Mukenah Baru ini Kupersembahkan untuk Ibu




Karya:  Firdah Vebriyanti


Terus ku nanti ibu pulang seraya memandangi jarum jam yang terus berputar dari angka ke angka. Tak henti-hentinya hati ini merasa was-was dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan ibu? Mengapa ibu tak kunjung pulang? “kak, ibu belum pulang.” Dea menghampiri ku yang sedang berdiri di depan pintu menunggu kedatangan ibu. “belum, mungkin pekerjaan ibu masih banyak.” Jawab ku pada Dea. Harap-harap cemas aku dan Dea menanti kedatangan ibu, tak seperti biasanya menjelang maghrib seperti ini ibu belum pulang.


Adzan maghrib pun terdengar, pikiran ku masih saja tertuju pada ibu namun disisi lain aku kasihan dengan Dea yang terlihat sudah lapar ingin segera berbuka. Tak mungkin aku tega melihat anak kecil sepolos Dea menunda buka puasa hanya demi menemaniku menunggu ibu. “ayo kita buka puasa.” Ajak ku sembari merangkul pundak Dea dan mengajaknya ke dalam. Dengan air putih dan beberapa biji kurma, aku dan Dea membatalkan puasa.
Terdengar suara pintu yang terbuka, spontan aku dan Dea menengok ke arah pintu. “ibu.” Seru kami bersamaan menyambut kepulangan ibu. Dengan senyuman yang tulus manis menghias di bibir ibu untuk kami walau mungkin sebenarnya ibu merasa lelah, namun ibu mampu menutupinya dengan senyuman indah itu.
“ayo bu buka, Hafiz sudah siapkan makanan berbuka untuk kita.” Ujar ku.
“makanan ini kamu beli atau masak sendiri Hafiz?” Tanya ibu pada ku.
“masak sendiri dong bu, tapi maaf bu cuma ada lauk tempe saja.” Aku menundukan kepala.
“uang dari mana nak kamu beli tempe ini sedangkan ibu tau kita tidak punya persediaan lauk?” Tanya ibu yang terlihat bingung.
“dari uang saku yang ibu kasih untuk aku tadi pagi.” Jawab ku dengan nada rendah.
“jadi kamu pake uang jajan kamu untuk beli lauk?” ibu tersentak mendengar jawaban ku. Hanya ku anggukan kepala “lagi pula ini kan puasa bu jadi gak mungkin juga aku atau Dea beli jajan, jadi uangnya aku pakai untuk beli lauk. Di dapur juga masih ada sisa tempe yang belum aku masak jadi maih bisa di masak untuk buka besok.” Lanjut ku.
“ya Allah nak, maafin ibu karena hari ini ibu pulang terlambat sampai-sampai harus kamu yang masak dan ngurus rumah.” Ujar ibu.
“gak apa-apa bu.” Ucap ku sembari melayangkan senyum.
“besok kalau pekerjaan ibu di rumah majikan ibu tidak banyak, insya Allah ibu pulang cepat.” Ibu memberikan kami janji.
“ayo kita shalat. Setelah shalat barulah kita makan.” Ajak ibu yang baru meneguk segelas air putih.
Dari balik selambu kamar ibu, aku melihat ibu berdiri di depan lemari yang terlihat sedih dengan mata berkaca-kaca seraya mengelus-elus mukenahnya yang warna putihnya sudah pudar dan terdapat beberapa bagian kain mukenah yang robek. Mukenah itu selalu ibu pakai untuk shalat setiap hari, wajar jika mukenah itu terlihat kusam. Ku hampiri ibu dan bertanya sesuai apa yang ibu rasakan “ibu sedih ya karena lebaran nanti ibu harus memakai mukenah ini, mukenah satu-satunya yang ibu punya dan terlihat banyak yang robek.” Ujar ku.
“tidak nak, jangan fikirkan ibu. Gajian dan THR ibu hanya cukup untuk membeli baju lebaran untuk kamu dan Dea, lagi pula yang terpenting di hari raya besok adalah hati yang baru bukan?” jawab ibu sembari keluar kamar dengan membawa mukenah itu untuk di gunakan shalat berjama’ah di ruang tamu. Alasan yang ibu lontarkan selalu mementingkan membeli baju lebaran untuk aku dan Dea. Walau ibu berkata demikian namun aku mengerti betul apa yang di rasa dan di inginkan ibu. Tak tega aku melihat ibu bersedih memandangi mukenahnya yang sudah rusuh karena setiap hari dipakai dan bertahun-tahun tidak pernah ganti yang baru.
Usai melaksanakan shalat tarawih di masjid, segera aku masuk kamar dan mengambil kaleng yang ku letakan di dalam lemari ku. Ku buka tutup kaleng dan menghitung uang tabungan ku yang ada di dalam kaleng. Ku hitung beberapa uang kertas dan koin ku dan alhasil uang ku terkumpul sejumlah lima puluh delapan ribu. “uang ini akan aku pakai untuk membeli mukenah ibu. Kasihan ibu harus memakai mukenah itu di hari raya nantinya.” Gumam ku dalam hati. “uang segini pasti masih kurang untuk membeli mukenah baru, lalu bagaimana caranya untuk mendapat sisanya sedangkan lusa sudah lebaran.” Lanjutku seraya berfikir mendapat uang tanpa sepengetahuan ibu.
Sang mentari telah terbit memancarkan sinarnya yang indah merona, ibu segera bergegas berangkat ke rumah majikannya. Ku ambil uang tabungan dan menuju keluar rumah, ku tengok ibu sudah tak terlihat, nampaknya sudah berada di jalan. “Dea kamu dirumah aja ya. Kakak mau pergi sebentar.” Ujar ku memanggil Dea.
“kak Hafiz mau kemana?” Tanya polos Dea.
“pokoknya kamu di rumah aja, kunci pintu ya.” Pinta ku sembari berpamitan dan beranjak pergi.
Dibawah sinar matahari yang belum terlalu terik, kaki ku terus menggiringku menuju pasar. Segera aku mencari toko yang menjual mukenah. Tiba-tiba mata ini tertuju pada toko mukenah dan busana muslim yang terpajang tulisan “obral dan diskon ramadhan 20%” pada setiap mukenah dan busana muslim. Dengan sigap aku masuk ke dalam toko yang lumayan ramai pembeli yang juga tertarik dengan kata obral dan diskon ramadhan. “bu, ada mukenah ibu-ibu yang murah gak bu, saya ada uang lima puluh delapan ribu.” Ucap ku sembari menunjukan uang di genggaman tangan ku.
“kalau segitu sih kurang, mukenah disini paling murah delapan puluh ribu dek itu pun sudah ibu diskon. Ini mukenahnya.” Seru ibu pemilik toko seraya menunjuk mukenah yang terpajang.
“kurang dua puluh dua ribu.” Ku hitung-hitung kepingan uang yang ada di genggaman ku.
Ku lihat toko ini sangat ramai hingga membuat ibu pemilik toko kewalahan karena hanya ada satu pegawai “emm… bu saya lihat ibu kerepotan melayani pembeli, mau saya bantu?” aku menawarkan untuk membantu ibu pemilik toko.
“boleh-boleh.” Jawab singkat pemilik toko.
Ku tengok jarum jam dinding sudah menunjukan di angka satu siang. “bu saya pamit pulang, kasihan adik saya di rumah sendiri.” Pamit ku.
“memangnya orang tua kamu kemana?” Tanya ibu pemilik toko.
“ibu saya sekarang sedang kerja dan saya ke pasar tadinya mau belikan mukenah baru untuk ibu saya tapi ternyata uang saya masih kurang.” Ucap ku. Dengan segera, aku keluar toko untuk pulang, namun tiba-tiba ibu pemilik toko memanggil ku.
“dek tunggu. Makasih ya kamu sudah bantu ibu, kalau kamu tadi gak bantu ibu mungkin ibu dan pegawai ibu ini kalang kabut dan mungkin saja beberapa pelanggan ibu kabur duluan karena ibu tak mampu melayani karena saking ramainya pembeli.” Ucap ibu sembari tersenyum pada ku. “Ini mukenah yang ingin kamu beli tadinya kan? Mukenah ini ibu berikan untuk ibu mu sekaligus tanda terima kasih ibu.” Ibu pemilik toko menyodorkan sebuah mukenah putih dengan terdapat sedikit bordiran yang cantik padaku.
“tidak usah bu. Saya tidak bisa menerima mukenah ini karena saya ikhlas membantu ibu, lagi pula ibu saya mengajarkan saya untuk tidak meminta-minta.” Jelas ku sembari melayangkan senyuman pada ibu pemilik toko.
“eh tidak boleh menolak rejeki. Ibu kan sudah bilang ini tanda terima kaih ibu, itu berarti kamu tidak meminta-minta.” Gumam ibu pemilik toko sembari melipat dan membungkus mukenah itu.
“ini mukenahnya.” Ibu menyodorkan padaku mukenah itu yang sudah terbungkus rapi. Aku tak langsung menerimanya karena tak enak hati aku menerima mukenah itu secara gratis. “ah begini sajalah, kamu bayar mukenah ini dengan separuh harga jadi kita sama-sama enak.” Lanjut ibu pemilik toko.
“kalau seperti itu saya bersedia menerimanya bu. Mukenah ini saya ambil dengan separuh harga ya bu.” Ku ambil mukenah itu dan ku berikan uang ku pada ibu pemilik toko.
Dengan hati yang begitu riang, aku pulang dengan membawa tas kresek berisi mukenah baru untuk ibu. Rasa lapar dan haus serta berjalan di bawah teriknya matahari tak menghalangi ku, yang terpenting saat ini adalah ibu bisa memakai mukenah baru di hari raya Idul Fitri esok.
Sesampainya di rumah, segera ku letakan mukenah baru itu dan melaksanakan shalat dhuhur di dalam kamar. Di sela doa seusai shalat aku mengucap syukur pada Allah karena akhirnya aku dapat membelikan ibu mukenah baru. “kak Hafiz sudah pulang. Kak Hafiz dari mana saja, aku tadi nunggu kak Hafiz begitu lama jadi aku tidur saja.” Dea terbangun dari tidurnya dan melihatku sedang khusuk berdoa.
“dek, kak Hafiz tadi membelikan ibu mukenah baru.” Jelas ku pada Dea dengan gembira.
“mukenah baru kak?” ujar Dea kaget.
“iya, nanti akan kakak jelaskan saat mukenahnya kakak kasihkan ibu.” Ucap ku.
Sembari menunggu ibu pulang, aku dan Dea memilih untuk bersih-bersih rumah dan menyiapkan makanan untuk buka puasa. Akhirnya ibu yang sudah kami tunggu pun datang. Ku lihat ibu membawa sebuah kantong kresek kecil yang tak aku ketahui apa isi di dalamnya. “ibu pulang.” Teriak Dea dari dalam rumah berlari memeluk ibu.
“ibu kan sudah janji untuk pulang sebelum maghrib. Ini ibu bawakan takjil, tadi majikan ibu beli takjil terlalu banyak jadi diberikan kepada ibu.” Ibu meletakan takjil yang di bawanya ke piring.
“bu, ini untuk ibu.” Aku memperlihatkan mukenah baru itu pada ibu.
“mukenah. Hafiz kamu dapat dari mana mukenah sebagus ini? Apa kamu minta pada orang atau kamu mencuri, iya? Coba jelaskan pada ibu!” Tanya ibu dengan nada dan intonasi yang meninggi.
“tidak bu, sungguh aku tidak mungkin melakukan hal-hal buruk seperti itu. Aku mendapatkan mukenah ini dari uang tabungan ku. Tadi pagi aku berniat membelikan ibu mukenah di pasar ternyata uang yang aku punya tidak cukup. Aku membantu ibu-ibu yang memiliki toko mukenah dan saat akan pulang, aku di beri mukenah yang katanya tanda terima kasihnya tapi aku menolak untuk menerimanya tapi ibu itu terus memaksa ku untuk menerimanya akhirnya aku beli mukenah itu dengan separuh harga. Ya Alhamdulillah akhirnya aku berhasil membelikan mukenah baru untuk ibu untuk hari raya besok.” Jelas ku panjang lebar.
“lalu sekarang uang tabungan mu bagaimana, apa sudah habis tak tersisa?” Tanya ibu
“tidak bu, Alhamdulillah masih sisa sedikit dan sudah aku masukan kaleng celengan ku.” ucap ku.
“terima kasih ya Hafiz ibu sangat bahagia, maafkan ibu tadi sempat berburuk sangka pada Hafiz.” Ibu memeluk ku dengan dekapan hangat.
“kamu tak perlu mengorbankan uang yang sudah kamu tabung selama berbulan-bulan hanya demi mukenah baru untuk ibu.” Lanjut ibu yang matanya nampak mengeluarkan tetesan air mata.
“tidak apa-apa ibu, Hafiz gak tega ngelihat ibu memakai mukenah rusuh dan sudah robek di shalat ied esok. Kalau uang mah bisa di cari bu, kan ibu sendiri yang bilang rezeki gak akan kemana, setiap manusia ada jatahnya sendiri-sendiri dari Allah, hehe.” Celetuk ku bercanda dengan ibu.
Kebahgiaan ibu adalah hal yang terpenting untuk ku, usia masih kecil bukan alasan untuk ku tidak dapat berbuat lebih untuk ibu.

Komentar

share!