PENULIS YANG TERLUPAKAN




Karya:  Ishmaryam

“Daar, Lihat sini!” gadis yang dipanggil itu menoleh.
Klik!
“Iih, apaan sih, Ran!” bentaknya.
“Kenangan, Daar. Kan aku mau pergi, mana bisa aku nemuin orang kaya kamu di sana.” Rani melihat sekilas hasil jeperetannya lalu mematikan kameranya.


Aku memperhatikannya dari dekat. Ingin sekali kukatakan bahwa aku memperhatikannya dari jauh, tapi aku tak bisa berbohong. Aku dekat dengannya. Cukup dekat untuk selalu memperhatikan apa yang dilakukannya. Siapapun pasti berpikir agar aku menyerah saja. Melelahkan bukan? Memerhatikan seseorang yang bahkan ingat kau saja tidak. Tapi jika aku berhenti di sini, kisah ini tak akan berlanjut. Paling tidak, aku tak boleh menyerah hingga kisah ini selesai, kan?
***
“Ma, tadi di sekolah uni lihat Rahmat!”
“Hahaha, emang kenapa kalau uni lihat dia? Kan satu sekolah, wajar dong kalau  uni sering lihat dia..”
“Mama! Kan mama tahu, kalau uni..”
 “Iya, iya,  sekarang mending uni mandi dulu..”
Ah, tentu saja. Sekarang ia sudah pulang dari sekolah, bercerita pada mamanya tentang seorang lelaki dan kini bersiap mandi. Dia mau mandi? Oke, aku harus pergi. Sebagai info tambahan mengenai diriku, aku setia. Dan jika aku bilang aku setia, itu artinya aku benar-benar setia.
“Atuy, sini!”
“Hm, apa?”
“Sini..”  Anak 5 tahun yang sebenarnya bernama Fathur itu mendatanginya dengan wajah malas. Aku akan mengatakan apa yang sering orang-orang bilang, Anak zaman sekarang itu mainanya gadgeeet terus.
“Cium uni dulu!”
“Ck… gak mau!”
“Hhmm?” Ia menunjuk pipinya dengan wajah-kalau-kau-menolak-akan-ku-hukum.
Cup!
“Nah, gitu dong. Atuy sholeh kan?”
“Iya..”
“Udah dulu dong mainnya, main bola sama abang aja, yuk!”
“Okeww”
“Bang, Atuy mau main bola, tuh..”
“Ayo, sini, Tuy!”
Aku cemburu. Benar-benar cemburu.
***
Kali ini giliranku. Aku tidak seperti orang di atas yang memperhatikannya sejak lama. Aku baru memerhatikan orang itu sejak 28 Juli 2014. Awalnya aku tidak tertarik, di antara sekian banyak yang mendambakanku, mengapa aku harus mengistimewakannya? Tapi aku salah, dan kelak aku akan memberitahu letak kesalahanku.
“Daar, jangan pecicilan bisa gak, sih?”
“Hahaa, ini bukan pecicilan, ini menikmati hidup!”
“Yayaya, Nikmatin aja tuh..”
Brak!
“kulit pisang, hahaha!”
“Jahat Nay! Jahat banget kamu..”
“Kamu bilang jahat ke orang yang udah ngingatin kamu, Daar?”
“Bukan, aku bilang jahat ke orang ya udah ngetawain aku”
“Yah, mau gimanapun orang itu ada dalam satu raga, Daar! Terus mau sampai kapan     kamu nyium jalan kaya gitu?”
“Sampai ada pangeran berkuda yang datang”
“Ya udah, aku pergi dulu. Sampaikan salam aku ke pangeran kamu itu”
“Nay!”
Ia berdiri lalu mengejar Nayla, sebab selain ia tidak ingin ditinggal, waktu istirahat sebentar lagi habis. Pak Asep tak akan memaafkannya lagi jika ia terlambat.
***
Delusi adalah sejenis suatu keyakinan yang dipegang secara kuat namun tidak akurat, yang terus ada walaupun bukti menunjukkan hal tersebut tidak memiliki dasar dalam realitas. Dalam ilmu psikiatri, delusi diartikan sebagai kepercayaan yang bersifat patologis (hasil dari penyakit atau proses sakit) dan terjadi walaupun terdapat bukti yang berkebalikan. Sebagai penyakit, delusi berbeda dari kepercayaan yang berdasar pada informasi yang tidak lengkap atau salah, dogma, kebodohan, memori yang buruk, ilusi, atau efek lain dari persepsi. Delusi menyudutkan seseorang untuk melakukan tindakan yang mengacaukan situasi. Seseorang bertindak berdasarkan persepsi salah yang membuat kita membayangkan respons negatif dari orang lain, karena itu mungkin sekali orang tersebut justru mendapat reaksi seperti yang dibayangkan sehingga menguatkan rasa takut. Delusi adalah satu penyakit psikologi  yang paling terkenal. Penyakit jiwa.

“Daar, ikut dokter yuk!” lelaki muda dengan balutan jas putih yang elegan itu tersenyum padanya.
“Aku?”
“Siapa lagi?”
“Tapi aku mau main sama Santi dulu, dok!”
“Kan mainnya bisa dilanjutin nanti”
“Baiklah, dok” Ia mengikuti sang dokter yang mulai berjalan dengan tubuh tegapnya. Di sisinya, bergabung dua orang perawat cantik yang ramah.
Namanya Dokter Kurniawan, seorang dokter penyabar di rumah sakit terkenal di sana. Rumah Sakit Suprapto.  Rumah Sakit Jiwa Suprapto.
***
Pantai Panjang, kau mengetahuinya? Pantai indah itu letaknya di Bengkulu. Bengkulu adalah salah satu provinsi di Pulau Sumatra yang memiliki luas 151,7 km2. Di dalamnya terdapat 10 kabupaten dan 1 kota, kota itu bernama Bengkulu (juga).
Di sana, di jalan Hibrida gadis itu tinggal. Di sebuah rumah sederhana dengan taman kecil di depan dan di samping rumahnya juga 4 kamar tidur di dalamnya, jangan lupakan ruangan lain seperti dapur, kamar mandi, ruang keluarga dan ruang tamu. Tentu ia tidak tinggal sendiri, bersama kedua orangtuanya yang sebenarnya adalah perantau dariPadang juga 2 orang adik laki-lakinya, ia telah menghabiskan 16 tahun pertama dalam hidupnya.
***
“Assalamulaikum!”
“Waalaikumussalam” aku menoleh, ah temanku yang satu ini mengagetkanku.
“Sudah waktunya, ya..” aku bergumam pasrah.
“Yah, tapi Yang Maha Penyayang memberinya waktu”
“Alhamdulillah, Iz!”
“Iya, Alhamdulillah Raq. Aku masih ada tugas, aku pergi dulu. Wassalamulaikum!”
“Baiklah, Waalaikumussalam”
Temanku itu, namanya Izroil. Kau seharusnya tahu tugas apa yang ia maksud. Yap! Ia datang tiap duapuluh satu menit sekali untuk mencabut nyawa. Sekarang, apa kau tahu siapa aku? Aku yang selalu memerhatikan Daaren, aku yang tidak bisa berbohong, aku yang setia, dan aku yang selalu mencatat amal baik yang ia lakukan. Perkenalkan, namaku Raqib.

***
Raqib telah memperkenalkan diri, ya? Berarti sekarang giliranku. Assalamualaikum, aku Ramadhan. Aku menunggu kalian, anak-anak seumur Daaren yang merindukanku karena Tuhanku. Awalnya aku menganggap Daaren sama seperti anak lain, tapi aku salah. Tahun lalu, ia membuat perinduku bertambah. Rani namanya. Dan tahun ini, ia melakukannya lagi, menambah perinduku, Santi. Santi yang karena kekerasan yang dilakukan bibinya telah mengidap penyakit psikologi, delusi. Ia meyakini bahwa orangtuanya masih hidup dan selalu mengikutinya, mengajaknya bermain, memeluknya di kala malam. Padahal kenyataannya, mereka telah tiada.

“Daar! Terimakasih, Daar. Aku telah menerima semua kenyataan”
“Kau seharusnya berterimakasih pada dirimu, San”
“Yah, Apapun itu, terimakasih.”
***
Hai, namaku Daaren.
Ini Ramadhan yang luar biasa.
Kau tahu, kenapa?
Karena aku bisa banyak belajar dari seseorang,
Yang pada akhirnya menyampaikanku pada satu kesimpulan
Sebaik-baik dirimu, masih lebih baik orang lain, seburuk-buruk orang lain, masih lebih buruk dirimu.

Komentar

share!