Ramadhan Tanpamu




Karya:  Choirun Nisa

Beda. Aku merasa beda dengan Ramadhan tahun ini. Tahun lalu, aku bagaikan anak kecil yang tak bisa lepas dari orang tuanya. Padahal, engkau bukan orang tuaku, bukan. Namun, entah mengapa aku merasa terikat denganmu.



Tiga tahun lalu, kita berkenalan. Aku, kamu, dan dia. Tapi, layaknya sebuah hubungan, hanya dua yang bisa berjalan dan satu tersisihkan. Bukan karena yang satu tidak baik, bukan, tapi karena sebuah hubungan hanya dapat berjalan dengan dua orang dan bukan tiga.

Hari demi hari berlalu, begitu pun bulan. Tak terasa kita memasuki Ramadhan tahun pertama, kedua, dan ketiga bersama. Bahagia ? Jangan ditanya. Ke mana-mana berdua, apapun berdua. Semua orang di sekitar kita pun seakan merestui tindakan yang kita lakukan. Semua berpendapat “we look cute together”. Hingga tiba masanya kita berada di titik jenuh.

Pertengkaran demi pertengkaran kita lalui. Semua argumenmu dan argumenku beradu. Masing-masing tak merasa cukup dengan apa yang diberikan lainnya. Semua dari kita menginginkan lebih dan tak ada yang ingin mengalah. Namun, semua selalu berakhir ketika Lebaran tiba. Kita bermaafan dan semua kembali seperti sedia kala di saat hanya bahagia yang ada saat kita bersama.

Memasuki Lebaran ketiga, masing-masing dari kita tahu, kita akan berpisah. Kau akan kuliah di Universitas A dan aku di Universitas B. Jarak jelas menjadi penghalang kita. Namun, kau selalu berpesan untuk menggunakan media sosial untuk berkomunikasi.

Awalnya, semua biasa, kita berkontak seperti saat jarak tak memisahkan kita. Namun, hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, tak terasa jarak dan waktu mulai seakan memisahkan kita. Kau sibuk dengan kesibukanmu dan aku juga tenggelam dalam kesibukanku. Berkabar pun menjadi jarang. Meski begitu, rasa sayang pada masing-masing tak pernah luntur walau hanya sekejap.

Sebenarnya, kesibukan yang kulakukan tidak banyak. Semua hanya seputar kajian agama yang ingin aku perdalam karena referensi seorang kakak tingkat yang kukenal. Namun, karena memang dia yang nun jauh di sana memiliki banyak kerjaan hingga super sibuk, jadilah aku ikut pura-pura menyibukkan diri dengan cara yang insya Allah bermanfaat.

Ikut beberapa kajian, diskusi, dan mentoring dari kakak pementor membuatku tercerahkan. Sebut saja Kak Ina. Ia membuatku mengerti tentang makna aqidah Islam dan keterikatan perbuatan kita dengan hukum syara’. Kemudian, ia juga mengingatkanku akan kematian—yang menurutku materi yang sangat menyeramkan dan mengena di hati.

Suatu ketika Kak Ina menjelaskan tentang Ust. Felix Y. Siauw dan beberapa buku terkenalnya, termasuk buku UPA—Udah Putusin Aja. Buku ini pernah menginspirasiku untuk putus darinya—cowo yang di Universitas A tadi. Kami sempat putus dua kali. Pertama, putus itu hanya terjadi selama seminggu. Kedua, kami putus untuk sekitar dua bulan. Dua-duanya adalah produk gagalku. Aku sebut produk gagal karena aku gagal mengaplikasikan apa yang aku baca dan tidak bertahan lama.

Sejujurnya aku malu, malu pada diri sendiri dan pada Allah. Aku berniat putus, sungguh ingin aku melepas ketergantunganku padanya. Namun entahlah, aku merasa susah. Entah karena terlalu sayang ataukah terlalu nyaman dengan kesalahanku yang tak kusadari saat itu. Berkali-kali aku berdoa untuk dimudahkan agar mudah melepaskannya, tapi semua selalu terasa susah.

Kembali ke cerita tentang Kak Ina—Kak Ina, pada dasarnya, tidak tahu bahwa aku memiliki seorang pacar di tempat asalku. Ia tidak pernah bertanya karena aku sendiri tidak ingin membicarakannya. Maka, ia berkesimpulan bahwa aku tidak memiliki pacar. Ia pun membicarakan tentang fakta pacaran anak muda zaman sekarang. Ia memaparkan banyak fakta yang membuatku bergidik ngeri dan bulu kudukku berdiri. Di akhir perkataannya, ia menutupnya dengan beberapa dalil Al-Qur’an, salah satunya adalah QS. Al-Isro(17):32.

“Mendekati aja sudah tidak boleh, dek. Apalagi lebih. Mendekati saja sudah berdosa. Apalagi yang sudah melakukan. Ya kan ?” kata Kak Ina kala itu padaku di akhir pertemuan mentoring kami.

Itu hanyalah sebuah diskusi kecil yang mungkin tidak penting dan biasa saja. Akan tetapi, bagiku tidak. Aku terus memikirkannya hingga aku terpikir akan ide untuk memutuskannya lagi dan kali ini untuk selamanya.

Tiga bulan berlalu sejak hari pertama kuliahku dan kontak kami hanya beberapa kali, entah itu seminggu sekali, dua minggu sekali ataupun sebulan sekali. Semua tergantung aktivitasnya. Aku tak menyalahkannya, tidak, justru aku senang. Tak terlalu sering aku berkontak dengannya membuatku dapat berpikir tentang hal lain yang tidak termasuk ia di dalamnya.

Aku mulai berpikir ke belakang tentang pertemuan pertama kami dan intensitas bertemu kami. Aku mulai berpikir rasional sedikit demi sedikit. Aku mulai menyadari perasaan yang kumiliki tumbuh karena kami terlalu sering betemu. Kalau kata pepatah jawa, “witing tresna jalaran saka kulina”. Jatuh cinta itu karena terbiasa. Terbiasa bertemu, terbiasa bersama, dan hal lainnya yang akhirnya membuat kita terbiasa dan nyaman dengan orang yang sering kita temui. Semua terasa rasional sekarang. Aku, perasaan terikatku, dan semua rasa sayangku.

Semua yang aku peroleh dari mentoring bersama Kak Ina dapat aku terapkan sekarang. Aku memahami bahwa tak seharusnya kita lebih mencintai sebuah makhluk di atas Penciptanya, sekalipun itu orang tua kita dan orang-orang lain yang kita sayang. Aku juga menyadari bahwa selama ini aku terlalu terlena dengan kebahagiaan duniawi yang tak seharusnya aku kejar berlebihan.

Maka, aku pun mulai menata hidupku satu persatu. Aku kurangi berkontak dengannya dan mulai memperbanyak teman-teman yang juga sama-sama ingin menimba ilmu agama lebih dalam. Sedikit demi sedikit perasaan itu berkurang dan yang tersisa adalah perasaan sayang sebagai teman untuknya. Tidak mudah memang untuk menurunkan kadar sayang ini, tapi tidak mudah bukan berarti tidak mungkin kan ? Setidaknya aku berusaha semampuku dan usahaku selama beberapa bulan ini berhasil.

Tibalah saatnya untuk menentukan pilihan. Kak Ina selalu menjelaskan, “Hidup itu sebuah pilihan. Adek sekarang ada di sini itu karena semua pilihan yang adek pilih di masa lalu. Siapa adek di masa ke depannya, itu tergantung pilihan adek saat ini.”

Aku menemukannya sedang aktif dalam salah satu medsosnya dan aku berpikir untuk menyampaikan maksudku saat itu juga. Setelah berargumen panjang-lebar ke sana dan ke mari dengannya, akhirnya keputusan pun dibuat. Ia menyetujui pilihanku. Ia menghargai pilihanku jika memang aku menginginkannya begitu dan berharap suatu saat ia bisa kembali dan meminangku jika ia sudah selesai memantaskan diri. Aku hanya menjawab ya, ya, dan iya. Namun, untuk yang terakhir, aku tidak berharap banyak padanya karena jodoh itu urusan Allah dan aku tidak akan meminta janji apapun darinya. Kontak pun berakhir dan kami kembali menjalani hidup masing-masing seperti sedia kala ketika tiga tahun lalu kami belum bertemu.

Setelah kejadian itu, aku mulai menata setiap aktivitasku. Menjaganya agar tetap pada koridor syariat dan berkumpul dengan orang-orang yang selalu mengomeliku karena setiap kesalahan kecilku. Aku mulai memahami bahwa setiap tingkah kecil kita itu pasti akan diperiksa oleh Allah dan akan dihisab oleh Allah karena Ia MahaTeliti. Maka, aku pun mulai merubah diriku, menjaga perilakuku dan mengubah penampilanku. Semua yang kulakukan bukan tanpa usaha, aku berusaha sekuat tenaga untuk merubah diriku yang awalnya anak yang gaul dan hedon menjadi muslimah sejati.

Aku tak sendirian, tak sekalipun aku merasakannya. Aku selalu merasa dimiliki setiap saat oleh-Nya. Karenanya, aku tak butuh orang lain lagi yang memperhatikanku untuk sekadar bertanya kabar dan hal lainnya karena aku selalu tahu, aku memiliki dan dimiliki-Nya.

Ramadhan pun kembali hadir dan kali ini aku Ramadhan tanpamu. Tanpa seseorang yang aku harus terikat dengannya karena aku memiliki ikatan baru yang lebih solid, yakni dengan Sang Pencipta dan Pengaturku, Allah.

Aku mencoba memahami satu persatu perintah-Nya, mulai kerudung, jilbab, perintah berdakwah, larangan berkhalwat (berdua-duaan), larangan ikhtilat (campur-baur), dan hal lainnya. Aku mencoba memperbaiki diri lebih baik lagi. Sedikit demi sedikit dan perlahan namun pasti, aku mencoba melangkah di jalan yang baru, jalanan yang tanpamu, tetapi di jalanan ini aku melangkah dengan pasti, dengan Rahmat-Nya.

Komentar

share!