Membangun Al-Firdaus




Karya:  Hendri Susilo

Hai kunang-kunang, apa kabar? Lama nggak berjumpa ya… meskipun kita belum kenal akan tetapi sinarmu mampu memancarkan kenangan, dan itu semua berkat kamu dan teman-temanmu. Terima kasih ya kunang-kunang, kamu memang sahabat terbaikku di dunia virtual ini. Berkat kamu, mesin waktu dalam otak ini dapat berputar dengan ikhlas untuk sejenak mengingat memorial indahku bersamanya, bersama orang-orang yang aku sayangi yang melengkapi awesome-nya bulan Ramadhan tahun itu.
****


“Assalamu’allaikum Ibuk, Bapak, Adik… Assalamu’allaikum…?” sembari membuka setiap pintu dalam rumah, lantaran tak ada respon dari salamku.
Dengan logat heran dan bergumam tidak biasanya rumah jam segini sepi pintu tidak dikunci, padahal sudah mau buka juga lho. Hati terus bertanya-tanya ini pada kemana kok aneh banget ya, akupun terus berjalan menuju ke dapur mengambil piring untuk siap-siap berbuka, hari ini sangat melelahkan apalagi siang hari tadi belum sempat istirahat karena banyaknya deadline tugas akhir semester yang harus aku selesaikan. Adzan berkumandang Alhamdulillah, disela-sela berbuka tiba-tiba lampu mati dan anehnya lagi saat aku cek di luar rumah kok yang mati lampunya di sini saja ya, bingung sambil garuk-garuk kepala. Akupun masuk lagi ke dalam rumah untuk telepon Bapak kalau lampu rumah konslet tapi saat aku masuk tiba-tiba bunyi ledakan pas di depanku “Daaaaarr…!!!”, spontan aku sangat kaget ternyata…
“Selamat ulangtahun kami ucapkan, selamat ulangtahun kitakan do’akan, selamat sejahtera sehat sentosa, selamat panjang umur dan bahagia… selamat ulangtahun Raka!!, selamat ulangtahun kakak!!” serentak Ibuk, Bapak dan Adik mengerjai aku mengucapkan selamat ulangtahun kepadaku.
Itulah sedikit cuplikan kenangan yang terkandung dalam angin malam dan berlalu, itulah hal terindah pelengkap penyatu semangatku. Tak tau kenapa genggaman tangan ini semakin gemertak mengepal kuat memegang pena yang sedari menumpahkan isi rasaku di buku kosongan ini. Hamparan sabana sawah semakin menderu meghiasi malam pada bulan yang mau menginjak bulan Ramadhan ini ditambah hembusan debu halus di sekitar teras belakang rumahku ini yang ditemani sahabat terbaikku kunang-kunang, hingga melengkapi hasrat yang terdapat pada kaset dalam pikiran ini kembali menge-play ingatkanku akan waktu itu…
“Raka…” ucap Ibuk berbisik sambil duduk di sampingku merangkul pundakku seperti ingin bicara kepadaku.
“Iya Buk ada apa? ada yang mau disampaikan ya…” jawabku dengan wajah penasaran ditambah udara yang sejuk yang menghiasi teras belakang rumahku melengkapi suasana hari itu.
“Anak Ibuk yang paling besar, sekarang sudah tumbuh dewasa dan besok ba’da lebaran ini sudah mulai duduk di bangku kuliah. Itu menandakan anak Ibuk harus benar-benar punya komitmen berdisiplin waktu dan tidak lupa juga perkuat pertahankan shalat 5 waktunya agar dapat dicontoh Adik kamu yang masih SMP.” Dengan penuh harapan Ibuk bicara kepadaku dan percaya, percaya bahwa aku adalah anak hebat.
“Iya siap komandan” sahut aku dengan semangatnya sambil bersikap hormat, menatap mata Ibuk yang bersinar penuh kasih sayang.
“Hahaha… Raka-raka, dari kecil sampai sekarang memang enggak berubah ya” sahut Ibuk sambil tertawa kecil seperti menegaskan bahwa sejak kecil aku tetap istiqomah dengan keunikkanku dan keanehanku.
Tak tau kenapa mata ini tiba-tiba menciptakan sumber mata air yang semakin deras tuk menetes, tes tes… buku yang terdapat kalimat memory ini sebagian basah, sedikit demi sedikit mulai menampakkan ketidaksanggupanku membendung sumber mata air itu. Aku ayunkan perlahan tangan kanan dan tangan kiriku silih berganti tuk mengusapnya. Sepi sunyi senyap terbawa oleh alam bawah sadarku yang gemetir dan getir. Kursi yang aku duduki dan meja yang aku tempati seolah memandangi aku yang tak jenuh memainkan paduan suara antara ingus dan air mata.
****
Mengingat kembali melalui yang aku goreskan di buku ini, di buku kosongan ini imajinasiku akan hal indah bersama Ibuk seakan-akan abadi. Sholat berjama’ah dengan Bapak dan Adik menjadi racikan tersendiri di bulan yang beberapa hari lagi adalah bulan puasa. Do’a kami akan terus menyambung bagaikan tali yang terikat yang takkan pernah putus…
“Hallo, Assalamu’allaikum Raka…!?” telepon dari Bapak dengan suara terburu-buru.
“Iya halo Bapak… Wa’allaikumsalam, ada perlu apa Bapak ini saya baru ada mata kuliah” jawabku dengan kaget karena cara bicara Bapak yang tak seperti biasanya.
“Ini Ibuk kamu Raka…” dengan terbata-bata tak jelas Bapak bicara, seperti menjelaskan kalau sedang terjadi sesuatu kepada Ibuk.
“Ibuk kenapa Bapak?” tanyaku dengan pikiran yang terbelit su’udzon.
“Ibuk kamu masuk rumah sakit kecelakaan” tegas Bapak.
Tanpa berpikir panjang akupun izin pada dosen dan langsung bergegas menuju tempat parkir untuk mengambil motor. Saat di jalan aku mengendarai motor, pikiran ini tidak karuan lagi melihat telepon Bapak tadi yang yang mengisyaratkan aku harus panik. 30 menit perjalan dari kampus akhirnya tiba juga di rumah sakit lantaran jalanan kota solo yang macet. Berlari aku masuk rumah sakit, tengok kanan tengok kiri melintasi hiruk pikuk antara dokter, suster, pasien, dan ruangan kamar untuk pasien yang menambah kekhawatiranku terhadap keadaan Ibuk sekarang. Dari kejauhan terlihat Bapak duduk menunggu di luar kamar dan sesampainya di depan pintu yang tertutup rapat akupun sejenak menghela nafasku karena kecapekan berlari dari luar rumah sakit tadi.
“Bapak apa yang terjadi dengan Ibuk?” tanyaku sambil memegang perutku yang masih terasa sakit karena efek dari berlari tadi.
“…” Bapak hanya diam membisu tak menjawab pertanyaanku, melamun mengeluarkan air matanya.
Ada apa ini, hati tak tenang, perlahan berlinanglah air mataku melihat semua ini. Seperti mimpi buruk yang tak mau aku alami. Masih tetap belum percaya dan seolah pikiran mengguncang memporak-porandakkan hati yang paling dalam bahwa aku benar-benar belum siap untuk menghadapi semua ini menghadapi kenyataan yang sepahit ini ketika dokter yang menangani Ibuk keluar dari kamar pasien dan bilang; “Maafkan saya, pasien telah menghembuskan nafas terakhirnya, mungkin Allah lebih sayang dari pada makhluknya”.
****
Akupun tercengang dan tertegun mendengarkan apa kata dokter dulu. Nafasku terhenti beberapa detik, lesu tuk menahan kesedihan, persetan dengan air mata yang tak kunjung reda mengalir membahasi pipiku meskipun kejadian itu sudah satu tahun yang lalu. Semua sahabat virtualku yakni kunang-kunang dimalam hari ini menjadi saksi bisu dalam kesedihanku betapa rindunya terhadap Ramadhan yang selalu ada senyum Ibuk.
Tak sadar aku telah menulis sampai beberapa halaman, tak sadar juga telapak tangan ini lengket akan air mata yang telah kering terusap berulang-ulang kali…
“Raka… kamu belum sholat Isya’ lho, sholat dulu gih sana” ucap Bapak dari dalam rumah, mengingatkan aku untuk sholat Isya’.”
“Iya Bapak…” jawabku dari teras belakang rumah yang masih memegang pena dan buku yang telah terisi beberapa halaman.
Astaghfirullah, maafkan aku ya Allah hampir melalaikan tugasmu, gumamku dengan istighfar. Akupun lalu beranjak dan bergegas masuk rumah untuk segera menunaikan ibadah sholat Isya’. Di sela-sela akhir sholat Isya’…“Ya Allah, bulan Ramdhan sebentar lagi dan tinggal menghitung hari. Aku sangat meindukkannya ya Allah, akan tetapi kerinduanku terhadap Ibuk sudah terbayar meskipun itu hanya mimpi semata. Terima kasih ya Allah, Engkau telah menitipkan pesan untuk aku lewat Ibuk di dalam mimpi malam itu… ‘Raka, apa kabar nak kamu? Di sini Ibuk selalu mengawasimu, jadilah anak kebanggaan orang tua dan bangsa. Di sini Ibuk kesepian, Ibuk berharap kamu menjadi anak yang sholeh karena Allah telah menjanjikan kepada Ibuk beberapa waktu lalu kalau anak Ibuk dapat berbakti dan menjadi anak sholeh maka Allah akan membangunkan Istana megah Surga ala Al-Firdaus untuk keluarga kita nanti Nak, selamat berjuang Raka. Ibuk sayang kamu.’ Jika teringat akan pesan yang disampaikan Ibuk lewat mimpi itu aku selalu mengingatmu ya Allah. Terima kasih ya Allah Engkau masih menyayangi keluarga kami. Allahu’maghfirli waliwalidyya warhamhumma kama robbayahisohiro. Aamiin”
****
Ramadhanpun tiba, tentu keluargaku menyambutnya dengan ceria dan haus akan amalan-amalan yang penuh dengan lumbung pahala-pahala yang berlipatkan ganda. Teringat pesan di mimpi itu aku tambah menjadi bersemangat menyambut bulan yang berkah ini, bulan yang penuh ampunan ini. Di depan makam Ibuk akupun berjanji pada diriku sendiri untuk berbenah menjadi yang terbaik dari yang terbaik, menjadi berkomitmen, berdisiplin waktu, dan memperkokoh amalan-amalan terpuji yakni sholat lima waktu dan perbuatan sholeh lainnya… “Assalamu’allaikum Ibuk, Raka kangen Ibuk… terima kasih Ibuk telah merawat mendidik aku hingga besar seperti ini, Raka berjanji apa yang telah Ibuk katakan kepadaku waktu itu akan Raka ingat selalu dan akan Raka realisasikan dengan hati yang ikhlas lilahita’alla. Berkomitmen, Berdisplin waktu, dan Menjaga sholat wajib lima waktu senantiasa akan Raka laksanakan untuk Allah semata, supaya Allah tetap melindungi Ibuk di sana hingga nanti kita menyatu kembali dan menghuni Istana yang telah dijanjikan Allah kala itu.” Memegang lembut tanah makam Ibuk sembari memainkan paduan musik antara air mata dan ingus.
Meskipun Ramadhan tahun ini berbeda, meskipun Ramadhan tahun ini tanpa sosok sang Ibuk, tanpa senyuman dan motivasinya yang luar biasa itu, akan tetapi semangat Ibuk sudah mengalir dalam darah nadiku. Semangat untuk menjadi orang besar, sukses dunia dan akhirat dan membangun istana untuk keluarga tentunya dengan semangat yang menggelegar 45.

- The End -

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa dan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah. Minal Aidzin Walfa’idzin Mohon Maaf Lahir Batin. Terima kasih sudah membaca cerpen fiksiku semoga bermanfaat dengan segala kekurangannya. Akan tetapi dibalik itu semua kita dapat mengambil kisah inspiratif dan hikmahnya bahwa seorang Ibuk adalah lumbungnya koin-koin pahala untuk anak-anaknya. Di situ seorang anak yang bernama Raka menunjukkan kesungguhannya untuk mencari jati diri. Karena menurutnya Ibuk adalah harta karun yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya meskipun sudah meninggal rasa sayangnya takkan pernah sirna dan akan abadi oleh sang waktu. Happy reading and keep sharing with the literator world’s. Salam writer ^^

Komentar

  1. awal ceritanya bagus sekali, tapi pembangunan ceritanya pada cerita selanjutnya terlalu datar, bisa ditebak dan penggunaan bahasanya juga bisa dibuat lebih menarik lagi, overall gua suka

    BalasHapus
  2. Ceritanya menyentuh, idenya bagus memasukkan seperti sinopsis di akhir seperti menjelaskan dari keseluruhan cerita. keren (y)

    BalasHapus
  3. siap gan... makasih saran dan kritiknya membangun sekali, maklum saya masih bau kencur di dunia literalisasi (kepenulisan) . sekali lagi terima kasih gan saya akan berusaha lagi ^^ #salamWriter

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!