Ramadhan, 2050




Karya:   Zarah Arwieny Hanami

Tuk tuk tuk.. Tanganku menari-nari diatas tablet sembari mengecek monitor hologram di hadapanku. Aku menekan “Enter” untuk terakhir kalinya bersamaan saat seorang blasteran Pakistan-China memasuki ruangan sambil menyerett seorang pria tua dengan tidak sabaran.



“Namanya Han. 55 tahun.” Ujar Ahmed setelah mendudukkan pria itu di bangku kayu yang sebentar lagi patah. Aku bangkit dari kursiku dan menatap pasien pertamaku. Wajahnya pucat pasi, keringatnya bercucuran dan tatapannya penuh amarah.

“Tenanglah, kami akan menyembuhkanmu.” Kataku lembut.

Pria itu—Han meludahiku dan berkata, “Aku tak percaya. Aku tak percaya siapapun di Xie. Semuanya busuk! Lagipula kau tak tampak seperti dokter.”

Untungnya aku tengah berpuasa, jadi aku menanggapi dengan sabar, “Aku tak menyuruhmu percaya padaku. Percayalah pada Allah! Ahmed, Wong, Lai, tolong pasangkan alat-alatnya. Inshaa Allah programku akan berhasil.”

Ya, Programmer adalah profesiku, biasanya aku membuat game, media social, website pemerintah dan lain-lain. Tapi kali ini aku mencoba membuat sesuatu yang baru—program  penyembuhan serum Nathan Wu.

Akhir tahun 2049, menyisahkan kenangan pahit bagi negara-negara yang kalah dalam perang dunia ke-III, terkhusus untuk negara-negara berkembang yang mengalami kebangkrutan dan terpaksa harus memulai semua pembangunan dari awal, termasuk negara kami yang baru saja terbentuk sepuluh tahun yang lalu, yaitu Xie—dulunya termasuk kawasan China yaitu Guangzhou, Nanning, Kunming yang bergabung dengan seperempat bagian Vietnam.  Pemberontakan dan tindakan kriminal ramai terjadi menyambut datangnya awal tahun 2050. Negara porak poranda dan pemerintahan diambil alih oleh seorang diktator, Nathan Junk Wu, yang terkenal dengan sifat kejam dan tindakan deskriminatifnya.

Perang antar ras, suku, dan agama pun tak jarang ditemui di berbagai tempat. Hal ini terlihat sangat jelas di Bulan Ramadhan tahun 2050 ini yang seharusnya di warnai dengan perasaan damai dan sukacita. Nathan bekerja sama dengan para ilmuwan Xie yang dipaksa mendukungnya untuk membuat serum masa depan—tapi kami menyebutnya serum Biadab—yang dibuat untuk membuat umat Islam di Xie tidak tahan untuk berpuasa, serta menyegel masjid-masjid untuk menghalangi ibadah shalat tarawih. Ia melakukannya semata-mata karena membenci Islam dan ingin menjatuhkan umat Islam yang 100% telah menyatakan menolak untuk mendukungnya sebagai pemimpin negara Xie yang baru pasca perang.

Serum biadab itu, sesuai namanya—sangat biadab. Serum tersebut berwarna kuning menyala yang ketika disuntikkan pada tubuh maka akan mengakibatkan efek dehidrasi, kelaparan yang tak tertahankan serta memicu emosi berlebih. Hal ini tentu dapat mengganggu ibadah puasa umat islam Xie karena mereka harus menahan hawa nafsu selama berpuasa. Berbagai kecaman dari lembaga islam dan aktivis muslim Xie pun bermunculan, tapi Nathan Junk Wu tetap tak bergeming dan melancarkan aksinya, puluhan warga di Islamic Town telah disuntikkan serum dan sebagian dari mereka menjadi lemah dan membatalkan puasa.

Aku ingin menuntaskan segala perpecahan di Xie dan membantu umat Islam untuk mendapatkan haknya untuk beribadah layaknya warga sipil lainnya. Untuk itulah aku dan teman-teman remaja masjid Xie yang berhasil selamat dari perang, membuka markas besar di ruang bawah tanah masjid dan memindahkan segala barang-barang kami ke sini untuk memulai pergerakan. Sejauh ini kami sudah menemukan beberapa petunjuk mengenai lokasi “harta perdamaian” Xie berada. Kakekku—Umar Chou—mantan presiden Xie, yang memberitahukannya padaku di akhir hayatnya.

“Carilah benda itu, jika perang ini berakhir. Aku yakin Xie akan kembali damai jika kau berhasil menemukannya.” Katanya sebelum Ia menghembuskan nafas terakhir.

“Aye Jerry Chou!” Seru Ahmed tak sabaran—mungkin dia telah mengulanginya sebanyak tiga kali—dan aku terbangun dari lamunanku.Ketiga temanku tadi selesai memasangkan alat-alat pada tubuh Han yang sudah berbaring setelah dipasangkan kabel-kabel pada keningnya, tangan, dan dada serta earphone pada telinganya.

Aku menekan Start pada layar hologram di hadapanku dan menunggu hasilnya sambil sesekali melirik ke arah Han yang tampak gelisah dan kesakitan. Layar di hadapanku menunjukkan sel-sel dan saraf-saraf dari otak Han. Aku membuat program yang dapat menstimulasi otak untuk mengingat kenangan-kenangan indahnya saat Ramadhan dahulu dan bagaimana Ia merasa senang jika berhasil menyelesaikan puasa. Selain itu program ini dapat menstimulasi tubuh untuk tidak merasa lapar dan dehidrasi selama beberapa saat seperti saat kita berniat untuk berpuasa. Lalu yang terakhir, menggunakan earphone aku memperdengarkan dzikir untuk meredam emosinya. Begitulah program ini bekerja untuk menyembuhkan pasien dari serum.

Han perlahan-lahan menjadi lunak dan seperti kembali menjadi dirinya yang semula. Ia menatap sekeliling ruangan dengan lembut sambil menyunggingkan senyum ketika melihatku. “Assalamualaikum. Apa itu tadi?”

“Walaikumsalam, Hanya sekilas memori indah Anda tentang Ramadhan. Alhamdulillah, Anda berhasil melawan serum itu. Jika anda buang air, serum itu akan hilang total.” Kataku sambil memberikan tanda checklist pada tablet. Aku sangat senang programku berhasil pada percobaan pertama. “Ahmed, Lai, Wong. Tolong evakuasi korban-korban serum lainnya. Perintahkan kepada yang lain untuk membantu kalian dan menyiapkan ruangan untuk para pasien sembuh kita.” Perintahku lagi dan mereka mengangguk lalu bergegas pergi.

Han menatapku tanpa berkedip dan berkata, “Kau sangat mirip dengan Kakekmu. Berjiwa pemimpin dan pemberontak.” Katanya. Aku menoleh sambil tersenyum dan tak mampu membalas. Han seolah mengerti, Ia melanjutkan, “Kau harus mengikhlaskan kepergiannya. Dia orang baik, dan tahu mana jalan yang benar. Saat kau membuka memori indahku tentang Ramadhan, Ia menjadi salah satunya. Aku dulu adalah muridnya, kami berada dalam satu rombongan saat mendaki di Gunung Semeru pulau Jawa, Indonesia. Oh Ramadhan yang indah.”

“Kau mengenal kakekku? Kau bersamanya saat di Pulau Jawa? Oh Alhamdulillah!” Aku merasakan dadaku sesak karena gembira. Aku mengeluarkan kertas-kertas dalam kotak peninggalan kakekku yang menjadi petunjuk letak harta perdamaian Xie berada.

“Ini adalah peninggalan kakek, kami telah menganalisisnya selama berbulan-bulan dan kami hanya mendapatkan fakta bahwa ini tertulis dalam bahasa Indonesia. Hanya saja kami tidak begitu mengerti setelah mendapat terjemahannya. Bahkan artikel di internet tidak ada yang memuat seperti ini. Aku rasa ada orang yang sengaja menghapusnya. Apa kau tahu?” Jelasku pada Han. Entah mengapa aku sangat percaya pada pria tua itu hingga aku menyodorkan kertas-kertas itu padanya. Di kertas itu tertulis:

Aku menyimpan harta perdamaian negeriku dengan sangat hati-hati dalam sebuah benda yang mengingatkanku pada negara yang menjadi favoritku saat lebaran. Jadi begini petunjuknya (berdasarkan catatanku):
  1. Mencerminkan beragam kesalahan manusia (kulitnya)
  1. Kesucian hati (bukalah)
  1. Mencerminkan kesempurnaan (sesuai waktunya)
  1. Kulo Lepat Nyuwun Ngapunten

Baiknya kau menemukannya sebelum Idul Fitri. Dan menyiarkannya saat hari raya.(UC)

Dengan sabar Ia mengamati kertas-kertas itu dan tampak bernostalgia. Aku menunggunya dengan sabar hingga akhirnya Ia berbicara, “Ah. Filosofi Ketupat!”

“Apa?”  Sahutku

“Ya ini filosofi ketupat. Nen ye ye’ de zong zi.” Katanya. “Petunjuknya sangat jelas. Sebelum Xie membudayakan ketupat sebagai makanan wajib saat hari raya Ied, kakekmu mempelajari filosofinya terlebih dahulu di Indonesia, dan aku juga ada saat dia mempelajarinya.”

Aku tak sanggup berkata apa-apa selain, “Jelaskanlah. Buat aku mengerti.”

Ia tertawa tapi tak menolak. “Kulit ketupat terdiri atas anyaman-anyaman rumit. Ini mencerminkan kesalahan manusia. Kemudian Isi ketupat adalah beras yang setelah di masak, ketika kau belah akan tampak warna putih, putih itulah yang melambangkan kesucian hati. Kesempurnaan, artinya kemenangan umat islam/ hari raya dan ketupat selalu ada saat waktu itu sebagai santapan hari raya. Lalu Kulo Lepat Nyuwun Ngapunten, bahasa jawa yang artinya saya salah mohon maaf. Itu juga kependekan dari “KUPA SANTEN” kupa atau ketupat dan santen atau santan karena ketupat sering disajikan dengan makanan berkuah santan. Jadi apa aku salah?”

“Astaga! Ini benar-benar luar biasa. Aku tidak menyangka lokasi harta itu ada di dalam sebuah ketupat dan aku tidak mengerti filosofi ketupat itu sebelumnya. Terimkasih Pak!”

“Kembali kasih. Aku senang bisa membantu demi Xie. Tapi, apakah kau tahu dimana ketupat yang di maksud itu berada?”

Aku menjawab tanpa ragu, “Tentu saja. Ketupat itu tergantung bersama lampu gantung masjid gedung pemerintahan.” Jantungku berdegup kencang. Ketupat itu berada di jangkauan penjagaan Nathan Wu.

Setelah mengumumkan lokasi harta perdamaian, banyak teman-temanku yang ingin ikut untuk mengambilnya. Tapi aku bersikeras hanya mengajak tiga orang saja dan aku memerintahkan yang lainnya untuk mengambil alih pekerjaanku menyembuhkan korban serum. Pada dini hari, kami menyelinap masuk lewat atap masjid yang berlubang. Para penjaga berpatroli di pelataran masjid dan tidak ada yang menyadari kedatangan kami. Dengan cepat, kami menjalankan aksi dan akhirnya kami berhasil meraih ketupat sebesar kotak perhiasan itu dengan cepat dan kami berhasil meloloskan diri tanpa hambatan.

Seminggu berlalu. Kami sudah siap menyiarkan kaset yang merupakan harta perdamaian Xie (Yang berada di dalam ketupat selama bertahun-tahun). Aku berhasil meretas sistem komunikasi Xie dan siap menanyangkannya pada panel raksasa. Sebelumnya, teman-temanku membuat aksi pemberontakan besar-besaran bersama para korban serum yang berhasil sembuh dengan melaksanakan shalat Ied di jalan dekat panel raksasa. Nathan Wu geram dan menurunkan pasukannya. Aku memutar Takbir untuk dikumandangkan di seluruh bagian Xie dan hal itu memacu para Umat Islam untuk menyerang balik, dan berhasil meraih simpati beberapa penganut agama lain.

Situasi semakin memburuk, hingga aku memutar kaset video itu dan tampak jelas sosok Pria Tua beruban—Umar Choi—Mantan Presiden Xie yang paling dikagumi, duduk dengan tenang dikursinya dengan latar belakang peperangan pada saat Perang Dunia ke-III. Dalam Video tersebut Ia berkata,

“Assalamualaikum! Sebelumnya, aku ingin mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri untuk umat Islam Xie, dan selamat juga untuk umat agama lain yang turut merasakan kebahagian perdamaian hari raya. Selamat juga karena kalian telah berhasil menemukan video ini. Sayang sekali, pada tahun 2050 ini aku tidak bisa kembali memimpin Xie setelah perang dunia ini berakhir. Aku tidak cukup kuat untuk itu. Tapi, aku berharap kalian bisa bersatu kembali untuk menciptakan perdamaian dan pembangunan Xie yang lebih baik. Jangan ada perpecahan, tapi persatuan. Jangan ada keputusan satu pihak, tapi ciptakanlah demokrasi. Jangan pasrah dengan keadaan, tapi lawan apa yang kalian anggap salah. Semoga Tuhan selalu bersama kita, dan negara kita Xie. Mohon maaf bila selama ini aku memiliki banyak kesalahan. Semoga hari ini juga menjadi hari kemenangan untuk seluruh warga Xie. Rebut perdamaian itu kembali!”

Lalu layar menjadi gelap. Ribuan pasang mata yang menyaksikan video tersebut meneteskan air mata saat melihat mantan presiden yang sangat mereka sayangi ternyata memiliki pesan terakhir. Hal tersebut mengerakkan hati seluruh masyarakat Xie untuk menjatuhkan pemerintahan Nathan. Mereka memberontak habis-habisan dan Nathan Wu, tewas dalam pemberontakan sengit itu.

Akhirnya, pemerintahan dan negara kembali berjalan normal seperti sebelum adanya perang dunia. Kali ini, Han, pasien pertamaku memimpin sebagai presiden Xie yang ke-4. Seluruh umat beragama hidup damai dalam perbedaan. Serum biadab dimusnahkan dan Ramadhan tahun-tahun berikutnya menjadi momen sukacita kembali bagi para umat islam. Aku sendiri masih menjadi programmer dan remaja masjid, hanya saja sekarang aku sangat sibuk untuk menyempurnakan program yang akan didistribusikan ke sekolah-sekolah selama ramadhan. Aku menamakannya, Program Ketupat!

----

Komentar

  1. Imajinasi mu memang luar biasa, zar. Keren sekali.
    Btw, semoga menang.

    BalasHapus
  2. Waaaww. keren. Good luck deh :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!