Ngitung trip kapal, mudik ni?!!!




Karya:  Tenggut

Tubuh matahari enggan masih untuk membelakangi dengan tubuh bumi melihat aura dibelakang matahari seksama putih awan menebal yang seakan malu untuk menunjukkan merahnya. Laut pada masa itu nampaknya tidur lelap menggulung menuju bibir pantai sehingga perpaduan dua diantarany yang sangat dan kompak menarik mata memandangnya. Suasana jalanan mengadu riauh rentak raungan knlapot tanpa henti bersautan, terkadang dalam batas normal namun sedikit mendengingkan gendang telinga. Tumpuk menggantung menu yang di saji untuk melawan rasa rohani ketika menggiurka segala usia dihiasi sebagian bazaar dengan tatanan warna warna batu akik. 


Lama kelamaan kue itu semakin menyendiri dan berharap tidak hanya dilihat, dipegang, namun juga berada dalam daftar belanjaan para konsumen untuk disantap. Sepanjang jalan bergandeng menuju masjid agung Natuna yang berdiri megah dan tak habisnya makanan dan minuman di sisi jalanan aspal mengiringi aku, Jaya, dan Dandi. Seperti biasanya aku dan teman teman yang diragukan kewarasannya karena selalu menggila tiap pertemuan namun berkesan mengisi kekosongan disore hari sambil mencuci mata agar lupa dengan cacing yang manja meminta santapan.
“ yok, kita duduk di tangga depan masjid. “ ku coba mengajak mereka. “ ayoklah, ada cewek disana tiga orang bagi satu orang satu pun cukup. Hehhehe “ Zupera langsung mendapat titik bidik. “ puasa per, berkurang pahala tu, cukup dapat nomor Handphone nya aja, nanti malam baru beraksi “ saut Dandi sambil tertawa kecil. Seketika itu wanita idaman dadakan itu berhembus pergi dan pasti kekecewaan itu disesali. “ kan, kalian lambat. Kalau tak udah dapat orangnya “ Zupera mengeluh padaku dan Dandi. “ ya sudahlah, kapan kapan kan bisa, masih bisa kalau untuk diajak malam takbiran “ aku menenangkan sambil menaikkan alis.
Situasi dan kondisi yang terkadang menjadi tak terduga entah itu cobaan atau rezeki yang terlewatkan oleh kami.Sembari menanti serentak bedug ditabuh, kami sempatkan melihat manusia manusia seperti kami sedia kalanya mengisi kekosongan namun dengan gaya yang tampak tak berdoa. Satu persatu kata sindiran halus memanah orangorang yang aneh di mata kami. Aku sendri seakan bahagia begitupun Zuper dan Dandi. Seketika terbesit Tanya diucap bibirku.
“ per, kau lebaran mana ? “. Tanya ku memandang dia.
“ tak taulah, kayaknya pulang ke Batubi karena keluarga aku disana semua, kau Dan ? “
“ aku lebaran pertama di Ranai, tapi besoknya ke Sedanau mau lebaran ke tempat saudara, kau di Ranai ya Des ? “ Tanya Dandi penasran.
“ kayaknya iya, tapi kalau kalian tak lebaran di Ranai, siapa kawan aku nak lebaran ?”
“ tak usah lebaran, susah betul”
“ manalah enak kalau di rumah terus, memangnya kita tak punya salah “
“ biarin, wek.”
“ udahlah tak usah kelai, bentar lai udah mau buka puasa. Ayok pulang biar sampai rumah langsung makan.”
Menuruni tangga yang lebar tak tinggi dan jumlahnya yang tak begitu banyak tapi mampu menggungcang seisi perut karena efek lapar melanda. Mulai menghidupkan motor seraya memandangi sekitar area masjid agung Natuna terlihat lascar lascar muda bergaya dan bertanya kapan mereka akan pulang atau menjadi penjaga masjid. Sudah terbayang terlebih dahulu menu dirumah yang nanti lahap dihabiskan membalas dendam seharian. Kembali melewati jalan yang sama seperti awalnyaterlihat semakin berbaris baris kendaran dijalanan maupun tepian jalan yang memenuhi bazar-bazar tatkala terburu buru mengejar waktu sebelum bedug bunyi bersuara pada waktunya.
Berhenti sejenak menunggu dipersimpangan warna itu berubah ke posisi paling bawah. Nampak menoleh kebalajang cukup panjang pengantri yang patuh hanya pada rambu ramu. Tetap bergandengan tanpa perduli siapa pun asalkan saja kami masih bisa berbicara riang daripada hanya menghabiskan minyak kendaraan.
Tak lama berselang, ketika ban motor berhenti berputar, sudah tersusun rapi mangkok-mangkok, air seduh dan dingin, kurma, dan masih banyak lagi menu di akhir waktu puasa yang telah menginjak umur pertengahan ramadhan.
Terlihat wanita bergaris sedikit kerput dengan baju dasternya yang biasa ku panggil mak mempersiapkan nasi dan kue kue.Sedangkan di tengah pandanganku yang duduk diatas kursi panjang dengan kacamata minusnya bertubuh subur mulai bergosip tentang sesuatu yang tak ku pahami tapi kurasa itu gosipnya lelaki. Terkadang terlihat tertawa besar sampai Nampak gigi yang kuning mujur tak diikuti bau mulut serupa.
“ tri, buka radio dengar udah ngaji atau belum “ mak memanggilku dengan lembut.
“ iya mak. Haaa.. udah ngaji mak “
“ panggil apak, bilang udah ngaji nanti telat “
“ pak, dah mau buka, tu radionya udah ngaji “
“ sejak kapan radio ngaji ? “
Duk…duk….duk….dukkk.. bedug memulai memimpin tuk mengucap rasa syukur pada allah swt atas limpahan rahmatNya. Lantuna doa terdengar dari mulut apak dan mak yang terlihat kering tak bedanya sama diriku juga. Menikmati masakan itu memang nikmat dengan perlahan dan tepat sasaran. Lahap dan terus menggoda menari untuk diambil. Cacing memeberi isyarat mengetuk dinding perutku yang nampaknya sudah dipenuhi campuran rasa dan gumpalan. Untung saja aku sadar ini namanya kekenyangan yang membuat aku berpindah ke ruang tengah duduk tersandar lemah tepatnya di depan TV menunggu semua dicerna dan menutup kekenyangan ini.
Tak lama berselang apak dan mak yang kuanggap menemani ku saat itu juga ikut menikmati hiburan siaran TV. Aku mulai bertanya perihal masalah mudik yang kami bicarakan di masjid agung Natuna.
“ mak, kita lebaran dimana ?”
“ tak taulah, gelombang besar lagipun lama kalau menuggu di Serasan.”
“ memang kapal bukit raya kapan mak ?”
“tanggall 11 ini, tanggal 18 pun ada tapi pas hari lebaran.”
“ kenapa, mau pulang ?”
“ iya, soalnya kawan-kawan tak ada disini “
“ mak apak kan lebaran sini. “terdengar nada yang terhentak.
Terdiam ku sejenak seperti ucapku tadi bermajna tak penting hadirnya orang tua di lebaran nanti. Percakapan itu berbuah pikiran yang membebani ku dengan trip kapal yang tidak pas dengan keinginan manapula hasrat pulang kampung sangat terasa. Tetapi kakak dari mak yang biasa kupanggil makcik pulang sekeluarga, begitupun kakak sepupuku dan mirisnya satu deret rumah kontrakanku akan sepi mati. Melihat mak yang masih merajuk bros jilbab di tempat yang sama saat itu pun aku mencoba membuka babak baru.
“ makcik pulang mak ?“
“ pulang sekeluarga. “
“ alung ulan pulangsekeluarga juga mak ?”
“ iya.”
“ sepi lah mak lebaran sini jadinya .”
“ kalau nak pulang, pulanglah tanggal 18 ini tapi tak bisa lebaran sama mak apak dan kakak kakak. Orang tua disini anaknya jauh nun disana.biarlah keluarga orang disana. Keluarga kita disini “
“oh, iyalah mak “ hanya singkat dan mengangguk kan kepala. “
Jam tak mentolerir sedikit pun tuk lebih lambat berjalan. Waktu isya dan tarawih semakin dekat mengundangku menghadiri sidang sholat itu. Bersiap dan berangkat.
Ibadah sudah ditunaikan, tapi masih melekat perihal mudik ke kampung halaman. Ketika lampu-lampu kendaraan menyilaukan muka ku tak sedikit pun ku hiraukan dan kuanggap lampu diatas kapal serta angin yang melawan arah sebagai angin laut. Sesampainya dirumah terlihat apak dan mak menghubungi makyong yang di Serasaan. Ah, semakin hasrat mempengaruhi. Langsung aku naik ke atas untuk menikmati mimpi harapan.
Pukul tiga dini hari, bunyi bel yang keras mengejutkan ku yang memaksa untuk bangun secepatnya menuju ke bawah, kembali menyantapi lauk-pauk yang sama pada hari semalam. Nikmat memang, namun mata tak henti membelai pikiran tuk tidur kembali. Masih kuat menahan mata ini memandang piring ku. Setelah habis kembali ke kasur barcelona ku.
Subuh telah berlalu, pagi menjelang siang bersama jam pukul sembilan membuka lentera mata ku menatap heran sudah siang atau sore. Ternyata jauh pada harapan. Apak yang disiplin ternyata sedikti lemas dan agak siang berangkat ke kantor karena masih bersiap-siap. Mak yang sudah berkarya di dapur dengan daster orangenya lambut namun perkasa. Hanya aku disini mereasa lemah dan bangun mandi secepatnya.
Segar, lagi menanti siang membantu mak memotong bawang, menumbuk bumbu dengan lesung batu tua karena mungkin hanya itu yang kelihatan mudah. Aku saja tak lama terasa lemah dengan melakukan hal ini, tapi dibandingkan selama ini mak memang perempuan yana g perkasa. Aku belum puas dengan dialog semalam. Sebelumnya aku mencoba lagi menghitung trip kapl dan macam pertimmbangan menghadapi mudik. Kapan berangkat, kapan pulang, cuasca, kegiatan disana, fipikir memang hal yang biasa untuk diriku saja tetap sanggup tapi aku hidup tidak untuk menjadi orang yang egois.
“ mak, kalau bernagkat nanti kapan pulang k Ranai mak ?”
“ seminggu habis lebaran, Tri kan mau berangkat ke Jakarta untukkuliah, nanti susah mau mengurus ini itu lagi.”
“ iya, maksudnya kan lebaran terakhir sama sanak saudara mak. “
“ memangnya tak mau pulang ke Ranai lagi, ketemu orang tua. Udah bisa hidup sendiri disana ?!! “
“ mau, tapikan ?”
“ kalau mau pergi yasudah, tapi mau ke Jakarta tanggung sendiri biayanya, apak sam mak hanya terima kabar dari Tri aja itupun kalau mau. “
Seperti di skak mat, terhenti kerjaku dan murung wajahku tak bernai memandang mata mak. Seiring waktu berjalan, selesai pula kerja di dapur keramik orange ini. Seketika datang pada hari yang mulai redup mobil berplat merah pertandfa apak pulang dari kantor. Aku pun masuk tak ingin menghalangi di pintu masuk dan aku terbaring menikmati siaran tv. Tiba-tiba.
“Tri mau pulang ke Serasan ?”
‘ iya, tau pula apak ya.”
“ mak yang bilang sama apak tadi malam “
“ oh, mak marah nampaknya pak.”
“ apak tak bisa pulang, soalnya besok belum libur lagi pula lama apak bolos ke kantor.”
“ iyalah pak, tak apa “
“ pikirlah baik-baik, kan mau kuliah, hematlah duit. Payah untuk berangkat nanti. Kapal memang ada besok, tapi tak akan tekejar lagi. Ni sebagai gantinya, THR .”
“ ha .. terimakasih pak, tak apalah tak jadi berangkat yang penting THR dapat. Hehhe…”
“ iya, apak mau istirahat dulu. “
Suasana hati serasa berada pada level tertinggi. Mungkin jika orang melihat akan tingkha laku dan ucapku mereka katakan murah sekali ternyata. Jawabannya karena orang tua tau apa yang diinginkan anaknya.
Trip kapal itu seakan terserah kemana dan cukup dengarkan saja keseruan mereka di kampung halaman sana. Hampir kulupa mengabarkan perihal penting ini pada seseorang.
“ mak, tri tak jadi pulang kampung, udah ada THR dari apak “
“ ya syukurlah kalau Tri mengerti senang hati mak.”
“ iya mak, demi Kamaruddin dan Erna suharni sekeluarga, hehehe “
“iyalah nak.. “ tersenym bahagia mak.
Hati mak tampak sangat senang, apalagi aku sendiri yang telah dicerahkan pikiran ku bukan karena THR tapi bisa membuat mak tersenyum menuju hari raya besok. Mudik memang menjadi kebiasaan yang dianggap tradisi di setiap daerah dan memiliki keunikan tersendiri. Aku serasa ingin berpartisipasi dalam tradisi islam itu, tapi lebih baik disini. Tanpa diduga sang khalik menyutradarai teater ramadhan ini penuh kejutan.
Sungguh ketika malam berganti shift dengan petang mulai lari dari titik peraduannya membuat ‘sarapan pagi ‘ di puasa terakhir menyimpan kenangan apalagi takbir bedug sudah dilantunkan. Tibalah malam kegembiraan pereayaan megah dan saut-sautan takbir dari masing-masing mobil hias yang mengiringi pawai takbir di Ranai. Tapi malam itu lebih tak dikira teman-teman memberi kejutan yang menggila. Juhendar, Aser, dan Ilyas ada dihadapan ku bersama Dandi dan Zupera. Lebaran ini nikmat illahi. Mudik menghitung trip kapal pamit tak bersalaman.

Komentar

share!