RAMADHAN IN THE CITY OF THE LIGHT (PARIS)




Karya:  Aisah nur fitri


Senja menampakan dirinya di langit indah kota Paris, Prancis. Kumandang Adzan Mhagrib yang terdengar menambah suasana ketentraman Ramdahan di kota ini. Secangkir coklat panas diseruput sedikit demi sedikit oleh Peilin. Ia sedang duduk dan memandangi pelangi yang hampir hilang dari dalam cafe, yang berada di daerah dekat menara Eifel Kota Paris. Gadis berkulit kuning langsat, berhidung mancung, bermata indah dengan bola matanya yang coklat ditambah lagi dengan hijab yang menghiasi kepalanya. Membuat dirinya semakin cantik, seperti bidadari. Peilin berasal dari Indonesia, tepatnya dari Jakarta. Di Paris dia menempuh pendidikan. Karena dia sangat pintar, dia mendapat beasiswa disini. Setelah berbuka puasa, Peilin mampir ke Masjid yang berada tak jauh dari cafe. Gemercik air wudhu yang menyucikan dirinya terasa begitu segar dan dingin. Maklum jika airnya dingin, namanya juga Eropa heheh. Setelah dari Masjid, Peilin pulang ke rumah. Di sini Peilin tinggal bersama Tantenya, Tante Yami. Berdiri di halte bus ditemani dengan mantel bulu, yang menambah kehangatannya. Setelah 10 menit menunggu, akhirnya bus datang. Peilin segera naik ke bus dan mencari tempat duduk. Peilin duduk sambil melihat jalanan dan sesekali melihat-lihat buku miliknya. Desssss.... suara berhenti bis berbunyi. Peilin segera turun. Tiba-tiba seseorang memanggilnya. Ternyata dia adalah yang duduk disampingnya. “Salut attandez, attandez-moi un instant (hei tunggu, tunggu aku sebentar)” “oui, quel est jusqu’a? (iya, ada apa?)” kataku. “Le Al-Qur’an vous?” (apakah ini Al-Qur’an kamu?)” tanyanya. “Alhamdulilah untung aja gak ilang” kata Peilin berbicara bahasa Indonesia dengan sendirinya. “Kamu bisa bahasa Indonesia?” tanyanya. “Aku emang orang Indonesia” kataku. “Kenapa ga dari tadi aja buuu pake bahasa Indonesia” kata dia menepok jidatnya. “Makasih ya kamu udah mau nganterin Al-Qur’an aku” kataku berterimakasih. “Iya sama-sama, lagian sekalian turun ko” katanya tersenyum. “Hmmm (mengannguk dan tersenyum) yaudah sekali lagi makasih ya” jawabku. Peilinpun melanjutkan jalannya ke rumah. Tiba-tiba “kamu ngapain ngikutin aku? kamu mau culik aku ya? S’il vous plait aidez-moi (tolong-tolong saya)” kata Peilin berteriak. “Ehh ehh shttt enak aja ge’er banget si jadi cewe” katanya dengan muka bt. “Terus kamu mau ngapain ngikutin aku?” tanyaku. “Siapa yang ngikutin lu. Tuh  liat tuh itu rumah gua” katanya sambil menunjuk sebuah rumah yang berada di depan rumahku. “Kok aku gak pernah liat kamu sebelumnya?” kataku heran. “Iyalah ga pernah liat. Gua aja baru sampe sini hari ini” jawabnya. “Yaudah aku masuk dulu ya” kataku. Ternyata rumah kami saling berhadapan dan hanya terpisah oleh jalan setapak. Aku langsung masuk ke kamar untuk bersih-bersih dan beristirahat


“kring....kring... alarm jam berbunyi. “Peilin bangun udah waktunya sahur” panggil Tante Yami dari bawah. Dengan mata yang hanya terbuka setengah, aku segera bangun dan turun kebawah untuk sahur. Dengan perut yang kekenyangan Peilin berbaring di tempat tidurnya sambil memainkan hand phone. Pagi tiba ternyata Peilin ketiduran dan kesiangan. Dia grasak grusuk siap-siap ke kampus, karena hari ini dia ada kuliah pagi “Tante aku berangkat dulu ya” kataku “kamu gak bareng tante?” “engga tante aku buru-buru” aku segera berlari menuju halte bus. “aduh mana ni busnya” menunggu dengan gelisah “alhamdulillah busnya datang juga” kataku dalam hati. Tiba tiba “ehhh aduhhh” kataku. Ternyata laki-laki kemarin menyerobot masuk kadalam bus. Dengan kesal aku segera masuk ke dalam bus. Ternyata busnya penuh dan aku harus berdiri ya Allah sabar banget pagi-pagi. Beberapa saat kemudian “ehhh lu duduk tuh” kata dia (laki-laki kemarin) “engga makasih” kataku tersenyum “puasa kan? duduklah cewe itu ga boleh kecapean” katanya “engga makasih kamu aja yang duduk” jawabku. Kami terus berkata “kamu aja, kamu aja”. Hingga akhirnya “can i sit?” tanya seorang kakek-kakek dengan bahasa Inggris. “of course” kataku tersenyum “udah iklasin aja ya” kataku melanjutkannya. Dengan wajah tersenyum dia berkata “iya gapapako. Kita belum kenalan ya? nama gua Bimo” katanya menjulurkan tangan. “Aku Peilin” kataku sambil memberikan tanda salam. “tangan gua bersih ko bebas bakteri” katanya kesal “kamu kenapa marah-marah kan lagi puasa. Gini-giniloh kita kan ga muhrim jadi jangan banyak bersentuhan” jelasku “iya maap maap deh” katanya. Setelah sampai di kampus. “Kamu kuliah di sini juga?” tanyaku. “Iya gua kuliah disini (tersenyum). Dulu gua udah pernah tinggal disini waktu SMP tapi cuman 2 tahunlah kira kira” kata Bimo. “Kenapa kamu balik lagi ke Indonesia? terus sekarang kenapa kesini lagi?” kataku bertanya “gua balik lagi ke Indonesia karna gua suka sama yang namanya TRAVELLING bro.” Jawabnya. “terus apa hubungannya sama kamu balik ke Indonesia?” tanyaku heran. “Indonesia itu keren akan alamnya dan sekarang gua...” belum selesai Bimo bicara “yaampun Bim aku lupa (sambil menepok jidatnya) aku duluan ya telat ni” kata Peilin berlari sambil melihat jam tangannya.

Burung dara yang berterbangan menghiasi taman dekat menara Eifel Kota Paris. Dengan langit biru yang berawan menambah panorama kota ini semakin indah saat bulan Ramadhan. Sambil merasakan nyamannya Ramadhan, Peilin duduk di bawah pohon rindang depan kampusnya. “Bonjour, quand tu viend? (halo, kamu datang kapan?)” kata Yuzra. Yuzra adalah teman satu kampusku dia berasal dari negara Turki. “Salut, vient d’arriver(hei, baru saja tiba)” kataku tersenyum “comment allez-vous? (apa kabar kamu?) tanya Yuzra tersenyum “je bais bien (aku baik)” jawabku tertawa. “Hmmm je ane peux pas rester longtemps ici, donc je devals aller. Desole Peilin (aku tidak bisa lama-lama disini, jadi aku harus pergi. Maaf Peilin)” kata Yuzra sedih. “ c’est d’accord, soyez prudent sur la route yuzra (tidak apa-apa, hati-hati di jalan yuzra)” kataku tersenyum. Dia mengangguk dan tersenyum. Karena aku tidak ada mata kuliah lagi aku pulang lebih awal. Setibanya di rumah. Belum sempat masuk kedalam pagar, tiba-tiba “widihhh baru pulang” kata Bimo yang sedang duduk sambil memegang gitarnya di halaman rumahnya. Peilin hanya membalas dengan senyuman. “ditanya malah senyum-senyum huuuu” kata Bimo sewot. “Apasih Bim ga jelas banget” jawab Peilin. Peilin segera masuk kedalam pintu rumah dan Bimo terlihat meledeknya dengan mulut yang mengoceh-ngoceh sendiri. Tiba-tiba Peilin keluar lagi dari pintu rumahnya dan memberi isyarat dengan tangannya, kalau dia melihat Bimo yang sedang meledeknya. Melihat dirinya ketauan Peilin, dia hanya ketawa kecil dan menggaruk-garuk kepalanya. Peilin yang baru pulang, meletakan tasnya di sofa dan langsung menuju dapur untuk menyiapkan hidangan buka puasa. Dret...dret.....dret..getaran hp Peilin terasa dari saku celananya. “Assalamualikum Ifa” kata Peilin mengangkat hpnya. “walaikumsalam Peilin (dengan suara senang) gimana Tante Yami, baik?” tanya Ifa. Ifa adalah sahabatku dari Indonesia, dia juga kebetulan satu kampus denganku. “Alhamdulilah baik (kata Peilin tersenyum)” “nanti malem kita makan yu di cafe biasa heheh” ajak Ifa. “Hmmm yaudah jam berapa fa?” tanyaku. “Delapan aja deh mau ga?” “okkk hehehe”. Ifa mengajak Peilin makan di cafe biasa dekat menara Eifel. Dengan kemeja putih, hijab merah dengan hiasan topi kecil ditambah lagi sepatu bootnya berwarna coklat. Membuat Peilin terasa begitu cantik malam itu. “Assalamualaikum” kata Peilin menghampiri Ifa yang sedang duduk memperhatikan seseorang. “Ada salam bukannya dijawab fa fa. Ngeliatin siapa si?” tanya Peilin sambil melihat-lihat. “Gua ga tau deh mau ngomong apa lin. Itu cowo kerennya masyaAllah” kata Ifa. “Yang mana si fa?” tanya Peilin kebingungan. “Itu tuh yang lagi duduk pake kacamata, mantel bulu sama topi. Masa ga liat” katanya kesal “aku kira apa...” belum sempat bicara ternyata laki-laki yang sedang mereka perhatikan membuka kacamatanya dan Peilin melanjutkan bicaranya “yailah itumah Bimo fa” kata Peilin sambil minum teh. “Lu kenal?” tanya Ifa. Belum sempat menjawab tiba-tiba. “Peilinnnn” teriak Bimo melambaikan tangan sambil menghampiri Peilin dan Ifa. “Ya ampun lin dia nyamperin kita gua harus cantik nih” kata Ifa merapikan rambutnya. Bimo duduk sambil tersenyum ke Ifa. “kamu lagi  ngapain disini Bim?” tanya Peilin “biasa lagi minum kopi hehehe” kata Bimo “orang Indonesia ya?” kata Ifa menyamber. Bimo hanya mengangguk “Ifa” kata Ifa menjulurkan tangannya ke Bimo. “Bimo” kata Bimo tersenyum. “oh iya gua balik ke meja gua dulu ya” kata Bimo sambil menuju mejanya yang tadi. “Yah ko pergi si” kata Ifa ke Peilin. Setelah beberapa saat Peilin dan Ifa melanjutkan perbincangannya “lin ko lu bisa si kemana-mana pake hijab terus?” tanya Ifa “kalo ada niat pasti bisa” jawab Peilin tersenyum. “lin paksa gua pake hijab dong” kata Ifa. “Hijab itu di gunakan tidak karna paksaan fa. Tapi karna ada kemauan dari hati kita masing-masing” kata Peilin menjelaskan. “Lin dia ngeliatin gua lin” kata Ifa tiba-tiba sambil melirik-lirik ke Bimo “yaampun fa” kata Peilin meyeruput teh hangatnya. Setelah Peilin dan Ifa selesai makan, mereka pulang. “Hati-hati ya fa assalamualaikum” kata Peilin. “Walaikumsalam” kata Ifa sambil naik kedalam taxi. “Peilin” kata Bimo mengagetkan “Bimo ngagetin aja deh” jawab Peilin. “mau pulang ya? Bareng gua aja yu lagian rumah kita kan tetanggaan” kata Bimo. “Hmmm yaudah” jawab Peilin. Mereka pulang bersama naik bus. “Lu puasa udah batal berapa kali lin?” tanya Bimo. Dengan tersenyum Peilin menggelengkan kepalanya dan berkata “belum”. Kamu berapa kali Bim?” tanya Peilin “dua hehehe” jawab Bimo “dua belas kali maksudnya heheh” Bimo melanjutkan. Peilin hanya ketawa mendengar perkataan Bimo. “hmmm lin besok kita main yu?mau ga?” tanya Bimo “kemana Bim?” tanya Peilin “ke pasar malam. Kalo di Indonesiasi namanya pasar malem ga tau kalo disini heheh” jawab Bimo “yaudah boleh tuh Bim, aku juga udah lama ga kesana” kata Peilin
Malam yang indah menghiasi Bimo dan Peilin. Mereka berdua jalan-jalan ke pasar malam. Bimo memberikan sebungkus plastik gulali ke Peilin, mereka menaiki semua wahana. “Peilin naik itu yu” kata Bimo sambil menunjuk sebuah sepeda. Peilin tersenyum dan mengangguk. Mereka berdua naik sepeda dan saling kebut-kebutan. Tiba-tiba “aduhhh” kata Peilin. Ternyata Peilin terjatuh dari sepeda “kamu gakenapa-napa lin?” tanya Bimo panik. Bimo segera membawa Peilin ke pinggir dan meletakan sepedanya. “kaki kamu berdarah lin” kata Bimo “enggapapa ko Bim aku baik-baik aja” jawab Peilin sambil melihat luka di kakinya “kamu tunggu sebentar ya lin” kata Bimo. Peilin hanya mengangguk ke Bimo. Ternyata Bimo memanggil tukang sewa sepedanya. Bimo segera membawa Peilin untuk duduk di kursi. “aku obatin dulu ya lin, ini lukanya parah” kata Bimo “iya udah, tapi obat merahnya?” tanya Peilin. “Tenang aja dari obat merah, kapas, dan obat-obatan lainnya selalu gua bawa kemana-mana” kata Bimo sambil mengeluarkan kotak obatnya dari dalam tas. Akhirnya Bimo mengobati Peilin yang kakinya sedang terluka. Beberapa saat kemudian “gimana?udah mendingan kakinya?” tanya Bimo “udah” jawab Peilin tersenyum. “lin” “kenapa Bim?”. Sepertinya Bimo ingin mengatakan sesuatu pada Peilin. “kenapa Bim ko diem aja?” tanya Peilin lagi. “hmmm engga hehehe” kata Bimo “ohhh” Peilin menjawab dengan tersenyum. Karena sudah pukul setengah sepuluh malam, Bimo dan Peilin pulang ke rumah. “Lin besok ada kuliah?” tanya Bimo sesampainya di depan gerbang rumah Peilin “ada Bim. Kenapa emang?” tanya Peilin “kuliah jam berapa emang?” tanya Bimo lagi. “hmmm siang tapi pulangnya agak sore sekitar jam setengah limaan. Emang ada apasi?” kata Peilin. “engga kenapa-napa ko besok kita berangkat bareng yaaaaa” kata Bimo sambil menuju rumahnya. Dan Peilin hanya mengacungkan jempol sambil tersenyum.

Sabtu, 11 Juli 2015 pukul 16.00 waktu Kota Paris, Prancis. Peilin baru saja keluar dari kelasnya, tiba-tiba. “woitsss” kata Bimo mengagetkanku “yaampun Bim” kata Peilin kaget. Peilin dan Bimo akhirnya duduk bersama di bawah pohon rindang. “Lin” panggil Bimo “kenapa Bim?” jawab Peilin yang sedang sibuk membereskan bukunya. “je t’aime” kata Bimo pelan. “Maap Bim kenapa aku tadi lagi beresin buku, tadi kamu ngomomg apa?” tanya Peilin. “Ah engga heheh” kata Bimo. “Lin kamu tau taman yang deket Menara Eifel ga?” tanya Bimo. “Taman yang banyak bunganya?yang deket restaurant?” kata Peilin. “iya iya yang itu kita buka puasa di sana yu hari ini” ajak Bimo. “okk boleh juga tuh” kata Peilin. Tepat pukul 5 sore Peilin dan Bimo menuju ke taman itu, dan mereka duduk di sana. Peilin dan Bimo membeli minuman untuk berbuka “lin aku suka sama kamu, kamu mau ga jadi pendamping hidupku?” tiba-tiba Bimo menyatakan perasaannya ke Peilin. Peilin terkejut, dan saat itu juga “Allahuakbar....Allahuakbar” suara adzan berbunyi. Peilin membaca doa dan meminum minumannya. Bimo sangat takut saat itu kalau cintainya di tolak. Namun tiba-tiba. “aku mau Bim” kata Peilin tersenyum. “Alhamdulillah ya Allah” teriak Bimo yang bergembira. Keceriaan Ramadhan yang penuh warna menggambarkan kisah Peilin dan Bimo. Selesai......

Komentar

share!