Ramadhan? La Tahzan!




Karya:  Putri Amalia

“Tanggal 1 Ramadhan 1436 H jatuh pada esok hari.” Suara Pak Menteri agama terdengar dari balik speaker televisi berukuran 22 inchi yang menempel di dinding pojok kafe bertema klasik ini. Aku menyunggingkan bibirku menyambut perkataan pak menteri agama. Namun Nampak ekspresi berbeda dari teman kerjaku sekaligus sahabatku. Ada yang memanyunkan bibirnya, ada yang terdiam sambil merenung entah apa renungannya, ada pula yang hanya diam sambil menumpukan dagunya di kesepuluh jarinya yang dikepalkan dan dirapatkan.



“Bulan puasa berarti kafe kita harus tutup donk? Kita kan baru buka usaha kafe ini tiga bula. Gimana cara bayar uang sewa tempat ini? Masa mesti minta uang terus sama orang tua? itu sih namanya bukan mandiri.” Putri masih mempertahankan bibirnya yang dimanyukan. Terlihat kedua temanku hanya terdiam tanpa menjawab keluhan dari Putri, mereka masih sibuk dengan fikiran masing-masing yang tentu memikirkan uang sewa yang harus dibayar akhir bulan ini. Kami terdiam selama beberapa menit mencoba memaksa otak kami mengeluarkan sesuatu yang akan membuat lesung pipi Putri terlihat, mata coklat Dita berbinar, gigi rapih Anis terlihat, dan mataku berhenti melihat ekspresi mereka yang tak mengenakan ini.

“Brak!!” Suara tanganku yang dipukulkan ke meja membuat ketiga temanku terkejut.

“Janaaaa!! Untung jantung gue sehat!” Anis berusaha menoyorku, aku menghindar dari serangan kecil itu, lalu tersenyum tipis.

Don’t be mad! I have an idea! Gue punya ide!” Aku tersenyum sombung, sambil mengangkat alis kananku menunggu reaksi ketiga sahabatku.

“Ide apa?” Dita menatapku dengan mata coklatnya. Aku memajukan wajahku diikuti dengan majunya wajah ketiga sahabaku.

“Gini nih idenya.....”

***

Matahari yang sedari tadi begitu semangat menyinari bumi dengan cahaya panasnya kini perlahan mulai hilang dan hampir tenggelam ke sebelah timur. Beberapa pekerja mulai berlalu lalang menuju istananya dengan wajah lesunya namun terselip ekspresi bahagianya mengingat hari ini hari pertama semua umat muslim berbuka puasa di bulan ramadhan tahun ini.

‘Kikuk...Kikuk’ Suara burung mainan keluar masuk dari jam antik yang terletak di dinding kafe berwalpaper kayu ini. Jarum jam tepat berada di angka enam. Kumandang azan terdengar merdu dari balik speaker televisi. Ku teguk air bening dalam gelas kaca, sebuah kurma coklat ikut menghilangkan sedikit rasa laparku.

Alhamdulillah” Syukurku setelah menyantap kolak hangat buatan Anis yang telah dibuat beberapa jam yang lalu.

“Duh, gimana ini jan? rencana lo yang kemarin gagal.” Anis tiba-tiba mengeluh melihat ekspresiku yang begitu santai bahkan sumringah.

“Belum rezeki aja kali. Mungkin besok bakal banyak customer yang dateng.” Lagi lagi Putri membelaku, aku tersenyum ke arah Putri.

“Gimana mau berhasil sih Jan?? pake logika deh, kalo kita nunggu customer disini dengan paket menu berbuka terus naro spanduk doank di depan kafe apa yang special? Itu sih udah terlalu biasa!” Dita menatapku seolah aku seorang terpidana yang melakukan kesalahan.

“Iya, iya gue salah, maaf. Lagian kalian kenapa gak nolak aja ide gue kemarin?” Aku menundukan kepalaku merasa bersalah.

“Udahlah. Kita tetep harus menghargai idenya Jana. Yang penting paket makanan berbukanya laku kan walau gak banyak.” Anis berusaha menengahi.

“Pokoknya sekarang kita harus cari ide yang lebih meyakinkan.” Dita menoleh ke arahku sinis.

“oke,nanti kita fikirin lagi setelah shalat magrib. Ayooo” anis mulai berdiri dan melangkah hendak mengambil air wudhu.diikuti dengan Dita dan Putri.

Wait!!!!”ucapku setengah berteriak menghentikan langkah kaki ketiga sahabatku.

“Apalagi? Ide ngaco ya?” Dita menyindirku.

“Bukan tapi ide extraordinary” lagi lagi aku tersenyum. Dita menghela nafas dan melanjutkan langkah kakinya menuju kamar mandi.

“Apa idenya?” Putri menghampiriku.Aku tersenyum.

***

Seorang wanita berpostur 165 cm terlihat begitu cocok dengan kostum kurmanya, terlihat ditangannya setumpuk kertas yg terdapat daftar menu makanan di lembarannya. Teriknya matahari sama sekali tidak menghilangkan lesung pipi yang sedari tadi menghiasi senyumnya. Namun nampak dari mata coklatnya bahwa ia merasa bumi bagian tempatnya berdiri terasa berputar begitu lambat melewati matahari.

“Huft! Gantian donk! Cape, panas. Kalo gak ada iman gue udah minum tuh minuman.” Putri melirik sebuah dispenser.

“Aduh kasihan badut kurma kita ini. Sini, sini sayang gantian sama aku.” Aku menghampiri putri sambil mencubit pipinya. Putri langsung membuka kostum kurmanya dan memberikannya padaku’

“jan,lo yakin ini bakal bikin customer kita nambah? Kita udah ngeluarin modal banyak buat bikin menu berbuka gratis, udah gitu pake ngadain lomba marawis sama ngadain hiburan stand up ramadhan segala. Gak mungkin kan kita minta uang sama orang tua kita terus buat modal ginian” Ucap Anis, namun tangannya masih sibuk dengan bahan mentah yang akan diolahnya.

“yakin donk! Ngasih makanan buat buka puasa gratis sama orang puasa kan berpahala. Lagian orang-orang harus tau kalo makanan buatan Anis cantik ini yummy banget! Yakin deh mereka bakal ketagihan. Kita gratisin selama 5 hari. Dan lomba kita adain untuk memeriahkan ramadhan biar banyak yang nonton dan banyak yang kenal sama kafe kita.” Aku tersenyum ke arah Anis. Tanganku masih sibuk memakaikan kostum kurma ditubuhku.

“Yasudahlah mencoba tidak ada salahnya” Anis tersenyum pasrah. Setelah kostum kurma yang cukup panas ini sudah berada ditubuhku, aku keluar melanjutkan apa yang telah dilakukan putri tadi, membagikan brosur pada orang yang berlalu lalang sekitar sweat kafe ini. Tak berselang lama Dita memasuki kafe dengan wajah lesunya.

“Udah dapet peserta lombanya?” Putri menatap Dita, Dita menghampiri Putri yang duduk di bangku kafe.

“Iya Alhamdulillah, dapet dari beberapa sekolah SMP dan SMA. Ya, walaupun gak banyak-banyak amat, tapi cukuplah untuk lomba kecil-kecilan.” Dita menjatuhkan kepalanya ke atas meja sambil menghembuskan nafasnya.

“Kasihan Dita harus nyari peserta lomba, kapan kafe kita terkenal biar kalo ada lomba gak perlu nyari peserta lagi” Putri menghayal.

“Berdoa ajah” ucap Dita lalu menutup matanya.

***

Bangku kayu dengan meja bulat di tangahnya kini terlihat penuh dengan orang-orang yang akan mengikuti buka puasa bersama gratis di hari ketujuh ini, ada juga yang hanya menonton para comic yang sedang membawakan materinya di atas panggung  kecil yang didekorasi oleh tangan kreatif Putri dan bantuan dari Aldo teman satu kampus kami. Aldo jugalah yang membantuku menilai para peserta marawis.

Terkadang pria berambut coklat gelap ini juga memegang handycam di tangannya untuk merekam para peserta marawis, dan kegiatan lainnya di sweat kafe. Hampir semua tangkapan handycamnya selalu dimasukkan dalam youtube. Aldo juga aktif mempromosikan menu makanan dan minuman yang terdapat di sweat kafe ke dalam media sosial. Entahlah apa yang melatar belakangi dia melakukan banyak hal pada kami. Pria berparas oriental ini memang akhir-akhir ini sedang getap mengejar simpati dari Dita, mungkin itulah salah satu motifnya hingga ia sangat baik membantu kami.

Terlihat dari balik jendela, warna langit sudah mulai mengoren, jarum jam berada di angka lima. Orang-orang dalam kafe terlihat antusias menunggu hasil pengumuman pemenang dari lomba marawis yang sudah terlaksana selama tujuh hari ini. Aku naik ke atas panggung membawa secarik kertas berisi nama grup pemenang pertama dan kedua, sedangkan Putri memegang hadiah yag telah kami bungkus dengan rapih.

“Dan pemenang pertama jatuh kepadaaaaa... Grup marawis Al-Jamil dari MTS Assa’adatain!” Aku sedikit berteriak, terdengar tepukan tangan dari para penonton menambah kemeriahan sore itu. Nampak raut kebahagiaan dari wajah pemenang. Mereka naik ke atas panggung dengan sumringah, Putri memberikan hadiah dan sertifikat yang telah kami sediakan jauh-jauh hari. Kemeriahan sore itu bertambah dengan petikan gitar dan pijatan piano yang dihiasi dengan suara merdu Putri.

“Abis event ini, kafe kita bakal tetep rame kayak gini gak ya?” mulut Anis bergerak namun matanya terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“InsyaAllah, mereka suka banget kok sama makanan buatan kita.” Dita menanggapi.

***

Ramadhan telah berjalan 19 hari, hari menuju hari kemenangan dapat dihitung dengan hitungan hari. Perjalanan menahan hawa nafsu selama 19 hari tak begitu terasa bagi aku dan ketiga kawanku. Pasca event perlombaan marawis, promo berbuka puasa gratis, serta beberapa hiburan seperti stand up comedy, dan lain-lain ini terlihat sangat berdampak positif bagi kafe kami. Kafe yang dulu sepi, hening, dan tidak terlalu dilirik kini berbanding terbalik dengan yang dulu. Saat matahari hampir terlihat seolah mengucapkan selamat tinggal, para pelanggan baru kami datang untuk memesan santapan lezat di sweat kafe.

Sore itu beberapa orang terlihat antre hendak memesan paket makanan berbuka. Ada yang minta dibungkus untuk disantap bersama keluarganya di rumah, ada pula yang akan menyantapnya di bangku kafe dengan menunggu pesanannya sambil mendengar tausiah sore dari ustadz yang sudah 12 hari ini begitu baik membagikan cahaya ilmunya pada para customer yang datang dan berniat berbuka di sweat kafe.

“Ditaaaa!!!” Aldo memasuki kafe, terlihat di tangannya sebuah tablet yang masih menyala. Wajahnya penuh dengan kebahagiaan, bibir tipisnya melebar hingga giginya yang tersusun rapih terlihat, napasnya terengah-engah seolah tidak sabar memberitahu kami tentang suatu hal yang sangat mengembirakan. Aku dan ketiga kawanku menghampirinya. Kepala kami dipenuhi dengan rasa ingin tahu.

“Kenapa Do?” Dita menghampiri Aldo lebih dekat. Senyum Aldo semakin melebar.

“Kamu, kalian pemilik kafe ini diundang di suatu acara Talk show  di televisi.” Aldo sedikit berteriak.

“Hah? Kok bisa?” Aku dan ketiga kawanku terkejut. Bahagia? Ya! Tapi perasaan kami diliputi rasa tidak percaya, kafe yang baru kami rintis, tiba-tiba diundang oleh suatu stasiun televisi? Seperti mimpi rasanya.

“Lima hari yang lalu suatu website ternama email aku dan Tanya-tanya tentang kafe ini setelah aku post berbagai kegiatan kita di blog maupun youtube. Mereka juga minta izin untuk bikin berita tentang kafe ini karena menurut mereka konsep kafe kalian unik, belum lagi kegiatan yang kayak buka puasa gratis, lomba, stand up comedy dan lainnya itu membuat mereka sangat tertarik untuk bikin berita tentang kafe ini. Gak berselang lama tiba-tiba ada stasiun tv email aku juga dan minta kalian jadi bintang tamu setelah tau kalo pemilik kafe ini adalah 4 wanita cantik. Iya kalian! Entrepreneur muda! Ini kesempatan besar untuk promosi!” Aldo bercerita, Ekspresinya masih terlihat bahagia. Kami terdiam dan masih menganga seolah tak percaya. Kami yang mengira harus meminta uang lagi pada orang tua untuk membayar uang sewa kafe di akhir bulan ini, tiba-tiba mendapatkan hal yang sebelumnya hanya ada dalam mimpi, bisa mempunyai kafe yang dapat di kenal banyak orang.

“Kalian gak percaya? This is a proof! Email dari sang sutradara langsung!” Aldo menunjukan tulisan yang sangat menggembirakan itu dalam tabletnya. Selesai membaca email itu, sontak saja Dita memeluk Aldo sambil mengucapkan terima kasih, entah itu terjadi secara reflek atau memang sudah ada sesuatu yang aneh dalam hati Dita untuk Aldo.

“Ehem, puasa! Puasa! Puasa!” Aku menyindir, Dita melepaskan pelukannya, pipinya memerah, Aldo tersenyum.

“Yuhu!! Kita gak perlu nyari peserta lagi kalo mau lomba.” Putri berteriak girang.

“Gak perlu ngabisin uang buat bikin iklan sana sini.” Dita ikut berteriak.

“Ini karena ide Jana, hal yang kita gak duga-duga terjadi di bulan penuh berkah ini.” Anis tersenyum ke arahku, lalu merangkulku.

“Bukan, tapi ini karena do’a dan usaha kita semua.” Aku tersenyum menoleh ke ketiga sahabatku, lalu merangkul kedua sahabatku yang berada di sampingku.

“Ya, bulan ramadhan bukan halangan kita untuk tetap mencari dan bekerja. Bahkan inilah waktu yang tepat untuk melakukan hal yang baik.” Ucap Dita memeluk kami secara bersamaan.

“Kita gak akan bersedih lagi menyambut ramadhan.” Ucap Anis.

Ramadhan? La Tahzan! Because Ramadhan is a happiness month!” Putri berteriak, kami tersenyum bahagia.

Komentar

share!