Ramadhan di Rumahku




Karya: Hangga Nuarta


Di kampung halamanku, matahari terbit lebih awal dari daerah-daerah lain di pulau Jawa. Karenanya, daerah ini mendapat julukan the Sunrise of Java. Sudah lebih dari 10 hari aku menjalani puasa di rumah, setelah lebih dari setengah bulan sebelumnya aku berpuasa di rantau, di Depok. Selain waktu imsak dan berbuka yang berbeda (lebih awal), ada beberapa hal lagi yang membuat puasaku di sini lebih berwarna.


Saat sahur aku dapat makan lebih lahap. Tidak seperti di Depok yang makanku selalu di warung-warung yang sama dan dengan menu yang itu-itu juga, di rumah ibuku selalu membuatkan masakan yang berbeda-beda setiap harinya untuk kami berempat (aku punya adik satu, laki-laki juga). Orang tuaku memang selalu berusaha memberikan yang secukupnya kalau menyangkut makanan (dan pendidikan) untuk anak-anaknya. Dan beruntungnya lagi, masakan di rumah lebih kaya rasa.
Ketika di kos, setelah sahur biasanya kuhabiskan waktu untuk membaca atau mengerjakan tugas kuliah, lalu tidur lagi. Di rumah kebiasaanku agak berbeda, karena ada warung yang harus dijaga. Warung ini menjadi satu dengan rumah kami yang berukuran 6x8 m, di lokasi yang seharusnya menjadi ruang tamu, bersampingan tanpa sekat dengan ruang keluarga (yang seringkali juga menjadi tempat pembeli untuk menyantap rujak atau tahu lontong jualan ibuku).
Sementara itu, ayahku sudah terbirit-birit berangkat kerja sejak pukul 4 lewat 20 menit. Beliau mandi, sholat subuh, lalu pergi ke pasar yang dapat ditempuh selama 5 menit dari rumah kami dengan motor. Beliau bekerja pada seorang tionghoa dermawan, yang sudah diikutinya sejak ayahku masih remaja. Ya, lebih kurang sudah 25 tahun beliau bekerja di sana, meskipun ayahku sempat beberapa kali keluar masuk karena pindah kerja ke Malaysia dan toko yang lain. Saat berangkat kerja itu, kadang-kadang ayahku juga membawa serta ibu, karena beliau juga ingin belanja barang dagangan di pasar.
Kalau tidak ngobrol-ngobrol dan menjaga warung denganku, adikku biasanya tidur lagi selepas sholat subuh. Namun ia lebih sering tidur lagi, sehingga aku menjaga warung sendirian. Beberapa pembeli dapat kulayani dengan baik. Meski begitu, beberapa orang terpaksa pulang dengan tangan hampa, meskipun barang yang dicarinya ada di warung kami. Sebabnya, aku tak tahu harga barang tersebut. Meskipun aku sudah pernah dibilangi ibuku tentang harga barang-barang, ada saja yang aku lupakan.
Namun, beberapa pembeli tetap dapat pulang dengan barang yang mereka inginkan meskipun aku tidak tahu harganya. Mereka yang sudah menjadi langganan biasanya mengambil dulu apa-apa yang mereka butuhkan, bisa dengan meninggalkan uang ataupun tidak sama sekali, untuk kemudian akan memperhitungkan/membayar pada ibuku setelah beliau pulang. Antara kami sudah ada rasa saling percaya.
Setelah ibuku datang dari pasar, biasanya yang dilakukannya adalah memasak, baik untuk santapan berbuka puasa maupun untuk dijual. Selain rujak dan tahu lontong, seringkali ibuku juga membuat makanan ringan seperti pentol tahu, peyek, rengginang, hingga krupuk untuk dijual. Semua itu selalu laris, karena masakan ibuku memang enak. Saat Ramadhan ini, meski seratus persen penduduk di RT kami adalah muslim, ada saja yang membeli rujak ibuku di siang hari. Yang laki-laki kadang-kadang juga sekalian membeli rokok. Tak jarang pula langsung disulutnya rokok itu di warung kami.
Aku tidak menyukai rokok (karena berbagai alasan). Ingin sekali kusampaikan pada orang tuaku untuk berhenti menjual rokok. Namun, aku teringat, kalaupun kusampaikan saran itu sekarang, tidak akan ada perubahan yang terjadi, setidaknya hingga aku bekerja dan dapat menghidupi diri sendiri. Rokok merupakan salah satu barang yang cukup cepat perputarannya di warung kami, sehingga menghasilkan keuntungan yang relatif lumayan, dibandingkan permen atau sabun misalnya. Dulu aku sudah pernah menyampaikan saran tentang rokok itu pada mereka. Orang tuaku menjelaskan, “itu juga untuk biayamu dan adikmu kuliah.”
Adikku kuliah di Jogja, masih tahun pertama, tidak dengan beasiswa. Ditambah dengan biaya kuliahku, jika dihitung-hitung, sebenarnya gaji ayahku hanya cukup untuk membayar biaya-biaya kami setengah bulan. Namun, alhamudilllah, nyatanya kebutuhanku dan adikku dapat terpenuhi secukupnya selama di perantauan. Rupanya warung ini menghasilkan cukup tambahan pendapatan, meskipun tak pernah dihitung-hitung dengan cermat berapa tepatnya.
Saat ibuku memasak, aku biasanya membantu, karena ingin bisa memasak juga. Yang dapat kulakukan mulai dari mengupas bawang, mengiris cabe, hingga benar-benar memasak di atas kompor. Kemarin, saat malam ke-27 Ramadhan, kerjaku di dapur agak berat. Orang tuaku melaksanakan selamatan. Pekerjaanku bertambah, dari memarut bumbu-bumbu yang terasa pedas di tangan dan mata, menghaluskannya dengan cobek, hingga mengemas nasi dan lauk-pauknya yang telah matang ke kotak makanan. Namun aku puas setelah tugasku selesai.
Pekerjaan itu memakan waktu dua hari (sejak malam ke-26), karena hanya dikerjakan oleh ibuku dan aku. Sore itu, saat semuanya siap, nasi kotak kami bagi-bagikan ke para tetangga. Aku terpaksa menolak ketika disuruh ibuku membagikan, karena selama ini kulihat mereka yang membagikan selalu perempuan. Membantu ibuku menyapu rumah saja aku sudah dikatai ‘perawan’ oleh tetangga-tetangga, apalagi mengantarkan makanan, pikirku.
Sebenarnya aku tak ambil pusing dengan komentar orang ketika aku menyapu, tapi entah kenapa, untuk mengantarkan makanan, aku malu. Pada akhirnya aku hanya mau mengantarkan makanan ke rumah nenek dan keluarga kami yang agak jauh dari rumah dan harus naik motor. Ibuku mengantarkan sendiri ke tetangga-tetangga.
Setelah selamatan itu, tanganku pegal-pegal selama dua hari penuh. Kesal juga hatiku dibuatnya. Namun, rupanya hal itu juga membuatku bersyukur, karena dengan begitu, justru aku dapat ikut merasakan susahnya ibuku mencari uang dengan berjualan rujak. Selama belasan tahun ini, beliau bekerja menghaluskan bumbu dengan cobek berkali-kali dalam sehari, setiap hari. Belum lagi pekerjaan mengurus rumah yang harus pula ditanggung beliau. Aku yang hanya bekerja dua hari saja sudah mengeluh.
Meski begitu, ibuku selalu menolak ketika diminta untuk menghaluskan bumbunya dengan mesin giling saja. Jika ada orang beli, supaya bisa tinggal diencerkan bumbu yang sudah halus itu dengan air dan dimasukkan bahan-bahan rujaknya (sayur, lontong, dll.), sehingga beliau tidak akan terlalu capek. Menurutnya, cara begitu memang mudah, namun rasa rujaknya tidak akan seenak dan sesegar seperti sekarang. Ibuku ingin terus memberikan yang terbaik untuk para pembeli rujaknya.
Meski lelah bekerja begitu, ibuku selalu bersemangat ketika waktu tarawih tiba. Selalu diajaknya dua anaknya yang kadang-kadang malas ini untuk sholat berjamaah di mushola. Hampir selalu aku menyertai ibuku. Ayahku sholat di rumah. Mungkin beliau sudah terlalu lelah untuk tarawih 20+3 rakaat berjamaah. Setiap hari, beliau baru pulang kerja saat sirine masjid tanda berbuka puasa berbunyi. Bahkan sering kali lebih larut dari itu. Karena itu, aku ingin sekali bisa cepat bekerja dan mandiri, biar ayahku tidak harus bekerja seperti itu lagi, berangkat subuh, pulang maghrib, setiap hari, sepanjang tahun, tanpa libur, kecuali hanya dua hari saat lebaran.
Suatu malam, ibuku, adikku, dan aku tarawih seperti biasanya. Namun, kali itu imam sholat tarawih yang biasanya tidak hadir. Imam sholat isya’ hadir. Aku tidak tahu kenapa, di tempatku, imam sholat isya’ dan tarawih selalu dua orang yang berbeda. Maka. ditunjuklah salah seorang jamaah yang paling senior untuk menggantikan imam shalat tarawih yang tidak hadir. Sholat isya’ berjalan seperti biasa. Kami belum menyadari bahwa sholat tarawih malam itu akan menjadi yang paling ‘lucu’ selama Ramadhan tahun ini.
“Bismillahirrahmanirrosiiiim,” imam memulai bacaannya. Pada awalnya, kukira imam hanya salah ucap sekali itu saja. Ternyata seterusnya kalimat basmalah diucapkan seperti itu. Dua rakaat pertama berjalan dengan tempo pelan sampai selesai. Aku mengira shalat tarawih kali itu akan berlangsung lebih lama dari biasanya. Mungkin akan seperti di Depok.
Pada dua rakaat kedua, setelah Al-Fatihah, tiba-tiba, imam melanjutkan dengan membaca surat pendek dalam tempo cepat. Lalu beliau rukuu’. Belum semua jamaah mengikuti rukuu’-nya, imam sudah i’tidaal. Belum semua ber-i’tidaal, imam sudah bersujud. Belum semua bersujud, imam sudah duduk diantara dua sujud. Belum semua duduk, imam sudah bersujud lagi, dan seterusnya. Tak pelak, ada diantara jamaah yang tertinggal gerakan, seperti yang seharusnya sudah duduk diantara dua sujud tetapi karena bingung imamnya terlalu cepat, dia masih bersujud.
Setelah dua rakaat kedua itu selesai, para jamaah saling berpandangan dengan senyum di wajah masing-masing. Ada yang nyeletuk pelan, “imamnya ngebut!” Sholat dilanjutkan ke dua rakaat berikutnya. Sejak itu, kami semakin tidak bisa mendengar dengan jelas bacaan surat yang dilantunkan oleh imam setelah Al-Fatihah. Al-Fatihah pun sering kali kurang jelas, tiba-tiba “Aaamiiiinnnn” bergema. Surat pendek terdengar hanya dibaca seperti “zzz zzz zzz”, hanya jelas di bagian awal, lalu imam mengucap “Allahu Akbar” untuk rukuu’, dan seterusnya. Rasanya semakin lama imam semakin terbirit. Akhirnya, perpaduan antara bacaan dan tempo sholat yang ‘tidak biasa’ itu membuat tawa pecah diantara para jamaah.
Awalnya, kami hanya tertawa saat selesai sholat. Tentu saja kami sudah berusaha menahan dan menekan tawa kami. Tapi, belum sempat tawa kami habis, imam sudah kembali memulai sholat. Kamipun bergegas menyusul agar tidak tertinggal. Baru sebentar kami selesai takbir, Al-Fatihah sudah selesai dibacakan dan sudah harus mengucap “aamiin”. Pada akhirnya, lebih dari separuh dari 20+3 rakaat sholat tarawih + witir malam itu dihiasi dengan tawa. Bilal kami pun, mantan Ketua RT yang dikenal tegas, juga tak kuat menahan, sampai-sampai tawanya pecah di microfon saat beliau bersholawat. Kurasa seluruh warga RT kami turut mendengarnya.
Sebenarnya, saat itu istri imam sempat mengingatkan suaminya untuk “pelan... pelan... jangan keburu-buru.” dari balik tirai pembatas jamaah. Namun imam tetap saja ‘ngebut’. Sehingga para jamaah perempuanpun tak luput dari gelak tawa. Menurut ibuku, teman disampingnya sampai melengok dan menjawil ibuku ditengah-tengah sholatnya, sambil bilang, “gimana ini?” lalu melanjutkan sholatnya begitu saja sambil menahan tawanya.
Diceritakan hal itu saat berjalan pulang, aku tertawa-tawa lagi. Aku berpikir pastilah sholat kami malam itu tidak sah. Sebelum masuk rumah, tetangga-tetangga yang pritil[1] bawang merah di dekat rumah menanyakan, “orang tarawih kok pada tertawa kenapa?” Kami hanya menjawab, “imamnya lucu.”
Adikku sudah sampai di rumah lebih awal. Dia hanya tarawih separuh jalan. Karena tidak kuat menahan tawa, dia merasa lebih baik pulang duluan. Kamipun menceriakan kejadian itu pada ayah. Dari percakapan itu, akhirnya kuketahui kalau imam yang tadi memimpin sholat tarawih ternyata pernah terkena stroke. Itulah sebabnya beliau mengalami beberapa gangguan pengucapan. Aku jadi merasa tidak enak sudah menertawainya.
Setelah hari itu, shalat tarawih sudah kembali normal. Kini, puasa sudah hampir selesai. Orang-orang sudah bersiap menyambut hari raya, baik dengan makanan maupun baju-baju baru. Sementara itu, kami sekeluarga memutuskan untuk tidak berbelanja baju tahun ini. Selain karena kami masih memiliki baju-baju yang layak dari tahun-tahun sebelumnya, juga karena ada keperluan lain yang lebih penting. Ngomong-ngomong, soal makanan untuk lebaran, orang-orang di kampungku kebanyakan membeli ayam dan sapi, untuk dimasak opor atau bakso. Selalu begitu setiap tahunnya. Termasuk keluargaku. Rasanya kami tidak pernah bosan dengan makanan-makanan itu.
Selain makanan berat, stoples-stoples di rumah-rumah juga sudah diisi dengan berbagai macam kue, untuk menyambut tamu-tamu yang akan datang bersilaturahmi. Di rumah kami sendiri, ayah dan ibu mengisinya dengan kue-kue yang dibeli di pasar, bukan kue buatan sendiri seperti pada lebaran-lebaran beberapa tahun lalu. Hanya kacang bawang yang mereka buat sendiri, karena mereka tahu itu salah satu makanan ringan kesukaan anak-anaknya, dan buatan mereka lebih enak daripada yang dijual di pasar.
Saat malam hari raya tiba, takbir akan berkumandang di mushola-mushola. Namun, tampaknya tidak akan seperti dulu dimana banyak anak muda berkeliling kampung untuk bertakbir sambil memukul-mukul kentongan bambu atau bekas jeriken minyak. Kini, tampaknya anak-anak muda akan lebih memilih di rumah, bermain dengan gadgetnya masing-masing.
Saat hari yang fitri tiba, orang-orang akan keluar rumah untuk mengunjungi para tetangga dan bersalam-salaman, saling meminta maaf dan memaafkan. Karena hampir semua orang keluar dari rumahnya, tidak jarang kami justru bertemu dan bersalam-salaman di jalan. Hanya ada beberapa orang tua dan orang kaya yang tetap di rumah mereka. Untuk ke rumah tetangga-tetangga yang kaya, anak-anak kecil biasanya sangat bersemangat, karena selain banyak makanan enak yang akan disuguhkan, mereka tahu kantongnya akan terisi angpau. (*)

Ditulis di Banyuwangi, 15 Juli 2015.

Komentar

share!