Sahur Malam Itu




Karya:  Hasan Sazali

Untuk kesekian kalinya ketika kakak menelpon aku tidak membacakan satu ayat qur’an pun. Padahal sudah menjadi kebiasaan apabila kakak menelpon dari tempatnya kuliah—Universitas Al Ahgaf, Yaman Hadramaut kami saling melantunkan ayat-ayat. Aku akan memegang qur’an sambil tersenyum senyum mendengar keindahan suaranya, kadang  aku juga menghadapi secarik kertas lalu menulis lafalan qur’an yang kakak bacakan, kejelasan huruf dan ketepatan tajwidnya membuatku tidak pernah salah menuliskannya tanpa bantuan apa-apa. Kemudian aku akan menyetorkan hafalan juz amma yang dimintanya.


“Zaki kenapa sudah beberapa kali tidak menyetorkan hafalan, Zaki keasikan main ya?” ucap kakak dibalik telpon. “Zaki sudah hafal semuanya kak, nanti pas kakak pulang Zaki setor semuanya,”jawabku. “Kalo gitu Zaki mau lanjutin hafal sampai khatam? Biar sama kaya kakak?”
Setelah itu aku tidak menjawabnya pura-pura bad signal lalu telpon kumatikan, kecelakaan itu membuat penglihatanku hilang. Kami tidak pernah mengabarkan hal ini pada kakak,”takut kakak khawatir lalu jadi tidak konsen belajar di sana,” ucap ibu. Aku menurut saja. Namun ketika kakak menelpon seminggu sekali, aku merasa ada hal yang hilang dari kami—saling berbalas mengaji itu.
Suatu ketika kami terkejut kakak meminta kami membeli handphone baru yang bisa video call. Dituntun ayah dan ibu kami pergi ke salah satu gerai handpone. Mereka menjelaskan bagaimana cara  videocall dan menyarankan beberapa aplikasi yang mudah untuk videocall. Minggu berikutnya kakak menelpon lagi, kami bertukar ID agar bisa videocall.
Sebelumnya aku meminta ibu menghadapkan posisiku benar-benar ke arah kamera dan membuka mataku seterang mungkin agar aku tidak sedikit pun terlihat seperti orang buta. Sambil videocall aku mengulangi semua kebiaasanku ketika menelpon biasa, aku tersenyum-senyum sambil menatap ke arah Al’qur’an, aku menulis lantunan- lantunan yang kakak bacakan lalu mengarahkan kertas ke kamera handphone. Kakak memuji hasil tulisanku.
Minggu berikutnya aku, ayah dan ibu menyandarkan handphone diantara buku dan meletakkannya di atas meja. Aku minta diceritakan tafsir surah Yusuf karena suka kisah Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya. Berminggu-minggu kakak menjelaskan kisah Nabi Yusuf. Di bagian pertama kakak menjelaskan kesabaran Nabi Yusuf menghadapi sauda-saudaranya, bahwa assabru miftahul faraj, sabar itu kunci untuk membuka semua kebahagian-kebahagian. Akhirnya Nabi Yusuf berkumpul dengan semua keluarganya yang selalu ingin menjahatinya.
Berminggu-mingu pula acting kami sukses, jika kakak sedang beralih posisi, atau beralih pandang ayah ibu akan memberi kode. Jika kakak sedang menatap ke arah ibu—dikanan mataku akan mengikutinya lewat  isyaratnya—ibu mengajak kakak mengobrol. Jika kakak sedang menatap ke kiri—ayah, maka ayah akan meminta kakak untuk menceritakan surah Luqman kepadaku. Bagaimana Luqman memberi wasiat kepada anaknya supaya tidak menyekutukan tuhan dan berbakti kepada orang tua.
Suatu kali, ketika kakak menjelaskan tafsir surah Yusuf kami bertiga terdiam. Saat ayah Nabi Yusuf bertanya kepada sebelas puteranya kemana Yusuf. Sebelas anaknya menjawab sambil menangis dengan membawa secarik gamis yang sudah dilumuri darah kambing.”Yusuf dimakan macan ayah.” Nabi Yu’qub gusar lalu mengambil gamis itu.
“Wahai anakku jika dimakan macan gamis ini tidak cuma berlumuran darah. Pasti juga sobek-sobek. Kenapa gamis ini tidak sobek?” ucap nabi Ya’qub.
“Ah.. bukan maksud kami Yusuf di  culik pencuri,” ucap anak-anaknya.
“Wahai anakku jika diculik pencuri pastilah gamisnya juga dibawa,” ucap nabi Ya’qub,
Setelah kisah itu kami mulai bertanya-tanya adakah gamis yang lupa kami sobek ataukah ada gamis yang lupa kami simpan. Akhirnya kami memutuskan akan mengatakan kebenarannya saat kakak pulang.
Minggu berikutnya kami tidak menggunakan videocall lagi. Aku minta dibacakan Al-qur’an dari juz pertama. Aku bertekad untuk menghafal Al-qur’an seperti dulu kakak pernah pinta. Karena sering berlatih menulis lafalan qur’an dari kakak tanpa salah aku yakin tidak akan salah menghafal alqur’an tanpa melihat mushafnya.
Berminggu-mingu aku menghafal alqur’an dengan kakak, di televise terkabar di Yaman sedang ada perang. Aku takut kakak kenapa-napa. “Kalau mau pulang diijinkan kalau tetap tinggal maka pengasuh universitas akan menjamin keamanan,” ucap kakak.
Aku takut tak akan menyelesaikan hafalanku, ayah ibu takut tak sempat mengatakan kebenaran. Sebagai janji bertemu kami bernadzar akan mengatakan kebenaran dan menyetorkan hafalanku saat kakak tiba.
Berbulan-bulan gejolak di Yaman membuat kami tidak enak melakukan segalanya. Setelah mendengarkan rekaman telepon kakak mengaji dari juz satu sampai juz tiga puluh, aku berdoa, menghafal, mendengarkan berita di televise, berdoa lagi. Katanya gejolak perang meluas kami makin hilang harap sebab kakak tidak lagi menelpon.
Sampai pertengahan Ramadhan, sudah jarang berita tentang perang Yaman dikabarkan, kakak masih juga hilang kontak. Aku berharap saat nuzulul qur’an kakak datang, hafalanku juga sudah khatam. Kakak masih belum datang. Kata orang malam seribu bulan Allah akan menerima segala doa, mengabulkannya dengan pasti.
Aku berdoa sejak pagi sambil menyetorkan hapalan kepada Ilahi sampai selesai tiga puluh juzz. Aku tertidur—bermimpi melihat kakak sedang shalat di kamarku, lalu duduk di samping tempat tidur menceritakan akhir tafsir surah Yusuf. Nabi Yusuf, Ayahnya,  dan sebelas saudara yang memusuhinya—yang telah bertaubat berkumpul lagi.
Kakak menyuruhku bangun sahur, air mataku mengalir dengan kerinduan menatap wajah kakak yang tidak banyak berubah, “Ayo Zaki Sahur!” ucap kakak. Aku tak bangun, kakak mencubitku. Rasanya sakit.

Komentar

share!