“Ramadhan Poenya Cinta”




Karya:   TOMI SUPRIYONO

“kriiiingg....!!.. kriiingg...!!..kriiiingg.....!!...”

Begitulah bunyi bel dimana Heri bersekolah, tak jauh dari pinggir jalan, dan bersebelahan dengan Kantor Kepala Desa setempat,

“horee.. akhirnya pulang juga... “

sorak Heri sambil bergegas menutup buku dan memasukannya ke dalam tas, tapi ada suatu hal yang membuat Heri serasa enggan untuk pulang, hari ini dia harus berboncengan dengan salah satu teman sekolahnya, dia bernama Indah, entah apa yang membuat Heri begitu benci dengan Indah, sehingga aktivitas apapun apabila ia lakukan bersama Indah Indah tak begitu semangat, mungkin karena sewaktu kecil sering jadi olok olokan teman temannya, ya semua tau itulah masa kecil.



“Her...!!  Heriii...!”

Teriak Indah memanggil Heri yang baru saja keluar dari pintu gerbang sekolahan, dengan raut wajah yang agak murung heri menjawab

“iya... nggak usah pake teriak teriak kali, aku udah denger kok”
“aku ikut yaa... kita kan satu arah pulangnya”
“iya ayo naik”

begitulah Indah yang selalu menyikapi Heri dengan selalu tersenyum,
ketika sedang dijalan mereka pun bercakap cakap

“Ndah... kamu kok masih mau temenan sama aku sih??”
“yaa kita kan emang sudah berteman sejak kecil her..”
“tapi itu kan dulu ndah... aku malu sering jadi bahan olok olokan temen temenku dikelas, itulah kenapa aku terkadang benci dengan kamu, kita dibilang pacaran padahal aku sedikitpun nggak tertarik padamu”

terdiam Indah sambil menundukan kepala sejenak...

“maafin aku her...”

hanya kata maaf yang bisa ia lontarkan kepada heri mendengar ungkapannya selama ini,

“ahhh kamu mah gitu ndah... ngomong dong, jangan gitu aja”

percakapan mereka pun terhenti sampai hampir setengah perjalanan, Heri yang sedang mengendarai sepeda motor itu sambil menunggu Indah yang bicara duluan karena tadi pertanyaan terakhir tak dijawab oleh Indah pun merasa resah, dan tiba tiba Heri yang memulai lagi, dengan sengaja mengejutkan Indah Heri memanggil namanya

“Ndah...!”
“eh iyaa, kenapa? Ada apa ?”
“masih mau diem??”

dengan sengaja Indah mengalihkan pembicaraan mereka berdua

“eh Her.. kamu besok setelah pengumuman kelulasan mau lanjutin kemana?”
“emm, aku mau tetep dikota ini aja lah, aku masih cinta dengan kota yang punya banyak cerita ini”
“oooh.. gitu yah”
“iya.. emang kenapa?”
“nggak papa.., aku cuma mau bilang aku mau nerusin di jakarta”
“ooh.. ya sana”
“iya her”

Dengan sedikit cuek Heri menjawab pernyataan Indah itu, sebenarnya dihati sempat terkejut mendengar itu tapi Heri berfikiran lagi, “kalau indah lanjutin dijakarta kan aku bisa jauh darinya,” sambil tersenyum dalam hati, Heri tak berfikiran kalau ia tak lagi bisa pulang bareng seperti masa SMA ini apabila itu benar adanya, bahkan ia tak berfikiran siapa yang akan menjadi teman dekatnya kala Heri kesepian dirumah sendiri, memang selama ini Indahlah yang selalu menemani Heri, Tapi heri masih belum sadar akan semua itu.
Waktu berlalu, perjalanan mereka pun sudah sampai didepan rumah Indah dan berhenti sejenak, Terkejut Heri yang melihat ayahnya Indah muncul dari samping pekarangan rumah,

“eh nak heri... sudah lama nak??”
“ohh nggak om, barusan aja kok”
“sini mampir kerumah nak”
“terimakasih om, saya mau langsung pulang aja.. udah ditunggu ayah dirumah”
“beneran ini ngga mau mampir”
“hehe kapan kapan aja lah om”
“iya udahlah nggapapa”
“iya om, heri pamit ya om”
“iya hati hati dijalan... terimakasih udah anter Indah  sampe kerumah”
“iya om sama sama”

lalu setelah itu heri pulang begitu saja,

... beberapa hari kemudian ...

tepatnya hari selasa, hari dimana seluruh kelas 12 dikumpulkan untuk pengumuman kelulusan, tibalah hari dimana hari yang sedang dinanti nantikan oleh Heri, betapa bahagianya seluruh siswa ketika melihat isi surat menyatakan bahwa siswa kelas 12 lulus 100%

“hore.. hore.. hore..”

begitulah sorakan khas seorang siswa ketika mendapat kemenangan baginya, dengan menyemprotkan sejenis pewarna warna warni ke baju putih polos yang hanya bertempelkan identitas sekolahan disebelah lengan kanannya, mereka sudah sangat bahagia dengan tradisi yang sudah turn temurun sejak dahulu itu, entah apa maksud dari semua itu, aku pun tak tau

disela waktu terlihat Indah sedang berjalan menghampiri  Heri yang sedang menandatangani baju temannya,

“Herii..”
“eh... ngapain kamu kesini, aku malu ada banyak temen temenku ini”
“nggapapa.. aku cuma mau bilang, besok aku berangkat ke jakarta, mau lanjutin disana”
“ooh.. ya nggapapa, kamu hati hati yaa”

hanya percakapan singkat yang dapat mengakhiri masa SMA mereka, setelah itu heri pun tak tau apa yang akan terjadi.

... satu tahun berlalu ...

Setelah satu tahun hari hari ia jalani tanpa mendengar nama “Indah” ditelinganya seperti ada yang kurang dalam hati Heri, tapi heri masih acuh tak acuh dengan semua ini,

suatu hari kala sore senja menyelimuti kampung, tampak heri yang sedang duduk didepan rumah sambil menunggu berbuka puasa, kebetulan ini sudah masuk hari ke 11 puasa ramadhan, heri dikejutkan dengan seorang wanita tak sengaja lewat depan rumahnya, tercengang ia melihatnya sambil bicara dalam hati “sepertinya aku kenal orang itu,” heri yang penasaran pun menyangka nyangka bahwa itu adalah indah, ketika malam tiba, setelah shalat traweh selesai heri berniat untuk sms orang tuanya.

“selamat malam”
“iya, malam, ada apa nak heri”
“apa bener indah pulang kesini om?”
“ooh.. iya itu.. baru sampe tadi pagi”

ternyata benar, dugaan heri tepat, berarti yang lewat tadi sore itu adalah indah, entah apa yang membuat heri seketika selalu memikirkan Indah, penuh tanya dalam hati.
keesokan harinya mereka pun bertemu di gubuk sawah milik ayahnya heri, sambil menikmati pemandangan yang sejuk

“hai..”

sapa heri yang baru datang ke gubuk itu

“hai juga”
“kamu apa kabar”
“baik.. kamu”
“aku baik, gimana kuliah di jakarta”
“yaa lumayan lah buat pengalaman...... bla bla bla

mereka pun mengobrol panjang lebar, tak terasa hari sudah mulai sore, heri yang merasa bersalah menyatakan semuanya kepada indah

“ndah...”
“iya.. ada apa”
“maafin aku yaa selama ini aku selalu mengabaikan kamu, aku pernah benci sama kamu”
“kamu belum minta maaf aja udah aku maafin kok”
“beneran ndah....”
“iya”
“makasih yaa ndah, selama kamu di jakarta aku baru mengerti akan artinya kehilangan teman yang selalu ada”
“ahhh lebay dah kamu”
“aku serius ndah, maafin sikapku selama ini padamu yaa”
“iya iya udah udah.., “

akhirnya heri pun menyadari semua ini, dan sekarang heri merasa bangga memiliki teman yang bernama indah itu.

Komentar

share!