Nafas Nawaitu




Karya:  Dinda Nazlia Reeswind


Puasa adalah momentum untuk berkumpul bersama keluarga. Banyak daftar rencana yang telah saya rancang jauh-jauh hari untuk diwujudkan di puasa Ramadhan tahun ini, 1436 H. Salah satunya adalah mempersiapkan diri baik secara fisik maupun mental. Tidak ada yang istimewa memang, tapi sederhananya saya sangat bersyukur atas KuasaNya yang masih mengizinkan saya bernafas hingga detik-detik puasa tiba. Saya tahu dan saya paham, pengetahuan agama saya boleh jadi masih minim di usia saya yang 19 tahun ini. Namun saya bertekad penuh untuk mempertebal iman saya yang masih tipis ini dengan meningkatkan frekuensi mempelajari secara intensif apa makna Al Qur’an sesungguhnya, berinfaq, dan mengerjakan yang sunnah seperti yang dianjurkan dalam Al Qur’an maupun hadits yaitu sholat sunnah. Mama berulangkali mengingatkan saya untuk mengonsumsi susu demi kesehatan saya, namun itulah yang sering saya abaikan. Ibu adalah sosok yang lembut, perhatian, kasih-sayang, dan selalu mendengarkan keluh-kesah kami. Lalu ayah, bisa saya gambarkan sebagai sosok yang keras, dingin, tidak banyak bicara, dan tegas. Barangkali karena sifat ayah saya yang seperti itu mengakibatkan kami, anak-anaknya segan dan sedikit enggan untuk mengeluarkan uneg-uneg kepada ayah layaknya hal yang sama kepada ibu, paling tidak kami hanya berbicara seperlunya saja. Begitupun, kami sangat sayang dan menghormati kedua orang-tua kami.
Puasa tahun ini bertepatan dengan uas saya sekaligus tahun pertama saya sebagai mahasiswa. Saya sangat sibuk menjelang uas karena terlalu banyak yang harus saya urus, bermacam kegiatan hingga pulang kerumah sering telat dan larut. Ini dikarenakan jarak rumah saya ke kampus hampir menempuh kurang-lebih 20km untuk sekali jalan dan saya mengendarai sepeda motor. Dan karena sudah sangat lelah pulang kerumah, hal pertama yang saya lakukan ketika sampai di rumah umumnya adalah mandi dan pergi tidur. Ini sering saya lakukan sehingga minim komunikasi yang terjalin antara saya-ibu-ayah-kakak-adik. Saya tidak bisa melupakan tanggal itu, 14 Juni badan saya meriang pertanda demam di rumah dan ibu sangat menyarankan saya untuk segera mengonsumsi obat, namun saya menolak dengan alasan saya sedang tidak butuh obat dan hanya menginginkan istirahat. Ibu hanya diam dan mengatakan terserah pada saya sambil berlalu meninggalkan saya di sofa. Dari nada bicaranya saya tahu beliau kesal terhadap saya, tapi yang lebih penting saat ini saya hanya ingin tidur dan berharap setelah bangun, bisa sembuh. Sebab besok, 15 Juni saya masih ada jadwal kuliah. Itulah yang saya yakini. Saya masih terkulai lemas namun saya tetap memaksakan diri untuk menghadiri jadwal kelas yaitu : pukul 08.15-10.00, 12.30-14.30, & 14.30-16.00. Sehabis kuliah, pukul 4 sore tepatnya, saya dijadwalkan untuk menghadiri suatu agenda rapat kemahasiswaan lalu dilanjutkan diskusi kelompok dengan teman sekelas, dan pulang. Dan kita tahu, rapat & diskusi sudah sudah bisa dibayangkan akan menguras energi, dan memakan durasi yang lama. Namun siapa tahu, kita boleh berhajat, namun Allah Swt yang akan menentukan. Rencana tinggalah rencana.


Pada saat proses perkuliahan masih berlangsung, saya tiba-tiba mengeluh kedinginan sekali padahal cuaca cukup gerah sepagi itu, saya juga mengeluhkan sakit yang teramat dalam di lambung, merasakan mual dan ingin muntah, dan pitam dengan seorang sahabat di samping saya bernama Wati. Lalu Wati bertanya kepada teman-teman sekitar mencari minyak angin untuk saya dan hal itu menimbulkan sedikit menimbulkan kegaduhan karena ia berbicara saat dosen tengah menjelaskan. Ia pun ditegur. Saya menjadi tidak enak hati dan tetap berusaha menahan rasa sakit itu sambil meringis kesakitan dan berharap kuliah ini segera disudahi. Namun apa daya, pelajaran tetap berlanjut meski waktu sudah berakhir disebabkan adanya materi yang belum diterangkan. Lengkaplah sudah penderitaan saya. Lalu setelah kuliah jam pertama berakhir, sembari menunggu kelas kedua yang akan dimulai 2 jam lagi, saya diajak ke kosan teman sekitar kampus untuk beristirahat sejenak setelah itu kembali lagi ke kampus melanjutkan sisa-sisa perkuliahan.
Sesampainya di kampus, saya merasakan kembali rasa tidak enak badan seperti demam, batuk, mual dan ingin muntah, serta lidah terasa asam. Seorang teman yang duduk di belakang saya menyentuh pundak saya sembari mengatakan saya sedikit terlihat “kacau” dan menanyakan ada apa pada saya. Karena saya sudah terlalu lemah dan sulit untuk menceritakan panjang lebar apa yang saya rasakan, saya hanya bisa tersenyum dan mengatakan baik-baik saja dengan suara lirih. Ia pun tampak tak percaya. Saya ingin pulang saja sehabis kelas ini dan tak ingin melanjutkan kelas berikutnya, namun mengingat saya ada janji untuk rapat dan diskusi kelompok, niat untuk pulang itu saya urungkan. Saya paksakan kondisi saya untuk tetap menghadiri kelas sesi terakhir tersebut. Namun, siapa yang bisa menolak KuasaNya? Badan saya semakin mengginggil pertanda raga sudah tak mampu menahan lagi. Teman menyarankan saya untuk pulang saja namun saya berusaha bertahan. Teman-teman terus mendesak saya untuk pulang karena kasihan melihat kondisi saya. Saya yang sedikit ngeyel inipun akhirnya pulang. Lalu, seperti diilhami Allah Swt, entah mengapa saya tak langsung memutuskan untuk pulang, saya singgah ke tempat kerja ayah saya yang tak jauh dari tempat kuliah saya.
Kedatangan saya disambut dengan hangat sekaligus keterkejutannya. Lalu saya terkulai lemas di sofa kerja ayah saya dan meletakkan kunci sepeda motor saya secara asal. Setelah itu, saya benar-benar tak sadarkan diri hingga ayah membangunkan saya untuk pulang. Sebelum pulang, saya sempat muntah-muntah dan ayah menyuruh seorang pekerja disitu untuk membuatkan saya air hangat. Setelah minum, saya merasa agak lebih baik dan diajak pulang bareng ayah saya, sebab sepeda motor saya ditinggal di tempat kerja. Di jalan, ayah seperti orang lama tak berbicara dengan saya. Ia terus bercerita sementara saya hanya mengangguk-angguk ringan pertanda (seolah-olah) mengerti arah pembicaraan. Lalu ada satu pertanyaan ayah yang menghentak saya, “Kan sudah berapa kali ayah bilang kesehatan itu penting. Trus kalau gak sehat, kuliah jadinya gimana, kuliah untuk siapa?”. Saya tidak (bisa) menjawab pertanyaan itu. Dalam hati saya berpikir, mungkin saya terlalu sibuk sehingga lupa apa itu kesehatan.
Dalam hati saya menangis. Saya masih punya keluarga yang mengkhawatirkan saya. Saat tiba dirumah, ibu menyambut saya dengan raut wajah sedih dan menyuruh saya untuk langsung beristirahat. Dalam kamar, saya merenung dan menangis. Ya Allah.. apa yang ingin Engkau tunjukkan ke hamba di Ramadhan ini? Apa artinya semua ini? Saya peluk bantal dengan rasa haru. Terbayang apa-apa saja yang sudah terjadi hari ini dan dalam hati berucap, “Ya Allah.. mungkin ini teguran dari Engkau, tapi mengapa disaat semua rencana Ramadhan hamba telah tersusun Engkau melemahkan hamba..”. Lalu saya seperti antara setengah sadar – setengah bermimpi, saya melihat jelas apa yang sudah saya lakukan dan hikmahnya. Saya lalaikan sholat, saya abaikan orang-tua. Mungkin dengan sakit ini, Allah ingin mendekatkan hamba dengan kedua orang tua hamba yang sangat peduli dengan hamba. Mengisyaratkan untuk berkumpul bersama.
Saya menghela nafas panjang dan membuka mata. Merasa, inilah titik balik kehidupan saya. Sepintas saya teringat peristiwa setahun silam menjelang Ramadhan seperti saat ini ketika saya masih duduk di bangku SMA. Pada masa itu, saya sedang memiliki hubungan dan komunikasi yang cukup buruk dengan ayah saya. Dan seperti masalah tak ada habisnya, saya terkena fitnah yang dibuat oleh seorang teman yang dengki kepada saya, sebab saya baru saja menyabet suatu gelar kejuaraan. Mungkin ia merasa saya adalah rivalnya dimana saya tak pernah berpikir dia adalah saingan dan seorang musuh yang saya harus singkirkan. Ia menyebarkan berita kebohongan tersebut dan mencari simpati teman-teman agar mendapat dukungan sehingga menciptakan konflik antara saya dan teman-teman yang lain. Semasa SMA, saya diantar dan dijemput oleh ayah saya walau kami pada saat itu saling tak bertegur sapa. Berat sekali beban yang saya tanggung sendirian ini sehingga saya memutuskan untuk menceritakannya pada mama saya. Mama menyuruh saya bertawakal walau pada awalnya beliau sempat ngomel-ngomel ciri khas ibu-ibu pada umumnya. Saya tumpahkan semua isi hati saya pada ibu saya.
Besoknya selepas mengantar saya, ayah tidak langsung tancap gas. Ia menyereput rokok lalu mengehembuskan ke udara dan menahan saya sebentar. Saya masih ingat betul apa yang ayah ucapkan “Kau pasti paham, semakin pohon itu tumbuh akan semakin kencang angin berhembus menggoyahkan pohon itu. Kau tahu, akarlah yang bekerja melindungi pohon agar tidak rubuh. Kau tahu, ayah akan selalu mendukungmu. Ayah sama sekali gak percaya fitnah keji itu” Ujarnya singkat. Secepatnya ia pergi meninggalkan saya sebelum saya sempat membalas ucapan tersebut. Jujur, saya sangat terharu mendengar ucapan ayah saya. Hati saya luruh. Dikelas ketika masih sepi, saya menangis. Saya tidak menyangka, walau tampak dingin, ternyata ayah masih tahu cerita saya. Disitu hubungan saya-ayah mencair. Ada makna tersirat dari apa yang dikatakan ayah. Akar yang ia maksud adalah agama. Kuatkanlah agamamu. Persis seperti itulah yang ayah inginkan dari saya.
Ibu datang menmbuyarkan lamunan saya. Dan menyuruh saya meminum obat yang ia bawa tanpa saya minta. Hati saya pun uluh untuk meminumnya. Benar-benarlah surga di telapak kaki ibu. Begitu mulianya. Keesokan hari-harinya saya tidak kuliah karena dibawa ibu saya berobat ke dokter. Dokter memvonis saya sakit lambung, demam tinggi, dan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas). Dokter melanjutkan, jika saya tidak sembuh dalam tempo seminggu kemungkinan besar ada penyakit lain. Saya berdoa dalam hati, Ya Allah begitu besar cobaan yang Engkau berikan.. Dokter tidak mengizinkan saya berpuasa sampai saya benar-benar sembuh total. Setelah sembuh, harus pemulihan. Dan dengan berat hati, saya harus melewatkan beberapa undangan buka puasa bersama untuk tahun ini. Ibu menyabarkan saya dan sesampai dirumah ibu menyuap saya makan, persis saya seperti seorang balita. Dan saya tidak berpuasa ketika UAS yang diadakan bertepatan dengan puasa Ramadhan tahun ini. Saya benar-benar cemburu melihat teman saya yang mampu berpuasa sambil merencanakan buka puasa bersama. Saya hanya diam. Malu. Ah saya tidak boleh benci. Esoknya, saya protes kepada ibu saya. Saya ingin ikut berpuasa. Lalu ibu menghela nafas dan mengatakan secara sederhana, “Harus kau niatkan dalam hati, Dinda”. Dan ajaibnya, saya mampu berpuasa.
Itu sebabnya saya mengatakan Nafas Nawaitu. Helaan nafas ibu saya juga harus diiringi nawaitu (niat) saya agar kuat berpuasa. Saya mengikuti tarawih dengan ibu saya dan mendengar ceramah singkat seolah-olah menyindir saya. Ustadz itu berkata “Jika sudah niat yang tertanam, Insya Allah, semua lancar bapak ibu, adik-adik ustadz sekalian.. Penyakitpun bisa lewat..” banyak makna Ramadhan saya kali ini. Begitupun, saya tetap sangat bersykur kepada Allah SWT atas segala keridhoanNya, keberkahanNya, serta hikmah yang diajarkan.

Komentar

share!