Munggah




Karya:   RENDY PRIBADI

Sabtu itu aku dan kawan-kawan hendak pergi ke sebuah pasar tradisional di Cikarang. Menggenggam uang lima puluh ribu rupiah, aku bersama seorang teman yakni Hirsul yang masih mengenakan baju SMA kala itu. Tujuannya tak lain adalah membeli bahan-bahan dan bumbu-bumbu untuk munggah. 


“Sul, masih puasa kan?” Tanyaku dengan senyum sungging.
Ia berkata sambil menutup bagian atas rambutnya dengan tangannya untuk menghalau sinar matahari ke wajahnya.
“Masih, tapi kalau panas-panas naik motor gini, bisa jebol juga.”
Sampai di pasar sudah bisa ditebak, pembeli datang silih berganti. Tidak ada tempat sedikitpun untuk berhenti melihat-lihat barang dagangan yang di jajakkan. Hingga aku berhenti untuk memarkir motor.
“Segini panasnya, kira-kira apa yah yang dicari orang-orang di pasar?”. Celetuk Hirsul.
“Jam segini mungkin sama seperti kita, mencari bahan untuk munggah nanti.” Jawabku sambil terus berjalan mencari bahan-bahan untuk diolah menjadi masakan nantinya.
Di tengah perjalanan, sambil melihat kembali catatan belanja yang telah kubuat, seorang tua tengah menawarkan dagangannya padaku. Apa yang ditawarkannya adalah sebuah timun suri dan beragam buah lainnya yang berwarna hijau kekuning-kuningan. Tanpa banyak tanya lagi, aku kemudian memegang dan mencium aroma timun suri yang sudah masak, harum memang.
“Silakan den, timun surinya.” pak tua itu sambil menunjukkan beberapa timun suri di tangannya.
“Timun suri berapaan pak harganya?” Tanyaku.
“Lima ribuan, den .” Jawab seorang lelaki tua yang mungkin sekitar berumur enam puluhan dilihat dari rambut yang memutih dan keriput di wajahnya
 “Yang ini pak dan satu lagi yang sudah terkelupas kulitnya.” Sambil mengeluarkan uang dua puluh ribu rupiah, aku mencium wangi yang sangat harum. Lebih harum dari timun suri yang telah kutemui.
“ini Den timunnya. Ini kembaliannya.” Bapak tua itu memberikan dua timun suri dalam kantung hitamnya.
“Kembaliannya ambil aja, pak!”
“Oh..terima kasih banyak, Den.” Jawab lelaki tua itu sambil meremas uang sepuluh ribu untuk membayar kembalian timun suri.
Setelah selesai membayar, aroma wangi timun suri pun timbul lagi. Kali ini lebih wangi dari yang lalu. Aroma yang sungguh segar di hidung, buah yang satu ini memang punya karakter yang khas dalam hal aroma. Tidak berlebih jika sebagian orang menyebutnya buah berkah yang ada saat puasa tiba. Kulihat sekeliling tempat ia berjualan dan kutandai agar tidak sulit untuk mencarinya nanti.
Kuhampiri Hirsul sedang berdiri memilih kolang-kaling dan agar hitam yang letaknya berseberangan dengan penjual timun suri. Ia tidak membeli, hanya melihat-lihat.
“Sul, ayo kita cari bahan yang lainnya lagi!”
“Kamu sudah beli berapa bahan?” tanya Hirsul.
“Baru timun suri saja. Maka dari itu kita cari lagi di tempat lainnya.”
Aku pun beranjak dari tempat itu menuju ke dalam pasar. Tapi mataku tak bisa berhenti melihat pak tua itu dari kejauhan yang sedang duduk sambil merapihkan beberapa timun surinya. Berapa lama ia berjualan, apa yang ia lakukan setelah berjualan dan mengapa timunsurinya begitu harum menjadi pertanyaan setiap ku melihat timun suri kekuningan di dalam kantung plastik hitam.
Sampai tiba di rumah akhirnya. Bahan untuk munggah sudah ada di dapur. Menjelang Zhuhur , ibu yang sudah menyiapkan beberapa bumbu di dapur, lantas langsung menyuruhku mengupas beberapa kentang dan timun suri.
“Bu, tadi aku menemui kejadian yang aneh. Ada penjual timun suri yang wangi timun surinya ke mana-mana.”
“Ah…kamu mungkin sedang lapar.” Jawab ibu dengan sedikit menyindir.
“Tidak bu, semuanya serba wangi timun suri saat aku datang ke tempat seorang bapak tua ,tempat menjual timun suri itu.”
“Kalau memang betul ya wajar saja karena ia adalah penjual timun suri. Tapi kalau orang sering berbuat hal yang baik juga bisa wangi seluruh badannya.”
Aku diam sejenak.
“Sudah kamu salat istirahat saja dahulu, nanti Ashar baru bangun. ”
“Iya bu.”
Ashar pun tiba, suara tikar dan bangku yang bergeser agar bisa memuat jamaah yang lebih banyak. Tradisi tahunan tiap menyambut bulan puasa memang sudah turun-menurun dilaksanakan oleh keluarga ini. aku yang masih tertidur pun bergegas bangun. Itupun karena wangi masakan ibuku.
“Bu, sudah rapih semua yah?” tanyaku dengan masih mengantuk.
“Sudah juragan.” Ibu setengah menyindir lagi
“ Sudah, sekarang kamu salat Ashar dan temui para tetangga dibelakang rumah agar ikut munggah dengan kita.”
“Iya bu.”
Sambil berjalan menuju rumah tetangga yang ada di belakang rumah, aku masih berpikir tentang wajah bapak penjual timun suri dan aroma yang keluar dari tempat di sekitar ia berjualan. Apa yang bisa menyebabkan hal itu?? Apakah ia seorang habib atau ahli ibadah? Tak habis pikir, sampai aku tiba di suatu rumah kontrakan.
“Asalammualaikum.”
Tak terdengar suara apapun dari dalam. Lalu ku mencoba untuk mengucap salam yang kedua.
Terakhir..
“Walikummsalam.” Suara lelaki yang cukup berat terdengar dari dalam korden.
Aku cukup terkejut. Keriput yang terpancar karena silau matahari dan aroma timun suri yang tidak bisa kuhindari. Aromanya menggambarkan keceriaan dan kelembutan dari struktur sebuah timun suri yang masak.
“Eh…Bapak yang jual timun suri di pasar itu yah?”
“Iya den, betul memang saya”.  Jawab pak tua itu dengan sedikit tidak jelas dalam bicaranya karena sebagian gigi geraham yang tanggal.
“Ibu saya mengundang tetangga di sini untuk menghadiri acara munggah. Acara sedekah sebelum masuk bulan puasa, pak.”
“Oh..boleh, nanti saya datang den.” Sambil memanggut, pak tua bersarung dan berjanggut tipis yang memutih itu tampak senang.
“Baik pak, saya pamit dahulu. Assalammualaikum.”
Acara munggah didahului oleh ramah tamah antar individu. Biasanya yang mereka bicarakan adalah permasalahan hari pertama puasa atau kegiatan mudik.
Munggah dimulai dengan bacaan surat Alfatihah lalu dilanjutkan dengan shalawat nabi kemudian doa untuk para pendahulu yang telah  meninggal. Setelah itu…
“Assalamualaikum.” Suara yang tidak asing lagi dan aroma yang sudah kuduga.
“Waalikumsalam.” Jawab semua yang hadir.
Ia adalah pak tua penjual timun suri tadi. Baju koko putih dan celana panjang hitam menjadi lengkap dengan kopeah hitam pula. Ia duduk dengan menyalami semua bapak-bapak yang duduk bersila dan terakhir adalah aku yang duduk dekat meja.
Ia tampak mengikuti dengan khidmat semua bacaan yang dicontohkan oleh Ustad yang memimpin acara itu. Semua acara ia ikuti hingga akhir dan semua jamaah pun menyantap makanan dan minuman yang ada didepannya.
“Pak, kalau boleh tahu sudah berapa lama menjual timun suri?”
“Saya sudah sekitar sepuluh tahun den. Itupun merangkap sebagai petani sayur-sayuran.”
“Lalu, keluarga bapak di sini juga?”
“Anak semata wayang saya di kampung, masih SD. Istri saya sudah meninggal empat tahun yang lalu saat melahirkan anak pertama.”
Pertanyaan yang dari dahulu kupendam akhirnya kulontarkan juga.
“Pak, mengapa saat saya melintas di dekat bapak selalu mencium aroma timun suri?”
Pak tua itu menunduk ke bawah dengan wajah tidak berkespresi.
“Mungkin itu wangi sisa-sisa timun suri yang ada lalu lupa saya bersihkan. Jadi wanginya masih menempel.”  Timun suri memang istimewa kalau menurut bapak. Ia hanya muncul ketika dating bulan puasa. Nggak heran, rasanya pun pas saat dating bulan itu.”Jawab pak tua itu.
Aku tidak bisa menanyakan lebih jauh, karena hal tersebut terdengar begitu personal baginya. Sedikit mengurangi rasa penasaran, tetapi akan kucoba untuk mengamati lebih lanjut persoalan yang lain terkait dengan cara ia menanam timun suri kepada bapak itu.
“Terima kasih bapak-bapak semua atas kehadiran acara munggah mala mini. Mudah-miudahan kita semua diberi kelancaran dalam melaksanakan ibadah puasa nanti.” Sedikit penutup dari pak ustad.
Saat semua beranjak untuk salat Maghrib, aku tidak melihat lagi bapak tua penjual timun suri itu. Ia seolah menghilang. Kutanya kepada bapak-bapak yang hadir, semua menjawab sama, tidak tahu. Tidak ada yang bisa kulakukan, namun aku punya niat untuk menemuinya saat sahur nanti.
Sahur perlahan mulai menunjukkan hadirnya. Pemuda masjid mulai berkeliling membangunkan sahur. Aku pun tak luput dari hal kegiatan ini. bergabung dengan pemuda masjid walaupun hanya sebentar kala itu. Tujuanku ingin mampir dan membangunkan pak tua penjual timun suri itu. Sesampainya di sana.
“Assalammualaikum.”
Tidak ada jawaban.
“Assalammualaikum, pak!” sambil kuketuk pintunya.
Salam yang ketiga sambil kucoba sambil membuka pintu. Tidak kutemukan bapak itu, hanya timun suri yang masih mentah menggunung tinggi di samping pojok ruang tamunya. Tidak ada wangi seperti kemarin kurasa.
Tak berapa lama tanpa disengaja kutemukan sebuah pucuk surat. Baru ditulis sepertinya. Surat yang ditulis di kertas putih yang sudah kusam itu berisi ungkapan terima kasih bapak itu kepada seseorang. Ia hendak pamit untuk berjumpa anaknya di kampung. Tapi ada yang menarik pada bagia akhir surat itu. Ia justru berterima kasih kepadaku setlah obrolan semalam tentang keluarga. Ia ingin menemui anaknya yang telah ia tinggalkan selama bertahun-tahun. Karena kemarin ia mendapat kabar bahwa anaknya sudah lulus kuliah dan bekerja kini sedang pulang ke kampung halaman untuk menemuinya setelah diberitahu saudaranya yang ada di sekitar Cikarang. Mengenai aroma timun suri yang sering aku tanyakan, ia seperti tersenyum di dalam pucuk suratnya. Ia tidak banyak menerangkan tentang itu, hanya menuturkan rawatlah tiap pemberian Tuhan, maka ia akan memberikan hal yang tidak kau duga. Semua timun suri ia titipkan padaku. Terserah mau aku apakan dalam surat itu ia menerangkan. Dalam hati aku sudah punya beberapa rencana untuk semua timun suri ini.
“Ren…rendy.” Suara Hirsul memanggil dari luar rumah.
“Ada apa sul?”
“Oh..benar. kamu ternyata ada di dalam. Aku lihat sandal birumu ada di rumah ini.  ada keperluan apa kau di dalam?”
“Tidak, hanya memeriksa saja dan coba membangunkan orang di sekitar.”
“Oh..gitu. ayo kita lanjut keliling lagi.”
“Boleh.”
*munggah: Istilah dalam rangka menyambut bulan puasa. Kegiatan yang dilaksanakan di suatu tempat dengan membaca tahlil, salawat, dan doa kemudian diakhiri dengan santap malam bersama.

Komentar

share!