Pena Merah



 Karya: Nurfaqih Ilham

H ari yang indah  nan sunyi untuk kembali bersamanya. Gumam Keyla dalam hati.
“Terserah, kalau kau mau pergi duluan silahkan saja.” Sambil menundukkan kepala, Keyla mengambil secarik kertas dari tasnya.

 
“Baiklah, jangan lupa menutup pintu kelasnya jika kau sudah selesai.” Tegas seorang ketua murid sambil menginjakkan kaki keluar. Sore itu semua murid sudah meninggalkan sekolah kecuali Keyla. Bahkan ia terkenal tidak mempunyai teman sama sekali di kelasnya. Mentari perlahan melambaikan tangan dan menutupi tubuhnya dari arah barat. Keyla masih asik menulis, entah apa yang ia tulis, tidak ada seorang pun yang tahu. Sesekali ia tersenyum, sesekali ia tertawa terbahak-bahak, seakan dunia Keyla berada di dalam secarik kertas itu.
Wajah dan sebagian ruangan sudah tertutup sisi gelap, namun Keyla masih asyik dengan dunianya dan tidak menghiraukan sekitar. Tidak ada orang lain, benar-benar sendiri. Penjaga sekolah yang hanya duduk manis di halaman belakang sekolah seolah tidak pernah tahu Keyla rutin menyendiri hingga petang. Biasanya Keyla baru akan pulang dan sadar jam sekarang ketika ia merasa lapar. Perutnya terus menepuk-nepuk seakan meminta semangkok mie instant atau nasi goreng yang biasa ia buat sendiri juga.
Hari itu berbeda. Tiba-tiba Keyla tersentak, ia terkejut akan suara langkah kaki yang berlari menuju ke arahnya. Keyla terus memandangi pintu kelas dan berharap bukan orang jahat yang akan memegang gagang pintu. Beberapa detik setelah langkah larian tersebut terdengar sangat-sangat jelas, keringat Keyla mulai berubah menjadi dingin. Tiba-tiba ruangan luas itu menjadi sesak, Keyla bisa mendengar setiap letupan jantungnya yang keras, setiap nafas yang tertarik temponya.
“Oh, ternyata kau lagi. Aku kira siapa.”
“Ya, buku ku ketinggalan. Padahal sudah jauh dari sini, terpaksa harus kembali.”
“Oh.”
“Oh? Kau sendiri masih di sini? Sedang apa? Ini sudah hampir malam, Keyla.” Ketua murid yang bernama Ihsan tersebut langsung menghampiri Keyla dengan tatapan penasaran dan melihat secarik kertas yang di pegang Keyla. Dengan sigap keyla memasukkan kertas tersebut.
“Tidak, aku hanya sedang belajar untuk ulangan besok.”
“Dengan selembar kertas? Apa yang kau tulis? Contekan?”
Keyla menggelengkan kepalanya. “Bukan, ini ... ”
“Ah jangan-jangan kau menulis surat cinta ya? Kau ini pendiam tapi agresif juga ya soal cinta, hehehe.” Ihsan terkekeh dengan senyumnya yang dipakasakan.
“Sebaiknya kau segera pergi dari sini, Ihsan.”
“Ada apa? Aku mengganggu kau menulis surat cintamu?” Tiba-tiba pintu dan jendela kelas terbuka dengan serentak dan keras. Tawa Ihsan seketika itu berhenti, entah kenapa kini Ihsan yang merasakan keringat dingin di pundak lehernya. “Ya sudah, aku lebih baik pulang sekarang. Selamat tinggal Keyla.” Dengan langkah tergesa-gesa Ihsan segera meninggalkan kelas. Di koridor Keyla bisa mendengar Ihsan berlari dengan kencang dan hentakan kaki yang keras.
*
Pagi yang tidak bersahabat, hujan turun seakan menuntun Ihsan kembali menutup tubuh dengan selimut. Tapi kewajiban sekolah hari ini seperti biasanya mendorong Ihsan beranjak dari tempat tidurnya. Sebenarnya untuk kembali ke sekolah Ihsan masih ragu. Terkadang peristiwa kemarin yang membuat tubuhnya gemetar tak bisa berbuat apa-apa selain berlari terlintas di kepala. Sebenarnya apa yang terjadi pada Keyla.
Saat tiba di sekolah, Ihsan dengan terkejutnya melihat mobil-mobil polisi dan ambulan parkir di lapangan. Awal ia berpikir sedang ada penyuluhan seperti biasanya. Namun ini aneh, sungguh aneh semua orang berlarian menuju ruangan kelas Ihsan dengan berteriak-teriak histeris sambil menangis. Tanpa pikir panjang Ihsan ikut berlari menuju kelasnya. Terlalu banyak orang, Ihsan memaksa masuk dengan tubuhnya yang besar ia sedikit mendorong orang agar bisa menerobos.
Apakah dunia sedang berhenti? Apa ini? Kenapa tiba-tiba sulit untuk bernafas?
Dengan wajah terpaku dan mata tak berkedip, tidak terasa Ihsan meneteskan air mata. Sosok Keyla beridiri melayang, lehernya terikat kuat tali tambang yang biasa disimpan di gudang belakang. Lidah Keyla terjulur, matanya menunjukkan kesedihan. Tangannya masih kuat menggenggam pena merah. Apa yang telah Keyla pikirkan? Kenapa ia bunuh diri? Kemarin itu dia ...
Ihsan langsung teringat kertas yang tiba-tiba Keyla sembunyikan saat Ihsan mendekat. Jangan-jangan ada surat penyesalan yang ia tulis atau pesan terakhir yang ingin ia sampaikan. Ihsan berlari ke arah bangku Keyla, tanpa memperdulikan mayat Keyla yang tergantung Ihsan membuka tas Keyla dan mengambil kertas. Semua orang panik dan kaget melihat tingkah laku Ihsan. Dapat! satu-satunya kertas yang ada di dalam tas. Tinta merah? Pena merah yang di genggam Keyla?
Pada awal  kalimat tertulis:
“Aku akan berikan apa saja, untuk siapa saja yang mau menjadi temanku.”
Ihsan tidak terlalu memperhatikan isi tulisan yang berada di percakapan. Namun terlihat seperti ada “balasan” pada tulisan Keyla. Setiap kalimat yang telah selesai Keyla tulis, di bawahnya ada tulisan dengan tinta merah yang lebih pekat dari tinta merah yang di pegang Keyla. Tulisan dari balasan tersebut juga tidaklah bagus, lebih buruk dari anak SD yang baru bisa menulis. Ihsan langsung terpaku pada akhir tulisan pada lembar kertas tersebut.
Pada akhir kalimat, terlihat tulisan Keyla:
“Baiklah, aku akan memenuhi janjiku. Aku akan menemanimu selamanya. Aku dan kau akan menjadi teman yang abadi, tidak ada yang bisa mengganggu ikatan ini. Sesuai yang aku tawarkan, aku akan berikan apa saja bagi yang mau menjadi temanku. Sekarang temanku menginginkan nyawaku, aku berikan.”
Bukan, ini bukan surat perpisahan Keyla pada kita atau surat penyesalan hidupnya. Jelas ini adalah obrolan yang berlangsung melalui tulisan tangan. Jelas Keyla sangat kesepian.Tapi siapa yang menulis balasannya? Atau mungkin, mahluk apa? Deritanya seakan hilang begitu saja, rasa terpojokkan oleh teman sekelasnya seakan hilang saat ia menulis obrolan ini. Kesepian! Kesendirian! Kini Keyla punya teman, ia bahkan bahagia dalam tulisannya, tapi kini ia yang membuat kita merasa takut.
Tidak ada yang pernah bisa lepas dari kejamnya kesendirian. Jika seorang manusia telah terjebak di dalamnya, maka harus ada yang menyelamatkan. Jika manusia saling menyayangi, maka mereka akan saling menyelamatkan. Jika mereka saling acuh tak acuh, banyak kemungkinan mahluk lain selain manusia, mahluk yang menginginkan kesengsaraan manusia, yang akan menyelamatkan orang dari kesendirian. Semua ini bukan hanya tentang kepekaan sosial, ini sebagai tanda. Mereka,  mereka yang sekarang sedang duduk bersamamu, entah sedang mengawasimu, entah sedang menggodamu melakukan hal buruk. Dimana ada kesendirian yang tak terselamatkan, mereka siap menerkam dengan lembut menghempaskanmu, bahkan membunuhmu.
***

Komentar

  1. merinding bro!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang bro! Mungkin merinding karena mantan lewat depan rumah!

      Hapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!