RAMADHAN PERTAMA




Karya:  Zulfa Nurrahmani Ananda Heparrians

Ramadhan, Ramadhan itu bulan penuh berkah. Hal yang dianggap istimewa setiap tahunnya di dunia, terutama negara yang mayoritas Islam. Indonesia termasuk bagian negara tersebut. Senyum merekah di setiap pelosok negeri, penduduk berlomba-lomba mencari pahala yang bagaikan harta karun terpendam. Semuanya berpartisipasi. Dari yang tinggal di desa maupun kota, yang kaya atau yang miskin, dari yang tua hingga muda, atau bisa dibilang dari kakek nenek hingga bayi baru lahir pun juga. Semuanya udah punya daftar sendiri hal yang bakal dilakuin. Contohnya mama dan papa. Mama yang pekerjaannya dokter yang sangat meminimalisir jam kerjanya selama bulan Ramadhan. Belanja kaya orang kesurupan yang main cabut-cabut bahan makanan di supermarket, hidup di dunia sendiri kalau masak, tapi memang ngga dipungkiri rasa masakannya yang buat kita ngacungin jempol. Kalau papa yang juga sebagai dokter ngerubah jam prakteknya supaya bisa lebih awal pulang untuk kumpul bersama keluarga, ngeprint jadwal sholat dan imsak, buat peraturan yang ditujukan bagi anggota rumah yang menuntut beribadah dan masih banyak lagi. Kalau dilihat-lihat, sepertinya memang orang-orang udah punya rencana sendiri di bulan Ramadhan ini, kecuali AKU.


Tepat enam tahun yang lalu sepasang dokter muda mendapatkan tawaran untuk menjadi tenaga kerja di salah satu kota di negara Indonesia, yaitu Palembang. Sepasang dokter muda itu memberi kabar itu kepada satu-satunya anak yang mereka punya. Anak itu bernama Hermione Granger, dan Hermione Granger adalah namaku. Betapa terkejutnya saat mereka bilang bahwa kami akan pindah ke Indonesia, negara yang katanya sih penuh akan kebudayaan dan kekayaan alam yang sungguh luar biasa. Walaupun, tempat baru yang akan dituju sebagus mungkin, atau spektakuler banget, tetap saja aku udah nyaman di negara kincir anginku, tempat tinggalku, tetangga, sekolah, dan sahabat-sahabatku
Di hari itu umurku tepat sepuluh tahun, saat itu aku memakai dress selutut santaiku bermotif bunga-bunga cerah yang sangat senada dengan kulit putih susuku, aku juga mengenakan flatshoes bewarna biru donker. Rambut pirang platinaku yang kubiarkan tergerai hingga bahuku, kupakai bando pita yang bewarna sama dengan sepatuku, dan kupeluk erat boneka teddy bear yang baru kudapatkan beberapa menit sebelum keberangkatan kami menuju bandara. Boneka itu adalah kenang-kenangan dari sahabat-sahabatku, hal itu membuat tetesan air mataku tak terbendung lagi. Apalagi, setelah kuingat sangat ramai kerabat, teman-teman, yang berkumpul, mereka sengaja datang untuk memberikan salam perpisahan. Setelah aku berkelana di dalam pikiranku, mobil berhenti. Itu berarti kami telah sampai di bandara., aku hanya diam mengekori papa dengan tanganku digenggam hangat oleh mama. Dan pada akhirnya aku tertidur pulas di dalam perut burung terbang menuju kehidupan baru di Indonesia.
Ketika sampai di bandara Sultan Mahmud Badarudin II, mataku menangkap perbedaan kontras antara masyarat negara ini dan diriku. Mereka memiliki kulit kecoklatan, sedangkan aku putih susu. Rambut mereka hitam, rambutku pirang platina. Mata mereka hitam, aku biru keabu-abuan. Dan banyak wanita dewasa berpakaian tertutup, hanya terlihat wajah, dan telapak tangan saja. Itu penglihatan baru untukku. Kemudian, kami disambut oleh seorang laki-laki. Dia berbica bahasa inggris yang menurutku cukup lancar, intinya dia mengucapkan embel-embel selamat datang dan akan membawa kami ke tempat tinggal baru kami. Hal baru yang kuperoleh lagi, bahwa kemudi mobil di sebelah kanan, dan arah jalan berpatokan di kiri. Itu berkebalikan dengan negaraku.
Menempuh perjalanan hampir satu jam, terlihat mobil yang kutumpangi melaju ke sebuah perumahan elit yang papa bilang bahwa ini perumahan khusus dokter, dan kemudian mobil memasuki pagar dan berhenti di depan pintu masuk. Setelah kami turun, mobil itupun melesat manjauh. Satu kata yang kukeluarkan pertama kali adalah WOW. Rumah ini lebih besar dibandingkan rumahku di Belanda. Rumah dua tingkat dengan teras luas dengan taman yang penuh bunga warna-warni. Kami memasuki rumah itu, dan WOW lagi. Arsitekturnya membuat tampak elegan, furniture sudah lengkap di berbagai sisi rumah dan yang paling kusukai bahwa ada kolam renang di ruang keluarga. Kejutan terakhir, aku diajak menuju kamarku di lantai dua. Dan it`s perfect. Kamar yang punya kamar mandi sendiri, TV, walpaper, semua furniture yang nuansa hijau putih. Ada balkon di sebelah kasurku yang dapat kulihat bahwa balkon kamarku tepat besebrangan dengan balkon kamar sebuah rumah. Pastinya itu tetangga kami, karena perbatasan rumah kami hanya dipisahkan tembok. Pokoknya I love it. Aku memasang senyum terceriaku kepada papa dan mama. Oh iya aku baru ingat, pantas saja mama hanya menyuruhku membawa pakaian, perlengkapan sekolah, dan mainan. Aku tidak melihat papa dan mama yang seharusnya sibuk mengepak furniture layaknya orang yang akan pindah rumah. Dan aku juga menyetujui itu, karena mama bilang bahwa keluarga adiknya papa yang akan menempati rumah kami. Setidaknya itu membuatku cukup legah bahwa rumahku tidak dijual. Tetapi ternyata ada alasan yang lebih logis, bahwa papa dan mama pasti sudah mempersiapkan jauh-jauh hari kehidupan baru ini, tetapi baru bilang kepadaku seminggu yang lalu. Ya, cukup licik tetapi cerdas.
Lima tahun kemudian, kami sekeluarga resmi menjadi warga negara Indonesia. Selama lima tahun disini, papa, mama, dan aku sendiri sudah fasih berbahasa Indonesia walaupun masih berlogat Belanda. Lima tahun ini juga sudah banyak yang kuketahui mengenai masyarakat disini. Masyarakat disini mayoritas beragama Islam. Jadi setiap tahunnya itu, ada yang namanya bulan Ramadhan yang mereka harus berpuasa satu bulan penuh. Semua orang selalu bahagia menyambut bulan itu.
Kuakui juga perubahanku yang telah menjadi gadis remaja berumur lima belas tahun. Semenjak aku SMA, aku sangat suka shopping, ngoleksi make up, nail art, hangout. Huuu I love it. Masalah uang, itu gampang. Uang terus mengalir di tangan papa dan mama. Dan sebagai anak yang baik, kewajibanku ya memang harus menggunakan uang itu. Aku juga minta mobil jazz baru untukku, yang menurutku mobil itu tidak sebandinglah dengan mobil BMW papa, atau Alphard mama. Dan benar, papamama mewujudkannya. Aku dimanjain, wajar kan anak satu-satunya.
Enam bulan kemudian, kabar dari papamama yang sangat mengejutkan. Mereka mengungkapkan niatan mereka kepadaku, bahwa berencana untuk pindah agama menjadi agama Islam. What? Of course I shock. Yang kuketahui, agama Islam sangat banyak aturan. Terutama masalah laki-laki dan perempuan kecuali yang sudah menikah untuk berdekatan seperti pegangan tangan, pelukan, apalagi ciuman. Padahal, jelas-jelas aku kan udah punya pacar yang notabene tetanggaku sendiri, namanya Draco Malfoy. Keluarganya juga pindahan dari negara lain, yaitu Inggris. Jadi, bisa dibilang kami bernasib sama. Dan sejak awal-awal pindah, kami sudah menjadi teman dekat, kami merasa sudah mengenal satu sama lain hingga beberapa bulan lalu kami memutuskan untuk pacaran. Balik lagi ke permasalahan awal, ketika aku memasang wajah shock aku hanya bilang bahwa aku akan memikirkan rencana papa mama tersebut, kuseret paksa kakiku menuju kamarku.
Pikiranku tak karuan, apa yang harus kupilih? aku harus menjernihkan pikiranku huft. Beberapa detik kemudian iphoneku berbunyi, yang aku tau itu berarti tanda pesan masuk. Dengan malas kuraih iphoneku, dan kedua sudut bibirku terangkat ketika tertera nama Draco.
“Woy, gelisah banget dari tadi mondar-mandir, muka ditekuk. Tambah jelek! Mending keluar, anginnya enak”
Sontak dengan kutolehkan kepalaku ke samping kanan, dan benar Draco melambai kepadaku dengan iphone ditangannya. Dia berdiri bertumpu pada balkon dengan celana pendek serta kaos yang melekat sempurna di badan atletisnya. Dengan semangat kulangkahkan kakiku menuju balkon. Draco benar, anginnya segar dan menenangkan. Kuberikan senyumku padanya. Setelah itu, kulihat jarinya mengetik cepat pada benda ditangannya. Selang dari itu, iphoneku berbunyi lagi dengan nama yang sama tertera pada layar.
“Ada masalah apa?”
Semalaman itu kami bertukar sms, aku menceritakan semua masalahku. Draco memang pilihan terbaik untuk diajak sharing dalam permasalahan. Pada akhirnya, dapat kami berdua simpulkan sepertinya orang tuaku dan orang tua Draco memiliki niatan yang sama. Yap, karena Draco juga diajak papa dan mamanya pindah agama.
Asyhadualla ila hailallah, Waasyhaduanna muhammadarrasulullah. Beberapa detik yang lalu kuucapkan terbata-bata dua kalimat itu dan kini aku resmi beragama Islam. Impian papa, mama, dan orang tua Draco tercapai, kami berenam sudah menjadi mualaf. Semenjak hari itu, perlahan semua berubah. Aku terus-terusan diwanti papa untuk bisa sholat, dan itu membuihkan hasil di bulan berikutnya. Papa dan mama membatasi kesenanganku, dengan sebelum Magrib aku sudah harus di rumah. Apa-apaan hah?. Hot pants, gaun pendek seksiku, baju-baju terbuka nan mahalku diambil dan disembunyikan mama. Maksimal aku hanya boleh memakai sependek lutut. Papa dan mama juga menuruti kehendakku yang jika mereka kira benar-benar dibutuhkan, berbeda dengan dahulu yang pasti langsung dijawab YA. Dan yang paling mengerikan, shoppingku dibatasi dengan dipotongnya 50% uang jajanku. Yang sebelumnya sebulan enam juta, menjadi sebulan tiga juta, Hal terakhir itu yang ngga bisa kutolerir, aku marah pada papa dan mama, tetapi mereka bilang itu demi kebaikanku supaya aku belajar hemat. Hemat apanya? Emang uang kalian mau ditumpuk di rumah gitu? Hah so funny. Tentu aku ngumpat di kamar, tidak mungkin dihadapan mereka. Aku mencurahkan kekesalanku pada Draco, dan dia hanya tertawa dan berkata bahwa tindakan orang tuaku benar. Dan Draco juga mengatakan bahwa orangtuanya juga menjadi lebih banyak peraturan, tetapi Draco fine-fine aja. Tangan kanannya menggenggam tangan kananku, dan tangan kirinya membelai rambutku, dan dia memulai menasihatiku dengan sangat lembut yang pasti bisa membuatku luluh. Sangat kusukai hal rutin yang kami lakukan di hamparan rumput belakang rumahku. Untuk yang satu ini, Draco dan aku tidak mau orang tua kami melarang kami berdekatan, pegangan tangan, pelukan, selagi kami tidak melakukan hal intim kami merasa baik-baik saja.
Lima bulan kemudian, seluruh umat Islam akan menyambut bulan Ramadhan. Dan ini berarti Ramadhan pertama keluarga Granger dan keluarga Malfoy. Seperti yang kukatakan pada awal-awal tadi, kalau dilihat-lihat, sepertinya memang orang-orang udah punya rencana sendiri di bulan Ramadhan ini, kecuali AKU. Aku pun tidak berniat puasa. Untuk apa puasa? Nahan makan, minum, ini dilarang, itu dilarang, ribetlah, belum lagi nafasmu bakal bau, iuh ngga mau. Papa dan mama membujukku untuk puasa, aku masih ngga mau. Hingga Dracopun membujukku. What the hell?. Usaha mereka sia-sia, aku akan tetap teguh pada pendirianku, wahaha ketawa iblisku keluar. Tetapi, inilah keadaan sebenarnya aku bangun dengan malas dengan kaki tergontai menuju ruang makan jam setengah empat pagi untuk sahur. Ini sangat berkebalikan dengan perkataanku yang akan teguh pada pendirian untuk tidak puasa. Pendirianku yang sangat kokoh tiba-tiba langsung hancur berkat papa.
“Hermione, kalau kamu puasa papa beri hadiah, satu hari kamu full puasa papa beri tiga ratus ribu, kalau sebulan full papa genapin jadi sepuluh juta, Mau ngga?”
Dan dengan mudahnya aku menjawa “Ya, tentu!”
Sekarang, aku merutuki mulut pintarku , tetapi emm aku memang tergiur akan uang itu. Dengan sepuluh juta aku bisa shoping sepuas-puasnya. Tetapi, memang sangat diperlukan perjuangan.
Setelah sahur, aku mambawa kakiku hendak menuju kamar. Tapi, papa melarangku dan aku harus menunggu setelah sholat subuh baru boleh tidur. Oke fine kuturuti. Adzan berkumandang, kusegerakan sholat dan waktunya tidur. Yes. Yaampun, aku belum mau belum ingin mengakhiri kegiatanku, tetapi gerakan bibi (pekerja di rumahku) menarik tirai balkonku dan interupsinya menyuruhku bangun karena sudah 06.05. Mataku terbelalak kaget dan aku langsung terduduk, biasanya pukul 06.15 aku sudah di jalan menuju sekolah.
“Siap-siap ke sekolah non, dari tadi dibangunin susah banget. Nah seragamnya udah di meja”
“Iya, makasih bi”
Keinginanku untuk menuju kamar mandi terhalang, karena ketika aku melihat ke arah balkon, terpampang jelas Draco yang telanjang dada, sungguh dipahat sempurna badannya itu. Dan kemudian dia mulai menutupinya dengan singlet.
“Non, jaga mata, puasa lho”
“Iya ah” aku langsung siap-siap ke sekolah.
Setelah mandi dan berpakaian, aku siap sekolah. Kutuju ruang makan, dan kosong. Apa ini? Kenapa ngga ada roti atau nasi goreng. Dan aku baru ingat kalau aku sedang menjalankan ibadah puasa. Shit! Puasa ini merusak moodku.
Pagi ini aku ke sekolah naik mobil Draco. Dan lagi-lagi Draco dengan perhatiannya menasihatiku. Sepertinya dia lebih cepat belajar menjadi Islam yang taat dibanding aku. Sesampai di sekolah, aku berencana untuk makan saja di kantin. Tapi, kantin ditutup. Rencanaku gagal. Pulang sekolah aku mengajak Draco berhenti di restoran, tetapi dia memperingatiku. Gagal lagi. Sampai di rumah pukul setengah dua siang, dapur tujuan utamaku. Dan bibi juga belum memasak. Malah bibi menyuruhku untuk sholat Dzuhur. Aku menurutinya. Setelah sholat, kurebahkan diri di kasur. Kumainkan iphoneku. What the hell arghh? Di instagram rata-rata post foto makanan, buat aku laper. Kuputuskan berhenti melakukan kegiatan itu dan membunuh waktu dengan tidur. Tidur pulasku diganggu oleh suara ribut kaca kamarku, itu pasti kerjaan Draco yang sedang melempar bola plastik untuk membangunkanku. Kurubah posisiku menjadi duduk dan menatap Draco sinis. Dia hanya nyengir dan mengangkat karton di tangannya bertulisan “SHOLATLAH! DAN TEMANI AKU”. Kulihat jam sudah pukul lima. Aku pun mandi dan sholat Ashar. Kemudian tertera sms dari Draco bahwa ia mengajakku berburu takjil. Ide yang bagus menanti buka puasa. Oh my god, saat melewati dapur betapa enaknya aroma masakan mama dan bibi, tetapi ada papa dihadapanku dan aku langsung meminta izin untuk membeli takjil. Papa mengizinkan dan dua lembar uang merah kukantongi.
Draco mengajakku bersepeda untuk berburu takjil, karena ada pasar takjil tidak jauh dari perumahan kami. Ini sangat seru. Saat sampai, sangat banyak jajanan pasar dan minuman yang menggiurkan. Dengan buasnya kuambil makanan dan minuman yang kuinginkan untuk memuaskanku saat berbuka nanti. Uang di kasih papa ludes, alhasil keranjang sepedaku full. Draco hanya tertawa melihat tingkahku. Kami kayuh sepeda menuju rumah dan melambai memasuki rumah masing-masing. Kuletakkan hasil buruanku di meja makan.
“Yakin bakalan habis?”, dengan senyum menggoda khas papa
“Tentulah, perutku sudah cukup tersiksa menahan satu hari ini untuk tidak makan minum”
Dan waktu yang kunantikan datang. Adzan Magrib berkumandang. Akhirnya bisa makan dan minum. Kumasukkan semua yang bisa kuraih kemulutku. Dan alhasil aku kekenyangan tingkat dewa, padahal masih banyak takjil di meja. Sepertinya keraguan papa benar bahwa takjil sebanyak itu tidak akan habis, tetapi setidaknya aku berhasil full puasa pada hari ini. Tiga ratus ribu telah kuraih. Tetapi, masih ada 29 hari lagi perjuanganku. Dan semoga aku bisa menyelesaikan misi Ramadhanku ini untuk meraih sepuluh jutaku.

Komentar

share!