Ramadhanku Cerah karena Lelaki Aktivis Dakwah



Karya:  Asih Inpriawati Ningtias



Hari ini hari begitu panas, terik matahari begitu cerah dan silau, seakan-akan matahari itu menatapku dengan tatapan yang sangat tajam. Sama seperti tajamnya celotehan ibuku yang setiap hari isinya sama saja. YaAllah...
Umurku memang sudah menginjak usia dua puluh satu tahun, dan aku sedang sibuk dengan urusan skripsiku di sebuah Universitas Islam ternama. Namun, apakah sudah waktunya aku menuruti perkataan ibuku?



“Mira bangun!!! Ayo sahur, aduh susah banget disuruh sahur, gimana mau dapet jodoh. Bangun sahur aja susah. Namira, Namira” ocehan ibu mebangunkanku dari mimpi indah itu
“ih si ibu mah, orang lagi enak-enak mimpi juga” dumelku pelan
“terus aja Mir omongan ibu ngga usah kamu denger” ucapnya
“ibu, masih jam empat juga bu” ucapku dengan malas
“astaghfirullah Namira, bangun!! Kamu mau sahur jam berapa memangnya?” tanya ibu kesal
Aku bangun dari tempat tidurku dengan malas “iya iya bu, ini Mira bangun”

Tiba-tiba saja ayah memanggilku untuk menemuinya di ruang tamu. Firasatku sungguh tidak enak, karena sepertinya aku tau apa yang akan ayah bicarakan.
“kenapa ayah?” tanyaku dengan malas
“duduk nak” ucapnya datar
“bagaimana skripsinya? Jadi kapan kamu sidang?” tanya ayah penuh harap
Aku menghela napas “InsyaAllah secepatnya yah” ucapku saat ini dengan nada yang serius
“baguslah, tapi kamu harus punya target nak. Kapan kamu wisuda?” tanyanya lagi
“aduh, ayah kok jadi introgasi Mira sih?” tanyaku balik
“ayah nanya kok malah ditanya balik. Piye to?” ucapnya kesal
“lagian ayah, yaudah ayah doain aja supaya cepet kelar” ucapku dengan senyum bercanda
“terus ayah doakan supaya kamu cepat dapat jodoh juga” jawabnya datar
Mataku melotot mendengar ucapan ayah “ih atuh ayah kenapa jadi ke jodoh?” ucapku kesal
“sudah sana sahur, keburu imsyak nanti” ayah mengalihkan pembicaraannya

Ibu dan ayah. Mereka sama aja, apa-apa bahasnya tentang jodoh, kok ngga ngertiin banget sih anaknya yang lagi pusing ngurus skripsi, belom sidangnya. Aduh! Dari kemarin ngajuin judul aja ditolak dosen mulu, terpaksa aja tadi bohong sama ayah bilang secepatnya, kalau ngga kaya gitu, pasti diceramahin. Huh.. Padahal aku tau sih ayah nyeramahin aku kan buat kebaikan aku juga, tapi aku capek dengernya diceramahin mulu.
Akhirnya ayah meninggalkanku sendirian.

“Namira? sudah shalat tahajjud belum nak?” tanya ibu tiba-tiba datang membawa sebuah piring dan menyodorkannya untukku
Aduh! Ini lagi si ibu nanyain shalat tahajjud, boro-boro shalat tahajjud, shalat wajib aja masih bolong-bolong. Aku harus jawab apa nih.
“belum bu” jawabku singkat
“Mir, besok-besok bangun sahurnya jam setengah tiga ya nak, biar bisa shalat tahajjud dulu, minta sama Allah supaya cepet diluluskan, cepet dapet jodoh juga”
“sudah kuduga” ucapku dalam hati
“hari ini 10 malam terakhir Ramadhan loh Mir, yang dimana ada yang dinamakan malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam ini terjadi ya diantara malam ganjil 10 malam terakhir” lanjut ibu
“ya terus Mira harus ngapain bu?” tanyaku bingung
“loh? Masih nanya juga? coba kamu tanya aja sama Ummu gih, apa yang harus kamu lakukan” jawab ibu meninggalkanku
“malam Lailatul Qadar? Hm...” gumamku

Allahu Akbar..
Allahu Akbar..
Allahu Akbar.. Allahu Akbar
Terdengar suara adzan subuh membuyarkan lamunanku tentang omongan ibu tadi. Ini bertanda imsyak sudah sepuluh menit yang lalu. Nasi dipiringku sudah habis tak tersisa, begitupun minumnya. Ternyata aku makan cepat sekali ya, pikirku.
Aku langsung beranjak dari sofa itu dan menaruh piring itu kedapur lalu segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat subuh. Seperti biasa ayah selalu shalat subuh berjamaah dimasjid. Dan tidak pernah tertinggal.
Aku memang dididik dari keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai agama, tetapi aku juga bingung kenapa aku tidak fanatik terhadap agamaku sendiri ya?
Setelah melaksanakan shalat subuh, aku kangsung menelepon Ummu untuk menanyakan apa yang ibu bilang tadi

Tut..... tut...
“aduh si Ummu kemana lagi, ditelfonin ngga diangkat-angkat” dumelku
“halo, assalamu’alaikum” terdengar jawaban telepon yang mungkin sudah sepuluh kali aku telepon
“wa’alaikumussalam. Ih dari tadi kemana aja si Um?” tanyaku kesal
“atuh maaf ya, aku teh abis ngaji, handphonenya aku charger jadi teh ngga kedengeran Namira” jelasnya
“hm... iyaiya” jawabku kesal
“ada apa Mir? Tumben kamu telfon pagi-pagi buta, biasanya bobo kamu hahaha” candanya
“ih ngeselin pisan kamu” jawabku terbawa omongan sundanya Ummu
“haha atuh naon?”
“Um, kita bisa ketemu gak nanti dikampus jam delapan ya. Ngga ada jam kan?” tanyaku mulai serius
“iya boleh, oke sampai nanti assalamu’alaikum” Ummu menutup teleponnya
“lah songong amat langsung ditutup” dumelku kesekian kalinya

Ummu adalah sahabatku sejak aku bersekolah di MAN, ia begitu taat sekali pada agama. Yaaa beda sekali lah dengan aku hehehe
Aku langsung bergegas untuk kekampus, karena perjalanan dari rumah ke kampus cukup memakan waktu banyak. Maklumlah harus menaiki kereta, tapi..... I like it.
“Ibu aku kampus dulu ya” pamitku pada ibu
“iya nak, hati-hati” jawab ibu
 Aku pergi dan segera menuju ke stasiun, setelah sampai distasiun aku melihat seorang laki-laki yang sedang membantu seorang nenek untuk menyebrang jalan
“ah cowok jaman sekarang ya, paling bantuin cuman pengen dibilang wah doang” ucapku sambil melihatnya
“astagfirullah istighfar mba, lagi puasa gaboleh berprasangka buruk terhadap oranglain” tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki
“lah? Siapa anda?” aku melihatnya dari atas sampai bawah namun alhasil aku tidak mengenalinya
“aduh lihatnya biasa aja mbak, jadi geer saya hehehe” ucapnya dengan canda
“saya bukan siapa-siapa, kebetulan lagi nunggu kereta juga, mbak juga kan?” lanjut dan tanyanya
“tau dari mana saya lagi nunggu kereta?” tanyaku heran
“lah si mbak gimana sih, ini kan lagi distasiun, ya pasti mau naik kereta kan? masa mau naik pesawat sih hehe” tawanya lagi
“masnya kebanyakan ketawanya ya” ucapku agak ilfeel
“inikan bulan puasa mbak, bulan penuh berkah. MasyaAllah banget deh, jadi senyum itu pahalanya udah berkali-kali lipat, senyum dan ketawa itu kan ibadah mbak” jelasnya
Aku mulai tertarik “oh gitu ya, masnya tau malam Lailatul Qadar ngga mas?” tanyaku pada laki-laki itu
“malam seribu bulan tah? Siapa yang ngga tau sih, pasti kaum muslimin tau mbak” jawabnya
“terus dimalam itu kudu ngapain mas? Istimewa banget ya?” tanyaku penasaran
“mbaknya islam kan?” tanyanya heran
Aku hanya menelan ludah saja. Jelas-jelas aku memakai jilbab.. Aduh..
“hehe maaf mbak, jadi dimalam Lailatul Qadar itu malam yang penuh dengan rahmat. Siapa yang beribadah penuh pada malam itu, sama dengan beribadah selama seribu bulan. Dan barang siapa yang mendapatkan kemuliaan itu sungguh ia adalah manusia yang sangat beruntung, juga sebaliknya” jawabnya dengan penuh senyum
“yaAllah, si masnya ini kok alim banget sih, aduh” ucapku dalam hati
“gimana mbak?” tanyanya membuyarkan lamunanku
“eh iya iya, oh jadi gitu ya” aku menangguk
“mas anak ldk ya?” tanyaku
“oh bukan, saya anak ibu bapak saya mbak hehehe” tawanya untuk yang kesekian kali
“yaAllah” ucapku lirih
“bercanda saya mbak, iya saya anak ldk, kok tau mbak? jangan-jangan...”
“jangan-jangan apa mas?” tanyaku heran
“jangan-jangan mbak paranormal lagi hehe”
“yee si mas, enak aja cantik-cantik gini dibilang paranormal”
“iya mbak, tapi lebih cantik lagi kalo mbak pakai jilbab syar’i” katanya
Aku menaikan alisku dengan heran “syar’i? aduh belum pantas sepertinya mas hehe”
“mbak, keretanya sudah ada ayo kita naik” ajaknya
Aku mengikuti ajakannya. Aneh sungguh aneh hari ini aku bertemu dengan laki-laki aktivis dakwah distasiun dan sungguh omongannya tadi menyentuh hati dan membuatku tertarik.
“mbak mau kemana?” tanyanya saat sudah memasuki gerbong
“mau ngampus mas, masnya?” tanyaku balik
“lah? serius? sama mbak, kampusnya di mana?” tanyanya lagi
“di uin mas” jawabku
“oh diuin toh, disana kan banyak bidadari syurganya mbak” ucapnya dengan senyum
“ih bisa aja, mas kuliah dimana emang?” tanyaku penasaran
“uin juga kok” jawabnya manis
“yeh, dikirain dimana. Kok saya gapernah liat ya?” tanyaku
“wah gak tau deh mbak hehe, namanya siapa mbak?”
“oh ya, saya Namira mas” jawabku sambil menjulurkan tangan untuk salaman
“afwan, saya ahmad” jawabnya mengatupkan kedua tangannya di depan dada
“eh iya maaf” ucapku malu
“tidak apa-apa” jawabnya dengan senyum

Setelah itu kami berdua saling diam dan tidak bicara lagi sama sekali. Sungguh, dikampus memang banyak sekali aktivis seperti dia, namun aku jarang sekali menemukan laki-laki aktivis yang humoris. Senang rasanya bisa mendapatkan ilmu dari beliau. Yang lebih kagumnya lagi dia menyempatkan diri untuk membaca Al Qur’an didalam gerbong, yaAllah sungguh malu sekali diri ini. Bacaannya sungguh luar biasa, tajwidnya benar-benar tertata rapi, suaranya membuat hati ini bergetar masyaAllah.. Ibu dan ayah pasti senang kalau aku berteman dengan laki-laki seperti Ahmad ini. Apalagi kalau Ahmad jadi mantunya. Seketika aku teringat omongan ayah tadi pagi. Huh...
Kampus sudah terlihat dari kejauhan. Ya kampus yang sudah hampir empat tahun aku tempati, yang penuh dengan nuasa islam, tetapi kenapa aku baru menyadarinya?

“sudah sampai mbak, fakultas apa?” tanyanya sambil menutup Qur’annya
“tarbiyah mas, mas?” tanyaku balik
“oh, adab mbak. Saya duluan ya. Assalamu’alaikum”
“wa’alaikumussalam” jawabku dengan menghela napas panjang
“semoga bisa ketemu lagi ya mas” ucap hati kecilku terdengar tulus

Aku mengikutinya turun dari gerbong, dan menatap punggungnya yang makin lama menghilang dengan tatapan lurus
“ih apa-apaan sih, yakali Namira suka sama aktivis dakwah, ngga ah, aku aja begini, mana mau dia sama aku” ucapku tahu diri
“assalamu’alaikum, ada apa Mir? Aktivis dakwah? Siapa?” suara itu membuatku kaget
“astagfirullah kamu Um, aku kira siapa yaAllah”
“naon atuh Mir? Kayak abis ngeliat hantu aja” ucapnya
“gapapa kok Um”
“kok salamnya gak dijawab?” tanyanya
“oiya maaf wa’alaikumussalam”
“nah, gitu dong. Oiya kenapa tadi minta ketemu? Kangen ya?” ledeknya
“ih kamu woo, enak ya Um pakai syar’i seperti ini?” tanyaku sambil melihat gamis yang dipakai Ummu, cantik sekali
“kenapa atuh kamu tanya kaya gitu?” tanyanya
“gapapa Um, doain aku ya supaya aku bisa kayak kamu, bidadari syurga” jawabku
“kamu baik-baik aja kan?” tanyanya heran
“aku akan selalu baik-baik aja kok, insyaAllah” jawabku senyum
Ummu hanya membalas senyum dan mengangkat kedua pundaknya
Aku pun menceritakan semua kejadian distasiun tadi pada sahabatku itu, ternyata Ahmad itu teman se-UKM nya Ummu.. Apa ini yang orang bilang dunia selebar daun kelor? YaRabb....

Sesampainya dirumah, aku merenungi kejadian-kejadian tadi pagi dari awal ibu dan ayah menasihati aku, sampai bertemu seorang aktivis dakwah, dan sampai berbagi cerita pada Ummu
Hari ini aku mendapat banyak sekali pelajaran, aku baru menyadari bahwa selama ini aku salah, kenapa aku terlalu mengikuti pergaulan jaman sekarang ya? Padahal ibu dan ayah sudah mendidikku dari kecil dengan bekal keagamaannya. YaAllah mulai 10 hari terakhir ini aku janji akan merubah semua akhlakku dan ingin meraih syurgamu yaAllah, ingin menjadi bidadari syurga untuk suamiku kelak. InsyaAllah.

Aku sadar, Ramadhan akan pergi sebentar lagi, Alhamdulillah sudah malam ke 27 aku masih istiqamah menjalankan perintah-perintahNya, aku harap aku selalu istiqamah. Aamiin
Ya berawal dari sebuat pertemuan singkat itu, terimakasih yaAllah kau titipkan hidayahKu lewat Ahmad...
Malam ini aku bangun di sepertiga malamNya untuk bertemu Allah, seperti biasa aku meminta maaf atas segala semua dosaku selama ini. Dan meminta agar judul skripsiku di terima, sungguh, aku ingin cepat-cepat lulus dan membahagiakan Ayah dan Ibu

“alhamdulillah, ibu gaperlu capek-capek lagi bangunin kamu ya Namira, sudah ibu pantau sampai malam ke 27 Ramadhan ini kamu rajin sekali tahajjudnya” ucap ibu tersenyum didepan kamarku
“alhamdulillah bu, hidayah dari Allah, doain Mira selalu ya bu” pintaku
“pasti nak, InsyaAllah” jawab ibu
“oh ya Namira, malam takbiran nanti kamu jangan kemana-mana ya nak” kata ayah tiba-tiba datang ke kamarku
“ada apa ayah?” tanyaku
“ya lihat saja nanti, sekarang kamu sahur dan tilawahnya jangan lupa” ayah mengingatkan
“iya ayah” jawabku sambil membuka mukenaku
Aku melipat mukenaku dengan rapi dan segera menyusul ayah ibu di ruang makan
Satu persatu anak tangga ku turuni, tidak sengaja aku mendengar pembicaraan ayah dan ibu
“alhamdulillah to bu, anak kita sekarang sudah dapat hidayah masyaAllah” ucap ayah
“iya yah, ibu ngga nyangka deh, didenger  juga omongan ibunya ini”
“iya bu, Pak Zaenal pasti seneng banget” ucap ayah
“Pak Zaenal? Siapa dia?” tanyaku dalam hati

Allahhu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Laa illaaha illallah hu allahhu akbar..
Allahu Akbar walilla ilham..
Kumandang takbir terus terdengar ditelingaku, dengan rasa jantung yang teramat kencang dan terus berdetak, apa yang akan terjadi? YaAllah..
Kulihat telah nampak tamu Ayah datang. Tamu? Apa yang dimaksud dengan tamu itu? Ah, yaAllah.. Ku serahkan semua padaMu
Dengan pakaian syar’iku ini sungguh aku serasa lebih anggun, menyesal! Kenapa tidak dari dulu? Ah! Bidadari Syurga? Ah ucapan itu.. yaAllah
“assalamu’alaikum”
“wa’alaikumussalam wr wb, waduh Pak Zaenal apakabar?” sapa ayah
“ha? Itu Pak Zaenal? Kok udah tua sih? Masa aku mau dijodohin sama dia yaAllah, ayah yang benar aja” ucapku lirih dalam hati
Kalimat istighfar terus melantun dari mulutku ini
“alhamdulillah saya dan keluarga baik, oh ini tah mbak Namira?” tanya Pak Zaenal
“ha? keluarga? Udah punya keluarga? Masih pengen nikah lagi? Aduh rasanya aku mau kabur aja dari sini” jeritan hatiku
“mana anak bapak?” tanya ibu yang dari tadi hanya menyambut dengan senyum
“ha? Anak? Ini tuh sandiwara apa sih” tanyaku lagi dalam hati

Muncul seorang laki-laki masuk kedalam rumahku, ya! Laki-laki itu yang selama ini ku sebut dalam doa, yang kuharap bisa bertemu dengannya lagi. Laki-laki aktivis dakwah itu, yang sepuluh hari lalu bertemu, pertemuan yang hanya satu jam, pertemuan yang sangat singkat. MasyaAllah takdirMu yaRabb, kau hadapkan laki-laki itu dihadapanku malam ini
“mbak Namira?” ucapnya
“mas Ahmad?” tanyaku pelan
“nunggu kereta juga?” tanyanya dengan senyum
Ya sama seperti senyum 10 hari yang lalu, yaAllah
“mas Ahmad ih.....” ucapku ngambek
“masyaAllah, hampir seperti bidadari syurga, bener kan kata saya waktu itu?” tanyanya
Aku mengingat-ngingat omongannya
“iya mbak, tapi lebih cantik lagi kalo mbak pakai jilbab syar’i” ucapku padanya
Ahmad hanya tersenyum
“sudah saling kenal to?” tanya ayah dan Pak Zaenal bebarengan
“beliau aktivis dakwah dikampus Mira, ayah” jawabku pada ayah
“mbak Namira ini perempuan yang saya temukan dipinggir stasiun pak” jawab Ahmad pada Ayahnya
“ih.....” ucapku melotot
“yowis, jadi kapan ini pak tanggal pernikahannya? Disegerakan saja, takut nanti terjadi fitnah hahahaha”  ucap Pak Zaenal dengan candanya

Komentar

share!