Move On in Ramadhan




Karya:  Ana Agnisa

Aku benci dengan keadaanku sekarang, aku benci. Kenapa Tuhan tak pernah adil padaku, kenapa takdir terus saja mempermainkan hidupku.
Akupun segera mempostingnya di akun facebook ku. Ya, diawal Ramadhan ini hidupku benar-benar hancur, percis dengan kata-kata yang baru saja aku posting. Aku tak merasa gembira dengan hadirnya bulan Ramadhan ini. Malah aku merasa Tuhan tak pernah adil padaku, Aku selalu merasa hidupku tertekan dan penuh cobaan. Bagaimana tidak, Tuhan memberiku kedua orang tua yang selalu mengekang hidupku, apa yang aku inginkan tak pernah mereka berikan. Ini dan itu harus selalu mereka yang menentukan. Ah Tuhan benar-benar tidak adil, pikirku.


Saat ku lihat layar laptopku, ada 1 pemberitahuan. "Istiyani mengomentari status anda". Segera saja aku klik untuk melihatnya. "Istighfar nis, ini sudah masuk bulan Ramadhan, dan apa yang kamu katakan ? Kamu berkata bahwa tuhan itu tidak adil ? Seberapa beratkah cobaan hidupmu hingga kau katakan tuhanmu tak adil ? Tidakkah kau lihat diluar sana, banyak orang yang untuk berjalan saja susah, untuk melihat, mendengar atau berbicara saja susah ? Tidakkah kamu mensyukuri apa yang kamu miliki saat ini ?" Begitulah katanya, yang kubaca dari komentar nya dipostinganku.
Aku tak begitu memaknai perkataannya itu karena memang aku tidak faham maksud perkataannya, Selintas, aku seperti pernah bertemu denganya, bahkan aku seperti tak asing dengan wanita seusiaku ini. Karena rasa penasaranku, langsung saja aku kirim sebuah massage singkat padanya .
Aku menghabiskan waktu tiga perempat jam hanya sekedar untuk chat bersama dia, banyak hal yang kita bahas, namun aku kurang mengerti apa yang dikatakan nya. Perkataan nya begitu bijaksana, namun menyangkutpautkan agama. Memotivasi memang, tapi apa jadinya bila aku tak dapat memahami perkataan nya. Maklumlah, kami sedang berinteraksi melalui perantara. Mungkin perlu menyisihkan sedikit waktu agar aku bisa bertemu dengan dia, untuk sekedar bersilaturrahmi.
Akhirnya kami memutuskan bertemu jam dua siang besok, minggu, sekalian ngabuburit. Aku sempat bingung juga karena aku tak punya baju muslim, bahkan kerudungpun aku tak punya, paling hanya selendang saja.
Seusai terawih pertama di malam ini aku kembali memikirkan darimana aku bisa dapatkan jilbab untuk bertemu Isty besok hari ? Sesaat terlintas dalam fikiranku tentang sepupuku yang merupakan seorang santri. Akhirnya aku putuskan untuk meminjam kerudung padanya.
 "Nisa, pinjamkan aku satu saja kerudungmu Nis, esok siang aku akan bertemu temanku. Aku malu kalau tidak pakai jilbab." Pintaku pada Annisa.
"Kamu ini, jilbab aja tak punya. Kamu ini muslim kan ? Agamamu Islam kan ?" Tanya Nisa sinis.
Aku tak menjawab, aku hanya senyum dan Nisa pun memberikan sebuah jilbab segi empat bewarna hitam. Setelah kudapatkan jilbab itu, akhirnya aku pamit pulang, karena sudah larut malam.
Saat sahur, aku meminta izin pada ibu untuk pergi siang nanti. Ibu mengizinkan nya karena mungkin dia tahu bagaimana sikap anaknya bila tak diizinkan bermain. Namun aku bingung, pakaian apa yang harus aku gunakan.
Akhirnya aku hanya memakai jeans, dan baju yang lengan nya 3/4 saja, juga ku kenakan jilbab yang kupinjam itu. Aku bercermin, cantik juga, gumam ku dalam hati. Tepat ba’da dhuzur, aku berangkat menaiki angkot, dan menunggu di pertigaan jalan yang telah Isty janjikan. Tak lama kemudian, muncul seorang wanita memakai gamis hitam dengan jilbab merah jambu yang panjang.  Dia tersenyum padaku, dan kami bersalaman tangan.
"Assalamualaikum, Agniss kan ya ?" Tanya nya.
"Hmm I...iyaa" aku menjawab dengan gugup.
Tak berapa lama setelah kami sedikit berbincang, lalu dia mengajaku ke rumahnya, katanya curhatnya dirumahnya saja, agar bisa lebih tenang. Aku menuruti saja. Jujur saja ingin aku bertanya padanya, apakah ia tidak kegerahan berpakaian seperti itu.
"Nis, ini rumah aku." Katanya
Deg ! Perkataan nya membuyarkan lamunanku.
"Nis, kamu baik-baik saja kan ?" Tanya nya kembali
"Eeehh, iya iya aku baik ko Ty. Ini rumahnya ya?" Tanyaku setengah kebingungan.
“Hehe, iya Niss. Ayo Niss masuk, maaf ya rumahnya berantakan." Ajakan isty padaku, "iya ty, makasih ya.. " Ucapku..
Singkat cerita akhirnya dia mengajaku ke kamarnya. Tanpa basa-basi dia langsung bertanya tentang postingan ku semalam 
"Nis, kenapa kamu bisa-bisanya membuat postingan seperti itu di akun facebook kamu ?" Tanyanya mengagetkan aku yang sedang berada di tengah lamunanku. Akhirnya aku menceritakan semua masalah-masalah yang terjadi dihidupku yang sampai membuatku menganggap bahwa Tuhan itu tak adil.”
Aku menceritakannya dengan deraian air mata yang membasahi pipiku. Isty pun mengusap air mataku, dia mencoba menenangkanku dengan perkataan nya yang bijak.
"Nis, Allah sangat tahu mana yang terbaik bagi hambanya. Keadilan Allah adalah sangat mutlak. Hanya kadang kita sebagai manusia kadang tidak bisa memaknainya dengan bijaksana. Keadilan Allah bukanlah timbangan ukur, yang harus sama sisi kiri dan sisi kanan, Allah membagi rezeki kepada setiap mahkluknya, dengan takaran yang pas ." Jelasnya.
Tak terasa, waktu semakin cepat menghadirkan senja. Tapi anehnya aku masih ingin berlama-lama ada disini. Menanti waktu berbuka dating.
"Kamu berjilbab panjang seperti itu, apa tidak gerah Ty? Aku saja yang pakai jilbab transparan seperti ini merasa tidak nyaman." kataku dengan nada penasaran.
"Bukankah jilbab itu suatu kewajiban bagi kita sebagai muslimah ?" Balasnya dengan alis sedikit terangkat dan sedikit teresenyum.
"Iya aku tau, tapi mengapa harus sepanjang itu ? Setebal itu ?"
"Nis, coba kita sama-sama pahami firman Allah dalam QS.An Nuur ayat 31dan QS. Al-Ahzab ayat 59" pintanya.
Di sore pertama bulan Ramadhan kami mengkaji ayat Qur'an itu dengan khusu. Aku memperhatikanya dengan seksama, mencoba memahami setiap kata yang dia jelaskan. Aku baru mengetahui bahwa jilbab yang muslimah kenakan haruslah sesuai dengan syariat islam. Tidak seperti jilbab yang aku pakai sekarang.
"Kalau seperti ini ketentuan nya, aku bahkan sama sekali belum siap ty, aku harus mengenakan pakaian yang longgar, berjilbab panjang, atau apapun itu, aku sama sekali belum siap. Koleksi baju di rumahku saja itu kebanyakan jeans, dan kau tahu Ty ? Jilbab yang ini saja, yang aku pakai ini adalah jilbab pinjaman dari sepupuku ty ? Lalu bagaimana bisa aku berpakaian seperti kamu, aku belum siap ty, sungguh" Ucapku tiba-tiba dengan nada lirih. 
 “Nis, selama kamu ada kemauan untuk berubah, insya Allah aku yakin kamu pasti bisa Nis. Jalani semuanya secara bertahap. Tak perlu terburu-buru, asalkan kamu bisa tetap istiqomah menjalankan nya".
"Tapi Ty, kamu tahu aku kan ? Aku ini tidak baik, aku ini punya kepribadian yang jauh dari kata mulia. Apa pantas aku memakai jilbab, sementara hati aku kotor ?" Tanyaku lagi.
"Berhijablah dan niatkan lillah, tanpa tapi, tanpa nanti, jangan takut akan guyonan yang nanti akan mampir ditelingamu. Berhijablah dulu, masalah akhlak akan mengikuti setelahnya. Insya Allah. Karena hijab yang dipakai, akan menjadikanmu sosok wanita yang lebih menjaga diri dari perkataan yang keluar dari lisan, dari perlakuan yang terjadi pada tingkah laku. Semangat karena Allah Nis." Isty menatapku, kata-katanya seakan meyakinkan aku untuk berjilbab.
Suasana hening seketika, aku tak mampu berkata apa-apa. Aku kembali dalam lamunanku. Mencoba berfikir apakah aku sanggup dan bisa menjadi wanita seperti Isty. Aku takut tak mampu beristiqomah mempertahankan jilbabku nanti, aku takut ada banyak orang yang mencibirku termasuk keluargaku. Karena jujur saja, aku tak berasal dari keluarga keturunan kiyai, ustadz atau apapun itu. Aku ini hanya seorang gadis yang lahir dari keluarga yang biasa saja. Menjalani kehidupan dengan pengetahuan agama yang alakadarnya saja.
Tapi aku harus bisa menepis ketakutan itu. Karena dihadapanku ada sosok gadis seusiaku yang telah membuktikan bahwa remaja urakan seperti aku ini bisa berubah jadi lebih baik lagi, menjadi wanita muslimah seutuhnya. Be a great Muslimah.
Tak terasa waktu telah berhasil mendatangkan awan biru merah yang biasa aku sebut senja, dan waktu berbuka puasa tinggal beberapa menit lagi. Akhirnya aku putuskan untuk berpamitan pada Isty untuk pulang dan berterimakasih padanya atas waktu yang ia luangkan untukku juga untuk pelajaran yang aku dapatkan di sore ini.
***
Hari kedua Ramadhan ini terasa berbeda. Karena kini aku memutuskan untuk mencoba menggunakan jilbab sesuai apa yang Isty katakana kemarin. Aku berusaha menepis ketakutanku kalau kalau Bundaku menegurku dengan jilbab ini. Dan memang terjadi, apa yang aku takutkan betul-betul terjadi.
"Kamu apa-apaan sih pakai kerudung ? Udah gitu panjang lagi kerudungnya, itu kerudung punya siapa ?" Tanya bunda dengan sedikit membentak.
"Bunda dengerin anis dulu dong bun, mulai saat ini anis ingin berjilbab, bolehkan bun ?" Tanyaku penuh harap
"Apa ? Berjilbab ?  Tidak, tidak. Pokoknya kamu ga boleh berjilbab. Itu akan membuat kamu terkesan seperti ibu-ibu, pokoknya ibu ga akan izinkan kamu berjilbab nis !" Bentaknya. Akupun mulai kesal pada sikap bunda yang terus menerus mengaturku seperti ini.
"Bun, bunda tuh kenapa sih selalu memaksakan kehendak bunda. Kenapa agnis harus selalu nurutin kemauan bunda, sementara bunda tak pernah menuruti apa kemauan agnis. Bunda egois, bunda egois." Teriaku sambil berlari ke kamar.
Hari demi hari berlalu, meninggalkan kisah yang tak terselesaikan. Aku tak tahu apakah bundaku telah merestuiku atau belum. Aku menjalani segala aktifitasku dirumah dengan sedikit perubahan. Ya aku kini memakai jilbab setiap hari jika aku hendak pergi keluar rumah dan saat aku beraktifitas.  Namun doa yang mengalir akan terus mengalir, berharap Allah akan memberikan jalan bagiku. Namun semakin sini, bundaku sudah tidak terlalu sinis padaku, walaupun setiap hari dirumah aku mengenakan jilbab, mungkin karena aku sudah mulai terbiasa dengan jilbab ini, juga bundaku yang mulai terbiasa dengan perubahanku.
Kini duniaku telah berubah, jilbab ini sudah menjadi identitasku sebagai wanita muslimah, aku kini aktif dalam mengkaji islam bersama teman-teman satu kumunitasku. Duduk bersila dan melingkar di depan masjid as-saied telah menjadi rutinitas kami tiap minggunya.
Tepat tanggal 9 Juli adalah hari dimana diumukannya hasil SBMPTN yang aku ikuti, aku dinyatakan lolos. Sehingga aku dinyatakan bisa masuk ke PTN harapanku. Aku mengambil FMIPA. Kebahagiaan ini terasa lengkap saat bundaku memelukku dan berkata “Nak, terimakasih. Karena kau telah membuktikan pada bunda bahwa jilbab itu bukan penghalang untuk meraih kesuksesan. Maafkan bunda yang selama ini selalu melarangmu berjilbab. Kini, maukah kau ajarkan bundamu ini untuk berjilbab ?” pintanya dengan tetesan air mata membasahi pipinya.
Dengan penuh syukur, aku terus memeluk bunda dan mengatakan bahwa aku mau dan bersedia dengan perrmintaanya tadi.
Ya Allah terimakasih atas nikmat dan hidayah ini, Apa yang selama ini aku usahakan dan perjuangkan akhirnya bisa terwujud. Membuatku semakin meyakini bahwa kekuatan do’a itu memang ada.  Sejak saat itu kehidupan kami semakin baik, kebahagiaan semakin terasa dalam keluarga kami. Ramadhan kali ini sungguh membawa berkah, membawa perubahan besar dalam diri dan keluargaku. Subhanallah. Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?

Komentar

  1. Alhamdulillah...kisah keseharian perjuangan seseorang dlm menyempurnakan agamanya

    BalasHapus
  2. subhanallah..cerpen ini bisa di jadikan pelajaran untuk saya,agar lebih ikhlas untukmenjalankan sesuatu lillahi ta'ala

    BalasHapus
  3. Subhanallah.. bagus bagus :)

    BalasHapus
  4. Annisa Mustika10 Juli 2015 10.45

    رب ينْزِلْنِى مُنْزَلاً مُّبَارَكا ًوَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِ لِيْنَ

    BalasHapus
  5. Nice short story , Barakallah :)

    BalasHapus
  6. wweiisss kereenn ceritanya sumpah, bisa jadi motivasi buat yang belum berhijab. Subhanallah barokah pisan ceritanya. semoga jadi safaat buat nanti di yaumil akhir. aaaamiiiiiinnnnn

    BalasHapus
  7. Bagus, tingkatkan lagi Dek, Semangat! :D

    BalasHapus
  8. Barakallah, bagus bgt ceritanya!

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!