MOVE ON SAYA LEBIH SULIT




Karya:  Lala

Ramadhan, sebuah bulan penuh berkah, dimana pahala berlimpah ruah serta bulan dimana Al-quran diturunkan. Banyak dari muslim ataupun muslimah yang ingin pula mendapatkan malam lailatul qadar, yaitu malam yang lebih indah dari seribu malam. Ramadhan juga merupakan bulan dimana syaitan dikurung agar tidak menggoda hamba Allah SWT.  Bertahun-tahun sudah kulalui bulan penuh berkah ini bersama keluarga tercintaku. Namun, tahun ini terasa ada syaitan dalam benak ini yang menggodaku. Apa benar syaitan dikurung? Tapi mengapa bulan penuh berkah ini terasa berbeda. Terbayang didalam otakku seberkas bayangan yang menyiksa batin. 


“Ah, tidak mungkin hal ini terjadi.” Kataku dalam hati. Hatiku seakan berdebat masalah bayang-bayang didalam otakku itu.
Kulangkahkan kakiku ke depan rumahku. Kemudian aku duduk di kursi kayu jati dengan cat berwarna cokelat tua dengan sebagian tubuhnya yang telah dimakan rayap, kursi ini merupakan kursi yang sudah tua pemberian nenekku beberapa tahun yang lalu. Berteman dengan sebuah koran yang diantarkan oleh loper koran langganan keluargaku, kunikmati pagi yang cerah ini untuk menghilangkan perasaan yang menyiksa benakku ini. Sinar mentari pagi yang indah serta nyanyian burung peliharaanku sejenak meghilangkan sedikit perasaan yang menyiksa batinku ini. Biasanya ketika dibulan selain bulan penuh berkah ini aku sangatlah rajin untuk membuat secangkir kopi untuk ayahku sebelum beliau berangkat untuk bertugas di kantornya. Namun, sekarang puasa, maka diatas meja teras hanya ada koran.
“Ayah berangkat kerja dulu ya.” Suara ayahku membangunkan lamunanku. Ku kecup tangannya yang berotot dan agak sedikit kasar itu. Kecupan itu membuat bayang-bayang itu muncul lagi dalam otakku. Ku lambaikan tanganku ketika ayahku menaiki sepeda motor kesayangannya itu. Kulihat anak panah jarum jam menunjukkan pukul 6.30, aduh aku bisa terlambat jika begini, dengan segera kulangkahkan kakiku dengan cepat sambil melihat jam tangan, sekolah dan rumahku tidak terlalu jauh sehingga aku mengendarai sepeda dengan tenaga kayuhan kaki untuk menuju ke sekolah.
Ramadhan hari pertama ini kunikmati bersama sahabatku di sekolah, seperti biasa, mengerjakan tugas bersama, tiba-tiba Dewi berkata,
“Bagaimana kalau kita membagi makanan untuk anak jalanan besok, jika dibulan Ramadhan berbagi dengan sesama, kita akan mendapatkan pahala yang besar, ya walaupun hanya makanan sederhana, nanti kita yang membuat makanan itu sendiri, bagaimana menurut kalian?”
“Boleh juga” jawabku.
Keesokan harinya di waktu sore, kami sibuk membuat makanan untuk anak jalanan disekitar rumah kami.Melelahkan memang tapi berbagi itu menyenangkan. Setelah masakan kami matang, Dewi membungkus makanan tersebut dalam kardus. Dengan gotong-royong kami berjalan kaki menuju tempat dibawah jembatan dekat rumah kami, tempat dimana anak jalanan biasa berkumpul.
“Adik-adik, kami disini ingin berbagi berkah untuk kalian, semoga bingkisan dari kami ini bermanfaat untuk kalian.” Kata Dewi ketika membuka acara berbagi bersama kami.
Akhirnya kami sibuk membagi-bagi bingkisan kecil kami itu, anak-anak dengan baju yang kotor, tanpa alas kaki, celana yang berlubang itu semakin membuat kami iba dengan mereka, kulihat bingkisan dalam kardus hanya tinggal satu lagi, cukup untuk anak diantrian terakhir dalam barisan kardusku, dia anak perempuan dengan kulit cokelat, namun ia manis untuk dipandang, aku tersenyum dan bertanya,
“Siapa namamu dik?”
“Sasa kak” jawabnya lirih.
“Sasa, mengapa kamu tinggal disini? Apa kamu tidak bersekolah?” tanyaku lagi.
“Ayahku dan ibuku sering berselisih kak, kemudian ayahku meninggalkan kami, ibuku tidak berkerja, hutang dimana-mana, akhirnya rumah kami disita karena tidak dapat membayar hutang, kemudian ibu mengajakku kesini, sekarang ibuku berjualan koran diperempatan jalan disana.”
Mendengar cerita Sasa, aku tak dapat menahan air mataku, tak dapat kupungkiri bayangan itu hadir lagi, ya, bayangan yang selama ini menyiksaku karena cerita Sasa. Sasa hanya diam saja melihat air mataku menetes satu-persatu. Setelah semua anak mendapat bingkisan, kami berpamitan pulang. Dijalan dekat rumah Dewi kami berpisah, aku terus berjalan kaki sambil memikirkan cerita Sasa. Sesampainya dirumah kulihat kondisi rumahku buruk sekali, barang-barang berserakan, ah, apa mungkin ini terjadi lagi, ini bulan Ramadhan dimana syaitan dikurung, tapi mengapa seakan-akan ada syaitan yang menggoda keluargaku dibulan Ramadhan ini. Ya, keluargaku dibulan Ramadhan ini sering berselisih, aku takut orang yang kucintai itu berpisah, aku masih tetap ingin ayah dan ibuku bersatu layaknya kami dibulan Ramadhan tahun lalu, 2 tahun yang lalu, dan Ramadhan-Ramadhan yang telah kami lewati bersama. Permasalahannya hanyalah ayahku yang selalu cemburu dengan lelaki yang dekat dengan ibuku, padahal akupun mengerti lelaki itu juga hanya sebatas teman dengan ibuku, tapi kecemburuan ayahku keterlaluan, hingga aku juga pernah dipukulnya, padahal seumur hidupku baru kali ini ayahku memukulku. Gaji ayahku juga tidak seberapa besar, jika dibandingkan dengan gaji ibuku, bisa dikatakan gaji ibuku lebih besar.
Dimalam hari pada hari ketiga dibulan penuh berkah ini nenek dan kakek dari ibu serta ayahku berbincang-bincang, dan bayangan yang menyiksaku itu menjadi kenyataan. Sungguh tidak terduga perceraian orang tuaku berlangsung dibulan Ramadhan ini. Hatiku hancur seketika rasanya mengetahui orang tuaku berpisah, mengapa ini terjadi kepadaku Ya Allah?
Tiga kali sidnag berlangsung dan telah diputuskan bahwa orang tuaku resmi bercerai, karena umurku dibawah 17 tahun, hakim memutuskan aku tinggal bersama ibuku, karena dengan pertimbangan gaji dan masih banyak lagi. Hari-hari berikutnya terasa berat bagiku, tak ada sosok ayah yang menemaniku seperti biasanya. Aku ingat umurku 16 tahun, aku sudah akan dewasa, aku ingat bahwa jika Allah memberi hamba-Nya cobaan, maka hamba-Nya itu pasti bisa melewatinya. Ibarat kata anak-anak zaman sekarang “move on”. Namun, anak-anak mungkin move on karena pacar atau kekasihnya, tapi aku move on karena ayah, aku harus terbiasa hidup tanpanya. Aku berpikir lagi, aku islam dan dalam islam wanita diperintahkan untuk menutup auratnya, tapi mengapa aku tidak menutup auratku, terutama rambut. Aku seakan-akan mengaku islam tapi tak mengerti agamaku sendiri. Apa dengan bercerainya orang tuaku ini merupakan peringatan dari Allah SWT bahwa aku harus hijrah dalam keimananku. Sepertinya iya, maka sekarang kemana-mana aku menggunakan hijab. Ibuku kaget, namun setelah aku menceritakan apa yang ada dalam benakku, ibuku menerimanya dan justru mendukungku.
Ibuku sudah tua, tapi aku belum bisa membalas banyak hal yang ia berikan kepadaku dari aku kecil hingga aku beranjak dewasa ini. Akhirnya kuputuskan aku berjualan didekat rumahku, ya penghasilanku ini kuberikan pada ibuku, walaupun itu mungkin belum cukup dibandingkan dengan apa yang telah ia berikan kepadaku, tapi ada perasaan bangga terhadap diri sendiri karena bisa meringakan beban ibuku ini. Aplagi ini bulan Ramadhan dimana ketika sore hari banyak orang mencari makanan untuk berbuka puasa, jadi penghasilanku ini jika dihitung-hitung lumayan juga. Aku rutin berjualan ketika pulang sekolah dan tak lupa ketika malam hari, sebagai pelajar kegiatan wajibku adalah belajar.
Sahabatku semakin hari mengerti bahwa sekarang aku hanya tinggal bersama ibuku, mereka berusaha memotivasi diriku untu tetap kuat dna tabah. Ah, mereka memang sahabat sejatiku. Ya Allah aku tetap bersyukur, dikala aku tidak bersama orang tuaku yang lengkap, sahabatku selalu ada untuk melengkapi hidupku.
Ketika Ramadhan hari keenam belas, aku mendapat pesanan yang cukup banyak dari tetanggaku karena ia mengadakan buka puasa bersama.Setelah masakanku matang dan kubungkus, segera kuantarkan pesanan itu. Bayaran yang diberikan cukup besar. Alhamdulillah ibuku pasti senang, apalagi tadi tetanggaku memberi uang tambahan sebagai bonus. Ketika perjalanan pulang kulihat Dewi menangis didepan rumahnya, segera kubelokkan sepeda ontelku kerumahnya.
“Kamu kenapa wi?” tanyaku.
“Rony baru saja memutuskan hubungan kami, padahal aku sudah sangat mencintainya, banyak kenangan indah yang telah kami lewati”
“Lelaki didunia ini kan tidak hanya satu, mengapa kamu tidak mencari lelaki lain saja?”
“Aku sudah terlanjur sayang padanya, aku tidak bisa move on darinya”
“Begini wi, umur kita ini masih 16 tahun, masa depan kita masih panjang, kamu hanya move on dari pacar saja seperti itu, aku ini move on lebih sulit wi, aku harus lebih tegar darimu, move on pacar itu lebih mudah dibandingkan move on keluarga, jangan buang air matamu hanya demi lelaki yang meninggalkanmu dengan wanita lain itu, rugi wi, lebih baik bulan Ramadhan ini mengaji dan memerbanyak pahala wi, sudahlah, pikirkan hal lain yang lebih indah kamu pasti bisa move on dengen mudah dari Rony”
“Iya, betul juga ya, maafkan aku, aku seperti orang bodoh menangisi Rony, aku lebih baik kehilangan Rony daripada keluargaku, aku turut sedih ya, pasti move on keluargamu sangatlah sulit” jawab Dewi sambil menghapus air matanya. Dewi langsung memelukku.
“Jangan bersedih ya sahabatku”
“Iya aku lebih baik memerbanyak pahala dibulan ramadhan ini.”
Ya Allah... Sungguh Ramadhan ditahun ini sangatlah Unexpected Ramdhan, dari berpisahnya ayah dan ibuku sehingga hamba harus move on dari masalah keluarga yang sulit serta hijrahku dalam memenuhi perintahmu. Terima kasih Ya Allah. Hamba-Mu ini yakin bahwa segala yang engkau gariskan ini juga yang terbaik untuk hamba.

TAMAT

Komentar

share!