riau, sehingga hanya menyisakan gue dan Parma. Gue pulang kampung tanggal sembilan dan Parma tanggal lima belas. Sebelum gue tinggal dia ke kampung, masih ada dua kali sahur lagi yang mengharuskan gue bangunin dia. Tepat di sahur yang terakhir, gue berpesan pada Parma agar bisa bangun untuk sahur.
Gue: par, nanti pagi kan gue pulang, lo harus bisa bangun sendiri buat sahur ya.
Parma: iya insyaallah, gue bakal berusaha buat bangun. Tapi kalo ga bisa bangun ya terpaksa ga sahur.
Tepat jam setengah sembilan pagi gue dijemput oleh travel. Gue diantar Parma yang membawakan tas sampai kampus. Di situ lagi-lagi gue berpesan pada Parma untuk jangan lupa bangun sahur dan berhati-hati di kos sampai ia pulang ke kampung halamannya. Setelah itu gue pun masuk ke dalam travel yang akan membawa gue ke kampung halaman.
Setelah sampai di rumah, gue pun merasa bahagia dan senang karena bisa berkumpul bersama keluarga. Namun di sisi lain gue masih kepikiran Parma yang menurut gue bakal kesiangan untuk sahur. Akhirnya gue pun telphone dia, BBM, dan SMS, namun tidak ada jawaban. Beberapa menit kemudian pun ia membalas lewat BBM “gue udah bangun kok.” Di situ gue merasa senang dan ternyata di hari-hari berikutnya pun ia tidak pernah kesiangan lagi untuk sahur.
“Dari pengalaman gue ini semoga bisa bermanfaat buat kalian semua yang baca. Pesan dari pengalam gue ini adalah setiap orang pasti mempunyai titik kejenuhan atau kesabaran, maka tahu dirilah jika kita melibatkan orang lain dalam urusan kita. Setiap orang pasti bisa merubah suatu sikap atau kebiasaan tertentu, hanya butuh waktu untuk berproses. Pengalaman ini menurut saya sangat menarik karena pasti tidak hanya saya yang merasakan keadaan seperti ini. Dari pengalaman ini saya bisa belajar banyak hal.”

Komentar

share!