Plesir ke Masyarakat Pesisir




Karya:  Shifa Fauziyah

“Ghoiril maghduubi ‘alaihim waladdhoolliin aamiin” suara itu sayup-sayup terdengar saat saya memarkir sepeda di dekat gerbang sebuah sekolah di kawasan Kenjeran. Hari ini tepatnya hari ke-9 Bulan Ramadhan, saya menghadiri acara bakti sosial yang diadakan oleh organisasi Gerakan Mahasiswa Surabaya. Sebenarnya saya bukanlah pengurus dari GMS, tapi saya bergabung menjadi volunteer di salah satu program kerja mereka yaitu Sekolah Pesisir. Sekolah Pesisir adalah sebuah program kerja yang bergerak di bidang pendidikan untuk membangkitkan mimpi anak-anak pesisir, menanamkan pendidikan karakter terutama mengenalkan potensi pesisir kepada mereka.  Seusai memarkir sepeda, saya memasuki gerbang sekolah ini, disana tampak adik-adik yang lucu dan dipandu oleh seorang lelaki yang aku nggak tahu dia berasal dari universitas/institut mana, yang jelas dia adalah salah satu pengurus GMS. Aku langsung mengambil tempat duduk di bagian belakang, tepatnya di dekat kumpulan anak lelaki.



Ternyata acara yang berjalan saat ini adalah sambutan dari ketua GMS. Sembari menunggu sambutan, saya berkenalan dengan adik-adik lelaki yang berada di belakang saya. Dan respon mereka sungguh sangat mencengangkan, mereka sangat antusias ketika berkenalan dengan saya, bahkan ada yang mencium tangan saya. Oh my God..

“Kak, ayo main terbangan” celetuk Lutfi salah satu siswa yang sekarang duduk di kelas V . Spontan langsung saya jawab

“Wah..kalian bisa main terbang ya..kakak ajarin dong” saya memang nggak bisa terbangan sama sekali, paling ya cuma nabuh-nabuh nggak jelas gitu.

“Ayo kak, tapi terbangnya di dalam, aku ambilin ya”

“Hmm, jangan deh dek, ini kan acaranya masih berlangsung, takutnya nanti mengganggu acara ini”

“Oiya kak”

Dan percakapan kami terus berlanjut, mengalir saja, saya sangat merasa nyaman berada di dekat mereka. Diantara mereka juga ada yang menanyakan rumah saya dimana, sepertinya mereka sangat penasaran dengan saya, mungkin karena saya orang-orang baru yang muncul di tengah mereka. Ya bagus, itu buktinya rasa keingintahuan mereka terhadap hal-hal baru tinggi. Acara terus berlanjut ke permainan, seorang kawan saya yang wajahnya lumayan tampan menurut penilaian saya dan teman-teman yang lainnya. Sebut saja namanya X, X mengambil tempat duduk di sekitar adik-adik cewek. Dan tahukah respon mereka ? “Ah mas ganteng, kita daritadi menunggu mas loh” sembari tangan mereka berebutan menggandeng tangannya X. Saya hanya tertawa kecil di dalam hati, sepertinya banyak terjadi pergeseran nilai moral di kehidupan anak-anak kecil zaman sekarang. Setahu saya, ketika saya di usia seperti mereka, saya hanya mengetahui permainan-permainan tradisional dan acara-acara kartun yang lucu seperti Doraemon, Tom and Jerrry. Pengetahuan saya hanya berkutat disitu disamping pengetahuan tentang dunia baca tulis. Tapi mereka? Di usia yang terbilang masih dini, mereka sudah menunjukkan ketertarikan terhadap lawan jenis. Dan acara permainan ini menjadi salah satu kesempatan mereka untuk menggandeng tangan si X. Bukannya saya cemburu, hanya saja saya miris melihat tingkah mereka. Mungkin ini menjadi tugas saya dan teman-teman untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada mereka.

Seusai permainan kelompok, selanjutnya adalah kuis. MC membacakan pertanyaan, dan bagi mereka yang mengetahui jawabannya diharapkan mengangkat tangan. Saya lihat mereka sangat antusias untuk menjawab pertanyaan tersebut, terbukti sang MC kebingungan untuk mencari siapa yang patut mendapatkan hadiah karena mengangkat tangannya terlebih dahulu. Akhirnya sang MC pun memiliki ide konyol yaitu membiarkan mereka mengangkat tangan, dan menunggu siapakah yang masih bertahan mengangkat tangannya. Di sebelah kami, ada seorang adik yang saya lihat selalu murung smenjak awal acara, teman saya sebut saja namanya Y pun memancing dia, agar dia antusias dalam menjawab pertanyaan yang diberikan oleh MC.

“Dek, ayo angkat tangannya, nanti aku bantu menjawab,, biar dapat hadiah” seru temanku

“Nggak butuh hadiah mas!”

Saya kaget, kok dia jawabannya cuek begitu. Dia berbeda dengan adik-adik yang lain yang begitu antusias dalam menjawab pertanyaan MC.

“Loh, terus butuh apa dek?”

“Butuh uang. Buat makan di rumah”

Hmm jawaban ini keluar dari mulut adik yang unyu itu. Sebuah jawaban yang setara dengan jawaban orang yang sudah membina rumah tangga, yang sudah sering merasakan pahit manisnya kehidupaan. Dan si Y nampak antusias untuk melanjutkan percakapan dengannya, mengenali lebih dalam adik tersebut.

“Terus gimana caranya dek biar dapat uang”

“Ya kerja kak”

“Kerja apa?”

“Kerja jadi nelayan”

“Kok nggak jadi polisi saja?”

“Nggak mau, polisi jahat, sukanya minta-minta uang ke orang”

“Kenapa nggak jadi dokter saja?”

“Nggak mau, dokter itu sombong. Nggak mau buka masker, nggak bisa diajak ketawa”

“Terus kenapa kok jadi nelayan?”

“Biar bisa seperti Bapak”

Speechless, teman saya pun terdiam, dan sepertinya dia menyerah untuk mengajak adik itu berbicara. Tak terasa, adzan pun berkumandang, dan semua adik-adik tak terkecuali adik itu berebutan mengambil makanan dan minuman yang disediakan oleh panitia. Yah, bakti sosial hari ini memberikan pelajaran dan banyak renungan untuk saya. Setidaknya ada 5 hal yang mungkin akan menjadi pembelajaran yang semoga saja melekat dalam diri saya dimanapun berada. Merujuk dari quote seorang bijak bahwa alam selalu mengajari tentang kesederhanaan, kejujuran, dan tanggung jawab. Ya alam pesisir ini memberikan banyak pembelajaran.

Yang pertama, bahwa setiap anak Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang sama, mereka juga mempunyai impian yang tinggi, namun terkadang impian itu musnah karena kondisi ekonomi keluarga. Sehingga mereka hanya ingin meneruskan tradisi dari keluarga tersebut. Kedua, Apapun profesi kita, setinggi apapun jabatan kita. Ada 1 hal yang tak boleh kita lupakan yaitu etika, bagaimana kita berkomunikasi dengan masyarakat. Bukan semena-mena, merasa lebih tinggi, merasa lebih pintar. Masyarakat sangat menyukai mereka yang tetap rendah hati, mereka yang tidak jijik dan menjauh dari masyarakat-masyarakat pinggiran. Mereka yang bisa bersahabat dengan masyarakat.

Ketiga, Pergeseran nilai-nilai moral benar-benar terjadi kepada putra-putri bangsa ini, lalu siapa yang bertanggung jawab? Bukan hanya orang tua, tapi juga kebijakan pemerintah yang membiarkan tayangan-tayangan sampah menghiasi televisi. Sehingga anak-anak pun tak segan untuk mengikuti apa yang ditayangkan di TV. Keempat, anak adalah peniru ulung orang tua. Orang tua adalah teladan pertama, apa yang diucapkan oleh orang tua, apa yang sering dilakukan oleh orang tua akan menjadi memori yang begitu melekat di otak anak-anak mereka. Sehingga, sebagai orang tua, kita harus menanamkan nilai-nilai kehidupan, memberi harapan kepada putra-putri mereka agar bisameraih impian mereka, tak peduli bagaimana kondisi perekonomian saat itu. Karena jika ada harapan, meskipun setitik, hal tersebut akan menjadi pecutan semangat bagi mereka.

Dan yang terakhir ialah Masyarakat pesisir memiliki kepribadian yang berbeda dengan masyarakat yang lainnya. Kepribadian mereka keras, tapi kita tetap bisa menjadi bagian dari mereka. Selagi kita masih menjadi mahasiswa, carilah kesempatan-kesempatan emas seperti ini, menyusuri masyarakat-masyarakat pinggiran, mengetahui pemikiran-pemikiran mereka, meskipun lingkungan mereka bisa dibilang kurang higienis. Tapi dengan menemui mereka, kita bisa tahu, bahwa di Surabaya yang sering dibilang sebagai kota metropolitan ini, yang banyak terdapat perguruan tinggi negeri berkualitas, ternyata masih ada masyarakat pinggiran yang membutuhkan peran kita sebagai mahasiswa untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada mereka. Setidaknya jika sudah lulus nanti, kita bisa bilang “Alhamdulillah, masa kuliah saya tidak hanya duduk di kelas ber-AC” . Dan kita siap untuk menjadi bagian dari masyarakat, membangun karakter putra-putri bangsa. 

Komentar

share!