Moment penting di awal berpuasa




Karya:  Yogi Dwi Prasetia


Dua laki-laki hidup selalu bersama bukan berarti mereka jodoh dan berpasangan. Sebagian orang, baik itu teman sebaya maupun masyarakat menjuluki mereka dua sejoli. Dari mulai mereka dilahirkan dirumah sakit yang sama, menempuh pendidikan SD, SLTP, hingga SLTA mereka selalu bersama. Kelangsungan hidup seseorang memang membutuhkan bantuan orang lain, maka dari itu manusia dijuluki sebagai makhluk sosial. Sehingga atas dasar itu persahabatan mereka tidak mudah retak.


Mereka adalah Andi dan Jeremy, dua kaum adam ini memiliki karakteristik spesialnya masing-masing. Dikatakan spesial bukan berarti mereka martabak, melainkan pewarisan sifat dari orang tua mereka yang menentukan mereka dapat tercapai atau tidaknya dalam menemukan jati diri yang layak diterima orang lain atau berakhir dengan merepotkan dirinya sendiri.
Pramuja andi sadewo pancadiwata handoyo akrab dipanggil Andi, merupakan laki-laki yang memiliki sifat kalem dan berpikiran dewasa sebelum bertindak. Postur tubuh yang ideal dengan tinggi 175cm dan berat 70 kg membuat dirinya bersyukur, namun kelemahan dirinya akan timbul pada saat berinteraksi dengan perempuan seusiannya. Dia selalu gugup dan  hanya terdiam seribu bahasa.
Tetapi dibalik itu Andi memegang 3 prinsip untuk dirinya yaitu melangkah kedepan, menuju didepan, dan menjadi terdepan. Inti dari prinsip tersebut adalah menjadikan dirinya menggapai sesuatu dengan usaha sendiri tanpa kecurangan dan hasutan orang lain serta menjadikan dirinya berguna bagi orang lain dengan tetap merendahkan diri.
Sedangkan Jernita emerly biasa dipanggil Jeremy. Merupakan seorang anak laki-laki tulen 100%, orang tuanya sengaja memberikan nama perempuan karena semasa kecilnya dirinya sangat cantik dan lucu. Sampai-sampai diperayaan ulang tahun kelima dirinya, ibunya sengaja memberikan kado hadiah berupa gaun berwarna putih berendra disertai hiasan dikepala.
Selain hadiah tersebut, seketika ibunya meminta agar dirinya mengenakan gaun tersebut pada saat berfoto sehingga membuat raut wajahnya seketika memerah. Meskipun demikian Jeremy menerima permohonan tersebut walaupun tergambar jelas bahwa dirinya merasakan malu yang sangat kuat. Menjadikan pengalaman termanis yang tidak akan terlupakan oleh Jeremy sendiri.
Tinggi 168 cm dengan berat 52 kg, memiliki sifat heboh, ribet, susah ditebak, dan kepercayaan  diri tingkat tinggi serta tidak jarang khayalan jahatnya suka kumat. Itulah karakter diri Jeremy, diusia yang sama dengan Andi yaitu 17 tahun. Tetapi disisi lain Jeremy adalah orang yang baik, pengertian, dan bijaksana.
Itulah yang mendasari Andi dan Jeremy saling melengkapi satu sama lain, tanpa memandang kekurangan baik fisik maupun sifat antara keduanya. Karena mereka yakin dengan adanya kepedulian dan saling mengingatkan satu sama lain membuat hubungan pertemanan mereka dapat bertahan hingga sekarang.
Arah jarum jam menunjukkan pukul 04.00 Wib, tidak biasanya mereka bangun tidur di pagi buta. Ternyata hari itu merupakan awal bulan ramadhan, dimana kejadian saat semalam masjid maupun mushola penuh dengan warga yang melaksanakan shalat sunah terawih berjamaah. Namun bukan itu saja, setelah usai bukan hal aneh jika sebagian jamaah kehilangan sendalnya. Itulah yang di alami Andi dan Jeremy, keduanya harus pulang tanpa mengenakan alas kaki.
Alarm yang mereka atur, mulai dari alarm di handphone dan jam dinding tidak ampuh untuk membangunkan kekuatan tidur mereka. Beruntung di bulan ramadhan sekarang mereka bisa terbangun karena berisiknya bedug keliling dan para warga yang rutin membangunkan orang untuk sahur.
Dapat terbayangkan kelakuan mereka, nampak Andi sedang menyiapkan hidangan sahur dengan sangat perlahan bukan berarti dia berhati-hati melainkan dirinya sekali-kali tertidur meskipun dengan posisi berdiri. Sedangkan Jeremy hanya menunggu dengan duduk di meja makan sambil tertidur memegang sendok dan garpu.
Pukulan bedug dan teriakan para warga yang sangat keras kembali terdengar, membuat mereka terkejut hingga terbangun. agar tidak keburu waktu imsak datang mereka bergegas menuju kamar mandi untuk membasuh wajah dan mencuci tangan, dilanjutkan dengan duduk dimeja makan dan berdoa. Dimulailah sahur pertama mereka dengan hidangan yang seadanya.
Makan sahur telah usai. Dengan perut yang masih terisi, Jeremy seketika bergegas ke tempat tidur berniat melanjutkan mimpi indahnya. Tetapi Andi segera mencegah dengan cara memegang tangan dan menunjukkan jam tangan dengan jarak 5 cm ke wajahnya, ternyata arah jarum jam tersebut menunjukkan sebentar lagi waktunya shalat subuh.
“ Alangkah baiknya melaksanakan kewajiban dulu”
Teguran halus tersebut membuat Jeremy mengangguk-anggukan kepala, gaya pecicilannya dan sifat dinginnya Andi membuat mereka berdua tertawa masing-masing dengan lepas. Hingga akhirnya adzan subuh berkumandang serentak mereka membereskan meja makan dan bergegas mensucikan diri dengan berwudu sebelum melaksanakan ibadah.
Matahari terbit di pagi hari tepatnya di awal bulan ramadhan. Langkah kedua kaki mereka berjalan menuju pintu depan rumah, mengharapkan sesuatu yang berbeda. Dipegangnya gagang pintu oleh Andi disertai anggukan kepala Jeremy seketika terbuka pintu tersebut terlihat warga desa permai kota bekasi melaksanakan aktivitas seperti biasanya.
Tidak berbeda dengan hari-hari biasa, Andi menganggap hal tersebut biasa tetapi tidak dengan Jeremy. Dimana selepas shalat sunah terawih semalam, dirinya mengharapkan yang berbeda dari setiap warga dan membuat daftar kegiatan yang akan dilakukan di hari awal berpuasa. Melihat daftar tersebut, seketika dirinya terlihat patah semangat disertai dengan raut wajah yang begitu suram.
Desa yang mereka tempati merupakan desa yang menjungjung tinggi moral dan eksistensi. Tergambar jelas dari setiap warganya masing-masing, mereka memiliki sifat baik, ramah, dan rendah hati, serta peduli terhadap sesama maupun lingkungan. Terdapatnya pepohonan yang rindang dan bunga yang bermekaran menjadikan bukti kecintaan mereka terhadap bumi. Tidak hanya itu mereka juga menyumbangkan beberapa dana untuk pembuatan taman bagi anak-anak agar dapat bermain dengan layak, tidak di pinggir jalan maupun di atap rumah lagi.
Bapak Arli sutejo, merupakan kepala desa disini. Diusianya yang ke 30 tahun dirinya berhasil menjadikan desa permai sebagai desa terbaik di kota bekasi tahun 2014. Penjiwaan serta karakternya yang berwibawa tidak menjadikan dirinya besar kepala, justru dibalik itu dirinya adalah orang yang baik dan ramah terhadap warganya serta mudah dalam bergaul.
Semua itu bukan berdasarkan rekayasa dan fiktif belakang. Warganya sendiri yang berpendapat demikian, karena kinerjanya dalam bekerja sangat memuaskan. Dirinya rela turun ke jalanan mencegah terjadinya banjir dengan membersihkan sampah yang berserakan, sampai saat ini permasalahan sampah tidak terdengar lagi. Karena masyarakat mulai mernyadari dan menjadikan sampah tersebut sebagai mata pencarian berupa kerajinan rumah ataupun  menjadikannya pupuk tanaman.
Pada saat gempa bumi melanda desa permai, bapak Arli sutejo dan segenap warga saling gotong royong membangun kembali pemukiman dan fasilitas penduduk serta memberikan sumbangan kepada seseorang yang membutuhkan bantuan. Dirinya juga pernah berbaur sengan masyarakat, contohnya pada saat menonton pertandingan sepakbola antara real madrid melawan juventus bersama warga di pos ronda. Atas dasar itulah dirinya terpilih kembali sebagai kepala desa dan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya serta berjanji akan bekerja lebih baik lagi.
Serentak Andi merebut daftar kegiatan tersebut dari tangan Jeremy. Terlihat 3 hal penting yang dia cantumkan disana, pertama pembersihan lingkungan, kemudian dilanjutkan dengan pemberantasan kembang api dan sejenisnya, terakhir penyelidikan pelaku pencurian di tempat ibadah.
Di awal berpuasa niat Jeremy begitu baik, lantas Andi mengangguk-anggukan kepala sesudah membacanya. Tetapi tetap saja Jeremy terdiam tidak merespon sama sekali, di tepak pundak Jeremy seketika dirinya keget hingga sedikit melompat. Andi melihat dirinya dari kaki hingga ujung rambut dan menyentuh keningnya namun tidak terasa hanyat, Jeremy merasa heran apa yang dia lakukan terhadap dirinya.
“Bisa kita selesaikan  ini?..”
Daftar kegiatan tersebut di tunjukan dekat sekali dengan wajah Jeremy, itu meruapakan hal biasa yang dilakukan Andi terhadap dirinya meskipun tidak mengetahui apa tujuannya. Jeremy menyadarinya dan memohon kerja samanya kepada Andi, dia menerimanya dengan senang hati membuat Jeremy seketika kembali ceria. Tetapi dengan syarat selalu berdoa meminta lindungan kepada Allah Swt dan bekerja dengan berhati-hati jangan berlebihan.
Hal pertama yang mereka lakukan adalah membersihkan lingkungan, tergambar jelas dibenak mereka yang harus mereka lakukan adalah menyumbangkan tenaga membersihkan taman anak-anak dimana petugas kebersihan disana meminta izin untuk berpuasa selama sebulan penuh dikampung halaman bersama keluarga.
Benar saja, sampah yang berserakan disertai tumbuhnya beberapa rumput liar membuat taman tersebut tidak enak dipandang. Mereka berdua tidak tinggal diam hanya menyaksikan, secepatnya mereka memberishkan sampah, membuangnya pada tempat yang telah disediakan. Dan mencabuti beberapa rumput dengan kedua tangan tanpa menggunakan alat apapun, keringat yang bercucuran dan rasa yang melelahkan tidak menyurutkan semangat mereka berdua.
Selain kita sendiri siapa lagi yang dapat memelihara dan menjaganya, tidak perlu mengorban jiwa hanya menyumbangkan sedikit tenaga saja. Bumi yang kita singgahi akan dirasakan oleh diri kita sendiri, apa diri kita hanya terdiam hingga acuh dengan lingkungan sendiri membiarkannya rapuh dan lenyap. Yang dulu biarkan berlalu dan waktu masih panjang, tapi diri kita tidak akan menyadari apakah esok akan diberikan ingatan dan masih diizinkan untuk bernafas. Setahun bagaikan sebulan sebulan bagaikan seminggu seminggu bagaikan sehari dan sehari bagaikan sejam
Kita manusia diciptakan dengan akal dan pikiran, apa hanya berlatarkan itu kita memproleh semuanya yang kita mau. Tidak, sebab diri kita masih bergantung kepada lingkungan sekitar kita. Allah swt yang mencipatan sesuatu agar saling berkegantungan dengan yang lain, seperti air yang kita sangat butuhkan. Apakah kita akan terus mencemarinya, ataukah pepohon yang memberikan kita cukup oksigen untuk menghirup udara segar harus di tebang hanya karena menjamurnya pembukaan kawasan lahan industri yang tidak mementingkan ekosistem hingga berdampak buruk juga terhadap populasi flora dan fauna.
Waktu memang cepat berlalu, mereka akhirnya dapat menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan tidak lupa untuk beristirahat. Duduk di ayunan membuat sebuah pikiran menjadi tenang dan menghilangkan godaan hausnya dahaga. Menghilangkan sebuah ego pada diri sendiri menjadikan waktu yang paling berkesan pada akhirnya, dengan demikian diri kita sendiri tengah merasakan nikmat dan karunia yang telah diberikan serta tak terlupakan untuk selalu bersyukur dalam kondisi apapun.
Hari telihat sudah begitu siang sang mentari begitu teriknya memancarkan cahaya ultraviolet ke lapisan atmosfer bumi, Jeremy bergegas untuk melaksanakan tugas yang ke dua. Akan tetapi Andi menyoret tugas tersebut karena dibulan ramadhan sekarang petasan tidak begitu banyak di edarkan, apalagi petasan korek yang sudah dilarang keras penjualannya. Akhirnya Andi berpikiran untuk mengunjung rumah seseorang.
tidak berpikir panjang mereka begegas menuju rumah paman Anto. Mereka berniat kesana karena disana merupakan tempat mereka bermain dan terkadang mereka tertidur disana saat pulang sekolah. Rumahnya berjarak ±300 meter dari kediaman mereka, mereka sangat mengagumi Paman Anto karena kebaikannya dan  kerja kerasnya dalam bekerja sebagai penjual koran meskipun di usianya yang terbilang lanjut.
Kini Paman Anto berjualan kolak dan takjil di pasar setiap sore, atas dasar itu mereka berdua ingin membatu membawakan barang yang akan dijual kepada konsumen. Tiba disana mereka disambut ramah oleh paman Anto, lantas mereka bergegas mambantu paman Anto dengan segenap jiwa dan raga.
Beberapa jam berlalu akhirnya sore itu tiba, di hari pertama berpuasa mereka sangat bergembira bisa membantu dengan sesama. Jajanan seperti takjil dan kolak mereka gelar di atas meja, paman Anto betugas sebagai penjual sedangkan Andi dan Jeremy mereka bertugas sebagai penarik konsumen agar membeli jajanan yang mereka sediakan.
Alhamdulilah semua dagangan dihari pertama berpuasa laris manis uang terkumpul, Andi dan Jeremy juga ikut senang namun mereka berpikiran tidak mendapatkan bagian dari hasil usaha mereka, tetapi seketika Paman Anto mengeluarkan bungkusan berupa kolak untuk mereka masin-masing 1 bungkus. Alangkah senangnya mereka mendapatkan itu hingga mengucapkan berterimakasih yang sebesar-besarnya, selepas itu mereka bergegas pulang untuk menyiapkan hidangan untuk berbuka tidak lupa berpamitan dengan paman Anto atas apa yang tengah diberikan.
Adzan magrib segera berkumandang, hidangan sudah ada di mangkuk masing-masing apalagi kalo bukan takjil pemberian waktu sore, hanya itu saja yang terlihat di atas meja. Mereka sangat mensyukurinya karena itu merupakan usaha mereka sendiri dengan kerja keras dan halal. Makanan dimulai dengan doa dan selepas itu mereka menunaikan kewajiban yaitu shalat magrib dan tak lama mereka bergegas ke masjib untuk shalat isya dan shalat terawih berjamah.
Terwaih hari ke 2 dimulai masih terlihat banyak warga yang berdatangan untuk terawih tidak tahu pada pertengahan biasanya sepi. 23 rakaat kami jalankan bersama dibulan suci ini dengan hati yang ikhlas dan begitu banyak perjuangan yang tengah dilalui, tidak terlupakan  penyelediki siapa pencuri sandal dimalam itu. Shalat terawih telah usai tapi sandal masih utuh tidak ada yang merasa kehilangan. Hati begitu tenang mendengarnya. Tetapi kenapa sebagian sandal pada bolong?.....
-INI MASIH MENJADI MISTERI-

Komentar

share!