MENCARI HIKMAH




Karya:  Nur Lailatul Qadariah


Dua bulan yang lalu, aku bersama sahabatku sedang menunggu pengumuman seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalur tanpa tes (SNMPTN). Dengan ratusan ribu anak Indonesia lainnya, kami menunggu penuh harap. Siapa yang tidak ingin lulus masuk perguruan tinggi tanpa tes? Tentu semua dari kita ingin. Dari sana kita bisa membanggakan orang tua, juga membanggakan sekolah. Tapi, tidak semua harap akan selalu berujung bahagia, bukan?


Aku duduk di samping sahabatku, sedang sebuah laptop tergeletak di depan kami. Perasaan di dada kami masing-masing tentu tak karuan. Kami menarik nafas perlahan, apapun hasilnya, kami mencoba untuk menerima. Sahabatku memeriksa hasil pengumuman terlebih dahulu, berikut aku menanti di sampingnya. Sambil harap-harap cemas ia mengetik nomer peserta dan tanggal lahir. Tak butuh waktu lama bagi kami menyadari warna yang tertera adalah warna hijau, dimana itu artinya sahabatku lulus di perguruan tinggi yang ia inginkan, tanpa tes! Aku memeluknya erat, Ibunya juga memeluknya tak kalah erat. Kami menangis bahagia.
Kini, giliranku yang harus melihat hasil pengumuman. Awalnya, aku menolak karena aku belum siap dan aku tidak tega merusak kebahagiaan sahabatku dengan air mataku nantinya. Ia memkasaku untuk melihat hasil pengumuman, pun Ibu sahabatku terus mendesak. Akhirnya, mau tidak mau aku membesarkan hati melihat pengumuman tersebut. Seperti yang ku duga, warna yang tertera adalah merah, dimana artinya aku tidak lulus. Aku menangis sedih di samping sahabatku yang menangis bahagia.
Aku menyesal, sedih, marah dan kecewa pada keadaan, aku menggerutu sepanjang malam. Tapi sahabatku terus menenangkan, pasti ada maksud Tuhan kenapa aku tidak lulus di perguruan tinggi tersebut. Aku mulai mencari-cari celah apa maksud Tuhan atas keputusan-Nya tersebut, bukankah kami yang disuruh memilih perguruan tinggi yang ingin kami masuki, tapi kenapa perguruan tinggi itu memilih kami kembali? Mengapa aku harus daftar di sana? Mengapa aku tidak daftar di situ saja? Ternyata benar tentang segala hal yang diceritakan kakak kelas kami sebelum-sebelumnya, di tolak perguruan tinggi itu sungguh menyakitkan.
Hari terus berlalu, rasa sakit itu terus saja menggerogoti hatiku. Terlebih bila ada yang bertanya, aku lulus di perguruan tinggi mana. Setiap saat aku menguatkan hatiku, menyesal dan bersedih tidak akan mengubah keadaan. Dengan mantap, aku lebih memilih untuk berfokus pada seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalur tes (SBMPTN). Aku belajar mati-matian secara autodidak, sebab orangtuaku tidak memberi izin ikut bimbel. Mereka kecewa, mereka meremehkanku karena tidak lulus. Ayahku mengancam tidak menyekolahkanku jika seleksi selanjutnya aku tidak lulus. Akhirnya, aku  tidak segan minta bantuan teman-teman yang lain untuk mengajariku. Singkatnya, aku hampir siap seratus persen untuk ikut seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalur tes.
Naasnya, sepuluh hari setelah pengumuman SNMPTN, aku dan sahabatku mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kaki kami patah. Kaki kananku patah dan tulangnya remuk dari mata kaki hingga paha, sedang sahabatku patah sempurna di bagian paha kiri. Padahal, seleksi SBMPTN kurang dari tiga minggu lagi. Saat kejadian, rasanya air mataku sudah tidak sanggup keluar lagi, terlalu lelah. Sepuluh hari yang lalu tanpa henti terus saja membanjiri wajahku, belum lagi saat melalui hari-hari pasca pengumuman, juga problem dengan Ayahku. Semua rasa sakit itu berkumpul jadi satu, sakit fisik dan sakit batin.
Melihat keadaanku saat itu, mustahil rasanya untuk ikut seleksi SBMPTN, rasa sakit yang luar biasa terus menemani malam-malamku, juga sahabatku. Aku pasrah bila memang harus kuliah tahun depan, tak mengapa, mungkin ini takdirku. Meskipun rasanya sungguh berat dan benar-benar menyesakkan dada, aku mencoba menerima. Satu hal yang saat itu selalu aku harapkan, taka pa bila aku harus menanggung rasa sakit ini, tapi aku berharap sahabatku tidak merasakannya. Ia telah lulus, aku tidak ingin kuliahnya terganggu dengan hal ini,a ku sangat berharap ia cepat sembuh.
Kami menjadi penghuni Rumah Sakit selama seminggu. Setelah operasi, kami cukup lega karena rasa sakitnya mulai berkurang. Hari demi hari berlalu, kami mulai belajar duduk sendiri, memindahkan kaki kami yang sakit, hingga belajar menggunakan tongkat. Awalnya, semua terasa berat dan sungguh menyiksa, namun akhirnya kami mulai terbiasa. Dengan berbekal semangat yang menggebu-gebu, aku meyakinkan Ayahku bahwa aku sanggup untuk ikut tes SBMPTN. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk meyakinkan Beliau, namun akhirnya aku dapat izin untuk ikut tes. Lelah, sakit, lapar, dan ngantuk beradu menjadi satu, karena aku ikut seleksi paket campuran jadi seleksinya diadakan dari pagi hingga sore. Apa pun hasilnya, aku ikhlas.
Ramadhan akhirnya datang, menemani rasa sakit yang kadang hadir tanpa permisi. Biasanya, hampir setiap malam buka bersama teman-teman. Namun tahun ini, dihabiskan dengan berdiam diri di rumah. Sedih, karena aku merasa seperti seonggok daging yang tidak berguna. Makan dan minum ku lalukan di kamar, ke kamar mandi pun aku harus berjalan terseok-seok. Aku sungguh bosan dengan semua ini, juga lelah dengan semua keadaan. Aku rindu berjlan normal, aku ingin berlari seperti dulu.
Ramadhan ini, ramadhan yang tidak pernah aku harapkan. Dimana aku harus melaluinya dengan rasa sakit, juga nasib melanjutkan sekolah yang masih terkatung. Tapi biar bagaimana pun, aku mencoba untuk selalu bersyukur. Tuhan Maha Tahu atas segala sesuatau, dan aku hanya hamba yang mencoba untuk mencari tahu.

Komentar

share!