RAMADHAN DI PENGHUJUNG RAMADHAN


Karya: Intan Permata Sari

Langkahku terhuyung – huyung dan sesekali mengusap air mata yang tak direncanakan tumpah membasahi pipi. Entahlah, kufikir aku bukanlah tipe pria yang mudah meneteskan air mata, namun kata – kata papa barusan membuatku tak sanggup menegarkan hati.



“ Kamu tahu, lari dari kenyataan bukanlah sikap pria dewasa. Terserah kamu!!! Pergi dan carilah duniamu!!!” kuingat kata – kata terakhir dari papa yang murka terhadapku. Kufikir tak ada yang benar – benar salah baik di posisiku atau papa. Kumainkan beberapa kalimat di layar ponselku, mengetiknya panjang dan menghapusnya lagi. Tertera nomor ponsel untuk seseorang bertuliskan Papa Tercinta. Kebetulan ini adalah bulan kesepuluhku berada di perantauan setelah kejadianku pergi dari rumah, Hari ini ada sedikit tambahan uang dari hasil lembur kerjaku yang bermaksud ingin sekali kubagi dengan papa dan mama. Aku tahu bahwa kemarahan orang tua hanyalah sesaat namun hingga saat ini masih tak berani aku sekedar menelpon pada mereka perihal bertanya tentang kesehatan mereka. Masih terus kutatap layar ponsel yang putih bersih dengan kursornya yang masih berkedip – kedip.
“ Sudah lama? Maaf ya…” sambut seorang wanita yang telah berjanji akan berbuka puasa bersama denganku sabtu ini. “Kamu kenapa? Baik – baik saja kan?” tanyanya lagi dengan pandangan tajam ke arahku.
“ Ha? Oh-oh iya. Aku enggak apa – apa kok. Maaf ya tadi aku enggak jeput kamu”
“ It’s okay dhan. Kan aku tahu tempat kerja kita enggak searah. Santai aja” serunya sambil melambaikan tangannya pada seorang pelayan, memilih – milih menu buka terenak dan tak lupa bertanya padaku tentang menu apa yang ingin ku pesan.
“ Samaan aja kayak kamu sya. Selera kita kan sama” sambungku kemudian.
Hari ini adalah hari ke sepuluh puasa yang alhamdulillah tak pernah kutinggalkan puasaku walau terkadang sering kali mata kantukku menghiasi waktu sahur sebab waktu lembur yang sedang kulakoni. Wanita di depanku tampak lahap menyantap menu berbukanya, kupalingkan ke segala arah di restaurant ini dan semua orang sangat begitu ceria menikmati hidangan di hadapannya masing – masing. Senyum kecilku kembali muncul ketika kulihat sebuah keluarga yang tampak akrab dengan candaan mengisi waktu mereka bersantap. Celotehan anak perempuannya yang menceritakan aktivitas kegiatan sosialnya hari ini hingga tatapan lembut pria yang kuduga sebagai kakak lelakinya dengan setia mendengar setiap kata – kata yang mampir di telinga kirinya dengan jelas oleh adiknya. Tak jarang orang tua mereka menegur agar tak terlarut oleh pembahasan dan melupakan makanan yang tak terjamah. Kebahagiaan keluarga kecil yang pernah kurasakan saat ramadhan tahun lalu. Namun kini, mungkin Papa sangat membenciku karena uang untuk biaya  naik haji  ibunya ku ambil tanpa ijinnya. Uang yang ia kumpulkan demi melihat ibu satu – satunya bagahia di masa rentanya, uang yang selama satu tahun dikumpulkannya  sedikit demi sedikit harus berkurang dan menunggu waktu lama lagi untuk bisa menaik hajikan ibu yang mana adalah nenekku itu.
●●●●
“ Sudah sahur?” sebuah pesan masuk dari wanita yang kucintai mengalihkan pandanganku dari sepiring mie instant goreng dengan sedikit nasi berdampingan beberapa buah potongan mentimun.
“ Alhamdulillah sudah ma. Mama apa kabar? Aku kangen mama. Aku telpon ya?”
“ Sudah, tidak usah sayang. Teruskan sahurmu dan jaga kesehatan kamu setiap hari ya? Jangan terus makan mie instant, tidak baik untuk kesehatan kamu apalagi selama masa puasa ini” jelas mama yang sepertinya sudah tahu bahwa menu sahurku masih terus – terusan dengan mie instant. Berbicara tentang lembur dan uang yang ku dapat, memang tak seharusnya aku santap sahur selalu dengan mie instant. Namun asal aku masih bisa bernafas, tak apa untuk membiarkan uangku berdiam di ATM demi bisa mengganti uang Papa yang kuambil.
Suara adzan subuh berkumandang, menuntun langkahku menyususri jalanan subuh yang sunyi dan lembab karena baru saja di guyur hujan. Beberapa pria dengan sarung di tangannya terlihat melemparkan senyum ke arahku dan kami pun berjalan berbarengan menuju mesjid. Dua rakaat sudah kami laksanakan, dan seorang ustadz kembali mengambil posisinya untuk memberi ceramah dengan mengambil tema keluarga dan orang tua.
“ Ya, Keluarga…. Hubungan darah yang tak dapat dipisahkan. Sebuah jalinan kasih dimana orang tua sangat berperan penting dalam hal mendidik anak – anaknya agar tetap memberikan pendidikan juga ilmu agama. Ramadhan tak jarang adalah waktu di mana banyak keluarga yang tadinya tak memiliki waktu untuk duduk bersama semeja makan, malah dapat meluangkan waktunya untuk saling bertatap wajah dalam nikmat Allah tersebut. Dalam Al- Qur’an surat An – Nisaa’ ayat 36, Allah SWT berfirman: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua. Sedangkan dalam surat Al – Israa’ menyebutkan: dan Tuhanmu telah memerintahkkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu dan bapakmu dengan sebaik – baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua – duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali – kali janganlah kamu mengatakan - ah – dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”
Kutundukkan kepala sembari mencerna kata – kata yang baru saja diucapkan pak ustadz dengan ayat – ayat Al – Qur’an yang juga turut. Tak terasa mataku lembab hingga butiran air mata menetes. Kembali teringat akan sebuah kesalahan tanpa jawaban yang benar ku ucapkan pada Papa. Betapa rindunya aku pada mereka, betapa inginnya aku bersimpuh meminta maaf pada mereka berdua namun terbesit wajah papa yang mungkin saja tak ingin melihatku lagi.

●●●●
“ Ayo, cerita saja” kata Syafira tiba – tiba mengagetkan lamunanku yang sedang menatap ke arah arloji pemberian Mama.
“ Maksudnya?” tanyaku balik.
“ Pasti kamu punya masalah. Iya kan? Bukankah kamu pernah mengatakan bahwa aku adalah sahabat terrbaikmu di ibukota. Ingat? Sambil menunggu waktu berbuka. Hayuk…” serunya sambil menegakkan tubuhnya dan seakan telah siap mendengar semua keresahan yang terpampang di wajahku selama ini. Akhirnya setiap kata kuucap tanpa sambutan kata dari lawan bicaraku, tampaknya ia sungguh membiarkanku mengambil waktu untuk melegahkan hatiku. Setidaknya tidak merasa penat terus mendiami relung hati hingga tak pernah kubagi oleh siapapun. Wanita itu mengangguk - angguk dan terus memandangku lekat. Tak secuil pun ia memotong pembicaraanku, mencoba memposisikan dirinya padaku.
“ Allah maha pemaaf, begitu pun harusnya dengan manusia. Apalagi itu orang tua kita. Kamu tahu, sejatinya orang tua adalah pemberi maaf terbaik di dunia. Ya, dulu aku pernah tak sengaja menjatuhkan guci kesayangan mama. Guci turun temurun yang sangat ia jaga baik- baik. Tapi pada akhirnya, ia malah berkata untung saja aku tidak apa – apa. Tidak terkena serpihannya yang bisa melukaiku. Aku juga pernah menghilangkan surat perjanjian bisnis Ayah dan kliennya. Memang saat itu Ayah marah sekali padaku, dan membayangkan wajahnya? Kamu pasti sudah tahu bagaimana murkanya seorang Ayah. Sama denganmu, aku takut pulang. Takut jika Ayah mengungkit masalah itu dan tak memaafkanku. Tapi?? Ia malah menyuruhku istirahat ketika aku diajak pulang paksa oleh ibu”
“ Dan setelahnya?”
“ Tak ada pembahasan surat perjanjian yang kuhilangkan itu. Bukan hanyu aku atau kamu saja dhan. Setiap orang di dunia punya masalah yang mungkin sama atau malah lebih berat dari kita. Masalah yang terjadi antar keluarga, antar orang tua dan anak, antar kakak dan adik. Itu hal yang biasa. Tapi bukan berarti kita boleh anggap enteng dan mengabaikan rasa tanggung jawab. Yang kulihat, kamu malah lebih baik dari aku. Kamu punya rasa tanggung jawab. Menyisahkan gajimu untuk mengganti uang Papamu”
“ Tapi tetap saja sya. Aku masih belum bisa dikatakan anak baik untuk orang tuaku”
“ Sudah, jangan terus mengasihani diri. Toh yang namanya hidup harus terus berlanjut bukan?”
Suara Adzan pun berkumandang setelah pembicaraan berakhir, goresan warna emas perlahan menghilang berganti awan hitam yang tak mungkin ditemani bintang – bintang. Hari ke 28 puasa yang tak terasa akan berakhir, dan mengucap selamat tinggal. Menunggunya setahun kemudian yang tak pernah tahu akankah Allah mengijinkan untuk dapat menyambut dan menikmatinya kembali. Kulipat dengan rapi dua helai baju koko untuk Papa dan dua helai pakaian untuk mama. Tanganku tampak ragu memasukkannya ke koper. Sesekali kuambil lagi pakaian – pakaian tersebut, menyadarkan diri bahwa tak sepantasnya aku pulang. Mungkin memang dengan kepergianku papa sedikit tenang menikmati waktunya di rumah yang tak harus beradu pendapat denganku. Kutatap lekat – lekat wajahku di cermin sambil menyalahkannya dan menghardik dalam hati. Setak pantas inikah aku untuk menjadi seorang anak? Haruskah aku tak lagi menjejakkan kaki di rumah orang tua yang sangat kucintai tersebut? Pertanyaandemi pertanyaan tak lagi mampu kutepis dari pikiran yang sedang kalut. Ada satu ketika rasa takut terasa begitu kuat menyergap dada, namun satu ketika lagi rindu yang sempat disembunyikan waktu itu ingin sekali kubagi langsung pada orang – orang terkasih selama hidupku. Dengan hti yang sekarang harus kuyakinkan, kulangkahkan kaki menyusuri jalanan ibukota Jakarta yang hampir beberapa penduduknya sudah memilih untuk mudik. Pesawat tujuan Jakarta – Medan sudah kupilih dan tak sabar rasanya ingin bertemu kangen oleh keluarga tercinta.

●●●●
Hiruk pikuk para perantau memadati bandara kualanamu dengan tas – tas besar dan senyum mengembang karena kembalinya mereka di tanah kelahiran. Celotehan khas yang terasa kasar jika kuucap di tanah perantauan dengan sebutan “kau” namun tidak disini, di tanah sumatera. Suara takbir berkumandang di setiap daerah, kulafalkan dalam hati dan kupejamkan mata agar tak terasa lama perjalananku menuju rumah. Bulan sabit menggantung dengan elok bersahabat baik bersama bintang – bintang malam ini. Nyeri dalam secangkir kopi di tak lagi kurasa sebab akan kujalani apa yang seharusnya terjadi. Tak lagi ada rindu yang tertahan di dada seperti saat diamku di “kafe kopi” walau tegukan kopi mengalir dan membasahi organ tubuh. Tak lagi harus sendirian aku menikmati kopi hanya untuk menghabiskan malam, ya… semoga saja ramadhan yang selalu membawa berkah memberikan bagian terindah yang tak lagi mendiamkan setiap kata antara aku dan pahlawan pertamaku yang sebut papa. Tepat di depan rumah ragaku terdiam membisu, seorang lelaki membuka pintu yang beberapa detik lalu ku ketuk. Malam seperti telah memeluk air mata, semuanya tertahan di dada dan membuat rasa nyerinya tiada henti. Seorang wanita menatapku kaget dari kejauhan, matanya basah dan langkahnya bertahap pelan mendatangiku. Tak berapa lama pelukan mendarat darinya yang kubalas dengan begitu erat, kubenamkan wajahku di pundaknya. Pelukan yang akhirnya kunikmati sebagai anak lelaki yang telah meninggalkannya. Papa memundurkan langkahnya, berbalik arah dan pergi ke teras samping.
“ Pa, Ramadhan minta maaf. Maaf sekali atas sikap yang pernah ramadhan perbuat” kusandarkan kepala di bahunya dengan pelukan yang tak kalah erat. Mama dan Alya adik peremuanku terus memandangi kami. Isakan mereka terus terdengar dan membuat tangisku tak lagi dapat terbendung.
“ Pa…. tolong jangan marah dengan ramadhan lagi. Ini, ramadhan berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp. 8.000.000. Untuk mengganti uang yang tempo hari ramadhan ambil tanpa sepengetahuan dan persetujuan papa” kuulurkan uang yang dilindungi amplop coklat tersebut. Namun tangannya menolak dan menatapku tajam yang berbuah air mata mengalir di pipinya. Aku pun berlutut menyetarakan tinggi badanku dengannya yang sedang terduduk.
“ Kamu…. Kenapa tidak pernah memberi tahu alasannya? Kenapa? Papa sungguh merasa bersalah padamu nak. Papa minta maaf…..” ucapnya lagi dan tangisnya pun semakin menjadi – jadi.

“ Bang…. Maafin Alya. Ini semua karena Alya. Maaf karena abang harus mengambil uang untuk membantu Alya mengganti peralatan laboratorium yang tidak sengaja Alya jatuhkan. Alya sudah menceritakan semuanya pada papa, dan Alya janji akan lebih berhati – hati lagi” kutatap wajahnya yang tertunduk pilu, wajah adik tercinta yang belum bisa kubahagiakan. Penghujung Ramadhan kali ini terasa begitu istimewa, sendu yang berbalut bahagia serta air mata yang berbalut senyum saling memaafkan. Tak ada yang kusalahkan karena kurasa tetaplah aku yang bersalah, selama ini ternyata ketika Mama menelponku, papa dengan seksama mendengarnya. Rasa bersalahnya karena menyuruhku pergi membuatnya tak siap untuk berbicara denganku. Kini bersamaan dengan  kumandang takbir yang saling bersahutan, raut wajah tetiba berubah, bahkan senyum tulus bermekaran di wajah orang – orang yang kucinta. Kini rinduku saling berjabat erat, tak lagi terburai tanpa tertuju pada siapapun. Kasih keluarga yang kupikir tak lagi dapat terasa sempurna tak harus berlama – lama mendiami pikirku, tak lagi harus kuingat dan berujung dengan tegukan kesedihan. Ramadhan dan keluarga sudah menjadi hadiah terindah bagi setiap yang mempercayainya.  Ramadhan sebagai bulan penuh pengampunan, Idul Fitri dimana kita kembali suci, dan keluarga yang katanya adalah sebuah jalinan kasih sedarah yang tak henti menyemangati kala lelah menaungi setiap pribadi. Dan kini bahagianya mereka para penikmat ramadhan, sama seperti bahagiaku di penghujung Ramadhan.

Komentar

share!