RAMADHAN YANG HILANG





Karya:  Nash Ishania Yusuf


Fortuner putih milik Kris terparkir di depan kosanku. Tanda jemputan telah datang. Segera Aku keluar kosan dan menghampiri kekasihku itu.
“siap?” tanya Kris dengan tatapan penuh cinta
“siap dong...” Aku menjawab manja


Kris tancap gas, siap mengantarku kemanapun Aku mau. Kami sudah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih sepuluh bulan. Berawal dari panasnya suasana musyawarah mahasiswa yang biasa kami sebut mumas, perdebatan alot mengenai perubahan struktur organisasi ini memakan waktu cukup lama. Akan tetapi, pemikirannya yang logis dan mudah diterima oleh fraksi membuat hatiku luluh. Padahal saat itu kami berada di pihak yang berlawanan, pihak Kris merekomendasikan agar bidang kerohanian islam dihilangkan dari struktur organisasi. Tentu saja pengurus rohis, termasuk Aku tidak menyetujuinya. Kami berdebat panjang. Panasnya suasana mumas perlahan menyadarkanku, perdebatan kami sama sekali tidak ada gunanya, bahkan ini akan menunjukan sisi arogansi umat muslim. Terbukti saat waktu sahur tiba, mereka yang bersikeras ingin menghilangkan kerohanian islam tetap memperhatikan waktu sahur. Aku masih sangat ingat. Mumas tahun lalu jatuh di bulan Ramadhan. Karena pembahasan mengenai kerohanian islam ini sangatlah panjang dan memakan waktu yang lama, akhirnya  sidang berlangsung selama satu bulan lebih. Meskipun demikian, shalat tarawih dan sahur tetap mereka perhatikan. Dari sanalah aku mulai membuka mataku mengenai toleransi beragama dan berfikir logis.
Berlalunya mumas membuat jarak antara aku dan teman-teman dari rohis semakin jauh. Tetapi aku tak keberatan mengenai itu, karena Tuhan mengirimkan Kris sebagai teman berdiskusi sekaligus pengisi hati. Ketika Aku bosan, Kris selalu ada menghiburku dan memberiku semangat. Walaupun keyakinan kami berbeda, namun sikap Kris sangatlah toleran terhadap waktu ibadahku. Bahkan sering kali waktu sholatku, puasa ramadhan bahkan waktu sahur Kris yang mengingatkan. Kris bukan tipe lelaki romantis, tetapi ia penjaga yang baik. Dia sangat santun dan menghormati kaum hawa.
Malam ini, Kris mengajakku berjalan-jalan karena Aku merasa bosan. Kris tahu bahwa setiap muslim akan sibuk berbuka puasa ketika adzan maghrib berkumandang dibulan ramadhan. Jadi agenda malam ini kami mulai setelah shalat mahgrib. Aku membuka pintu mobil. Bandung selalu indah dipandang kapanpun dan dari sudut manapun. Malam ini Kami akan menghabiskan waktu di pusat kota Bandung. Gemercik air mancur yang berjatuhan membuat suasana semakin indah dan hangat. Kris memberiku setangkai mawar merah, maka semakin syahdulah suasana malam ini. Aku kira semakin malam, tempat ini akan semakin sepi. Ternyata yang terjadi adalah sebaliknya, puluhan muda mudi berdatangan. Satu dua bergerombol sambil bercanda gurau, sebagian besarnya datang bersama pasangan. Ada satu dua yang membuatku agar risih, ketika mataku sampai pada sepasang kekasih dan keduanya adalah laki-laki. Sebenarnya aku tak ingin berpikiran mereka sepasang kekasih, hanya saja gerak gerik mereka sungguh tidak lazim dilakukan oleh laki-laki yang berteman.
“Bebp, liat deh mereka...” Aku menarik tangan Kris sambil memberi kode untuk melihat kearah sepasang kekasih laki-laki itu
“iya, kenapa ?” jawab Kris santai
“kok kenapa sih bebp... kamu gak ngerasa apa mereka aneh..” jawabku
“Itu kan hal bisa sayang... gak usah di besar-besarin ah... lagian sekarang ini zaman pembebasan hak asasi manusia, udah saatnya mereka diperlakukan dengan adil...” suara Kris terdengar mantap
“tapi gak usah di depan umum juga kali. lagian aku heran deh sama orang-orang yang suka sama sesama jenis. emang mereka gak bisa dapet pasangan gitu ? nyampe suka sama sesama jenis gitu. Apa enaknya coba suka sama sesama jenis...” Aku berkomentar panjang lebar sampai Kris memotong pembicaraanku.
“Udah ?” mata Kris menandakan kemarahan, “beres komentarnya ? kamu itu kalo ngomong jaga perasaan kek. lagian kamu kurang kerjaan banget sih pake komentarin orang segala. kamu juga belum tentu baik tau gak...” kata Kris dengan suara tinggi
“loh kok kamu jadi sewot sih... Aku itu ngomentarin mereka. Kenapa jadi kamu yang kesinggung.. Jelas-jelas apa yang mereka lakuin itu salah...” Aku tak mau kalah
“kalo apa yang mereka lakuin itu salah, yang kita lakuin sekarang juga jelas salah. kamu cinta sama aku itu salah. gitu ? gak ada larangan atas cinta. Mereka juga sama kayak kita. Mereka punya hak untuk mencintai orang lain, dapat cinta dari orang lain...” Kris menimbali
“Iya, mencintai dan dicintainya gak salah, tapi orang yang dicintainya yang salah. Bener-bener tanda kiamat sudah dekat tuh makin nampak aja. Pernikahan sejenis atau hubungan sejenis itu diharamkan sama agama, dan apa yang dilarang pasti berdampak buruk untuk manusia. Aku sangat percaya itu. Lagian selain merugikan mereka, hubungan sejenis juga merugikan negara.” Kali ini sisi Kerohisanku mulai keluar. Beruntung Aku dapat segera menangkap wajah jengah Kris saat aku menjelaskan mengenai ini.
“alaah udah lah gak usah diperpanjang lagi, makin malem kamu makin nyebelin tau gak !!! sekarang kamu aku anter pulang !” Kris menarik tanganku kasar
“Kamu tuh yang tiba-tiba nyebelin. aku komentar apa kamu nanggepinnya apa... gak usah di anter-anter ! aku bisa pulang sendiri !” Aku sungguh tak terima dan Aku putuskan untuk meniggalkannya. Sungguh malam ini aku sangat kesal. Padahal aku berencana malam ini adalah malam perpisahan karena besok aku kan pulang ke kampung halaman untuk merayakan hari raya idul fitri. Tahu akan seperti ini, aku lebih baik shalat tarawih di mesjid dan tak usah meluangkan waktu untuk bersama Kris. Malam ini pertama kalinya selama sepuluh bulan kami berkencan, Kris sekasar itu padaku. Apa yang salah dengan ucapanku ? bukankah sudah jelas diceritakan dalam kisah Luth Alaihissalam, hubungan sejenis menandakan pendurhakaan. Betapa banyak akibat buruk dari hubungan ini, HIV, AIDS, dan penyakit-penyakit aneh lainnya bermunculan dan semakin membuat bumi ini seperti neraka. Menurutku, sikap Kris kali ini terllau berlebihan.
Aku terus berjalan. sambil menunggu angkutan atau taksi yang lewat. Entah jamberpa sekarang, jalanan benar-benar sepi, hingga dari belakang terdengar klakson mobil Kris. Aku enggan membalik. Aku benar-benar marah malam ini.
“Sekarang udah jam satu. angkutan umum udah gak ada. cepet masuk mobil...”
Aku tak menghiraukannya. Kakiku terus melangkah sementara Kris pelan mengendarai mobil sambil mengejarku.
“oke, Aku minta maaf. Aku yang salah. Sekarang kamu masuk ya.. udah malem, gak baik jalan sendiri...”
Aku tetap berjalan. kali ini kakiku melangkah sambil melihat sekitar. sepi. memang benar sepi, dan aku tak mendengar lagi suara mobil Kris mengikutiku. Apa dia benar-benar meninggalkan Aku ?. Takut-takut aku memohon dalam hati, ‘Tuhan Aku berharap ada taksi atau apapun jenis pertolonganMu agar aku bisa sampai kosan dengan selamat.’
“Mau jalan berapa lama lagi yang ? gak cape apa ?” Suara Kris terdengar dari belakang
Aku menoreh kebelakang, dan ternyata itu benar Kris. “suruh siapa ngikutin aku ?”
Lama kami berdiskusi di pinggir jalan dan akhirnya aku luluh. Kris mengantarku pulang dengan mobilnya. Sepanjang perjalanan pulang aku dan Kris saling diam. Sebenarnya aku yang mendiamkannya.
Aku membuka kaca jendela mobil, aku lihat mesjid-mesjid besar di Bandung dipenuhi oleh orang-orang yang itikaf. Setiap mesjid mengundang kyai-kyai kondang untuk menjadi imam. Seketika hatiku rasanya sakit. Ada goresan yang aku tak tahu itu apa. Terbersit kenangan bersama teman teman kerohanian islam. Lama kami tak saling bergurau. Belakangan ini bahkan saling sapa ketika bertemupun tidak. Ramadhan tahun lalu, sepanjang malam di sepuluh hari terakhir kita berlomba-lomba memperbanyak hafalan dan bacaan Al-Quran. Teman-temanku, pasti sedang sibuk membuka lembaran Quran dan mentadaburinya. Tidak seperti aku yang berada di posisi serba salah.
***Nash***
“Allahuakbar !!! Allahuakbar !!!...”
Kumandang adzan sontak membangunkanku. Astagfirullah, Aku belum shalat Isya, belum terawih pula, sudah pasti tidak bisa sahur dan terlambat untuk shalat berjamaah subuh di masjid. Aku menutupi wajahku dengan kedua tangan penuh penyesalan. Segera aku berwudlu untuk shalat shubuh sendiri di kosan. Aku tidak tahu apa yang harus Aku lakukan untuk menebus ini. Sebablas-bablasnya Aku, tak pernah sampai meniggalkan shalat yang lima waktu. Tetapi, malam ini... padahal umat muslim bedang berlomba-lomba untuk mendapatkan kemuliaan lalilatul qadar. Aktifitas semalam, benar-benar menguras tenagaku hingga aku terlelap sebelum mengganti baju apa lagi shalat Isya dan sekarang aku sangat menyesal.
***Nash***
Sebagian besar mahasiswa sudah berada dikampung halamannya masing-masing. Rencananya siang ini aku akan pulang. ke Bogor. Setelah pamit pada Kris tentunya. Semalam kami tidak sempat mengucapkan kalimat perpisahan. Perlahan sambil menikmati pagi aku berjalan menuju loby fakultas. Udara pagi ini terlalu segar untuk diabaikan.
“Ekhm... bisa ngobrol sebentar..”
Aku menoreh kearah sumber suara. Rupanya itu suara Yan. Dilihat dari wajahnya, seperti ada masalah berat yang Dia alami.
“Boleh... kenapa ?”
Yan menyodorkan hp nya padaku. Aku bingung dan kubaca isi pesan yang Yan tunjukkan padaku. Tanganku gemetar, sungguh aku tak percaya. Aku pejamkan mata berharap salah baca, tetapi ternyata aku tak salah sama sekali.
“Udah hampir dua bulan dia ngirimin Gue pesen kayak gitu. Jujur gue risih. Akhirnya kemaren Gue beraniin diri buat ngajak dia ketemuan. Beneran sumpah dah !!! Gue gak ada maksud gimana-gimana ngajak Dia ketemu. Itu tadinya Gue pengen introgasi maksud pesen pesen itu apa. Tapi, diluar perkiraan, Dia malah nyatain cinta ke Gue. Ish, Gue minta maaf banget udah rusak suasana hati loe pagi-pagi gini. Tapi Gue bakal dikejar-kejar rasa dosa seumur hidup kalo gak kasih tau Elo. Kita sekelas, ngurusin organisasni bareng-bareng dari awal jadi mahasiswa baru, Gue gak mau temen Gue berada di jalan yang menurut Dia bener padahal salah..”
Aku terdiam. Kepalaku terasa berat, tubuhku tarasa lemas, jantungku berdegup lebih kecang, ada tetesan air yang akan mengalir di pipiku dalam hitungan detik. Segera Aku usap, kawatir membatalkan puasa.
“Ish... Elo baik-baik aja kan ya ? jangan kenapa-kenapa dong. Kalo Elo kenapa-kenapa Gue bisa di tuduh ngapa-ngapin Lo. Ish, ngomong kek ! apa gitu... gapapa dah Elo mau guling-guling, teriak-teriak, loncat-loncat, atau balet di tengah lapangan sono... kan yang malu entar elo... Gue mah pura-pura gak kenal aja... asal jangan pingsan... hehe”
“Bahlul...” Jawabku singkat. Lebih tepatnya, aku tak punya kata-kata lain yang lebih baik untuk diucapkan saat ini. Yan menatapku penuh kasihan, seperti melihat kucing kelaparan yang ditinggal ibunya. Sikap yang konyol membuatnya Yan selalu di tolak dan menjomblo sampai sekarang. Malangnya, sekalinya disukai ternyata oleh seorang laki-laki. Lebih malangnya lelaki itu adalah kekasih yang selama ini Aku agung-agungkan. Sekarang jadi serba salah, antara mengolok-ngolok Yan seperti biasanya, atau kasihan pada diri sendiri.
“Ish, maaf ya... Gue bukan maksud gimana-gimana, mumpung Elo lagi patah hati, jadi Gue coba masuk, dulu kalo Gue ngomong ini pas Elo lagi kasmaran, pasti Elo murka dan bunuh Gue hidup-hidup. Gini Ish, Elo sama Kris itu gak cocok. Bukan karena Kris homo atau normal atau apapun, Elo kan tau kalian gak seiman. Coba kalo hubungan kalian udah jauh, kebayang Elo mau pindah agama ? atau kalaupun Kris yang jadi mualaf, itu gak semudah yang dibayangin. Coba Elo fikir, berapa banyak orang-orang yang Elo tinggalin dan ninggalin Elo karena Elo pacaran sama Kris ? Bahkan itu kaum jilbaber yang biasa bareng Elo aja sekarang gak pernah Gue liat kalian bareng-bareng. Padahal gak gampang loh Ish punya temen yang sholeha kayak mereka, yang selalu ngingetin kalo Elo salah. Gue masih inget, puasa tahun lalu Elo sama anak rohis pawai keliling kampus sambil bagi-bagian jadwal imsak, manis deh keliatannya. Elo yang selalu baca Al-Quran kalo luang, pas puasa malah setiap ada Elo, disitu ada Al-Quran. Sayangnya puasa tahun ini yang gue liat kalo ada Elo pasti ad Kris. Gak pernah Gue liat Elo duduk manis sambil ngaji. Elo sama Kris pacaran belum nyampe setahun tapi banyak banget perubahan dari diri Elo, terutama penampilan. Ish, Cowo yang sayang sama Cewek bakal ngajak dan ngarahin Ceweknya selalu menutup aurat dan berprilaku kayak sahabat rasul yang dijamin masuk syurga. Ya emang sih Kris mah gak akan kayak gitu, secara agama kalian beda. Tapi, kisah ini banyak ngasih Gue pelajaran, rencana Allah itu selalu indah, walaupun ini keliatan menyedihkan tapi sebenernya ini indah. Seenggaknya Gue bisa tenang karena udah bilang ini ke Elo dan Elo juga bisa memutuskan jalan terbaik untuk hidup Elo”. Yan berbicara panjang lebar, tampak seperti lelaki dewasa.
“Jadi menurut lo, gue kudu gimana ?”
“nikahin !...” jawab Yan asal, kemudian melanjutkan “Ampun Ish... ya putusin dong !!! masa iya elo mau bertahan dipacarin kaum gay... lama-lama elo di rekrut jadi anggota LGBT ! ah... Gue uda ngomong sampe berbusa gini Elo malah ngegalau... Tau ah !” Kali ini wajahnya benar-benar tampak kesal. Aku mencoba meredam dengan guyonan.
naon atuh ai kamu... LGBT, LGBT kayak tau aja apa artinya...” jawabku dengan senyum sinis dan tatapan ujung mata.
Yan berfikir, mencoba mengeja kepanjangan dari LGBT, sungguh lucu paras wajahnya membuat Aku ingin melemparnya dengan tas. Setidaknya, bergurau dengan Yan dapat menutupi keadaan hatiku saat ini dan menguatkan hatiku untuk bertemu dengan Kris.
***Nash***
Aku gontai berjalan, menelusuri jalanan kota Bogor yang semakin sepi. Rintik hujan mulai turun. Langit yang menjadi saksi pertengkaran aku dengan Kris saat Aku meminta putus seolah menyorakiki, ‘payah... payah...’ lama-lama hujan benar-benar turun sekarang. Membasahi seluruh pakaianku, tapi hatiku sudah lebih dahulu basah jauh sebelum hujan turun. Aku masih terpaku. Tak tahu arah tujuan. Angkutan umum tidak tampak satupun.
“Umat muslim gak akan pernah takut kehilangan tempat tinggal atau sekedar tempat neduh, mereka punya Allah yang rumahnya berada di setiap tempat. Sebaiknya Kakak masuk Masjid dulu, sekedar membatalkan shaum dan neduh. Hujannya deras banget, kemungkinan angkutan umum gak akan operasi sampai hujannya reda.” Ucap anak laki-laki berseragam SMA sambil menodongkan satu payung untukku.
Aku mengambil payung yang anak itu berikan dan mengikutinya memasuki masjid. Anak laki-laki itu berjalan di depanku, selang beberapa menit menengok kearahku dan berjalan kembali samapi tibalah kami di depan sebuah masjid.
“Tempat Akhwat masuk lewat sini, sepatunya di lepas di sini terus di bawa ke dalam, nanti ada penjaga sepatu yang kasih pinjem mukena dan makanan tajil. Kakak simpan sepatunya di sana. Selamat datang di Masjid Raya Bogor kak... saya pamit. Assalamualaikum..”
Entah kenapa, seperti terhipnotis, Aku ikuti semua yang anak itu katakan. Hingga sekarang aku berada di dalam masjid, shalat maghrib dan memakan tajil yang tersedia bersama jamaah lain. Hujan di luar semakin deras sementara Hp ku mati total. Aku lupa membawa charger, hari ini benar-benar hari sial bagiku. Aku mengambil mukena, bersiap-siap shalat tarawih. Sepertinya hujan tidak akan reda dalam waku dekat. Shalat teraweh di Masjid ini dilakukan setelah ceramah. Menetralkan hati sebelum bertemu Allah.
“Apa yang terjadi sudah ditulis Allah di Lauh Mahfudznya, Insya Allah selalu memberi kebaikan selama kita selalu mengambil hikmah. Itulah alasannya, mengapa islam adalah agama yang benar, yang menunjukkan jalan yang lurus. Karena ajaran islam mengarahkan pada kebenaran dan melarang kemungkaran. Kejayaan islam adalah kepastian, namun demikian, kita tetap wajib mensyiarkannya. Dakwah atau jihad di jalan Allah, sayangnya ummahat banyak yang salah sangka mengenai definisi dakwah. definisi dakwah sangatlah sederhana, dengan prilaku kita, sopan santun, ketaatan pada Allah dan ibadah kita. Jihad di jalan Allah bukan berarti mengajak perang setiap orang yang menentang ajaran islam, berjihad yang benar adalah berjihad dengan ilmu. Orang muslim yang mengerjakan shalat wajib tidak pernah terlewar, shalat malam khusuk, bersedekah setiap hari, patuh dan taat pada orang tua, jika dia beramal tanpa ilmu sama dengan nol. Mengapa demikian ? kembali lagi, karena islam adalah agama yang memberikan kemaslahatan. Robohnya kejayaaan islam berabad-abad yang lalu karena siapa ? orang muslim sendiri. Muslim yang bergerak tanpa ilmu. Mereka berfikir tentang kebebasa, toleransi beragama tetapi tidak menjadikan Al-Quran dan Hadist sebagai panduan, akibatnya Gozwatul Fikr masuk dan merusak pola fikir mereka, sikap yang mereka anggap akan memberi kebaikan untuk islam ternyat justru menghancurkan agamnya. Naudzubillah... Mengapa muslim yang menikah berbeda agama ? karena dia menikah untuk ibadah tetapi tidak menggunakan ilmu pernikahan. Itulah sebabnya setiap tindak tanduk yang kita kerjakan harus dengan ilmunya. Subhanaalah, Maha Besar Allah dengan segala ketetapan-ketetapannya yang tertulis dalam Al-Quran...”
Kalimat kyai itu benar-benar teduh. Setiap perbuatan harus dilandaskan oleh ilmunya. Kejadian mumas tahun lalu yang mengantarkan aku pada Kris dan menjauhkanku dengan teman-teman rohis hingga Yan datang menyadarkan gelapnya fikiranku. Andai Aku bisa berfikir lebih jernih, mungkin aku takkan kehilangan sahabat-sahabatku, keluargaku, ramadhanku, Tuhanku. Andai kebodohan itu tidak aku lakukan, mungkin hari ini aku sedang berkumpul dengan keluarga di rumah, membuat targetan amalan dengan teman-teman rohis seperti ramadhan-ramadhan biasanya, Aku sungguh merindukan mereka. Akankah mereka memaafkanku dan menerima Aku kembali ?.. Ah, tapi sudah terlampau jauh semua yang Aku perbuat, andai Aku sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, mungkin ini takkan terjadi. Alhamdulillah setidaknya, masih ada waktu beberapa malam untuk meraih kembali ramadhanku yang hilang, semoga setelah lebaran nanti Aku bisa memperbaiki hubunganku dengan sahabat-sahabatku. Amin ya Robb...
***Nash***

Komentar

share!