Ramadhan Penuh Jutaan Kejutan




Karya:  Erika Nurul Pratiwi

“Ashshalaatu khairum minannauum.” Adzan subuh sudah berkumandang, berat sekali rasanya aku meninggalkan tempat tidur ini untuk melaksanakan sholat subuh. Mungkin, akibat dari bergadang semalan untuk melaksanakan tugas-tugas sekolah. Tapi aku harus melawan rasa malas ini. “Tinggalkan kegiatan duniawimu apabila waktu sholat sudah tiba.” Ya, Ayahku selalu berkata demikian. Aku memang berasal dari keluarga yang hidup pas-pasan. Ayahku hanyalah seorang supir angkot yang penghasilannya tidak lebih dari tiga ratus ribu. Itupun harus memberi setoran kepada atasannya. Sedangkan Ibuku, ia hanya seorang buruh cuci yang penghasilannya tak menentu. Walaupun penghasilan orangtuaku tidak seperti pejabat-pejabat disana, tapi aku sangat bangga, ia bisa menyekolahkan aku sampai aku duduk di kelas XI sekarang. Kebutuhanku selalu terpenuhi, apapun yang dimiliki oleh anak-anak orangkaya,akupun memilikinya. Seperti handphone, laptop, dan yang lainnya. Ya walaupun barang yang aku miliki sangat berbeda jauh harganya.


Orangtuaku melakukan semua itu karena ia tidak ingin aku merasa berbeda dengan yang lain. Memang sungguh mulia sekali orangtuaku. “Adi, sudah adzan. Memangnya kamu tidak ke masjid?” Teriak Ibu. “Iya bu, ini aku mau mandi.” Akupun langsung bergegas mandi dan langsung menuju masjid. Sesampai di masjid aku tidak melihat seorangpun remaja seusiaku yang sholat di masjid ini. Hanya orang tua saja yang terlihat. Sangat disayangkan, akan jadi apa mereka? untuk bangun dan pergi ke masjid saja susah, apalagi membangun rumah tangga nanti.
Seusai sholat subuh, aku tidak langsung pulang kerumah. Kebetulan sekolah sudah libur, jadi pulang agak siang tidak masalah. Aku menemui temanku terlebih dahulu yang kebetulan menjadi marbot di masjid ini. “Mal, tumben masih pagi sejadahnya sudah di cuci?” Tanyaku pada Akmal. “Eh Adi, ko belum pulang? Iya nih, tadi aku di suruh DKM untuk cuci sejadahnya, nantikan malam hari pertama tarawih.” Tersenyum kecil. “Orang aku nungguin kamu.” Ucapku,dan duduk di kursi kayu di sebelah Akmal. “Loh, kita nggak ada janjikan?” Memberhentikan kegiatannya. “Tidak ada sih. Aku ada niatan untuk menghafal Al-Qur’an nih ramadhan tahu ini, jadi aku mengajak kamu jadi partner menghafal gitu, kan jadi semangat kalo ada temannya.” “Wah bagus dong, yasudah mau mulai kapan?” Melanjutkan pekerjaannya. “Besok saja.”
Setelah lama berbincang dengan Akmal, akupun tidak sadar jika waktu sudah menunjukan jam 06.00. Aku memutuskan untuk pulang kerumah dan berpamitan dengan Akmal. Sesampai di rumah, ternyata Ibu dan Ayah sedang mengobrol di ruang tamu. Wajah Ibu terlihat sangat sedih, aku tidak tau apa yang terjadi dengan ibu. Aku tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka, setelah mengucapkan salam dan mencium tangannya, aku langsung masuk kedalam kamar. Tidak ada niat untuk menguping pembicaraan mereka, tapi aku sangat penasaran dengan perbincangan yang membuat Ibu menangis. Ternyata masalah tidak bisa mudik ramadhan tahun ini. Aku sudah menduganya, pasti masalah biaya transfortasi. Memang akhir-akhir ini pendapatan ayah lebih kecil dari pendapatan sebelumnya. Andai uang yangku tabung untuk biaya kuliahku cukup untuk membeli tiket, pasti aku berikan. Ah sudahlah, tidak mudik pun tidak masalah bagiku. Lebih baik aku membuka Al-Qur’an untuk mulai menghafal. Bila tidak salah dengar, juz enam itu juz yang paling sedikit jumlah ayatnya, jadi aku menghafal dari juz enam saja, barangkali aku menemukan kemudahan.Tak sadar aku ketiduran ketika menghafal, itupun tak terasa olehku. Akupun terbangun karna mendengar suara warga yang membangunkan sahur. Aku mencoba untuk menghafal kembali dan tiba tiba ibu memangil. “Adi bangun, memangnya kamu tidak mau sahur?” Teriak Ibu sambil mengetuk pintu kamarku. Ibu selalu begitu, selalu teriak-teriak. Seperti kompor rusak saja, aku yakin sampai rumah tetanggapun pasti terdengar. “Iya bu, sebentar.” Jawabku.
Menu makan yang sangat sederhana, hanya nasi, telur, dan mie instan. Tapi tidak mengurangi rasa syukurku pada yang kuasa. Walaupun hanya sahur dengan lauk seadanya, kami sangat menikmatinya. Apalagi Ayah, sangat lahap menyantap makanannya. Mungkin ayah makan sambil membayangkan ikan ayam hehehe. “Adi, makan dong makanannya.” Kata Ibu sambil menuangkan air ke dalam gelas. “Aku senang bu melihat Ayah makan, terlihat sangat bahagia.” Melihat ke arah Ayah. “Mengapa? Kita harus menikmati dan mensyukuri nikmat yang telah Allah beri Adi.” Berhenti dari kegiatan makannya. “Iya Ayah, aku sangat bersyukur. Ditambah aku berada di tengah-tengah Ayah dan Ibu, makin besar rasa syukurku” Jawabku. “Teruslah seperti itu, jadi seseorang yang pandai bersyukur. Insya Allah, Allah akan menambah nikmat untukmu nak.” Mengelus kepalaku.
Inilah dimana aku sangat merasa nyaman pada saat Ayah dan Ibu memberiku nasihat-nasihat yang mengandung nilai-nilai agama di dalamnya. Terkadang aku merasa takut apabila suatu saat nanti aku kehilangan mereka. Entah jadi apa diriku nanti. Mereka adalah mutiara bagiku, tidak dapat digantikan walaupun dengan jutaan emas. Mereka kerja keras tanpa mengenal waktu hanya untuk menghidupiku, hanya untukku anak tunggal mereka. Aku tau benar bagaimana sulitnya mencari pekerjaan, aku tau benar bagaimana lelahnya bekerja. Teriknya matahari, kencangnya angin, derasnya hujan, sering Ayah lalui. Tapi hal itu tidak membuat ayah berhenti berusaha. Sedagkan aku, aku apa? hanya asik di sekolah dan bersantai di rumah. Aku sangat merasa berdosa, aku belum bisa memberi sesuatu untuk mereka. Dengan itu aku berniat untuk menghafal Al-Qur’an agar aku bisa menghadiahkan jubah dan mahkota emas untuk Ayah dan Ibu di surga nanti.
Tidak terasa sudah setengah hari aku berpuasa, adzan dzuhur sudah berkumandang. Aku segera pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah. Sesampai di masjid aku melihat sesuatu yang berbeda di dalam, ternyata banyak anak remaja yang sholat di dalamnya. Alhamdulilah sampai memenuhi masjid, sampai akupun kebagian shaf paling belakang. Masya Allah......
Selesai sholat, aku langsung berlari, karena banyak jamaah yang mempunyai sandal yang sama denganku, ya aku takut tertukar saja. Hehehe.... Aku bergegas ke rumah, langkahku sengaja ku cepatkan karna aku ingin cepat-cepat sampai rumah untuk melanjutkan hafalanku. Alhamdulillah, Allahu Akbar! Hanya dengan satu hari aku bisa menghafal beberapa juz. Sungguh, ini mukjizat, tak pernah aku menduga bahwa aku akan semudah ini untuk menghfal. Ketika sedang asik menghafal, terdengar suara akmal memanggil. Akupun mengakhiri hafalanku dan bergegas keluar rumah. “ Adi lama banget keluarnya.” Akmal memebentakku. “Wih, sabar bos lagi puasa marah-marah terus. Ada apasih?” Jawabku meledek Akmal. “Nggak ada apa-apasih, mau main aja sekalian mau ikut hafalan Qur’an. Oh iya, kamu tau tidak? Orang yang kemarin baru pindahaan, yang sebelah rumah Pak RT itu loh, anaknya cantik banget.” Merangkulku. “Terus? awas zina.” Tersenyum kecil. “Zina apa Di? Toh aku tidak pacaran sama dia, aku juga tidak melakukan apa-apa dengannya.” Mengkerutkan alisnya. “Zina mata, zina lisan. Contohnya, kamu memandang lawan jenis dengan perasaan suka, nah itu zina mata. Kalau zina lisan, seperti kamu tadi membicarakan lawan jenis dengan perasaan suka padanya. Nah loh, sudah terperangkap oleh setan.” Jawabku sambil tersenyum. “Serius? Astaghfirullah, makasih ya Di udah kasih tau aku. Ngomong-ngomong kamu mau jadi apa sih?” Tanya Akmal. “Presiden,hehehe...” Tertawa kecil. “Kamu lebih pantas jadi pendakwah.” Menepuk pundakku. “Iya kah? hahaha.”
Ketika sedang berbincang dan tertawa tidak jelas di depan rumah, baru saja menduduki teras, tiba-tiba Pak RT datang mengucapkan salam. “Assalamu’alaikum.” Mendekatiku dan Akmal. “Wa’alaikumussalam Pak RT, ada apa ya?” tanyaku pada Pak RT. “Jadi gini, saya di perintahkan oleh Ustaz Jamal untuk menyuruhmu menjadi imam saat tarawih nanti sampai seterusnya.” Kata Pak RT. “Bapak, senang sekali bercanda.” Jawabku sambil tertawa karna tak percaya apa yang di katakan Pak RT. “Saya tidak bercanda! Ustaz Jamal nanti malam akan pulang ke Bali, jadi beliau menyuruhmu untuk menjadi imam. Beliau bilang, bacaan surah-surahmu bagus, jadi memberi kepercayaannya kepadamu.” Pak RT memperjelas perkataan yang sebelumnya. “Kenapa harus saya Pak? Berumur tujuh belas tahunpun belum. Masa iya saya memimpin yang lebih tua dari saya.” Tanyaku penuh keheranan. “Memangnya kenapa? Tahu tidak Muhammad Thoha? dia seumuran denganmu sudah menjadi imam di Arab Saudi. Tidak mengenal tua atau muda, selama dia mampu dan bacaan Qur’an nya bagus kenapa tidak?” Ayah menyambung pembicaraanku dengan Pak RT. “Gitu ya Yah? yasudah Pak RT insya Allah saya siap” Jawabku dengan rasa tidak percaya diri. “Alhamdulillah, yasudah kamu hafalkan surah yang harus di baca ya. Kalau begitu saya pamit, assalamu’alaikum. Meninggalkan rumahku.
Aku tak percaya mengapa Ustaz Jamal menyuruhku untuk menjadi imam pada saat tarawih ramadhan tahun ini. Tidak pernah terlintas di pikiranku kejadian saat ini. Benar sangat mengejutkan, sampai sekarang akupun masih tidak percaya, secara aku masih sangat dini untuk menjadi imam di masjid. Tapi aku tidak bisa menolaknya, aku tidak ingin membuat ayah kecewa, dan akhirnya aku menerima tawaran tersebut.
Inilah tiba, dimana aku menjadi imam. Jantungku tidak henti berdebar, rasanya ingin aku melarikan diri dan tidak ikut tarawih. Tapi masa iya aku lepas tanggung jawab begitu saja, Ayah pasti kecewa. “Ya Allah berilah kemudahan untukku, semoga tidak terjadi kesalahan.” Gumamku. Alhamdulillah, Allahu Akbar! Aku bersyukur karna doa ku terkabulkan. Hari pertamaku menjadi imam lancar, tidak ada kesalahan satupun. Hari berikutnya aku lalui, sama seperti hari pertama lancar car car, hehehe.......... Kini waktu berlalu begitu cepat, hari ini hari terakhir tarawih, di mana hari terakhir aku menjadi imam. Selesai tarawih tiba-tiba Pak RT menghampiriku dan memberikan amplop yang entah apa isinya. Ia hanya bilang bahwa itu titipan dari Ustaz Jamal untukku. Saat ku buka, ternyata dalamnya uang sebesr lima juta. Lagi-lagi aku tak percaya dengan hal ini, begitu banyak nikmat yang ku dapat. Akan kuberikan uang ini kepada Ibu,agar Ibu bisa pulang ke kampung setelah lebaran. Alhamdulillah, sungguh ramadhan tahun ini penuh dengan jutaan nikmat dan kejutan.

Komentar

share!