RANDAI PURNAMA DI TANAH 19 JAM




Karya:  SHABRINA CHAIRIYAH


“Kamu pulang jam berapa hari ini?” tanyanya, saat aku masih asik menggoreng nasi untuk sarapan. “Kayanya agak sore, Mas”. “Nanti aku jemput ‘ya, sudah lama aku nggak datang ke restomu!”. “Bukan resto, Mas, kedai doang kok”. “’Kan aku berdoa, biar jadi resto yang besar!” ia tersenyum.  “Iya, Aamiin” Kubalas senyumnya. Sarapan sederhana bersama suami tercinta memang suatu hal yang mujarab sebagai salah satu dari banyaknya persyaratan menjadi keluarga yang harmonis. 


2014
Awal tahun ini aku dan suamiku harus merantau ke salah satu negeri di Eropa. Mengikuti jejak suami yang mendapat beasiswa full, dengan gelar master di univesitas ternama di Prancis. Aku yang baru  menikah tiga bulan dengannya pun harus siapkan mental baja menghadapi semua hanya bersamanya.
Masuk dunia Eropa. Aku baru pertama kali menginjakan kaki di tanah Eiffel ini sangat ragu. ‘Apa aku bisa bertahan di tengah masyarakat yang memiliki adat istiadat yang jauh dari kata sama denganku?’ pikirku yang memang baru saja tiba di bandara Internasional Charles De Goulle.
Beberapa bulan setelah sampainya kami di Paris. Mas Wahyu masih disibukan dengan berbagai macam tugas barunya. Aku yang sedikit un mood hanya bercengkrama dengan buku akhirnya memutuskan untuk mencari pekerjaan. Bermodal bahasa inggris dan sedikit paham bahasa Prancis yang sempat aku pelajari di Indonesia, aku sangat berharap masih bisa terpakai dikota sebesar Paris. “Kau muslim, tapi kenapa tidak menggunakan hijab?” tanya pemilik caffe dekat apartemenku. “I’m not ready, mam”. “Baik, kau bisa ku pekerjakan”. Aku tersenyum puas dengan hasil yang bisa ku gapai.
Masih ditahun yang sama. Bulan dengan cepat berganti menjadi Ramadhan. Tahun ini Ramdhanku dan Mas Wahyu agak sedikit keteter. Masalah waktu puasa yang terbilang lebih lama. Sekitar sembilan belas jam kami harus berpuasa. Namun, ini menjadi tantangan tersendiri untuk kami. Yang kedua, adat istiadat. Muslim di Paris yang hanya memiliki nominal kurang dari satu persentase, sulit menemukan tempat ibadah yang selayaknya bisa melakukan ibadah berjamaah bersama muslim lainnya. Namun, kami haruslah tegas pada pendirian. Ya, aku dan Mas Wahyu hanya bisa mengerjakan sholat tarawih di apartemen kami saja. 
“Nanti jadi, Mas?”. “Jadi..” jawab Mas Wahyu yang masih memandangi komputernya. Acara ngabuburit  pertama sekaligus buku puasa bersama di Paris bersama teman Mas Wahyu dan keluarganya membuatku seakan memiliki keluarga baru di Eropa. Keluarga itu sangat sederhana, namun begitu hangat. “Aku mualaf, semenjak bertemu dengan Ikhsan aku mulai jatuh cinta dengan islam” cakap istri Ikhsan, yang baru ku kenal dengan nama islamnya Zahra.
  “Tapi..  tak semudah itu, keluargaku yang tak percaya dengan agama menolak opiniku untuk memeluk agama, menurut mereka ‘Islam itu sesat’” ia tersenyum sambil mengelap piring, sehabis kami semua berbuka puasa. “Aku tak peduli, akhirnya  aku menikah dengan Ikhsan, dan sekarang memiliki Jasmine” ia masih tersenyum. “Allah sayang kepadaku dengan cara mengujiku sesaat setelah kelahiran Jasmine”. “Maksudmu?” tanyaku pelan. “Ia difonis tidak dapat berbicara, tapi aku tahu dia anak yang kuat. Ia juga cinta sekali dengan islam” Zahra kembali tersenyum. Setelah mengelap piring kami berjalan keluar, dekat taman rumah Zahra dan Ikhsan. Terlihat senyuman indah dari Jasmine saat bermain dengan Mas Wahyu dan ayahnya..  “Jasmine!’ panggil Zahra. Jasmine sontak berlari kearah kami Jilbab yang ia pakai berkibar karena larinya teramat kencang. Ia tersenyum ceria kearahku, menampakkan giginya yang ompong, karena dimakan oleh pertumbuhan, dan nakalnya gula-gula favoritnya. Dia menarik bajuku, entah apa maksudnya. “Ia ingin bermain denganmu, Mega”. “Ayo kita bermain!” ajaku ceria.
Malam terbit dengan tambahan kismis berwarna putih membantu pencahayaan purnama. “Senang hari ini?” tanya Mas Wahyu dalam bus. “Tentu” aku tersenyum dan perlahan menyandarkan bahu padanya, dan mengandeng tanganya. “Kenapa?”. “Aku kagum dengan Zahra, dia seorang mualaf yang tahan banting dengan adat istiadat yang biasa ia lakukan, tapi, sekarang ia buang jauh-jauh”. “Hu..um” Mas Wahyu hanya mendehem. “Aku juga bangga dengan Jasmine…, Ia tidak bisa bicara, tapi kuat, apalagi dia benar-benar cinta dengan agamanya, Mas” tersenyum mengingat. “Bagus dong, tapi aku nggak tau nih, kapan ‘ya istriku bisa begitu!” sontak aku yang merasa disinggung, langsung melepas gandenganku dan menjauhkan kepalaku dari bahunya. “Mas nyinggung aku?” wajahku sedikit kesal. “Nggak sayang, aku hanya ingin, kamu berubah dengan sendirinya.. benar-benar dari lubuk hatimu yang terdalam, karena aku yakin kamu akan dapat jalan dari Allah suatu hari nanti” tegasnya tersenyum. “Iya.. Aamiin”. “Tersenyum dong!” kembali meledekku dengan memperlihatkan senyumannya dengan bergaya nyengir. Aku tersenyum melihat tingkahnya.
Syawal mengema dimana-mana. Email dari papa, mama, dan mertuaku, ku terima. Adapula email dari Mas Ghasa, masku yang sekarang tinggal di Maroko bersama istri dan anaknya. “Mas.. kata umi kita pulang nggak?” tanyaku menatap laptop di atas kasur. “Kata umi apa kata kamu…?” ledek Mas Wahyu, sambil membuka beberapa buku, di sampingku. “Umi nanya juga kok” jawabku cemberut. Mas tersenyum. “Kita nggak pulang dulu ‘ya. Mas belum ada uang” Mas masih menatap bukunya. “Tabungan mas habis?, pake aja tabunganku” jawabku cepat mengarah kepadanya. “Bukan habis sayang.. Insya Allah masih cukup untuk tiga tahun ke depan, tapi dengan syarat kita nggak pulang dulu” kali ini ia sudah menatapku. “Ya udah, pake tabunganku aja kalo gitu”. “Ade … sayangku, cintaku.. my hunny bunny, my lovely my sweatheart, I Love You soo much..”. “Lebay!” potongku agak cemberut, Mas Wahyu tersenyum kearahku, menatapku dalam. “Mas bukannya nggak mau pake uang kamu, tapi uang kamu mending kamu tabung dulu ‘ya, sayang. Nanti kalau ada kebutuhan yang lebih penting ‘kan bisa kita gunakan, ‘ya” jelasnya.  Akhirnya dengan berat hati aku menganggukkan kepala, sambil menatap kembali ke laptop. “Ikhlas nggak?” ledek Mas. “Ikhlas Masku..sayangku.. cintaku..” jawabku meladeknya. “Ih.. ikut-ikut lagi, itu ‘kan kata-kataku, De!”. “Kata-katamu, kata-kataku juga, Masku sayang!” aku tersenyum kepadanya. Dengan sergap ia menggelitikiku. Habislah kasur berantakan karena ulah kami.
Tahun berganti, 2015.
Aku masih bekerja di caffe dekat apartemenku, jaraknya hanya seratus meter dari menara Eiffel. Pohon-pohon rindang dekat sana membantu cahaya yang masuk ke dalam caffe sedikit terhalang. Turis berdatangan dari seluruh penjuru dunia. Sejauh mata memandang, hanya satu tujuan mereka. Untuk berfose dekat menara yang sudah menjadi warisan negara. Awal tahun dan akhir tahun memang manjadi jatahnya para turis siap dilayani oleh pedagang-pedagang. Menjajaki apa yang mereka punya. Aku mendapat jatah libur pada hari rabu saja dalam seminggu untuk musim liburan ini, biasanya dua hari rabu, dan senin. Mas juga agak sedikit santai dengan tugasnya. Sudah ia selesaikan semua sebelum jatah liburannya habis.
“Kita belum pernah ke menara Eiffel lho, Mas.. aku cuma bisa liat menara itu kokoh dari jauh” ucapku yang sebenarnya bermaksud menyinggungnya. “Mau ke sana?” tanya Mas dengan lugas. “Iya.. ayo kesana!” aku bergembira. Berangkatlah kami menuju menara Eiffel yang tak pernah ku jajaki. Pohon yang dibentuk bulat-bulat seperti balon terlihat rindang dan unik saat kita melewatinya. Jalan setapak yang buat rapi untuk pejalan kaki juga nyaman. Beberapa burung merpati sedang asik makan dengan makanan yang diberikan pengunjung. Cuaca yang dingin malah membuatku hangat bersama dengan Mas Wahyu. Senyumanku dannya tak berhenti ketika melihat tawaan kecil dari anak-anak yang berlarian mencoba bermain dengan merpati-merpati di sana.
Rabu, 07 Januari 2015.
Dor….. suara tembakan itu masih mengiyang dikapalaku. Sesaat melewati kantor Majalah Charlie Hebdo sehabis kami makan siang bersama, sekitar seratus meter dari sana.. Jarak menara Eiffel dan kantor Majalah Charlie Hebdo tak jauh dari apartemen kami. Semua masih dijaga ketat oleh kepolisian dan FBI. Aku tak mau tahu apa yang terjadi di luar sana. Berita penembakan meluncur dengan kurun waktu hitungan detik saja. Tujuan penembakan itu apa?, aku juga tak tahu. Yang aku tahu saat ini, aku dan Mas hanya bisa di dalam rumah saja. Namun bukan hanya aku yang ketakutan. Semua muslim di Prancis ketakutan, karena berdasarkan hasil TKP dan saksi, yang menjadi penembak atau tersangkah adalah dua bersaudara muslim. Mama dan umi menelepon kami segera setelah sehari paska tragedi itu. Tak memperdulikan biaya telepon yang harus mereka bayar. Aku dan Mas mencoba melaksanakan permintaana mereka. Kami membeli banyak stok makanan untuk beberapa bulan ke depan, karena kami tahu kami tak mungkin keluar dari apartemen. Aku pun di berikan keringan oleh pemilik caffe tempat kerjaku.
Mas yang harus kuliah, tetap waspada. Sehari kemudian, berita di televisi memberi kabar. Beberapa masjid di Prancis di serang oleh sekelompok orang tak dikenal. Aku tambah khawatir, dan takut. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Namun,  “Kami memang harus kuat saat itu, kalau tidak agamalah yang menjadi sasaran. Kami juga yakin Allah akan selalu memberikan jalan” ucap muslimah di NY. Muslimah yang merasakan tragedi 1 September di NY. Saat semua orang menyalahkan agama.
Aku belajar dari keterpurukanku, dan rasa takutku yang tak kunjung reda. Satu bulan setelah itu. Aku kembali bekerja di lataran caffe. Untungnya, pemilik toko tak mempermasalahkan tragedyipenembakan itu.
Lima bulan berlalu, masih ada waktu tiga hari untuk mengakhiri Sya’ban. “Mas, cocok nggak?” tanyaku merapikan. Mas menoleh. “Subhannallah, kamu cantik, sayang!” Mas Wahyu memujiku sesaat melihatku dengan hijabku. “Cocok nggak?” aku melipat kedua alis. “Iya, cocok. Cantik banget kamu!” Mas masih terkagum-kagum. “Ow.. berarti dari kemarin-kemarin aku nggak cantik ‘ya?” tanyaku meledeknya. “Cantik, sayang. Tapi kalo pake hijab tambah cantik!”  tersenyum lebar sambil membenarkan satu tali ransel yang melorot. “Ya udah. Ayo berangkat., nanti kamu telat!” lugasku tersenyum. Kami berpisah di halte. Ia masih tersenyum tanda cintanya terus mengalir kepadaku.
Sesampai di caffe, aku langsung menggunakan celemek dan bekerja. Pemilik toko memandangiku dari jauh. Hari ini berjalan seperti biasa. Boleh kok ada peningkatan, itu ‘kan nilai plusnya. Sya’ban meninggalkan. Iapun kembali tiba. Aku dan Mas sudah terbiasa dengan sembilan belas jam ini, karena Mas sering mengajariku berpuasa senin kamis, ‘Agar nggak terlalu lelah dan bisa memanage waktu’ ucapnya.
Tujuh hari awal Ramadhan memang berat. Akupun merasakan hal itu. “Mega, dipanggil Bos!” Ucap Susan, rekan kerjaku. Aku melangka masuk ke kantor bosku. “Ada apa dengan kepalamu, kenapa ditutup?” tanyanya sesaat aku sedang menutup kembali pintu kantornya. “Tidak, Bu. Kepala saya baik-baik saja. Ini juga karena tuntunan agama yang mewajibkan. Waktu itu saya bilang belum siap, sekarang saya siap”. “Kau siap dipecat!?” entah itu pertanyaan atau gertakan. “Maksudnya?”. “Sebelumnya kau kuterima karena kau tak menonjolkan kalau dirimu muslim, sekarang kau berani mencirikan dirimu muslim. Pelangganku kabur, tak ada yang datang!”. “Mereka kira caffeku melahirkan teroris!”. Aku melipat kedua alisku. “Pergi kau, tak sudi aku melihatmu!”.  Aku merasa ini tak masuk akal. “Ok.., saya ucapakan terima kasih, dan permisi!”Aku keluar. Air mata kutahan. Tak ingin setiap orang melihatku.
Assalamualaikum, sayang!”  salam Mas Wahyu terdengar. Aku masih mengurung diri. Tak lama ia sudah berada di sampingku. “Hey..hey..Kenapa?” Ia membalikan badanku, spontan aku memeluknya erat. “Kenapa, sayang?” Mas mengelusku. “Aku dipecat, Mas” tangisanku dipelukkannya. “Kenapa bisa?”. “Karena.. karena aku memakai hijab, Mas. Mereka bilang aku mencirikan muslim dan.. dan.. teroris”. “Ya Allah. Sudah tak apa!” ia kembali mengelusku lembut, berusaha menenangkanku. “Ini Ramdhan, Mas. Kenapa Allah malah mengujiku?. Kenapa hijabku dipermasalahkan?”. “Jangan salahkan Allah, agama, dan jilbabmu, sayang. Allah menguji kita agar kita naik satu level. Percayalah ini akan ada jalan!”  
Beberapa hari setelah itu, aku masih terpuruk akan perlakuan yang menyalahkan agmaku. Zahra diminta Mas untuk menenangkanku. Dan mengajakku bangkit. Kembali normal seperti semula. Masih dengan tawa dan rasa semangat. Jasmine dan Zahra membantuku memberikan beberapa ide cermerlang mereka. Hobbyku masak, Zahra juga. Akupun berencana membuat kedai kecil dengan Zahra. Yang isinya tentu masakan negara khatulistiwaku. Zahra dan Jasmine membantuku dengan semangat, mereka juga giat belajar masakan Indonesia. Kedai kecilpun dibuka, bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan. Awalnya tentu, semua tak ada yang tahu rasa masakan Indonesia yang banyak rempah-rempahnya. “Ini sudah buka?” tanya calon pengunjung. “Ya, Bu” Ia segera masuk dan memesan menu. “Ini sate Madura dan nasi goreng specialnya, silakan!” aku memberikan pesanannya. Ia mencoba. “Enak sekali, enak!” pujinya sesaaat setelah memakan makanannya. “Alhamdulillah!” syukurku, menoleh kearah Zahra dan Jasmine yang tersenyum puas karena pujian pengunjung pertama kami.
Pelanggan demi pelanggan datang. “Kenapa ditutup kacanya?” tanya salah satu pengunjung saat memesan makanan. “Kami para muslim dunia sedang berpuasa, Ibu. Jadi bila ada muslim yang lewat tak enak bila terlihat, kami harus menghormatinya. Bukannya ibu juga lebih nikmat makan jika ditutup, karena tidak ada yan melihat ibu membuka mulut” jawabku sekaligus menjelaskan. “Benar juga ‘ya. Kalian bagus saling menghormati, kami harus tiru itu” ia tersenyum mendengar jawabanku.
Alhamdulillah, berkah Ramadhan, Mega!” Zahra tersenyum sesaat kedai ditutup. “Iya, Ra. Alhamdulillah!”.  Hari ini masih 28 hari Ramdhan. Lebaran nanti kedai kami tutup sementara. Merayakan hari fitri bersama. Ramdhanku ditahun ke dua ini, penuh cinta kembali. Ternyata skenario perjalanan hijraku yang Rabb buat cukup panjang. Hampir dua tahun di kota sembilan belas jam kalau kita berpuasa, hijraku sampai pada titik terangnya. Aku masih terus tersenyum melihat keadaan yang semakin baik, walau ada sedikit-sedikit soal ujian dari Tuhan.
“Mba ada yang pesan satu porsi nasi uduk, satu porsi bakso, dan dua jus kurma!” ucap Ega. Ia mahasiswa dari Indonesia kini bekerja shif di kedaiku.
Kringking..kringking.. Suara bel pada pintu masuk kedai berbunyi. “Selamat datang!” sapaku tersenyum menoleh saat membuatkan makanan yang baru saja dipesan. “Wahyu, selamat datang!” sapa Zahra. Aku menghampirinya. “Assalamualaikum!” sapanya. “Wa’alaikumsalam” jawabku tersenyum menyalami tangannya. “Mba. Saya mau pesan nasi goreng dan soto bogor!” ledeknya. “Baik Mas. Mas bisa duduk disana, nanti saya antarkan!” balasku meledeknya. Dia tersenyum ringan.
Syukur.., itu yang harus aku lakukan saat ini. Hati masih mendiam diri di tanah 19 jam. Masih harus berjuang dan tetap memporsir metal yang baja. Suasana Effiel yang tadinya penuh dengan bala tentara yang membuat tegang, kini kembali hangat dengan senandungan riang burung-burung merpati ditimpali tawa anak-anak. “Ku ucapkan banyak terima kasih kepadaMu Rabb. Terima kasih masih memberikanku kesempatan melihat perjuangan mereka yang berjuang demi agamanya. Terima kasih karena Kau masih mengizinkan aku untuk jatuh cinta kepada agamaku, dan agamMu. Terima kasih telah mengirimkan malaikat-malaikat dengan cahaya purnama kepadaku sehingga mereka bisa menjadi perantara-perantara besar dalam perjalanan hijrahku. Terima kasih atas semuanya, Rabb. Terima kasih” . Tersenyum menikmati dunia Paris.  “Sayang ayo kesini!” teriak Mas yang sudah berjalan duluan, tersenyum lebar kearahku. “Tunggu Mas!” berteriak kencang. Mas mengulurkan tangannya tersenyum lebar. Aku meraihnya erat, tanpa harus melepasnya sedikitpun. Tersenyum menyapa hari esok bersamanya.

Komentar

share!