Pesan Singkat



Karya:  Sih Wahyunita


Selamat berbuka puasa

Pesan singkat itu memenuhi ponsel milik Dina. Selang beberapa detik, diraihnya tombol delete untuk menghapus satu kalimat yang hampir sama dari teman-temannya. Tapi ada satu orang yang selalu mengirimkan pesan itu di jam yang sama setiap harinya, bahkan lebih dari satu pesan yang masuk. Itu yang paling menjengkelkan.



Di sebuah bangunan kosong seorang mahasiswa domisili itu duduk memandangi jalan yang ramai, mereka sibuk membeli makanan sebagai menu buka. Tapi beda halnya yang dilakukan Dina, dia lebih suka melihat orang makan karena itu sudah mengenyangkan perutnya.

“Din, ayo makan” ajak Vita sambil menarik tangan Dina.

Dina menahan tarikannya. “Iya, aku temenin Vit. Mau makan dimana?”.

“Bentar, aku ajak Dion dulu”. Jari jemari Vita bergoyang memenuhi irama dari ejaan kalimat yang akan disampaikan dalam bentuk pesan singkat, kemudian send.

Dina menggelengkan kepala.

“Eh, Din .. percaya nggak nanti persahabatan kita pasti bakal ada yang terjerumus dalam percintaan” kata Vita yang membuatku heran. “Aku tidak tau takdir kita bakal seperti apa nantinya”. Lanjutnya sembari tangan kanannya memoles pipi sambil bersandar diatas meja. Kalimat Vita seperti mengigau. Vita, Dina dan Dion mulai bersahabat saat duduk dibangku kuliah.

Dina membulatkan bibir sambil garuk-garuk kepala. “Mungkin, tapi tau ah Takdir sih apa?” jawabnya

“Eh, itu Dion? Sini?” panggil Vita dengan lambaian tangannya. Tatapan dan ekspresi bahagia terpancar jelas dari raut wajah Vita. Dia terlihat lugas dan kaku, jadi disitu terkadang kumerasa bingung dengan sikapnya.

Laki-laki bertampang innocent dengan memakai baju kemeja panjang itu berlari kecil untuk menghampiri kursi kosong yang disiapkan untuknya. Bulu mata dan alis yang berbaris seperti duri yang mencuat menghancurkan tembok. Matanya yang sipit dipadu dengan hidung mancung terkesan mewah dari paras wajahnya. Jadi, wajar saja jika dia dikagumi banyak perempuan di Kampus.

Seperti hari-hari sebelumnya, Vita dan Dion memesan sup iga bakar ditambah jus wortel kesukaan mereka, sedangkan Dina tersenyum sambil minum air jeruk hangat. Tubuhnya terlalu sensitif terhadap makanan yang mengandung micin. Pernah ada kejadian Dina pingsan ketika makan Lumphia Boom makanan khas Semarang di dekat kosannya, dan itu membuatnya trauma dengan makanan di Purwokerto yang kebanyakan asin dan manis.

“Emang bisa kenyang makan kurma dan selai roti Din?...”. celutuk Vita dengan nada menyindir.

Dina mengernyitkan dahi dengan senyuman khasnya. “Iyalah”. Sanggahnya singkat, padat dan jelas.

“Oh ya, nanti pada tarawih dimana kalian?...” Dion melontarkan tema pembicaraan yang baru, dia akhirnya mengangkat dagunya setelah sekian lama menyibukkan lidah untuk makan.

Vita segera menjawab dengan pasti. “Gimana kalau kita di tempat yang sama?” ajaknya sambil mengangkat jari telunjuk ke atas seakan menemukan ide cemerlang.

Dengan sedikit bergumam, Dina menyalurkan pendapatnya. “Aku si yes”. Dion ikut men-Copy Paste jawabanku

“Nanti dibalik tirai barangkali kita bisa menemukan jodoh”

***

Pagi masih dingin. Semburat matahari terhalang bukit kecil di sebelah timur. Sehelai daun waru yang layu luruh dan jatuh tepat di depanku. Tak lagi kulihat seseorang yang menyejukkan jiwa waktu itu. Tiga hari telah berlalu dan belum ada kabar. Aku terperangkap dalam sepi, begitu juga Vita yang kini tak lagi main ke tempatku.

“Aku syok, ternyata Dion menyukaimu dan bukan aku”

Kalimat itu diucapkan Vita seperti ucapan perpisahan kepadaku. Aku mencoba menepisnya tapi dia telah pergi meninggalkanku sendiri di sebuah Café langganan kita bertiga. Semburat kekecewaan terlintas pada ronanya yang kini membuatku berfikir ulang tentang kisah cinta yang tak terduga ini. “Di dalam hatiku sudah ada orang lain”. gumamku dalam hati, tapi ungkapan itu sia-sia. Yang dia tau hanyalah Dion yang rajin mengirim pesan singkat kepadaku dan bukan kepadanya.

Langkah kaki ini berhenti di depan bangunan yang setiap saat mengumandangkan suara indah, sejuk dan menenangkan jiwa. Bulan suci Ramadhan telah merubah semua keadaan ke jalan masing-masing. Vita lebih memilih berjalan diatas kesalahpamannya, Dion berjalan diatas kedamaian seorang santri. Dion sudah menjadi akhy, dia tak bisa lagi bersenda gurau dengan perempuan yang bukan muhrimnya. Sedangkan Aku berjalan diatas kegelisahan karena banyak orang yang meninggalkanku.
“Alhamdulillah aku bisa masuk Pesantren, terimakasih Dina dan Vita” Dion mengirim pesan singkat kepada kita berdua.

Dion telah menemukan jawaban, bahwa ilmu itu masih banyak dan perlu digali. Itulah semangatnya untuk memperdalam ilmu agama, seperti hal yang paling dia suka layaknya mendengarkan dakwah sehingga terlintas dalam benaknya bahwa dia ingin menjadi seperti mereka. Dengan do’a dan usaha, dia akhirnya lolos seleksi perekrutan santri di Mafaza (Masjid Fatimatus Zahra).

Diatas kegelisahan Aku mencari hal yang telah hilang, entah dimana keberadaannya. Aku tak pernah melihatnya disini. Apa mungkin dia sudah pergi? Lalu apa dia nggak kuliah? Pikirku seketika mendapati tempat itu yang selalu kosong olehnya. Masih tertata rapi diatas sajadah bercorak hijau dengan barisan shaff yang penuh, aku sejajar dengan lokasi itu dimana dia pernah sholat Tarawih dan mengumandangkan adzan. Dari balik tirai aku pertama kali melihatnya menjadi Bilal di Masjid. Subhananlloh … hati ini bergetar setiap kali mendengar lantunan ayat-ayatMu

Aku akan berpuasa satu bulan penuh, aku akan sholat lima waktu dan aku akan belajar mengaji

Kalimat itu terucap dengan sendirinya ketika aku mendengar suara yang telah menyejukkan hati dan jiwa seakan ada nadzar untuk melakukannya. Aku tersihir olehnya, tak ada tatapan dan tak ada berucap tapi aku merasa telah mengenalnya lebih dulu. Seperti sebuah motivator dalam bayang-bayang, dia tak tampak secara langsung tetapi selalu hadir dalam mimpi-mimpi semu. Hal yang sangat sulit dipercaya ketika aku harus mencari tau siapa pemilik suara itu.

Dion mengantarkan jiwa ini untuk mewujudkan apa yang dilakukan oleh motovatorku dalam mimpi, iya semuanya sama seakan sebuah takdir dan jalan menuju kebaikan. Dia menuntunku dalam menjalani setiap waktu di bulan yang berkah ini. Dengan pesan singkat dan tak singkat selalu disampaikan padaku.
Jangan lupa sahur, karena sahur itu hukumnya sunnah. Jadi dibulan Ramadhan ini perbanyaklah perkara yang dianjurkan untuk dilakukan. Pesan singkat ini dikirim setiap pukul 03.00 pagi dengan bahasa yang dikemasnya sendiri

Sebagai tindak lanjut dari titik bersambung di fajar tadi, setiap pukul 17.45 Dion mengirim pesan singkat lagi. Buka dengan makan kurma dan minuman yang manis, jangan menunda-nunda waktu makan buka kita, oke

Sedangkan pesan tak singkatnya, Dion menulis surat di secarik kertas F4 dan biasanya selalu penuh tinta baik ejaan Indonesia maupun Arab yang kemudian dititipkan kepada Ega teman pesantrennya yang kebetulan satu kelas denganku. Setiap tulisannya memberikan banyak pengaruh padaku, aku terbiasa dengan kegiatan yang dianjurkan oleh Dion. Seperti diluar dugaan hubungan ini tak ada persdebatan atau perselisihan, yang ada hanyalah pembelajaran selama puasa selayaknya kultum (kuliah tujuh menit). Aku membaca dan memahami makananya selama 7 menit.

Perbanyaklah membaca Al-Qur’an, selain sebagai penyejuk jiwa di bulan ini setiap huruf dalam Ayat-ayat dilipatgandakan menjadi 10 pahala

***

Aliran air kini setiap saat membasahi wajah Dina, yang diajarkan Dion selalu diterapkan. Butiran air terjatuh dari setiap bagian tubuh yang sengaja disiram sebagai pelengkap fardhu wudhu. Keistimewaan itu telah menghindarkannya dari beberapa dosa dan kotoran. Dina menjadi seorang Ukhty, dia kini menjaga jarak pergaulannya dengan yang bukan muhrim. Seperti langit dan bumi, perbedaan itu tak membuatnya ragu untuk melakukan tindakan yang dipandangnya baik.

Balutan kain hijab yang panjang dengan perpaduan warna gelap dan tak ditujukan menarik perhatian itu selalu dikenakan Dina. Dia terbungkus rapat dalam keyakinannya yang membangunkan dari angan-angan. Seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Adab berbicara, cara berpakaian dan berhubungan dengan insan  lainnya terlihat dijaga sangat savety. Bulan Ramadhan telah merangkul ke jalan yang sesuai kodratnya.

Aku ingin ta’aruf denganmu

Pesan singkat itu tertulis dari laki-laki yang membungkusnya. Deru airmata terjatuh dalam kebimbangan. Dadanya sesak menahan getaran yang tak dikehendakinya. Dina termenung dan membiarkan Hp tergeletak.

***

Malam yang indah dengan gemerlap warna-warni bintang menghiasi langit, ditambah alunan suara takbir menghidupkan dunia ini. Masjid berkumandang saling nyambung-menyambung, berjejeran alunan ayat-ayat nan indah, kini keberadaannya memberikan kedamaian di hari terakhir melakukan ibadah puasa. Sorak gembira terpancar dari wajah setiap manusia baik dari yang kecil hingga dewasa. Aku berteriak menghantarkan rasa damai yang pernah kudapatkan.

Hp Dina berdering tanda sms

Vita akan dijodohkan dengan Rahman, dia teman satu pesantren denganku. Ternyata kedua orang tua mereka sudah saling kenal dan dunia memang sempit

Pesan singkat dari Dion membuat Dina kebingungan. Perjodohan? Siapa Rahman? Selang beberapa menit dia mengirimkan foto Rahman dan Vita. Mereka dijejerkan dengan sengaja, seperti otak atik editan yang canggih. Terlihat sangat elegan dan menawan.

Dan ternyata Rahman sudah lama menyukai Vita, dan aku senang akhirnya mereka dipersatukan

Dina menatap tajam foto laki-laki itu sepertinya tidak asing baginya. Terkesiap untaian nadinya mulai runtuh, ingatan otaknya masih membekas sangat pekat. Dia terbata-bata menerima kenyataan bahwa Rahman adalah laki-laki pemilik suara itu yang tiba-tiba telah menghilang dari balik tirai. Buih-buih airmata mengalir sangat deras, tak disangka bahwa kisah ini akan menjadi kenangan pribadinya yang tersimpan rapi dalam balutan waktu yang terus berjalan.

Sekarang Aku percaya takdir

Komentar

share!