Oh Ternyata, Sungguh Tiada Kusangka




Karya:  Muhammad Syahrian Najah


Butiran keringat bercucuran deras dari dahi Adib. Dia merasakan hal yang sangat aneh dalam hidupnya. Seakan dia tidak pernah tahu dan melihat tempat yang sekarang kedua kakinya mencengkram dengan kuat. Udara malam terasa sangat dingin hingga menusuk tulang badan, tetapi dinginnya malam tidak dapat membendung keringat Adib dari pori-pori kulit tubuhnya. Bersama dengan derasnya tetesan keringat, air mata Adib pun ikut menetes jatuh dari sumbernya, mengalir lamban hingga melewati kedua pipinya. Tiada perasaan apa-apa, kecuali kepanikan yang dirasa tidak berujung. Betapa kagetnya dia, tiba-tiba sesosok wanita yang sangat mirip dengan Ibunya, berjalan dari arah depannya yang gelap gulita. Semakin dekat, ternyata benar wanita tersebut adalah Ibunya. Kini jarak antara Adib dengan ibunya hanya sekitar 2 meter saja. Adib semakin merasa panik dan bingung tidak menentu. Entah apa yang membuat Adib hanya bisa menatap dengan mata yang penuh air mata, dengan bibir yang menganga pada raut mukanya yang menandakan kebingungan, lidahnya pun seakan tidak dapat mengeluarkan satu huruf pun dari mulutnya. “Kenapa saya berada disini? Dan kenapa juga ibu menyusulku? Padahal, ini tempat yang sangat menyeramkan.” Hanya hati Adib yang mungkin bisa bertanya-tanya tanpa ada jawabannya. “Nak, Kenapa kamu menangis? Ayo kita pulang!” Suara ibunya yang memecahkan keheningan malam itu. Adib ingin menjawabnya, tetapi dia merasakan bahwa mulutnya telah bisu. “Adib, kok malah bengong? Ya sudah, Ibu pulang dulu ya.” Kembali ibunya mengajak Adib, tetapi mengangkat kaki untuk melangkah pun tidak bisa. Bak patung yang tiada guna. Langkah demi langkah ibunya semakin menjauh dari depan Adib. Mata Adib memejam, hatinya bingung tidak karuan. “Adiiib! Tolong ibu Dib!” Jeritan ibunya dengan sangat keras dan panik yang mengagetkan Adib. Mata Adib yang tadinya terpejam langsung membelalak dan menatap tajam ke arah ibunya. Ternyata ibunya dibekap oleh seorang lelaki bertubuh besar dan berpakaian hitam yang sepertinya akan membawa kabur ibunya. Dalam tatapannya, Adib melihat ibunya yang berbadan mungil tidak bisa melawan dan lepas dari dekapan lelaki itu. “Ibuuuu! Ibuuuu!” Hati Adib meronta-ronta tidak terima dengan semua ini. Adib berusaha berteriak dan mengejar ibunya. “Aaaaaaaaah! Hei! Jangan sakiti ibuku!” Akhirnya teriakan Adib dapat keluar dari mulutnya dan Adib terasa normal kembali. Langsung dia kejar lelaki tersebut. Secepat macan yang ingin menerkam mangsanya, Adib mengejar ibunya. Masih terlihat bayangan ibunya di depan Adib. “Duaaaaaaarrr! Duarrr!” Suara petir menyambar-nyambar seperti akan ada badai sebentar lagi. “ Hei! Tunggu! Jangan bawa ibuku! Paaaaaaaak! Tunggu Paaak!” Teriakan Adib kepada lelaki tersebut. Tetapi apa yang terjadi? Alangkah terkejutnya Adib, tiba-tiba ibunya menghilang bersama lelaki itu. Di depannya Hanya semak belukar dan pohon-pohon rindang. Tidak ada orang selain Adib seorang diri. “Ibu! Ibu dimana? Kemana larinya orang itu?” Teriakan dengan air mata Adib yang semakin deras. “Tidaaak!! Ibuuuuuuuu!” Seperti tidak percaya, Adib terus memanggil-manggil ibunya. “Adib! Adib!” Suara tersebut terdengar samar-samar di telinga Adib, dan suara itu seperti suara ibunya. “Adib! Adib!” Dengan panggilan tersebut Adib tersadar. Adib! Bangun! Sholat Dhuhur dulu.” Adib langsung tersadar dari tidurnya dan memang benar itu adalah suara ibunya dari luar pintu kamarnya. “Astaghfirullah, ternyata mimpi” Sepontan terucap dari mulut Adib. “Iya Bu, Adib sudah bangun.” Saut Adib kepada ibunya. “Kenapa aku bermimpi buruk sekali, ya Allah, Apa arti dari mimpi tadi?” Dalam hati Adib yang masih gundah perasaannya. Lekas-lekas Adib bangun dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi untuk berwudhu dan menunaikan sholat. Dia tidak bisa fokus dalam sholatnya, karena masih terpikirkan mimpinya itu. Dalam doanya selepas sholat Adib meminta kepada Allah samoga mimpinya tidak membawa pengaruh buruk untuk dia dan keluarganya.


Awan di langit dunia mulai berubah warna. Perpaduan dari putihnya dan cahaya mentari sore yang kemerahan menjadi pemandangan yang sangat elok dipandang. Lingkungan seolah telah tersenyum kepada penduduk Bumi yang menyayanginya. Karena sebelum langit siang pergi, langit menyuguhkan pemandangan yang tidak ternilai harganya. Sungguh ini adalah bukti keagungan yang sangat dahsyat dari Allah Ta’ala. Tetapi keindahan langit sore itu belum dapat membuat bibir Adib tersenyum. Matanya sedari tadi memandang bentangan langit yang dihiasi sang surya yang akan tenggelam terlahap padi yang bagaikan karpet hijau raksasa di belakang rumahnya. Mungkin nikmat itu dapat disakan oleh matanya, tetapi hatinya tetap gundah gulana. “Adib!” Suara itu memecahkan lamunannya. Ternyata itu adalah suara Dani, teman dekat yang selalu ada di sampingnya dalam keadaan apapun. “Ngapain kamu Dib?” Aku lihat kamu dari jendela rumahku kok bengong aja, sendirian lagi.” Ucap Dani memulai percakapan pada sore hari ini. “Kan sendirian, pastinya bengong aja lah.” Celetus Adib menjawab Dani. “Waduh, Cuek amat kau ini. Ada apa dengan kau?” Kata Dani sambil menepuk pundak Adib. “Ada pokoknya lah, aku belum bisa cerita Dan.” Adib yang mencoba tetap merahasiakan mimpinya dari Dani. “Ya sudah terserah kamu aja. Oh iya Dib, berangkat sekolah tanggal 3 Ramadhan ya?” Dani yang bersabar dengan keanehan tingkah Adib. “Iya, liburnya 5 hari berarti masuk tanggal 3 Ramadhan. Tidak terasa kita sudah kelas XII SMA ya Dan.” Adib memulai pembahasan baru dengan Dani. “Waktu memang terasa begitu cepat Dib. Rasanya baru kemarin kita masuk ke SMA, tetapi kini tidak genap setahun lagi kita lulus dari SMA 1 Pekalongan. Rasanya juga baru kemarin lebaran tiba, eh! Ternyata besok udah Ramadahan.” Ucap Dani seraya menikmati mentari di langit barat itu. “Apakah ada yang spesial buatmu pada Ramadhan kali ini Dan?” Pertanyaan Adib ini dirasa Dani seperti pertanyaan orang yang penuh penasaran karena tatapan Adib padanya tidak dapat berbohong. “Yaa, seperti biasa. Kita tidak pernah puasa, ndak pernah teraweh juga. Jadi ya seperti tidak bulan Ramadhan. Tidak ada yang sepsial sama sekali.” Jawab Dani tanpa ekspresi. “Oh gitu ya, ayok kita pulang! Matahari sudah terbenam.” Ajak Adib kepada sahabatnya itu. Setelah menghabiskan waktu sore bersama bentangan padi yang melahap keindahan mentari, mereka kembali ke rumah masing-masing.
Setiap Maghrib, seperti biasa Adib pergi ke masjid untuk sholat berjama’ah. Sebetulnya Adib merasa malas untuk pergi ke masjid, hanya dia takut dimarahi dan dihukum (biasanya disuruh membaca Al quran selama 4 jam) oleh abahnya yang sangat disiplin dalam urusan pendidikan dan peribadatan keluarganya, karena memang Abah Adib memang seorang Kyai besar di Pekalongan ini. Mungkin benar kata orang-orang yang sudah tahu sikap sehari-hari Adib, bahwa perbandingan Abah Mushtofa Ridlo (nama abah Adib) dan Adib adalah berbalik 180 derajat. Padahal Adib adalah putra satu-satunya Abah Musthofa. Adib seperti orang yang tidak tahu diri, bahwa dia sangat diharapkan keluarga dan masyarakat untuk menggantikan kiprah abahnya di dalam menuntun umat pada jalan yang benar. “Adib, baca Al quran!” Perintah abahnya selepas dari masjid. “Iya Bah.” Saut Adib penuh hormat. Memang Adib termasuk remaja yang nakal di desanya, tetapi dia sangat takut dan hormat kepada abahnya. Al quran yang telah dibaca Adib pun belum bisa merubah perasaan gelisah Adib tentang mimpinya tadi siang. Mungkin karena memang Adib belum bisa menyelami indahnya bacaan dan makna yang terkandung di dalam kitab suci ini. Akhirnya Adib memutuskan untuk pergi menemui pamannya (adik dari abahnya) yang rumahnya di samping kanan rumah Adib. Adib selalu curhat dengan pamannya ini:Paman Yusuf Ridlo, di kala masalah menimpa Adib. Terlihat Paman Yusuf sedang membaca kitab kuning di ruang tamunya. “Assalamu’alaikum Paman.” Sapaan Adib dengan sopan. “Wa’alaikumussalam, Bagaimana Dib? Ada apa?” Jawaban paman menyambut kedatangan Adib. “Saya lagi galau berat ini Paman.”  Ucap Adib dengan polos. “Hahaha, dasar anak muda ya sok galau-galauan segala.” Sautan paman yang menertawakan ungkapan Adib. “Paman! Beneran ini, serius banget.” Adib berlagak seperti kucing yang akan menerkam tikus dihadapannya dengan mata yang melotot. “Tenang aja Dib, awas lho matanya nanti keluar itu. Hehe, apa yang buat kamu galau? Cerita! Cerita!” Paman yang mencoba menenangkan Adib. Akhirnya Adib dengan runtut menceritakan mimpinya pada siang tadi yang terus menjadikan hati Adib tidak tenang. Setelah selesai mengungkapkan keganjalan hatinya kepada pamannya, sepontan Adib langsung bertanya pada pamannya, “Bagaimana paman? Apa maksud dari mimpiku tersebut?”. “Dib, Paman tidak akan menjelaskan makna mimpimu jika kamu tidak berubah dari sifat dan kebiasaan burukmu. Buat apa paman menjelaskan panjang lebar tetapi kamu tidak mau menuruti nasehat baik dari orang-orang yang menyayangimu? Maka jika kamu belum siap merubah kebiasaan burukmu dengan kebiasaan yang baik, paman tidak akan menerangkan mimpi burukmu itu. Kali ini paman serius dan tegas kepadamu Dib.” Respon paman dengan wajah yang serius. Hati Adib semakin bergejolak setelah dinasehati pamannya tersebut. Bagaikan tersambar petir yang sangat dahsyat, Kedua bibirnya tidak dapat mengeluarkan kata-kata. Hanya getaran sebab rasa takut yang menyelimuti jiwanya. Tertunduk dan tiada kata yang keluar, hanya air matanya yang mengalir di kedua pipinya yang melukiskan perasaan hatinya yang semakin sedih. “Kenapa malah menangis? Katanya kamu anak yang tangguh dan pemberani? Ya sudah, sebentar lagi masuk waktu isya’ siap-siap ke masjid. Jangan lupa, ini hari pertama Bulan Ramadhan, Kamu harus sholat Tarawih di masjid! Nanti sehabis jama’ah temuin paman lagi disini.” Ucapan paman Adib seraya mengelus-elus rambut Adib.
Langkah-langkah Adib terasa aneh sekali, karena sudah sangat lama dia tidak merasakan sholat tarawih. Dia selalu berbohong jika ditanya oleh abahnya mengenai sholat tarawih. Dengan tatapan ke bawah Adib menyusuri jalan menuju masjid. Seperti biasa, diantara rumahnya dengan masjid, terdapat pos ronda yang dijadikan Adib dan teman-temannya sebagai tempat tongkrongan. Tetapi, kini Adib tidak ada bersama mereka. Adib yang berpakaian rapid an berpeci putih, tidak percaya diri mencoba memberanikan diri melewati teman-temannya. “Hei Bos Adib! Mau kemana kamu?” Sapaan Indra, salah seorang teman dalam gengnya. Adib menghentikan langkahnya di depan mereka. “Masjid Ndra.” Dengan sedikit senyum Adib menjawab pertanyaan itu. “Ha? Ke masjid Bos? Mau ngapain emang?” Indra merespon jawaban Adib seperti tidak percaya. “Nonton Konser, pakai nanya lagi. Ya pasti mau jama’ah lah. Jalan dulu ya” Adib melanjutkan langkahnya ke masjid. Mereka masih heran dengan apa yang dilakukan oleh bos mereka, Adib. Adib yang terkenal dengan kenakalannya bahkan dia adalah ketua geng remaja nakal di desanya itu, kini berubah menjadi seorang yang alim dan tekun beribadah.
“Allahumma sholli ‘ala Muhammad. Yaa Robbi sholli ‘alaihi wa sallim.. Allahumma sholli ‘ala Muhammad.Yaa Robbi sholli ‘alaihi wa sallim.” Suara dari speaker masjid menandakan terawih telah selesai dan para jama’ah sedang bermushofahah (bersalam-salaman). Tiupan angin malam yang menjatuhka dedaunan tua ke permukaan Bumi ini terasa berbeda dirasakan oleh Adib. Damai, indah dan nyaman, mungkin pada malam ini, Adib mulai bisa merasakan keagungan dan keberkahan Bulan Suci Ramadhan. Termenung sendirian, rupanya Adib sudah stand by di depan rumah pamannya, menanti kepulangan paman dari masjid. “itu dia paman sudah kelihatan” Gumam Adib sambil berjalan menemui pamannya. Adib sudah tidak sabar ingin mendengarkan nasehat dari pamannya. “Paman, Adib benar-benar ingin berubah Paman.” Ucap Adib sambil mencium tangan pamannya. Pamannya tersenyum dan merankul Adib dan membawanya ke ruang tamu rumahnya (paman). “Dib, dengerin baik-baik ya. Simbah kamu, Simbah Kyai Ridlo Ahmad adalah seorang Kyai, seorang ulama’ besar di pekalongan ini. Bahkan sebagian ulama’ sepuh Pekalongan dan luar Pekalongan mengatakan bahwa simbahmu itu adalah salah seorang walinya Allah. Subhanallaah.. Simbah kamu itu adalah sosok ulama yang terkenal dengan sifat rendah hati, wira’i, dan sangat mengayomi masyarakatnya. Keilmuannya sungguh sangat luar bisa. Sebagian besar nasab keilmuan para ulama Pekalongan dan sekitar Pekalongan kembali kepada Mbah ridlo. Namun, beliau meminta agar setelah beliau wafat, pondoknya difakumkan dulu. Nanti kalau sudah ada yang meneruskan, pondoknya bisa dimakmurkan kembali. Bangunan besar itu (sambil menunjuk bangunan besar kuno yang masih tetap terawat yang terletak di samping rumah paman), itu adalah bekas bangunan pondok simbah dulu.” Penjelasan paman berhenti, matanya mengeluarkan air mata kesedihan. Kembali paman meneruskan penjelasannya kepada Adib. “Kamu harus berhenti dari sifat tercelamu Dib! Hiasilah dirimu dengan akhlak yang mulia! Tirulah akhlak simbah! Kamu bermimpi berada di tempat yang gelap dan tidak diketahui, berarti kamu telah berada dalam jalan yang gelap. Perilakumu tidak mencerminkan kebaikan yang timbul dari dirimu. Kamu tidak bisa apa-apa, berarti kamu terbelenggu oleh godaan setan dan kamu tidak bisa menguasai dirimu dan menjaga hatimu agar tetap bersih dan suci, Sehingga belenggu setan itu seakan mendekapmu untuk selalu berbuat jelek dan berada pada jalan yang gelap dan buruk. Tetapi kamu menangis. Berarti kamu sebetulnya tahu bahwa kebiasaanmu itu buruk. Kamu juga melihat ibumu, setelah ibumu dibawa kabur orang, kamu baru bisa bergerak dan mengejar ibumu. Hal itu bermakna bahwa kamu tidak berbakti kepada orang tuamu, terutama ibumu. Sehingga ketika kamu sudah sadar dan ingin menebus serta membahagiakan orang tuamu, bisa jadi hal yang kau lakukan itu sudah terlambat.” Air mata Adib langsung mengalir deras dan dia merasakan bahwa dirinya seperti kotoran kuku yang memperburuk kuku, berbau busuk dan tiada guna. Kemudian paman Adib masuk ke kamarnya, dan tidak lama paman kembali menemui Adib. “Ini Dib, Bacalah!” Paman menyerahkan secarik kertas kepada Adib. “Untuk anak-anakku dan keturunanku. Aku berwasiat kepada kalian. Jangan sekutukan Allah. Ta’atlah kepada Allah dan nabiyullah Muhammad. Jangan sampai terpecah belah. Jaga kerukunan diantara kalian. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh. Do’akan aku. Ziarahi kuburanku setiap Jumu’ah. Aku mengizinkan pondok ini dimakmurkan kembali setelah cucuku Muhammad Adib Musthofa sudah bisa mengasuh pondok ini. Dia nanti akan menjadi penerusku. Terimakasih. Semoga Allah mengampuni dosa kita. Untuk putra-putaku, dari Simbah Ridlo Ahmad.”. Adib diam dan terus meneteskan air mata. Dia merasa sangat berdosa kepada simbahnya. “Itulah sebabnya kenapa pondok simbah diberhentikan sementara. Surat itu diberikan oleh Mbah Ridlo pada abahmu sesaat sebelum kepulangan beliau keharibaan Allah Yang Maha Mematikan pada saat kamu baru umur setengah tahun. Nama Muhammad Adib adalah pemberian dari Mbah Ridlo. Adib bermakna orang yang mempunyai adab. Supaya kamu menjadi orang yang beradab di hadapan Allah, Rasulullah dan sesame makhluk Allah. Itu harapan dari Simbah, karena nama adalah sebagian do’a dari orang tua untuk anak atau keterunan tercintanya. Maka dari itu, rubahlah sifat burukmu dan berjalanlah di atas permukaan Bumi dengan menebar akhlak yang mulia dan manfaat kedada sesama makhluk. Sudah sekarang kamu harus bertobat nasuha. Minta ampun kepada Allah dan Berjanjilah untuktidak mengulangi hal-hal buruk yang telah kamu perbuat. Lakukan kebaikan dan bahagiakanlah orang tuamu sebelum mereka pergi meninggalkanmu. Ta’ati juga wasiat simbah. Sudah, sekarang kamu pulang ke rumah, minta maaf sama abah ibumu.”. Baik paman, aku sungguh tidak menyangka kalau aku adalah cucu simbah yang didambakan dan sangat diharapkan untuk meneruskan pondok beliau. Aku sungguh tidak mengira, sungguh tidak menyangka. Kenapa aku tidak sadar? Terimakasih paman. Adib mulai sekarang akan berusaha dengan sepenuh hati untuk berubah menjadi lebih baik. Ma’afkan segala kesalahan Adib paman. Sekali lagi terimaksih paman. Alhamdulillahi Robbil ‘Alamiin.” Saut Adib menutup percakapannya dengan pamannya. Kehadiran Ramadhan tahun ini adalah sebuah hidayah dan awal kehidupan yang lebih baik bagi Adib. Sekarang Adib menjadi pribadi yang rajin sholat puasa dan tidak pernah ketinggalan sholat tarawih yang sering disepelekan oleh kebanyakan remaja. Adib benar-benar merasakan keberkahan Bulan Suci Ramadhan. Oh, Indahnya Ramadhan.

Komentar

  1. Alurnya udah keren.. Tapi, Paragrfnya kepanjangan mas.. Capek bacanya. gak nyaman.

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!