Ramadhan di Ujung Jakarta




Karya:  Rafi Ahmad Razzak

Namaku Razi, aku baru saja bekerja di sebuah perusahaan yang terletak di Jakarta. Hari kedua ku bekerja tepat tanggal 1 ramadhan sehingga pengalaman kerja pertamaku ini tepat bersamaan dengan momen puasa. Sebenarnya aku sudah melamar kerja di tempat ini dari mulai bulan Maret, tapi entah mengapa baru di approve bulan Juni ini. Menurutku mungkin saja ini sebuah keisengan dari salah seorang manajer disana. Pada saat interview oleh HR disana juga ada seorang manajer yang baru aku tahu kemudian bahwa dia adalah bos ku. “Badanmu kan gede jadi pas puasa kamu punya banyak cadangan ya toh? Nanti ditempatin di gudang buat bantuin angkat-angkat barang aja.” begitu kata beliau pada saat wawancara. Awalnya kupikir itu bercanda ternyata ini menjadi kenyataan.


Rumahku berada di salah satu kelurahan paling timur di Jakarta. Saking timurnya, rumahku berbatasan langsung dengan Bekasi Barat. Untuk sampai di Bekasi dari rumahku tidak perlu kendaraan, cukup terpeleset akan langsung sampai. Bahkan tetanggaku punya rumah yang sertifikat tanahnya ada dua. Dari pagar sampai kamar tamu itu masih Jakarta sedangkan dari kamar mandi sampai dapur itu Bekasi. Di rumah tetanggaku itu kalau ingin menumpang ke kamar mandi saja sudah termasuk perjalanan antar provinsi. Karena berbatasan langsung antar dua provinsi seperti ini membuat daerahku seperti diasingkan dari dua provinsi tersebut. Bukan merupakan bagian dari Bekasi tapi tidak diakui Jakarta.
Kantorku tidak jauh berbeda dari rumahku. Bukan bentuknya yang sama tapi karakter posisinya yang tidak jauh berbeda. Rumahku berada diantara Jakarta dan Bekasi sedangkan kantorku berada diantara Jakarta dan Depok. Entah kebetulan atau memang takdir suasana di sekitar kantorku pun seperti di rumahku. Belum termasuk Depok tapi tidak diakui Jakarta. Kantorku ini termasuk kawasan elite yang aku sendiri pun belum terbiasa sepenuhnya. Mungkin hanya perasaanku, berbatasan langsung dengan Bekasi cenderung daerah perumahan biasa yang agak bercampur dengan perkampungan sedangkan berbatasan dengan Depok perumahan mewah tapi bercampur dengan daerah yang lebih kampung daripada di daerahku. Itulah Jakarta kota metropolitan yang kelihatan tidak seimbang dengan daerah-daerah penyokongnya.
Jujur aku belum terbiasa dengan suasana perkantoran. Gedung tinggi menjulang, orang-orang yang kelihatan sibuk berjalan cepat kesana kemari sambil membawa lap kaca. Banyak karyawan ganteng dan juga karyawati cantik. Saat pertama kali kerja rasanya seperti aku adalah orang yang tersesat. Rasa seperti itu semakin jelas pada saat waktu makan siang datang. Tiba-tiba ada tukang antar pizza datang ke lantai tempat aku bekerja dan mengantarkan dua buah pizza yang sangat besar. “Gila juga karyawan disini memesan pizza sebesar ini untuk makan siang sendiri?” dalam hatiku bergumam. Ternyata perkiraanku salah, karyawan tersebut sedang berulang tahun dan memesan pizza untuk mentraktir makan rekan-rekan kerjanya. “rekan kerja, mungkinkah termasuk diriku juga” dalam hatiku berharap.
Ini adalah hari dimana tepat sehari sebelum puasa sehingga ini waktunya makan enak sebanyak mungkin. Setelah pizza sampai di meja karyawan tersebut dan sang pengantar pizza pun pergi, si karyawan ini pun memanggil semua karyawan untuk berkumpul termasuk diriku. Harapanku jadi kenyataan dan benar ternyata aku mendapat bagian pizza ini juga. Dengan tidak membuang waktu kuhampiri meja karyawan tersebut secepat mungkin. Saking cepatnya akulah orang yang pertama sampai di meja itu. Kalau mengenai makanan aku akan selalu menjadi garda terdepan apalagi ini gratis. Tapi kali itu aku menyesal datang pertama, karena sesaat setelah aku sampai aku langsung diberi kamera dan didaulat sebagai orang yang mendokumentasi momen itu. Ya jadi mau tidak mau aku harus memfoto maupun memvideokan seluruh kejadian di siang itu. Niatnya mendapat potongan pertama malah dapat potongan terakhirnya saja. Potongan terakhir yang dimaksud disini adalah pinggiran rotinya saja.
Menurutku wajar kalau karyawan baru sepertiku diperlakukan seperti ini, setiap tempat baru pasti ada masa orientasinya. Aku hanya berharap tiba-tiba makanan datang di mejaku berupa nasi timbel komplit. Memikirkannya saja membuat air liurku menetes, bagaimana jika betul-betul ada. Akupun tersadarkan dari lamunanku saat si karyawan yang sedang ulang tahun ini mengucapkan terima kasih padaku. “terima kasih mana bisa dimakan, masih lapar nih” gumam diriku dalam hati. Masih dalam perasaan kecewa bercampur kesal akupun kembali ke mejaku. Begitu sampai di meja ternyata lamunanku menjadi kenyataan. Di mejaku terpampang jelas sepaket komplit nasi timbel dalam sebuah kotak. Di kotak tersebut tertulis “selamat makan! H-1 puasa harus banyak makan ya”. Tak kusangka karyawan tadi memberiku nasi kotak khusus untukku seperti ini.
Hari yang cukup melelahkan di hari kerja pertamaku. Karena masih baru wajar kalau aku masih belum terbiasa. Kupikir hari itu aku sudah cukup lelah, tapi semua berubah jauh lebih buruk ketika sebelum pulang tiba-tiba aku di panggil ke ruangan manajerku. Kupikir aku akan dimarahi hari itu, tapi ini jelas lebih buruk lagi. Besok adalah tanggal satu ramadhan, tentu bukan itu kejutannya. Besok aku langsung dipindahkan ke gudang dan tepat di hari pertama puasa. Gudang di perusahaan ini tidak sama sekali berdekatan dengan kantor. Bahkan jarak gudang dan kantor hampir 50 km. Dengan kata lain tugas bertambah, tidak bisa makan dan minum, dan harus menempuh perjalanan yang jauh. Setelah mendengar itu seakan-akan aku seperti orang yang tidur sambil jalan. Sepanjang perjalanan pulang bahkan sampai ke rumah ekspresiku seperti orang bodoh yang sama sekali tidak mengerti apapun.
Esok harinya, hari pertama pengasingan. Ya kusebut ini pengasingan karena beberapa hal yang akan kudeskripsikan. Pertama, gudang ini bertempat di ujung timur laut Jakarta sebelah timur berbatasan dengan Bekasi utara dan sebelah utara berbatasan dengan teluk Jakarta. Kedua, jalan tercepat menuju gudang adalah melalui jalan utama Cakung-Cilincing yang disebut juga jalan kematian Jakarta. Ketiga, aku harus bekerja di di gudang tersebut selama puasa, ya selama puasa. Tiga hal yang kudeskripsikan tadi yang membuatku sempat frustasi selama 10 jam. Ya kesempatan galau yang kupunya hanya 10 jam karena setelah itu aku harus bangun untuk bersiap-siap berangkat kesana. Mungkin kita semua pernah mengalami galau mengenai pekerjaan, tapi yang ini berbeda karena kesempatannya hanya 10 jam. Coba bayangkan apa yang harus digalaukan selama 10 jam. Galau di masa sekolah saja terkadang lebih lama dari itu.
Hari pertama, aku bangun di pagi itu dan masih berfikir bahwa aku akan berangkat kerja. Sembari sahur aku masih menggalaukan apakah aku akan berangkat kerja. Begitu sahur selesai aku pun membulatkan tekad untuk berangkat. Sebelum adzan shubuh berkumandang aku sudah mandi untuk bersiap-siap berangkat ke gudang. Tepat pukul lima pagi aku menginjakan kaki keluar rumah. Jalanan sepagi ini masih terasa sepi sekali, bahkan jam segini temanku yang berada di Aceh masih sahur sedangkan aku sudah berangkat kerja. Pagi yang begitu mendebarkan bagiku karena hari ini aku akan berubah, “hensin!”
Jalanan pagi Jakarta sepagi ini benar-benar sepi, rasanya seolah-olah ini planet lain. Setelah kupikir masuk akal juga sepi seperti ini. Sebagian besar kegiatan di kota Jakarta libur di hari pertama puasa kecuali beberapa kantor termasuk kantorku. Jalanan benar-benar sepi sampai sempat kepikiran kemungkinan bahwa aku akan diculik. Tapi kalau dipikir baik-baik siapa yang mau menculik laki-laki gendut berwajah pas-pasan sepertiku. Dan kini aku harus melewati jalan raya Cakung-Cilincing. Jalan ini disebut jalan kematian Jakarta karena setiap minggu minimal satu kali terjadi kecelakaan di jalan ini. Hampir setiap bulan jalan ini menelan korban meninggal. Dengan catatan seperti ini jalanan ini seolah-olah seperti mitos atau cerita di film horror. Pada awalnya aku juga berpikir sama seperti orang lain yaitu hanya sekadar mitos, tapi kalau sudah pernah lewat jalan itu kebenaran kan terungkap.
Ini adalah pertama kalinya aku lewat di jalan itu sendirian. Baru hari pertama aku sudah melihat motor tergeletak di jalan. Aku berhenti sebentar lalu menghampiri motor tersebut, sambil mencari dimana pengendaranya. Ternyata pengendara motor tersebut ada di warung pinggir jalan. Setelah kutanya mengapa motornya tergeletak di jalan seperti itu, dia pun menjawab, “tadi saya abis jatuh dari motor trus karena sakit akhirnya saya masuk ke warung beli parasetamol biar tidak terlalu sakit.” Mendengar jawaban seperti itu aku hanya bisa terdiam kebingungan. Lalu karena penasaran aku bertanya lagi kenapa dia bisa jatuh, dia pun menjawab, “tadi saya lagi bawa motor trus sempet bengong dan ternyata ada lubang di depan saya.” Mendengar seperti itu aku menjadi lebih berhati-hati. hanya karena bengong saja bisa berbuah sebuah kecelakaan di jalan ini.
Satu hal yang membuatku takjub mengenai jalan ini yaitu kejadian barusan bukanlah kejadian satu-satunya di hari ini yang kulihat secara langsung. Tidak lama setelah mengobrol dengan pengendara motor yang jatuh barusan, di depanku berhenti sebuah truk kontainer yang sangat besar berhenti di sebelah kanan jalan.  Awalnya aku bingung mengapa truk tersebut berhenti di sebelah kanan bukan di sebelah kiri. Belum sempat menghampiri aku sudah langsung mengurungkan niatku. Karena tepat di samping truk tersebut terdapat seseorang yang membawa katana. Katana yang kumaksud disini bukanlah merk mobil tapi sebilah pedang. Ini adalah hal yang mungkin hanya akan kau lihat di jalan ini yaitu, truk kontainer dibegal. Coba bayangkan begal motor saja sudah cukup menyeramkan apalagi orang yang berani membegal kendaraan sebesar truk kontainer. Tanpa berpikir panjang akupun langsung kabur dari tempat kejadian tadi agar tidak ikut kena begal.
Setelah perjalanan yang memacu jantung tadi akhirnya aku pun sampai di tempat kerjaku pukul 7 pagi. Baru saja sampai di pintu masuk aku sudah harus ikut meeting pagi di aula disana. Kegiatan disini memang seperti itu meeting pertama diadakan tepat pukul 7 pagi sebelum seluruh kegiatan pergudangan dimulai dan ini dilakukan setiap hari kecuali hari minggu. Disitu juga aku tahu bahwa gudang ini buka 24 jam dari hari senin hingga sabtu. Jadwal yang sangat ketat disini diterapkan karena proses pengiriman, pengecekan, dan penerimaan barang bisa terjadi kapanpun. Jadwal kerjaku itu sendiri yaitu dari pukul 8 pagi hingga 6 sore dan dengan kata lain aku akan buka puasa disini setiap hari.
Tempat kerjaku bertempat di sebuah kawasan industri yang sangat dekat dengan laut. Tempat ini sangat jauh dari peradaban manusia. Pemukiman terdekat berjarak sekitar 5 km dari sini. Di tempat ini keinginan untuk jajan harus ditahan karena jika hanya ingin beli kuaci saja butuh naik motor sekitar 15 menit. Di tempat dengan luas lebih dari 5 hektar ini terdapat kurang lebih 100 pekerja termasuk keamanan, penjaga gudang, dan lainnya. disini aku bekerja sebagai salah satu penjaga gudang. Gudang tempatku bekerja terletak sangat dekat dengan permukaan laut. Ibarat kata terpleset saja bisa langsung tercebur ke laut. Ya gudang ini terletak di ujung timur laut kota Jakarta. Suasana yang kurasakan disini tidak jauh sangat berbeda jika dibandingkan dengan rumahku walaupun kantor. Disini orang lain selain pekerja berjarak cukup jauh sehingga rasanya seperti berada di tempat pengasingan. Paling tidak akhirnya aku mengerti apa yang di rasakan bung Karno di Rengasdengklok.
Akupun mulai membiasakan diri di tempat ini. Pekerja disini berumur cukup variatif dari mulai 23 tahun sampai dengan 55 tahun. Aku pun mencoba berkenalan dengan beberapa dari mereka agar suasana lebih akrab. Setelah beberapa lama mengobrol aku pun bercerita mengenai apa yang kulihat dalam perjalanan kesini. Reaksi mereka hanya, “oh kejadian kaya gitu mah udah rutin, tiap hari juga kejadian kok.” Aku pun hanya kebingungan mendengar reaksi mereka yang menganggap hal tersebut sama sekali bukan hal yang istimewa. Setelah gudang dibuka, aku pun masuk kedalam bersama rekan satu gudangku. Di dalam satu gudang biasanya terdapat dua hingga tiga orang penjaga dan aku adalah salah satu diantaranya. Mereka pun menjelaskan tugas seperti apa yang dilakukan petugas gudang dan akupun diajak berkeliling gudang. “alhamdulillah ya, akhirnya tamu gudang ini manusia juga.” Gurauan mereka sambil berjalan mengelilingi gudang.
Karena penasaran dengan gurauan mereka barusan aku pun bertanya apa maksud dari gurauan tadi. “coba bayangin, tempat gelap, lembab, deket laut kurang betah apa lagi coba setan disini? Untung aja lagi puasa jadi setannya diiket di pohon haha.” Begitu jawab santai mereka. Kalau kulihat lagi dan dipikir-pikir tempat ini memang cukup menyeramkan juga untuk seukuran tempat kerja. Disini aku bertugas untuk memeriksa kualitas keadaan penyimpanan barang. Pekerjaan yang cukup sederhana jika hanya dideskripsikan, tapi pekerjaan ini jauh lebih rumat dari yang terdengar. Setelah selesai menata satu rak penuh setinggi empat meter, adzan dzuhur pun berkumandang.
Segera aku berinisiatif pergi ke masjid terdekat untuk melaksanakan shalat. Memang salahku aku tidak bertanya terlebih dahulu sebelum mencari dimana letak masjid. Setelah beberapa lama aku pergi kesana-kesini ternyata aku baru menyadari satu hal. Ada sebuah kontainer besar yang memiliki kubah diatasnya dan di dekat kontainer itu terdapat keran air. Karena curiga aku pun menghampiri tempat itu, dan ternyata benar itu adalah musholla. Musholla di tempat ini dibuat dari kontainer besar yang biasa dipakai untuk mengangkut barang dengan truk besar. Satu hal yang membuatku kesal adalah ternyata posisi musholla ini sangat dekat dengan gudang tempat aku bekerja. Kapasitasnya kurang lebih 15 jamaah, dan ini benar-benar inovasi yang hebat menurutku. Walaupun aku sendiri ragu apakah ini inovasi atau sekadar memanfaatkan kontainer kosong yang tidak terpakai lalu dimodifikasi menggunakan karpet dan pendingin ruangan.
Satu hal yang tak kusangka bahwa shalat di dalam kontainer bisa menjadi senyaman ini. Mungkin suatu saat nanti aku akan lebih sering shalat di dalam kotak kontainer kalau memang senyaman ini. Begitu selesai shalat aku pun berkenalan dengan beberapa orang di dalam dimana salah satunya adalah muadzin adzan tadi. Setelah mengobrol dengannya aku merasa sedikit lega berada disini. Semakin lama aku berada disini akan semakin sering aku bertemu dengan Rosul. Rosul yang kumaksud disini bukanlah nabi melainkan Rosul Al Zubair nama dari muadzin yang tadi berkenalan denganku. Jika tidak di bulan puasa biasanya ada makan siang yang disajikan tidak jauh dari musholla. Karena mulai hari ini selama sebulan berikutnya bulan puasa sehingga jatah makan siang akan dialihkan menjadi makanan berbuka puasa. Untung saja disediakan, karena jika beli sendiri maka membutuhkan waktu paling cepat setengah jam.
Berada di tempat ini membuatku tersadar akan suatu hal yang tidak pernah kusadari sebelumnya. Aku menjadi sedikit sadar akan pentingnya kebersamaan. Apapun yang kita lakukan kita harus tetap menjaga kebersamaan. Apapun yang terjadi kami akan menghadapinya bersama sesama penjaga gudang karena memang hanya kami yang ada disini. Di tempat ini pula aku memahami pentingnya keluarga. Kami merasakan kesedihan yang sama yaitu tidak dapat berbuka bersama keluarga kami. Bahkan ada beberapa juga yang tidak bisa merasakan sahur bersama keluarga. Pokoknya berada disini membuatku menjadi orang yang lebih sering bersyukur. Hal diatas kulakukan secara rutin selama bulan puasa. Karena terlalu terbiasa aku sampai tidak sadar idul fitri sudah dekat. Dengan kata lain masa kerjaku di gudang ini pun sudah habis. Entah harus senang atau sedih yang jelas banyak pengalaman berharga yang kudapatkan di tempat ini.”kebersamaan adalah hal terpenting yang bisa dilakukan makhluk hidup, dan keluarga adalah hal terpenting yang dapat kita miliki.”

Komentar

share!