Rosy Rombeng untuk Si Kembar




Karya: MIR’ATUL MARATIK SALIM

“Weni! Ayo cepat! Jangan lelet dong! Udah adzan nih, aku tinggal yah, bye!” kataku
“Iya Seni, sebentar lagi” dengan suara lembut.
Hah, aku bosan mendengar kalimat itu. Apa tak ada kata lain ya selain “sebentar lagi”? TAK ADA, TITIK. Sudah hampir 6 bulan Aku dan Seni tidak pernah akur. Ibuku meninggal 6 bulan yang lalu. Ayahku hanya pulang untuk sekedar makan malam, lalu pergi lagi. Aku benci ayah. Apalagi Weni. Dia sungguh menjengkelkan. Jalan lama, makan lama, mandi lama, ngomong lama, semuanya lama. Pokoknya aku tak suka punya kembaran seperti dia!.


“Bibi Arzu, jangan lupa donat kesukaanku untuk sahur yaaaaaaaahhhh?” kataku teriak.
“Siap noon!” ucap bibi.
Aku rasa 6 bulan terakhir hanya bibi yang perhatian padaku dan Weni. Apalagi bulan Ramadhan ini, bibi selalu membuat makanan yang enak. Tapi, tetap saja makanan ibu lebih enak daripada makanan siapapun. Aku jadi kangen ibu. Dulu ibu selalu siap sedia untuk membuat makanan enak.
“Assalamualaikum nak” ayahku.
“Hah, kok tumben ayah pulang sore, biasanya selalu malam” kataku dengan sinis pada Weni.
Weni hanya mengangkat bahunya yang artinya dia juga tak tau alasannya.
“Seni, Weni kenalin ini Tante Rosy, mulai sekarang kalian panggil Tante Rosy Mama yaa, Tante Rosy bakal jadi ibu baru buat kalian. Jadi, kalian harus nurut sama Mama” jelas ayah.
“Apa??!! Aku tak mau!!” kataku sambil menarik Weni dan pergi ke kamar.
“Seni!! Weni!!! Kalian!!” Teriak ayah.
Aku semakin benci saja pada ayah, lagi-lagi dia membuatku kecewa karena esoknya Bibi Arzu diberhentikan dan hanya ada Rosy Rombeng yang menjagaku dan Weni. Aku tak mau panggil dia Mama. Weni juga bilang begitu, dia tak suka pada wanita berambut keriting dan berbadan 3 kali lebih besar dibanding Ibu.
Hari demi hari kami lewati, Aku semakin dekat saja sama kembaranku Weni, sepertinya dia mulai banyak bicara semenjak Rosy Rombeng datang. Ya, Rosy Rombeng adalah julukanku dan Weni padanya. Kami selalu membuat wanita itu geleng kepala.
“Seniiiii!!! Weniiii!!!! Kenapa telornya pecah dimana manaa??!!!!” kata Rosy.
Kalau sudah begini, biasanya aku dan Weni bersembunyi di tempat persembunyian yang tak akan pernah dia temui. Jika ayah datang, baru kami keluar. Ayah juga sering pulang lebih awal semenjak Rosy datang.
“Sen, Wen, ayah pergi ke luar negeri, ada tugas dari kantor, kira-kira seminggu, Kalian sama mama ya, jangan nakal juga yaaaa sayang” kata ayah sambil masuk ke mobil.
Aku dan Weni tak pernah menjawab pertanyaan ayah. Tiga jam setelah ayah pergi, Aku melihat berita di TV tentang jatuhnya pesawat. Tak lama, telepon rumahpun berdering. Rosy Rombenglah yang mengangkat teleponnya. Aku dan Weni melihat dia yang sedang menangis sambil bicara.
“Seniiiiiiiiiii, Weniiiiiiiiiii ayah meninggal, ayah udah nggak adaaa” katanya sambil memeluk dan menangis tersedu-sedu.
“Ayaaah? Huaaaaaaaaaaaaaaaaaa” kata Weni.
“Aku nggak mau ditinggal ayaaaah” kataku.
“Sabar yaaaa sayaang, mama selalu ada buat kalian” kata dia.
Aku dan Weni begitu terpuruk atas meninggalnya ayah. Kami selalu menangis setiap kali teringat akan ibu dan ayah. Tapi, lama kelamaan kami menyadari bahwa Rosy Rombeng tidaklah menjadi Rosy Rombeng, selama ini dia selalu sabar menghadapi kami yang sangat nakal. Padahal, dia sudah mencoba menjadi mama pengganti ibu yang baik selama ini.
Di bulan suci ini, kami bertiga semakin akrab dan sayang satu sama lain. Mama memberi kami banyak pelajaran tentang arti kehilangan. Mama juga mengajarkan kami untuk selalu menjadi yang terbaik dimanapun kami berada. Aku sadar, selama Ibu meninggal, aku tak pernah mendapat juara kelas. Padahal dulu, aku selalu mendapat juara itu.
Tapi Tuhan memang adil, karena selama itu pula Weni mendapat juara kelas. Dia memang terlihat lebih kuat dibanding Aku. Jadi, sudah pasti dia pantas mendapatkan beasiswa di Wanter Heights Boarding School. Aku sih, sudah bersyukur sekolah di Mermide School dekat rumah. Semuanya terasa seakan-akan menghilang dari kehidupanku. Ibu, Ayah, dan sekarang Weni. Ini pelajaran buatku yang selalu egois.
1 tahun berlalu. Kini, sudah hampir bertemu dengan Bulan Ramadhan yang baru. Tetiba, aku mendengar suara bel rumah berbunyi. Aku segera membukakan pintu. Aku membuka pintu, dan ternyata yang datang itu Pak Pos. Perlahan lahan, aku buka surat itu, dan ternyata itu surat dari Weni.
“Seni sayang, Aku disini. Di Wanter Heights Boarding School. Aku merasa seperti salah satu gadis di buku-buku tentang sekolah itu. Aku menangis sebentar setelah Ayah pergi, tapi seorang gadis besar yang ramah merangkulku. Namanya Jamilla, dia kucing kesayanganku. Dia hanya menunjukkanku di mana letak segalanya, ruang kelas, kamar tidur, ruang makan dan kamar mandi. Kami disini diberi ayam dan kentang goreng untuk makan malam. Aku ada di kamar tidur sekarang dan ada tiga gadis lain yang sekamar denganku. Salah satunya bernama Lucy, dia pakai kacamata kecil dan punya banyak boneka kelinci. Dia juga bilang padaku kalau dia ingin jadi teman akrabku dan kubilang ya tapi kaulah teman akrab terbaikku, Seni. Dengan banyak dan banyak cinta, Weni”.
Seketika, mataku berbinar dan menjatuhkan air mata. Aku menangis. Tak kusangkan aku menangis untuk sekian kalinya. Aku merindukan kembaranku. Kembaran yang selalu diam tanpa kata selepas Ibu meninggal. Lalu, aku membawa surat itu masuk rumah dan menyimpannya diatas meja belajar. Waktunya sholat ied. Aku bersama Mama segera ke masjid Al- Barokah dekat rumah.
“Ma, barusan Weni kirim surat untukku, aku kangen sama dia” kataku sambil berjalan pulang.
“Oya? Ko Mama gatau sih? Ya sudah Sen, nanti dia juga pulang kalau selesai belajar disana” balas Mama.
“Loh kok rumah gelap gini sih Ma?” tanyaku.
“Mama juga gatau Sen”
“TARAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!! SELAMAT ULANG TAHUN SENIIIIIIKUUUUUU, KEMBARAAANKUUUUUU!!!” teriak Weni.
Happy Birthday to you, happy birthday to you, happy birthday happy birthday, happy birthday to youuu, yeeeee”
“Weniiii, kembarankuuu, sahabat terbaikkuuuu, separuh jiwakuuuuuuu” balasku sambil memeluk.
Apaaaaa???!!!! Aaaaaaaaaaaaaa. Weni tiba-tiba ada di depan mataku dengan kue ulang tahun yang ada di atas telapak tangannya. Aku sangat terkejut. Teman-teman di sekolah juga datang meramaikan. Aku bahkan lupa hari ini aku dan Weni ulang tahun. Mungkin karena aku terlalu sedih. Tapi sekarang, aku bahagia sekali melihat Weni hadir disampingku kembali. Menyambut Ramadhan kali ini memang sangat mengejutkan dan penuh berkah.
“Pokoknya, Aku Kamu nggak boleh pisah lagi yaaaaaaa, janji??” kataku sambil menangis.
“Janjiiii!!” Weni sambil memeluk Seni.
(Juni 2015 oleh Shinta Nurul Fadhilah)
Panggung Sasana Budaya akhirnya bergetar. Penampilan terakhir dari siswi kelas 4 ini menghipnotis semua penonton. Semua sorak serentak berdiri dan menepuk telapak tangannya masing-masing. Apalagi teman sekelasnya di SDN Sindangsari.
“Shintaaaaaaaaaaa, selamat yaaaaaa”
“Shinta ihhhh, kamu hebat!!”
“Heh kamu, lain kali bawa piala lagi yaaa”
“Ta, mau dooong hadiaaahnyaaaa hahaha”
“Shintaa selamat yaa, kamu memang top deh”
“Aku bangga padamuuuu Shiiinnn”
“Mama bangga banget sayaaaangkuu, selamat yaaa”
“Papa juga bangga sama kamu sayaang”
Semua temannya bergantian memberi selamat. Momen ini, sangat mendongkrak orang tua yang ingin anaknya berprestasi seperti Shinta. Dari kecil orangtuanya memang sering mengajarkan Shinta bercerita. Terlebih Shinta memang hobi membaca buku, menulis cerita, dan menang di berbagai lomba sastra. Jadi, sudah sepantasnya Shinta yang menjadi pemenang lomba bercerita tingkat nasional tahun 2015.

Komentar

share!