Saat Ramadhan




Karya:  Alvine

Ramadhan kali ini berbeda. Tahun lalu aku menghabiskannya dalam bui. Kali ini kurasakan kebebasan yang kurindukan. Namun hatiku berkata jika tak lama lagi pun aku akan menempati bui itu kembali. Huft.
***


Baru kali ini aku melihatnya duduk manis di sudut bus Patas AC yang melaju membelah jalanan kota ini. Pandangannya menatap pemandangan luar bus. Hanya rumah-rumah yang tak terjamah bentuknya. Entah memikirkan apa. Sudah cukup lama aku meliriknya. Sesekali aku harus mengalihkan pandangan ketika matanya menatap sekeliling, seolah mencari sosok yang memperhatikannya. Saat itu pula aku harus merelakan sepersekian detikku tanpa menatap siluet wajahnya untuk memandang objek lain.
Sebenarnya tak ada yang menarik darinya. Hanya berkaus t-shirt biasa dan jeans belel selutut. Rambutnya yang lumayan tebal menyentuh tengkuknya. Sesekali terlihat berkibar ketika ia mengusap wajahnya. Tas hitam kumal di pangkuannya sama sekali tak merusak penampilannya. Justru terlihat macho di mataku. Mungkin orang bilang ia seperti preman. Ah, peduli apa kata orang.
Aduhai, lihatlah! Kini ia berdiri, mempersilakan nenek-nenek dengan tas belanja di tangannya untuk duduk di tempat yang ia pakai untuk duduk. Tatapannya lagi-lagi tak lepas dari pemandangan luar bus. Walau sesekali melihat keadaan bus, mungkin merasa ada seseorang yang memperhatikannya.
3 gelang hitam di tangan kanan dan jam di tangan kirinya menambah kesan bebas pada penampilannya. Untunglah, ia tak memiliki tindik di telinga maupun hidungnya. Bulu matanya panjang, tidak lentik. Alisnya tebal dengan garis alis yang kukatakan bagus dan pas untuk wajahnya yang tirus. Hidungnya tak terlalu mancung. Bola matanya berwarna cokelat terang ketika tertimpa sinar matahari. Tak ada satupun jerawat di wajahnya.
Tingginya mungkin selisih 10 cm lebih tinggi daripada aku. T-shirt pendek berwarna biru laut yang bertuliskan ‘Art is Freedom’ menambah kesan bebas pada dirinya. Oh, anak seni rupanya. Pantas saja ia terlihat kepremanannya. Aku tertawa kecil dalam hati, entah apa yang aku tertawakan. Mungkin saat aku kepergok sedang memperhatikannya. Dan benar saja.
Ia mendatangiku, lebih tepatnya berjalan ke arahku. Entah memang sudah tujuannya turun atau mendatangiku, aku tak tahu. Saat itu aku hanya dapat menunduk dan merapal do’a untuk menenangkan jantungku yang tiba-tiba berdetak lebih kencang daripada biasanya. Mungkinkah aku jatuh cinta? Mengapa secepat itu? Padahal ini baru kali pertamanya aku melihatnya. Baru beberapa menit yang lalu aku masuk dan melihatnya di sudut bus. Bertopang dagu sembari melihat pemandangan luar. Mungkin dari tempatnya duduk, ia tak dapat melihatku.
Ada sekitar 5 orang lebih yang berpakaian sama denganku, seragam putih abu-abu. Ah ya, Ramadhan kali ini aku harus berpura-pura, memakai seragam sekolah. Bedanya, lelaki di samping kananku memakai celana panjang dan atasan pendek. Rambutnya cepak. Sementara perempuan yang sedari tadi tertidur di samping kiriku memakai rok panjang dan atasan panjang dengan headset masih terpasang di kedua telinganya. Dari mulutnya keluar suara dengkuran halus yang sedikit membuatku geli, namun kuabaikan.
Pandanganku kini hanya tertuju pada langkah kaki sosok itu yang perlahan mendekat dan semakin mendekat. Aku menahan napas ketika ia berhenti 3 meter di depanku. Rem bus berdecit sebentar, mungkin ada kendaraan yang mengerem mendadak. Ia hampir jatuh ke belakang jika ia tak berpegangan pada kursi dekat pintu bus. Dari bibirnya terucap kata “fiuh” perlahan. Mungkin hanya aku yang dapat melihatnya. Itupun dalam lirikanku, aku masih belum memiliki keberanian untuk menatapnya dalam jarak 3 meter di depanku. Terlalu dekat.
Bus kembali melaju dengan tenang. Kini melambat, sebentar lagi mungkin ia turun di pemberhentian berikutnya. Ia berjalan lebih dekat dan semakin dekat ke arahku. Sekarang tepat 2 meter di depanku. Napasku menderu. Kembali aku merapal do’a-do’a yang kubuat dengan kalimatku sendiri untuk menenangkan debar jantungku. Aku menunduk, semakin tak berani menatap wajahnya dalam jarak yang lebih dekat. Yang kulihat hanyalah sepatu tali miliknya.
“Permisi,” suara halus yang kudengar. Suara seorang wanita, suara yang sedari dulu kudambakan. Tak sadar aku meremas rok pendek yang kupakai untuk menutupi segalanya. Suara halus itu tak jauh dariku. Hanya berjarak 2 meter menurut perhitunganku.
“Permisi,” suara halus itu kembali terdengar. Tak lagi 2 meter jaraknya dariku. Kuberanikan diri untuk melihat pemilik suara halus itu. Kuberanikan diri untuk mendongak. Walau detak jantungku sedari tadi tak dapat berdetak normal. Semakin cepat saja detaknya menderu.
Argh!
Kulihat sudah wajah pemilik suara halus itu.
***
Suara sirine mobil polisi meraung memekakkan telinga. Dengan pasrah aku mengikuti langkah polisi untuk masuk ke mobil diiringi dengan tatapan jijik dari pengendara yang terganggu akibat kemacetan ini. Aku menunduk. Ya, mungkin ini sudah saatnya untuk menyerah dan kembali merasakan dinginnya malam di bui. Tebakanku benar. Saat aku menoleh ke kanan, kudapati sosok itu, sosok yang membiusku perlahan. Sosok yang baru beberapa menit yang lalu dapat menaklukkan hatiku. Dengan balutan t-shirt dan jeans belel dalam iringan polisi pun ia masih terlihat keren di mataku.
Rambut panjang palsuku tak lagi menghias di kepalaku. Ia sudah tergeletak di dashboard mobil polisi yang akan kutumpangi. Mungkin untuk barang bukti. Seragam putih abu-abu yang kupakai tak lagi beraturan. 5 langkah lagi aku memasuki mobil polisi, mobil yang setahun lalu juga kududuki. Keramaian tiba-tiba terdengar dari arah kiriku. Aku menoleh ke arah keramaian itu. Pengendara yang mencoba memasuki garis polisi. Ah, kejadian biasa.
Tapi tunggu. Sepertinya aku mengenali wajah itu. Wajah yang selama 4 tahun ini tak kutemui. Wajah yang memberiku asupan gizi sedari kecil walau tak sempurna. Wajah yang mencoba kubenci dengan alasan ia pembunuh ayah yang dahulu amat kusayang. Cukup sudah. Pengendara itu ibuku. Ibu kandungku yang merawatku sejak kecil hingga aku berumur 16 tahun, setelah itu aku pergi darinya. Tanpa mengetahui apapun yang terjadi setelah 4 tahun aku tak bertemu dengannya. Saat aku pergi darinya, aku hanya beranggapan bahwa ialah pembunuh ayah. Walau tak ada bukti. Ternyata itu hanya hasil hasutan saudaraku yang iri akan kekayaan ayah hingga tega membunuh ayah lalu menuduh ibu yang melakukan itu semua. Setelah itu, ia mengusir ibu yang lemah dengan mudah dari rumah.
Kini, wajah itu yang kurindukan. Wajah pengendara yang terus memberontak ingin memelukku namun tangan-tangan polisi yang kejam menghalangi itu semua. Derai air mata mengalir deras di wajahnya, wajah ibuku. Menangis melihatku yang lelaki namun berpakaian wanita.
Tamat

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!