Putih Abu-Abu | Part 2 (New Class)


 Karya: Yui

Hari pertama semester 2, kelas baru, teman baru. Aku cari namaku di beberapa lembar kertas yang terpajang di mading. Dari urutan bawah setiap kertasnya karena namaku abjad akhir.


Sudah ku temukan kelas X IPA 3 ku pindahkan jariku ke abjad paling atas di kertas itu, dan menelusuri setiap nama di kertas itu secara menurun, mencari tahu siapa saja yang sekelas denganku kemudian bola mataku terpaku pada satu nama, jari ku terhenti di nama itu, nama yang sudah tak asing lagi dalam kehidupanku, seorang yang baru saja ingin aku tinggalkan, seseorang itu adalah Bajai.

Ya Tuhan, kenapa kau lakukan ini? aku tahu Kau selalu mempunyai maksud atas segala kehendak-Mu. tapi boleh kah aku tahu maksud-Mu itu kali ini saja? aku baru saja ingin melupakan dia. menyusun hidupku tanpa dia, berteman dan mengagumi orang lain selain dia dan bisa menyapanya ringan setiap bertemu denganya. Tuhan kenapa?

Itulah celotehku sekejap sambil menatapi namanya yang masih aku tunjuk dengan jari telunjukku. sudah berkali kali aku memastikan, dan berharap aku salah. Ternyata tidak, aku memang sekelas lagi dengan Bajai. Dan aku baru tahu, ternyata dulu dia juga X-1 saat MOS. Jadi aku sudah 2 kali sekelas denganya dan akan jadi ketiga kalinya.

Sebenarnya tidak terlalu buruk atau pun menyedihkan, hanya bertanya tanya "Kenapa?" karena sebagian hatiku ternyata merasa senang dengan kenyataan itu.
Terlepas dari namanya, aku melanjutkan lagi jariku menelusuri nama nama yang akan menjadi tidak asing lagi di telingaku sekali lagi tanganku terhenti pada satu nama, yang ini adalah orang yang paling aku ga mau sekelas sama dia, cewe rese super nyebelin ini ternyata juga di takdirkan sekelas lagi denganku. 

GOD, What do You mean? --a celotehku dalam hati.

Bagi yang membaca, jangan tesinggung dengan caraku mengadu sama Yang Di Atas, sebenernya ga selebay ini kok.

Akhirnya dengan lemas aku berhasil keluar dari kerumunan orang orang yang mencari namanya juga di mading. Tepat di depanku teman teman kelas lama menyapaku dan bertanya "Hei ci, kamu kelas apa?" ujar Bajuri padaku, "Hehe X IPA 3, kamu?" menjawab dengan gugup karna aku tahu pasti di dekat Bajuri pasti ada Bajai. Bola mataku berkeliling memerhatikan sekitar mencari keberadaan Bajai, dan ternyata memang tidak lama mataku mencari aku sudah menemukan sosoknya di sebelah Ucup.

Ucup melihatku dan mengutarakan pertanyaan yang sama seperti Bajuri pada ku. Tapi sebelum aku menjawabnya Bajai berkata "Sekelas jeung aing" ujarnya dengan bahasa antar cowo pada ucup, menggantikan jawabanku. Ternyata dia sudah tahu aku sekelas denganya, cukup mengejutkan tapi ternyata setelah itu ada hal yang lebih sangat amat mengejutkan, sehingga sepertinya jika aku belum sarapan pagi ini bisa saja aku pingsan.

Dia berkata "Ci, nanti duduk sama aku ya." ujarnya langsung padaku. Wajah ucup langsung sumringah tersenyum mengejekku di belakang Bajai. Aku mencoba menyembunyikan rasa kagetku dan kegrogianku dengan berkata "Kenapa?" "Aku ga kenal siapa siapa" ujarnya lagi. Aku bingung, tak pingin menolak tapi tak mau terlihat aku juga mau duduk denganya. Tapi entah kenapa otakku memerintahkan tanganku untuk mengacungkan jempolku ke arahnya. Kata "sip!" keluar begitu saja dari mulutku.
dan sekarang aku duduk sebangku dengannya,

Sosoknya yang ku ketahui saat di kelas lama adalah dia orang yang kocak dan bisa membuatku trtawa setiap saat itulah penyebab aku suka padanya. Tapi kelas baru ini memberikan suasana lain. Setiap anak masih tergantung dan bermain pada kelas lamanya. Kelas selalu sepi setiap jam kosong, dan koridor selalu penuh dengan kubu kubu kelas lama. Kami semua belum berbaur di kelas baru. Dengan adanya program SKS untuk angkataku menyebabkan setiap kelas tidak punya wali kelas dan masih terpencar kemana mana.

Di bangkuku suasananya seakan lebih sunyi dari kuburan di malem jumat kliwon. Tak ada percakapan, benar benar sepi. kadang aku mencoba memecah keheningan itu dengan bertanya, tapi di jawabnya dengan singkat padat dan jelas. Membuatku tak bisa bertanya lebih jauh, sedangkan dia tak balik bertanya. Dengan headset yang terpasang di telinganya seakan ia menikmati dunianya sendiri, tidak peduli dengan ku yang hanya mencoret coret buku. Sebal, semakin lama aku semakin dongkol duduk dengannya. Suasana hening ini selalu membuatku muak. Setiap jam pelajaran aku fokuskan untuk memperhatikan guru. Teringat dia itu pintar, sehingga aku tak mau kalah darinya. Setidaknya kita bisa berdebat soal pelajaran. Alhasih nihil. Setiap aku bertanya dia hanya menggeleng kepala.

Seorang cewe yang aku harap tidak akan sekelas denganya lagi itu mulai berulah, dia duduk tepat di depanku besama temanya yang sama menjengkelkan. Mereka menggoda Bajai penuh semangat, menggunakan panggilan yang aku gunakan untuk memanggilnya dengan ceria, tapi tidak mengacuhkan ku yang mencorat coret buku. Membuatku dongkol. iri dan cemburu, mengapa mereka bisa setidak tahu matu itu menggoda Bajai? padahal harusnya aku yang paling dekat denganya. Sebenarnya iri yang aku rasakan. Melihat mereka bisa tertawa menjahili Bajai di depan mataku, walau memang responya tidak lebih baik dari responya terhadap pertanyaanku selama ini. Aku pikir, kenapa aku ga punya rasa ga tau malu dikit aja biar aku lebih leluasa bicara denganya.

Beberapa minggu sekolah dengan suasana yang hampir tidak berubah itu. Sebenarnya membutku malas sekolah, sehingga aku sering mencari teman baru di kelas hanya untuk sekedar ngobrol dan tertawa gila dengan mereka. Hal yang tidak bisa aku lakukan di bangkuku. Rasanya sebal setiap bel masuk berbunyi.

Sehari, dua hari, Bajai tidak masuk sekolah. Teringat SMSnya pada ku yang memintakan izin untuk tidak masuk sekolah karena sakit. Semua orang di kelas mengira aku ada hubungan sesuatu dengan Bajai karna kita duduk bersama, padahal karna jumlah cewe dan cowo yang ganjil beginilah hasilnya. 

Aku duduk sendiri di tengah suasana yang masih sepi itu. Belum ada kebersamaan diantara penghuninya masih berkubu kubu. Aku benar benar kesepian, setidaknya saat ada dia di sampingku aku tidak terlihat kesepian di mata orang, tapi saat ini orang pasti melihatku sangat kesepian. Sehingga mulai satu persatu menemaniku berbicara.
Waktu yang terus berlalu membuatku kenal banyak teman. Mulai bisa merasakan kelas ini mulai bisa berbaur, tapi melihat Bajai yang beda dari yang aku kenal. Dia sampai saat ini masih melakukan segala aktifitasnya sendiri. Makan bekal, mengerjakan tugas bahkan menghabiskan waktu di jam kosong dengan headsetnya.

Akhirnya aku menegurnya dengan selembar kertas "Hei sombong!" tulisan yang ku sodorkan padanya. Dia tertawa dan melepas headsetnya, dan berkata "Sombong apa?". Tidak aku jawab dengan perkataan, kutulis lagi di kertas karena aku merasa lebih PD menulisnya dari pada mengatakanya "Dengerin musik sendirian aja, aku di cuekin" saat membacanya di kembali tertawa geli yang aku balas dengan senyum singkat. Dia menyodorkan sebelah headsetnya padaku. Aku menolak, karena aku tidak bisa menggunaka headset saat aku menggunakan kerudung.

Aku gambar sketsa wajahnya di kertas itu. Dia tertawa dan menulis dengan pinsilnya di kertas itu "Itu bukan aku." "Mirip" balasku. Dia menggambarkan perut besar dan menulis, "Lebih mirip Dika" salah satu teman kita di kelas lama yang berbadan gendut dan suka mendengarkan musik.

Kami bersurat surat ria di kertas itu sampai kertas itu penuh dan tak ada ruang untuk di tulisi lagi. aku merasa kami mulai dekat.

***

Bersambung ....

Komentar

share!