Ramadhan, Cinta, dan Bahagia




Karya:  Devita Ariestiana Prabowo


Mentari telah terbit dari ufuk timur, memancarkan cahayanya yang begitu hangat dan cantik kala pagi hari datang. Aku masih saja berkutat dengan laptopku, menyelesaikan perbaikan skripsi untuk sidang, bahkan di saat bulan Ramadhan. Beberapa kali aku membuka buku sebagai bahan referensi, terasa semakin pusing karena aku pesimis mampu mengatasi beragam pertanyaan dari dewan penguji sidangku nanti.



“Aaaaaarrrgghhhhh…” aku berteriak.
“Ra, kamu kenapa?” tanya ibuku seraya membuka pintu kamarku.
“Eh, nggak kenapa-kenapa Ma, kaget ya? Maaf ya Ma” jawabku lesu.
“Kamu yang sabar, ini kan bulan puasa, ikhlas dan terus berusaha ya, niscaya kamu dimudahkan dalam siding skripsimu, mama do’ain kamu” ujar mama memberiku semangat.

Tahun ini kurasakan bebanku sedikit bertambah berat, ya, karena tahun ini aku menjadi mahasiswi semester akhir yang tertunda kelulusannya karena tahun lalu membantu mengerjakan proyek dokter. Tidak hanya itu, aku pun kuliah sambil bekerja, dan pekerjaanku kali ini menuntutku bekerja dengan sistem shift. Lelah memang, namun sangat kunikmati pekerjaan ahli gizi ini karena ini memang jiwaku.

Kumatikan laptopku, percuma saja memaksakan sesuatu di saat tidak bersemangat. Aku melangkahkan kaki menuju halaman depan dengan lesu, tak sadar jika diluar sedang gerimis. Aku sangat suka gerimis, wanginya khas, membawa kesejukan dan kedamaian. Senang sekali melihat tanaman bungaku terkena tetesan air hujan, sedang embun yang menempel saja belum hilang. Aku duduk di kursi rotan di teras depan, sambil menatap gerimis yang mulai mereda, aku termenung.

“Wooii !! ngapain lu bengong aja !” Ina mengagetkanku.

Ina adalah adik perempuanku, tempat berbagi dan mengeluarkan segala kegundahanku. Kali ini aku tak merespon, pikiranku sedang bingung dan perasaanku sedang tak karuan. Aku beranjak dari kursi, berusaha menghindari adikku yang parasnya cantik dengan rambut panjangnya yang terurai. Hingga Ina menarik tanganku untuk tetap duduk di kursi.
“Mau kemana Kak? duduk dulu, lu kenapa sih?” tanya Ina penasaran.
“Gw ngantuk, mau tidur, dari habis sahur belum tidur” jawabku berusaha menghindar.
“Gak usah bohong, ceritalah sama gue, kayak baru kenal aja” sahut Ina santai.

Aku tak bisa mengelak lagi, aku terdiam di kursi sedangkan Ina berusaha memahami apa yang terjadi padaku. Ia memelukku seraya mengusap punggungku, menenangkan perasaanku.

“Lu kenapa Kak? cerita sama gue” pintanya lembut.
“Nggak kenapa-kenapa kok Na” jawabku lesu.
“Masalah sidang lo? ada kesulitan dimana? Kali aja gue bisa bantu” kata Ina menawarkan bantuan.
“Nggak sih, bukan masalah sidang juga, Randy udah semingguan ini kaya ngilang Na” jawabku sedih “gue gak tau kenapa dia begitu, sebelumnya enggak” lanjutku.
“Lho, kenapa? memang kalian lagi berantem?” tanya Ina penuh penasaran.
“Enggak, gak tau dia belakangan ini aneh” sahutku sambil mengangkat bahu.
“Udahlah jangan terlalu dipikirin, mungkin dia lagi sibuk banget” ujar Ina bijak.
“Iya juga sih, tapi..” sahutku,
“Udah Kak, percaya deh, lebih baik lu sekarang fokus sama skripsi dan sidang lu aja, mau cepet lulus nggak?” tanya Ina bersemangat.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum melihat Ina begitu lebih bersemangat dariku. Usia kami memang tidak terpaut jauh, namun terkadang ku akui pola pikirnya lebih bijak dan dewasa dariku. Kami berdua begitu dekat, Ina yang saat ini masih di tingkat dua memang tak banyak beban tugas kuliah maupun praktek lapangan. Aku merebahkan tubuhku di sofa depan TV di ruang keluarga, hawa sejuk sehabis hujan kecil tadi membuatku mengantuk.

- satu jam kemudian… -

“Udah bangun Ra? tadi Randy telepon” kata ibuku lembut.
“Hah? jam berapa Ma? kok nggak bangunin Tara?” jawabku sedikit kecewa.
“Mama nggak tega, kamu pules banget, tadi dia cuma pesan besok sampe minggu depan dia berangkat dinas ke Kalimantan, offshore” jawab ibuku lembut.

Aku tertegun. Dinas Kalimantan satu minggu, offshore, berarti akan semakin sulit kami berkomunikasi. Perasaanku bergejolak, antara sedih, kecewa, kesal, dan marah. Minggu depan aku sidang, dia janji akan datang menyemangatiku. Aku terdiam, semakin terduduk lemas di kursi. Ibuku berusaha menenangkanku, ia memelukku dan mengusap rambutku. Tak terasa air mata ini menetes, pantas saja sejak kemarin aku merasakan perasaan yang sangat tidak enak.

“Kamu harus dewasa, ini demi masa depan kamu dan Randy” ujar mama penuh bijak.
“Tapi kan minggu depan aku sidang Ma, aku pengen dia datang” jawabku seraya terisak.
“Tara, kamu sudah besar, harus berjiwa besar, Randy tak bisa datang karena urusan kantor yang lebih penting, bukan hal lain, kamu ingin dia sukses kan?” tanya ibuku.

Aku hanya mengangguk, mengakui nasihat ibuku benar. Aku mulai berbenah diri, fokus pada tujuanku saat ini, lulus sidang dan segera wisuda. Aku mulai bersemangat mengolah skripsiku, setiap hari, pagi bertemu pagi, hingga tiga hari menjelang sidang, hasil karyaku diakui oleh dosen pembimbingku, layak untuk diuji dihadapan pembimbing dan dewan penguji. Senang sekali rasanya, meski kadang sedih karena Randy sedang di Kalimantan.

Semangatku begitu membara, kusiapkan mentalku menghadapi ujian sidang esok hari. Saat pagi tiba, sehabis sahur kupanjatkan do’a agar sidang ini dimudahkan, tepat sekali sidangku terjadi pada hari Jum’at. Kucium tangan kedua orang tuaku saat akan melangkahkan kaki menuju kampus tercinta, tentu saja Ina dengan senang hati menemani dan membantuku membawakan segala keperluan sidang.

Tepat pukul 10.00 WIB sidangku dimulai, rasa khawatir bergejolak dalam dada. Sejenak ku lupakan Randy, yang hanya ku ingat adalah lulus, lulus, dan lulus. Berbagai pertanyaan sudah coba ku jawab, dengan perasaan sedikit cemas namun tetap berusaha tampil percaya diri. Dua jam sudah waktu berlalu, aku menunggu dengan cemas di luar ruangan. Menunggu hasil keputusan kelulusanku. Hingga dosen pembimbingku memanggilku masuk kembali.

“Tara Winanta, setelah melewati proses pengajuan proposal penelitian, revisi, hingga sidang uji hari ini, saya bersama dewan penguji sepakat, menyatakan kamu lulus.” ujar dosen pembimbingku mantap.
“Alhamdulillah...” jawabku seraya tersenyum dan menahan tangis.

Aku berjalan menghampiri dewan penguji, bersalaman seraya mengucapkan terima kasih. Teman-temanku menghampiriku, memberikan selamat dan memelukku, tak terkecuali Ina, adikku yang telah banyak membantu. Kami mengabadikan momen kebahagiaan ini bersama. Senyum lepas tak henti-hentinya hilang dari bibirku. Andai Randy datang, akan terasa lengkap kebahagiaan ini.

Kaki ini melangkah dengan penuh keceriaan, semakin mantap sejak aku berhasil mendapatkan gelar sarjanaku. Tak terasa perjalanan tiga setengah tahun ekstensi sarjanaku berakhir pada hari ini. Hilang semua beban, hanya syukur yang ada. Berbagai ujian masa perkuliahan telah berhasil ku lalui, dosen yang tegas, mata kuliah yang terkadang membosankan, jarak jauh Bogor-Depok yang harus kutempuh menuju kampus, terbayar sudah dengan kebahagiaan ini.

Setibanya dirumah, aku kaget, sangat kaget. Halaman rumahku dipenuhi dua mobil. Satu mobil keluargaku, dan satu mobil lainnya tak asing lagi, aku mengenali warna merah dan plat nomornya, mobil Randy. Jantungku berdetak semakin cepat, berlari menuju rumah, penasaran dengan semua ini.

“Alhamdulillah, selamat sayang, kamu lulus” sahut Randy dari dalam rumah.

Aku menangis sejadi-jadinya saat akan memasuki rumah. Ada apa ini sebenarnya, tak hanya Randy yang datang, namun kedua orang tuanya, kakak dan adiknya. Ibu Randy menghampiriku, memelukku erat dan mengusap rambutku yang terbalut hijab.

“Selamat ya Tara, ibu bangga padamu” bisiknya lirih.

Aku tak dapat berkata-kata, hanya mengangguk dan tersenyum. Kumandang adzan ashar terdengar begitu dekat, dari masjid yang tak jauh dari rumahku.

“Alhamdulillah, masuk waktu ashar, kita solat ashar berjamaah ya. Tara kamu bersihkan badan kamu dulu, lalu solat berjamaah” ujar ayahku mencairkan suasana haru ini.
“Iya Pa” ujarku seraya tersenyum.

Sepuluh menit kemudian kami semua telah berkumpul di ruang tamu, siap menjalankan solat ashar berjamaah. Tak lama berselang, Ina mengajakku ke kamar. Ia mengeluarkan baju gamis panjang berwarna merah muda dari lemarinya.

“Kak, lu ganti pake baju ini ya” sahutnya ceria.
“Lho, ngapain pake gamis? Emang mau kemana?” jawabku dengan nada heran.
“Ya pake aja, kan biar cantik, udah jangan banyak tanya, nih ganti dulu” sahutnya tegas.

Ina pun melingkarkan hijab di kepalaku, cantik sekali pikirku. Aku mulai menduga-duga, namun kutepis segala dugaanku. Kami berjalan menuju ruang tamu. Kulihat ayah dan ibuku sedang asyik bercakap-cakap dengan orang tuanya Randy, sedang Randy sendiri tengah sibuk menerima telepon di luar rumah.

“Mas Randy, masuk yuk” ujar ibuku lembut.

Beberapa saat kemudian aku sudah dihadapkan pada keluargaku dan keluarganya. Tak perlu menunggu lama, ayah Randy sudah dengan sigap memajukan badannya, kemudian memulai percakapan penting dengan penuh khidmat.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” salamnya.
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh” jawab kami serentak.

Perlu waktu lima hingga sepuluh menit saat ayah Randy mengutarakan maksud kedatangannya bersama Randy dan keluarga kerumahku. Tak kusangka ini adalah acara silaturahmi yang dilanjutkan dengan prosesi melamarku. Hatiku berdebar, sulit menahan senyum terlepas dari bibirku. Mataku tak hentinya menatap ayah Randy saat beliau berbicara. Hingga Ina mengagetkanku.

“Ssstt, kok bengong? ditanya tuh, mau nggak terima lamaran Randy” sahut Ina menggoda.

Aku terdiam sesaat. Aku melihat kedua orang tuaku dan orang tuanya, seakan sudah berdiskusi sebelumnya, mereka serentak menganggukkan kepala seraya tersenyum.

“Bismillahhirrahmanirrahim, saya bersedia menerima pinangan Mas Randy” jawabku mantap.
“Alhamdulillah” sahut Randy dan keluarganya bahagia.

Randy kemudian bangun dan mengeluarkan kotak cincin dari sakunya. Aku kini dihadapkan pada sesosok laki-laki yang sudah kukenal sejak enam tahun lalu, laki-laki baik hati dan penuh sabar yang mampu membuatku jatuh cinta, laki-laki pekerja keras yang tak pernah kuduga akan membuat kejutan begitu indah di hari ini.

Cincin emas bermata satu telah tersemat di jari manis kiriku. Kini aku dan Randy resmi bertunangan, acara yang sederhana, namun sangat sakral dan membuatku merasa menjadi wanita paling bahagia hari ini. Tak terasa kumandang adzan magrib sudah terdengar. Kami bergegas berbuka puasa bersama, lalu dilanjutkan dengan solat magrib berjamaah. Selepas Isya, Randy dan keluarganya berpamitan.

Ayah, ibu, dan adikku tak henti-hentinya menggodaku. Menggoda cincin emas yang saat ini melingkar di jari manis kiriku.

“Kak, selamat ya, kamu lulus dan kini kamu sudah dilamar” sahut ayahku mantap.
“Iya Pa, terima kasih ya, kakak nggak tahu harus bilang apa” jawabku terharu.

Kami berpelukan, baru kali ini aku merasakan suasana bahagia yang begitu luar biasa. Hari ini, aku merasa menjadi wanita paling beruntung dan bahagia, aku mampu melewati ujian sidangku dengan baik. Tak hanya itu, belum selesai bahagia kelulusanku, aku bahagia resmi dilamar Randy, penantian panjang yang kami lewati setelah enam tahun berpacaran. Terima kasih Tuhan, bulan Ramadhan kali ini begitu tak terduga. Kau berikan dua momen paling bahagia terjadi dalam waktu yang bersamaan. Indah sekali, tak akan mungkin bisa kulupakan.

Komentar

share!