Remaja Masjid Story




Karya:  -aKa-


     Kesempatan I’tikaf untuk kedua kali nya bagiku datang dimalam minggu ini. Seperti biasanya, sesudah sholat tarawih berjama’ah dimasjid kami nongkrong disalah satu angkringan langganan kami, tak terasa malam mulai larut dan satu persatu dari kami pun pulang. Masih ada tiga anak yang mengobrol asik di angkringan tersebut, yaitu aku, Bagas, dan Surya. Kami bertiga pun berencana ikut I’tikaf pada malam itu, namun sebelum pergi kemasjid, kami bersantai sejenak dirumah Surya, tadinya mau nunggu jam 12 malam sambil bikin video dubsmash, tapi saking lelah nya kami, kami bertiga malah ketiduran sampai waktu sahur tiba. Akhirnya kami bertiga gak jadi I’tikaf dimasjid, melainkan I’tikaf dirumahnya Surya, lau kami pergi keluar untuk mencari hidangan untuk sahur… ok, ini yang seru… sahur nya dibayarin Surya, awal nya pada sok jual mahal, gak mau dibayarin, padahal pada gak bawa duit. 


     Selesai sahur kami bertiga balik kerumahnya Surya buat nunggu sholat subuh, oh iya… kami nyari makan sahur nya boncengan bertiga naik motor, udah kaya terong-terongan aja. Sesampainya dirumah Surya.. aku sama Bagas malah tidur lagi, “cuy… bangun subuhan dulu dimasjid, udah adzan..” kata Surya seraya membangunkan Bagas dan aku, “iya bentar.. dzuhur nya masih lama” jawab ku ngantuk (oke… jangan ditiru yang barusan). Surya pun meninggalkan aku dan Bagas dirumahnya yang sedang tertidur pulas untuk pergi sholat subuh dimasjid. Sekitar pukul 6 pagi, Deni salah satu teman kami datang kerumah Surya untuk mengajak kami bertiga olahraga pagi di lapangan yang berada di perumahan nya, namun setelah sampai di lapangan, kami malah terus jalan kerumahnya Deni, sampai kami masuk ke kamarnya dan melanjutkan tidur kami yang tertunda.
     Sebelum tidur, Deni memetik gitar nya dengan sangat berisik dan tetap saja aku masih bisa melanjutkan tidur ku tanpa gangguan. Sekitar pukul 10 aku terbangun karna mimpi ku, aku bermimpi, perempuan yang kusuka saat ini dating kerumah ku, dia duduk disebelahku sambil berbincang-bincang dengan ku, tidak lama kemudian dia di sms oleh ibunya bahwa dia sudah dijemput di depan gang dekat rumahku, karna saat itu hujan aku mengantarnya sambil memayunginya dengan jaket putih yang ku kenakan saat itu. Seperti pria lainnya yang selalu ngemodusin gebetannya, aku merangkulnya dengan malu-malu seakan ingin membelai rambutnya yang panjang, lalu dia berlari kearah ibunya yang sudah menjemputnya, dan aku pun mengejarnya dari belakang dengan sekuat tenaga, dan aku pun terbangun.
     Saat terbangun aku langsung terkaget-kaget, kenapa aku bisa memimpikan dia tanpa jilbab nya, padahal dalam dunia nyata dia selalu mengenakan jilbab. Oke… aku benar-benar terbangun dari mimpi ku, tapi saat aku melihat kekanan ku aku melihat ayah nya Deni sedang tidur tanpa baju disana, dan aku pun pura-pura melanjutkan tidur ku. Beberapa saat kemudian aku memberanikan diri untuk berdiri, dan saat aku melihat ke kanan ku ternyata itu Deni, bukan ayah nya, mulai saat itu aku tertawa sendiri.
*****
     Malam ini kami benar-benar berencana I’tikaf dimasjid namun ada satu kendala, diperempatan dekat masjid ada orang gila membawa tongkat kayu sedang tidur. Deni yang naik motor boncengan sama Niko mendekati orang gila tersebut dan membunyikan klakson motor *TIIIN*… Niko pun langsung turun dan berlari kedalam masjid, dan Deni mengantar kan Surya kerumahnya yang sedang demam malam itu. Setelah dari rumahnya Surya kami boncengan berempat naik motor nya Deni, dan lagi… kami melewati orang gila tersebut, dan konyol nya lagi… Surya mematikan mesin motor saat kami tepat berada di depan orang gila tersebut, sontak kami berempat langsung berteriak ketakutan, Deni pun langsung menyalakan kembali mesin motor nya sambil ketakutan.
   Sesampainya dimasjid, aku, Surya, Deni, dan Fendi hanya bisa tertawa terbahak-bahak tak berhenti karna hal yang baru saja kami alami. Oke… keadaan saat ini mulai tenang didalam masjid, karna kami mulai lelah dan ngantuk. Ditidur ku yang tenang, aku dibangun kan untuk sholat tahajud dan makan sahur, dan seperti biasanya setelah makan sahur kami melihat kearah shaf perempuan, siapa tau ada pencuci mata sebelum adzan subuh (jangan ditiru lagi yang ini). Saat kumelihat kearah shaf perempuan, aku melihat kakak-beradik cantik sedang bercengkrama sambil menghafalkan qur’an, dan aku hanya bisa berkata “calon-calon istri ku di masa depan”. Lalu aku teringat dengan perempuan yang sudah sejak lama kusuka yang dating di mimpi ku kemarin, dan aku cuma bisa berkata “selamat tinggal calon-calon istri ku dimasa depan, aku lebih memilih setia”

Komentar

share!