Mengapa Kita Tidak Boleh Mencuri Talok (Saat Ramadhan)




Karya:  Atala G


Aku dan Indra sedang menjalankan misi yang amat penting: memetik buah talok. Sebenarnya tidak tepat disebut sekadar memetik, sih, karena pohon talok yang sedang Indra panjat berada di balik tembok pagar rumah orang. Talok adalah buah favorit sejuta anak SD, saat matang berwarna merah, hanya sebesar kelereng, beberapa daerah menyebutnya ceri. Dan Pak Bino tidak akan mengijinkan anak-anak kampung meminta taloknya yang berharga. Atau demikian pikir kami.


Pak Bino berperut buncit dengan kumis tebal yang selalu bergerak-gerak. Matanya besar dan terlihat seperti ikan mas jika melotot, kata Irpan yang pernah dipelototi Pak Bino ketika meminta ijin mengambil bola yang nyasar tertendang ke halaman rumahnya. Pak Bino kerap memakai kaos oblong putih serta sarung, kerap duduk di teras belakang sambil membaca koran setiap sore. Biasanya, aku dan teman-temanku akan mempercepat langkah jika melewati gang rumah Pak Bino. Terutama Irpan. Kapok, katanya, lalu mengomeli Rian yang salah menendang hingga dia harus kena getah. Kejadian itu sudah dua bulan lalu, tapi dendam Irpan belum padam. Aku sedikit kasihan, namun tawaku meledak paling keras sewaktu Irpan pertama kali bercerita.
Aku mendengar dengung samar dari arah masjid. Salat tarawih baru memasuki dua dari delapan rakaat ketika aku dan Indra memutuskan cabut. Aku tidak berharap tarawih segera selesai, jadi aku bisa pulang lebih terlambat. Setelah ini kami akan bermain bola di lapangan ujung kompleks. Andre sedang mencari bola. Lapangan itu cukup kecipratan terang dari lampu-lampu rumah dan gang sekitar, jadi bisa dipakai malam-malam. Atau kami ngotot saja begitu.
“Woi, Ndra, cepat dikit kenapa?”
“Sabar! Licin, tahu, habis hujan. Kamu diem doang, sih,” Indra mengetuk-ngetuk tumit pada satu dahan sebelum mendaratkan kaki di sana, naik lebih tinggi.
Aku sedang malas panjat-memanjat, maka dengan curang aku menyuruh Indra saja yang naik, sementara aku mengawasi sekitar. Bersiap memperingatkan jika dilihat orang atau lebih parahnya Pak Bino keluar rumah. Aku pernah melihat orang melotot di televisi. Menakutkan (dan jelek). Sudah cukup membuatku ogah bertemu Pak Bino. Ditambah raut muka Irpan yang kelihatan amat horor, berkata bahwa Pak Bino super gualak. Sirna sudah niat baikku beramah-tamah.
Aku menarik sarung ke pundak. Indra beberapa kali menggaruk kaki dan tangan. Kini nyamuk-nyamuk juga mulai menyerangku. Aku harus terus bergerak jika tidak mau pakai minyak kayu putih, minyak yang selalu ibuku sodorkan jika melihatku gatal-gatal. Baunya tidak enak.
Frustasi karena nyamuk-nyamuk semakin gencar menggigit, aku menoleh mengamati pekarangan rumah Pak Bino. Wajar saja banyak nyamuk. Pekarangan rumah Pak Bino dipenuhi rimbun tanaman serta pot-pot. Ada kolam ikan di satu sudut. Aku menduga airnya berwarna kehijauan. Dan, nyamuk kebon bisa sangat ganas saat lapar. Aku mengibas-ngibaskan sarung untuk mengusir dengung hewan-hewan kecil itu dari telinga.
Jika kamilebih tepatnya Indraberhasil membawa pulang sejumlah talok, kami tidak berencana membagi ke yang lain. Memang pelit, haha, maafkan kami kawan-kawan, tapi talok Pak Bino merah-merah sekali. Buah tersebut pasti manis-manis semua.
Aku menepuk lengan. Satu lagi nyamuk kebon gemuk mejret kena hantam telapak tanganku. Tidak peduli seberapa banyak aku bergerak, dipastikan aku bentol-bentol sampai rumah. Apalagi Indra. “Banyak nyamuk.”
“Dari aku mulai manjat, aku udah digigitin.” Indra menggerutu. Dia mulai mengambili talok-talok untuk ditaruh di kemasan kosong akua gelas. Kecuali memungut akua gelas, aku hampir tidak melakukan apa-apa. Jadi aku berjongkok, menonton ujung sarung Indra dirambati laba-laba kecil. Di saat seperti ini, bakal menyenangkan menyambar sandal Indra yang dia tinggalkan untuk dilemparkan ke got atau pekarangan rumah Pak Bino sekalian, mengingat Indra juga melakukan hal yang sama padaku tempo hari (tentu saja main-main), namun aku kasihan. Sudah mengambil talok malah diusili. Salah-salah, nanti aku malah tidak dibagi. Sudah lama aku  tidak makan talok. Lahan-lahan kosong tempat talok tumbuh di dusun tetangga telah banyak dijadikan rumah.
Puasa sudah memasuki hari keempat. Baru hari keempat. Dan aku serta Indra justru melakukan tindakan maling: mencuri talok dari pohon Pak Bino. Ustadku di TPA akan geleng-geleng lalu menegur, menasihati panjang lebar jika beliau tahu hal ini. Belum tentang kami yang kabur di tengah tarawih. Jangan ditiru, ya, teman.
Nyolong, ‘kan, nggak boleh. Apalagi ini bulan puasa,” cetusku.
“Bayu, kamu mau ijin ke Pak Bino?”
“Nggak.”
“Ya udah. Lagian ini ide siapa, coba?”
Aku, sih. Hehehe.
Saat itulah, aku melihatnya.
Untuk mencapai dahan terdekat yang bisa dipanjat, kami menaiki tembok pagar Pak Bino lebih dulu. Tidak terlalu tinggi. Indra berdiri di punggungku dan mendaki, lalu gantian membantuku naik. Di balik tembok itu ada tanaman bambu yang mengelilingi halaman. Pohon talok hanya berjarak sedikit lebih lebar dari sejangkauan kaki. Aku sempat heran, karena dengan kemudahan akses masuk begini, bukankah rumah Pak Bino seharusnya rawan pencurian? Tapi aku tidak ambil pusing, toh tidak penting, juga bukan urusanku. Sekarang, aku menyesal telah mengabaikan pikiran itu.
Sinar bulan menimpa sesuatu sehingga aku dapat melihat lebih jelas. Benda itu berwarna hitam. Cukup besar. Terbaring di dekat sebuah tiang pancang di pojok halaman. Ada samar gerak naik-turun seperti bernapas. Dua bentukan segitiga mirip telinga. Empat kaki. Bermoncong.
Butuh beberapa detik bagiku untuk sadar bahwa itu adalah anjing. Butuh beberapa detik lagi untuk menerima bahwa anjing itu tidak dirantai. Alias dibiarkan bebas. Alarm waspada dalam kepalaku berdering keras. Aku tahu yang harus kulakukan adalah memperingatkan Indra agar berhati-hati dan tidak berisik, atau anjing itu akan terbangun.
“Ndra,” aku berbisik sepelan mungkin. “Awas, ada anjing—”
HAAAH?!
Sayangnya aku lupa kalau Indra takut anjing. Aku buru-buru mendesiskan sst sambil kalang-kabut, tapi Indra sudah kepalang lebih kalang-kabut. Dia mengulurkan tangan begitu cepat dan grasa-grusu, berusaha pindah ke tembok tapi akal sehatnya keburu melayang. Alih-alih mendapat pegangan, Indra keliru meraih sarungku. Aku ditarik. Indra ikut tertarik. Kami jatuh bertumpukkan. Tidak ada waktu untuk menyukuri bahwa kami mendarat di atas rumput yang cukup tebal. Aku melotot. Kaget serta panik. “Bego kamu!”
“Makanya jangan ngagetin!”
“Aku ngingetin, tahu!”
Ggrrh
Kami membeku. Sekaku robot, aku menoleh pelan-pelan ke pojok di mana aku melihat si anjing tidur. Indra melakukan hal serupa. Mukaku pasti pucat sekali. Indra pasti lebih pucat. Aku harap dia tidak pingsan. Aku panik. Indra lebih panik.
Di sudut, anjing itu membuka mata. Matanya yang tajam memantulkan cahaya bulan, tepat mengarah pada kami. Moncongnya terbuka, menggeram rendah, dan anjing itu sudah berdiri.
Kami kalap merapal ayat kursi.

Komentar

share!