Monster Ramadhan




Karya:  Navy Meuwissen

Malam hari di bulan Ramadhan adalah malam paling horror menurut penduduk kampung Mandala. Kenapa horror? Karena di kampung ini terkenal dengan cerita “Monster Ramadhan”. Anak-anak di kampung ini tak berani keluar dari rumah sesudah sholat tarawih di masjid. Di kampung ini hanya ada satu masjid yang berada di tengah-tengah kampung. Bahkan lebih banyak anak lagi yang tak berani keluar sesudah adzan magrib dan tak pernah sholat teraweh di masjid. Aneh? Iya. Menurutku juga aneh. Setahuku, hanya aku satu-satunya anak perempuan kampung ini yang tak percaya dengan rumor seperti itu. Aku tetap teraweh di masjid dan selalu pulang sendirian. Rumah ku dan masjid kira-kira berjarak 500meter. Sejak 5 tahun lalu aku selalu pulang dengan berjalan kaki sendirian. Aku tak pernah melihat monster ramadhan. Yang sering aku temui hanya bapak hansip yang sedang mengelilingi kampung. Bahkan Arif yang rumahnya hanya berjarak 10meter dari masjid pun , dia juga tak pernah keluar malam dan sholat di masjid.



Aku tak tahu siapa yang mulai menceritakan tentang Monster Ramadhan itu. tetapi sejak aku lahir sampai di umurku yang ke 12 tahun ini, rumor itu sudah ada dan masih ada. Yang pasti, orang yang membuat rumor itu adalah orang yang iseng.

“Kayak gak ada kerjaan aja..” Batinkuku sambil tertawa kecil di pos ronda kampung.

“Heh Maya, ketawa aja..” Tegur Arif.

“Hehe.. Biarin aja. Lucu kok.”

“Apanya yang lucu??” Tanya Arif penasaran.

“Adadeh..” Jawabku singkat

“Oh iya.. Kenapa sih kamu gak pernah sholat teraweh di masjid? Kan rumahmu dekat dengan masjid. Takut Monster Ramadhan ya..” Godaku.

“Iya enggak lah. Masak aku takut sama Mora. Mora kan gak ada.”

Mora itu sebutan dari monster ramadhan. Anak kampung sini yang menjulukinya Mora.

“Terus, kenapa kamu gak pernah keluar sesudah adzan magrib?”

“Ibu dan bapak yang melarangku keluar.”

“Oh.. Kirain takut beneran.. hehe.” Godaku sambil mencolek tangan Arif.
Aku sangat bingung dengan cara berpikir masyarakat kampung ini. Ternyata, bukan hanya anak-anak saja, bahkan orang dewasa juga mempercayainya dan bahkan mereka juga takut.

Keesokan harinya aku berencana untuk menyelidiki tentang “Monster Ramadhan” dengan cara mengelilingi kampung dan bertanya pada penduduk kampung.

“Enaknya sendirian atau sama temen ya..?” Batinku.

Mengkin aku butuh bantuan dari temanku. Agar aku bisa pecahkan rumor yang mengganggu kenyamanan penduduk kampung ini. Jadi, aku mengajak Arif dan Kiky untuk menemaniku mengelilingi kampung, dan mereka mau. Kiky adalah teman sekolahku. Dia tinggal di kampung Nalika yang berada tidak jauh dengan kampungku. Di kampungnya tidak pernah terdengar rumor seperti ini. Itu sebabnya dia mau membantuku untuk memecahkan rumor Mora ini. Kita janjian di depan masjid pada jam 3 sore nanti. Aku mempersiapkan barang-barang yang mungkin aku butuhkan. Jam menunjukkan pukul 14.45. aku segera bergegas menuju masjid untuk bertemu dengan Arif dan Kiky. Sesampainya aku di masjid. Ternyata mereka sudah sampai dan kita bergegas untuk mengelilingi kampung. Kita juga mewawancarai anak-anak dan juga orang tua yang kami temui. Rata-rata, anak yang kami temui mengatakan jika mereka pernah melihat Mora di sekitar kampung. Kata mereka Mora itu tinggi besar dan berambut ikal. Tetapi, aku tak pernah melihat sosok seperti itu. Saat kita bertanya pada orang tua, kami juga mendapatkan informasi yang tak berbeda jauh dengan apa yang dikatakan oleh anak-anak yang kita tanya tadi. Mereka semua menunjukan tempat yang sama saat melihat Mora. Mereka berkata jika mereka melihat Mora di pinggir kampung dekat hutan. Kita mencatat semua yang mereka katakana karena bisa jadi itu adalah petunjuk yang bisa menjelaskan tentang Mora. Lalu, kita segera menuju TKP. Kita mengamati daerah itu hanya ada pepohonan yang rimbun. Kita sudah mencari petunjuk selama satu jam. Tetapi, masih saja nihil. Lalu.. “May,Rif.. Sini cepat ada yang mencurigakan.” Panggil Kiky.

Lalu aku dan Arif pun segera menghampiri Kiky dan kita ternyata itu hanya sebuah orang-orangan sawah yang berambut ikal. “ikal??” batinku.

“Begini saja, nanti malam sesudah tarawih kita ketempat ini lagi. Bagaimana?” Tanyaku.

“Aku sih oke-oke aja, tapi orang tuaku belum tentu mengijinkannya.” Ujar Arif.

“ Ya sudah. Aku dan Maya saja yang nanti kembali kesini. Karena tadi aku sudah izin orang tuaku untuk menginap di rumah Maya.” Jelas Kiky.
Akhirnya semua setuju dengan rencana itu.

Sekarang aku dan Kiky sudah selesai sholat tarawih di masjid. Kita segera menuju ke TKP yang kita kunjungi tadi sore. Sesampainnya disana, keadaannya 180 derajat berbeda dengan sore hari tadi. Keadaan berubah mencekam dengan angin yang perlahan menembus kulit yang membuat bulu kuduk pun berdiri. Tetapi aku dan Kiky tetap harus fokus untuk mencari bukti dan mungkin kita bisa menemukan “Monster Ramadhan” yang sering dibicarakan oleh penduduk. Tiba-tiba ada suara aneh yang muncul di balik rimbun pohon dan..

“Itu.. itu apa may?” Tanya Kiky gemetaran.

“Mana? Mana?” Aku pun mulai penasaran dengan apa yang di lihat Kiky.

“Mon.. monster Rraamadhan. Monster Ramadhan.” Teriak Kiky yang langsung menarikku dan berlari terbirit-birit. Tapi, tunggu dulu..

“Tunggu Ky. Itu bukan Mora. Itu orang-orangan sawah yang tadi kita lihat.”

“Mem.. mmasa’?”

“Iya, perhatikan deh! Pakaiannya yang hitam, tubuhnya yang besar dan ambut ikalnya. Itu memang Mora yang sering dibicarakan oleh penduduk kampung Ky. Tapi itu hanya boneka dari batang padi, bukan monster.” Jelasku pada Kiky.

Aku dan Kiky pun sudah yakin dengan apa yang kita lihat. Itu memang bukan Monster, itu boneka yang sengaja dibikin unuk menakut-nakuti. Karena, di daerah itu sama sekali tak ada sawah, kebun janggung atau kebun lainnya.  Tapi, siapa yang menaruhnya disini dan siapa yang ciptakan rumor seperti ini?
Karena sudah terlalu larut. Akhirnya aku dan Kiky kembali ke rumah dan menyiapkan diri untuk hari esok.

Keesokkan harinya aku Arif dan Kiky kembali berkumpul dan menutu ke TKP lagi. Selama perjalanan aku dan Kiky menceriyakan apa yang kita lihat tadi malam.

Saat kita sudah sampai di TKP, kita mencari rumah yang dekat dengan orang-orangan sawah itu. bahkan kita juga masuk ke hutan untuk mencari. Saat kita masuk ke hutan itu, kita menemukan sebuah rumah yang terbuat dari kayu. Sebagian rumah itu hangus seperti sudah lama terbakar. Kita memberanikan diri untuk menghampiri rumah itu dan berencana bertanya pada pemilik rumah. Saat kita melai mengetuk dan mengucapkan salam. Ada seorang kakek yang berjalan menghampiri kita dia berkata “Ada apa cu?”. Aku, Arif dan Kiky hanya saling memandang beberapa saat. Lalu..

“Maaf kek. Salya boleh bertanya?” Arif yang membuka pembicaraan.

“Boleh cu..”

“ee.. Kakek tahu siapa yang menaruh orang-orangan sawah di pinggir hutan ini?”

“Kakek sendiri yang menaruhnya disana. Kakek juga yang membuatnya.” Jelas si kakek.

Kita diam sesaat dan saling memandang lagi.

“Jika boleh saya tahu, kenapa kakek menaruhnya dipingir hutan? Di daerah sini kan tidak ada sawah atau kebun kek.”

Kakek itu hanya diam dan memandangi kita dengan wajah aneh. Kita pun berusaha untuk membuat kakek itu mengatakan kenapa dia membuat orang-orangan sawah itu. kita juga menjelaskan pada kakek apa yang terjadi di kampung Mandala. Kita juga menceritakan ketakutan penduduk dengan rumor “Monster Ramadan”.  Akhirnya setelah kita menunggu lama. Kakek itu pun mau menceritakannya.

“Kakek menaruhnya di pinggir hutan hanya saat di bulan ramadhan saja cu. Kakek hanya ingin menakut-nakuti anak-anak yang selalu bermain pertasan di malam hari saat bulan Ramadhan. Karena 34tahun yang lalu banyak sekali anak-anak, bahkan orang dewasa yang bermain petasan di malam hari. Karena dulu kakek tinggal bersama ibu kakek yang sedang sakit. Suara petasan itu mengganggu ketenangan ibu kakek. Sudah berkali-kali kakek mengingatkan mereka agar tidak bermain petasan di sekitar rumah kakek. Tatapi, ada seorang ayah dan anaknya yang melempari rumah kakek dengan petesan. Salah satu petasan itu yang sudah membakar sebagian rumah kakek. Ibu kakek terjebak di dalam kamar yang terbakar. Kakek tidak bisa menyelamatkannya. Seketika itu juga kakek kehilangan orang tua kakek satu-satunya. Sejak itu kakek menciptakan rumor Monster Ramadhan agar tak ada orang lagi yang  bermain petasan di daerah rumah kakek.” Jelas kakek panjang lebar dengan mata yang berkaca-kaca dan ekspresi marah.

Kita bertiga terlarut dengan cerita kakek dan kita hanya bisa menundukkan kepala kita. Ternyata aku salah. Bukan orang iseng yang membuat rumor ini. Semua orang selalu punya alasan yang kuat atas apa yang mereka lakukan.

“Tapi kek. Kakek tidak kasihan dengan anak-anak yang kehilangan malam ramadhannya? Bahkan mereka semua terlalu ketakutan hanya sekedar untuk sholat tarawih.” Tanyaku. Pertanyaan yang mengejutkan semua yang ada di rumah itu. Semua mata itu langsung tertuju padaku.

“Mereka semua juga tak peduli dengan kakek! Mengapa kakek harus memperdulikan mereka?!” Bentak kakek.

“Tapi kek itu sudah 34 tahun yang lalu. Tidak semuanya bersalah pada kakek kan? Kenapa mereka yang tidak tahu apa-apa juga mendapat ganjaran dari kakek? Kenapa kakek tak menjelaskan apa yang terjadi dan berbicara baik-baik saja” Lanjutku.

Aku dan yang lain terus berusaha membujuk kakek agar dia mau menjelaskan apa yang terjadi dan juga menjelaskan tentang rumor Monster Ramadhan. Setelah aku melewati perdebatan yang rumit. Akhirnya, kakek memahaminya dan akan meminta maaf pada penduduk kampung.

2 hari kemudian. Aku, Arif dan Kiky mengumpulkan seluruh penduduk kampung di masjid. Kakek pun berusaha menjelaskan kepada penduduk kampung. Kakek benar-benar merasa bersalah dan meminta maaf kepada mereka. Untungnya, tanpa perdebatan yang panjang penduduk kampung Mandala memaklumi apa yang kakek lakukan. Mereka juga memaafkan si kakek.

Sejak hari itu keadaan kampung Mandala di malam hari semakin ramai dan tak menjadi malam yang horror lagi. Masjid juga selalu penuh disaat sholat tarawih. Anak-anak juga mengaji di masjid. Penduduk kampung sengaja membuat kesepakatan bahwa di malam Ramadhan tidak boleh ada yang bermain kembang api atau petasan. Semua anak dan orang dewasa mematuhi peraturan itu. Karena selama lebih dari 30 tahun penduduk kampung terbiasa tidak pernah merayakannya dengan petasan dan itu membuat kampung lebih tenang dan dapat lebih fokus beribadah pada-Nya. Aku bahagia. Semua penduduk kampung sudah tidak lagi ketakutan dan terhanyut dengan rumor Mora. Ramadhan tahun ini dan seterusnya pasti akan lebih seru.

Komentar

share!