Masa dan Manusia




Karya:  Destialova Rully Cajuizi


 “Wahai Sya’ban, sebentar lagi tugasmu selesai.” Ujarku pada Sya’ban.
Sya’ban menatap Ramadhan yang bersiap di dekatnya, “Jadi hilal sudah tampak?”
“Tentu saja sudah dari tadi. Manusia-manusia di bumi sudah berhasil melihat hilal dengan alat canggih mereka−teropong. Beberapa di antara mereka juga sudah menghitung datangnya Ramadhan jauh-jauh hari,” jelasku, “waktumu tinggal setengah jam, lalu Ramadhan masuk menggantikanmu.”


Namaku Waktu. Tubuhku tersusun dari nano sampai ultra satuan masa. Tugasku vital mutlak, tak terpisahkan dari alam semesta. Namaku disebut dalam kitab suci yang diwahyukan pada Muhammad melalui Jibril pada surat ke 103. Aku tak memiliki wujud fisik, tapi semua makhluk di alam semesta ini tahu betapa rumitnya aku untuk dikendalikan kecuali bagi mereka yang beruntung. Aku memegang kendali alam semesta, sampai Tuhan memintaku berhenti bersamaan dengan musnahnya alam semesta yang tak kutahu kapan.
Sel-sel menit dalam tubuhku bergetar, tiga puluh menit sudah. Sya’ban mundur perlahan seiring Ramadhan menyelubungiku. “Sekarang sudah Ramadhan. Setelah isya nanti para manusia bumi akan menunaikan tarawih. Kau melakukan tugasmu dengan baik, Sya’ban.”
Sya’ban mundur teratur, “Sudah kewajiban kita, Waktu. Hai kau Ramadhan, selamat bertugas ya. Kau jauh lebih penuh berkah dari pada kami. Awas saja kalau manusia-manusia itu menyia-nyiakanmu!” ujarnya diiringi senyum Ramadhan.
“Kita lihat siapa hamba-hamba Allah yang benar-benar memanfaatkan kami.” Ramadhan mulai menyelubungiku dan atmosfir angkasa dengan kemuliaannya.

oOo

“Jadi kayaknya Ramadhan ini Kakak gak di rumah, Mi.” ujarku sambil membayangkan suasana hangat Ramadhan di rumah. Makanan sahur masakan Ummi, berbagai ta’jil, suara tilawah yang menggema memenuhi rumah, hmmm jadi kangen.
Ya udah gak papa,” jawaban Ummi di seberang membuatku kaget. Jadi bukan masalah kalo anak sulungnya ini tidak berpuasa di rumah? “Jadi panitia Ramadhan dan Idul Fitri di sekolah juga ibadah, Kak. Ummi seneng kalo kamu dapat ilmu baru di Ramadhan kali ini.”
Kukira aku bakal menerima omelan karena tidak berpuasa di rumah seperti beberapa temanku yang lain. Alhamdulillah, urusan izin dipermudah Allah.
Semua berawal dari dua lembar kertas pengumuman daftar nama panitia Ramadhan dan Idul Fitri (PARTI) di sekolah (sekaligus asramaku). Namaku tertera di kolom Sie Dekdok (dekorasi dan dokumentasi) bersama beberapa anak lain dan seorang koordinator sie yang kali ini dijabat Alvin. Rapat perdana digelar, tugas kami mendesain dan mencetak banner untuk beberapa acara, mendokumentasikan kegiatan, dan mengurus dekorasi acara.
“Destia, tugasmu desain banner untuk selamat Idul Fitri dan bannerpengumuman shalat Idul Fitri. Di acara Nuzulul Qur’an kamu dokumentasikan bagian akhwat. Sebelum mendesain konsultasi sama aku dan Ustadz Muchlis ya,deadline kita tentukan pas konsultasi. Ada pertanyaan?” urai Alvin membuatku meringis, “Vin, jujur aku gak bisa make Photoshop atau Corel Draw.”
“Serius?!”
oOo
Hari pertama Ramadhan
Aku tinggal di ujung Banyuwangi tetapi memilih Malang sebagai tempat dimana kuteruskan pendidikan menengahku, baik SMP dan SMA. Aku belajar di MAN 3 Malang yang memiliki fasilitas asrama. Tentunya asrama amat membantu kami yang berasal dari luar kota. Setiap tahun, sebagian siswa ditunjuk menjadi panitia Ramadhan dan Idul Fitri. Tugasnya menghidupkan Masjid Al-Falah, menyemarakkan Ramadhan.
Sie Acara−biasanya paling sibuk− menggelar berbagai lomba untuk kalangan siswa seperti lomba TV Ads yang bertema ta’jil, hijab modification bagi siswi, kuis cerdas cermat dan juga lomba estafet tepung sambil menjawab soal-soal pelajaran. Sie Konsumsi bertugas membuat teh panas dan mengurus ta’jil untuk siswa-siswi dan musafir yang singgah di Masjid Al-Falah. Sie Kebersihan menyelesaikan persoalan gelas dan piring kotor beserta kebersihan masjid. Sie Bazis menjadi amil zakat. Sie Kesekretariatan mengurus infaq, shadaqah, dan menerima sumbangan ta’jil dari masyarakat. Sie Humas berkeliling ke rumah-rumah warga untuk meminta shadaqah seikhlasnya sambil menjelaskan program-program Ramadhan. Sie Perlengkapan dan Sie Dekdok membantu jalannya acara. Semua sie benar-benar ladang ibadah, bukan? “Kerja” akan dimulai besok. Kami siap menghidupkan Ramadhan!
“Destia, Dhita, Dianisa, ayo ke masjid sekarang. Acara sudah dimulai, ada presensi juga. Jangan lupa bawa al-Qur’an.” kata Iil, anggota Sie Acara. Setiap sore para siswa harus ke masjid untuk membaca al-Ma’tsurat dan mendengarkan kajian agama.
Kami bertiga bergegas menuju masjid dan mencari tempat yang nyaman. Ustadz Andi mengisi kajian dengan tema Puasa Ramadhan. Cukup umum, tetapi Ustadz Andi bisa menjelaskan dengan lengkap hal-hal yang jarang muslim ketahui tentang Ramadhan.
Pukul setengah enam kami naik ke lantai dua masjid untuk bersiap buka. Sie Konsumsi sudah menyiapkan piring berisi berbagai kue basah dan teh hangat. Asyik mengobrol, mu’adzin mengumandangkan azan buka pertama di bulan ini.
Dzahabat dhama’u wa abtalatil uruqu wa sabatil ajru, insha Allah.” Riuh kami semua membaca do’a berbuka. Sejurus kemudian, kami tenggelam dalam nikmatnya berbuka.
oOo
Minggu pertama Ramadhan
Berhubung jadi Sie Dekdok tidak terlalu sibuk, kuputuskan untuk “mengeksplor” seluruh sie. Sie yang pertama: Sie Konsumsi.
“Ya udah ntar sore bareng aku ke dapur.” Vina berujar setelah kuutarakan keinginanku. Asyik, nanti sore mulai membuat teh dan menyiapkan kue basah.
Sore itu aku dan sebagian anggota Sie Konsumsi merebus sepanci besar air untuk membuat teh, sebagian yang lain menyiapkan kue basah yang diletakkan di piring oval. Ribet juga memindahkan teh sebanyak itu ke masjid, tapi steering commitee dan pembimbing mensiasati urusan seperti ini dengan mengeheterogenkan tiap sie menjadi putra-putri.
Hari berikutnya aku mengeksplor Sie Humas. Kami berkeliling ke rumah-rumah warga di sekitar asrama untuk menawarkan program Ramadhan Masjid Al-Falah, salah satunya menjemput shadaqah ta’jil dari warga, atau menjemput infaq. Banyak donatur yang berminat dijemput shadaqah ta’jilnya. Dengan senang hati kami menjemput satu per satu ta’jil ke rumah donatur lalu didata oleh Sie Kesekretariatan, kemudian diserahkan pada Sie Konsumsi.

oOo

“Minggu pertama sedang giat-giatnya para manusia beribadah. Shaf-shaf shalat jamaah di masjid penuh, termasuk shaf putri. Imam-imam masjid berlomba-lomba memanjangkan bacaan shalatnya. Bagaimana menurutmu?”
“Normal. Minggu ini catatan kebaikan akan amat penuh. Omong-omong lesatan cahaya Syawal bahkan belum nampak tapi lihatlah di beberapa sudut bumi, kenapa sudah ada yang memasarkan promo-promo toko? Aku masih punya tiga minggu lebih bukan?”

oOo
Minggu kedua Ramadhan
Belajar memang butuh proses dan kesabaran. Termasuk belajar Photoshop.
Bella, adik kelasku dari Sie Bazis dengan sabar membimbingku belajar mendesain banner. Mulai dari ukuran banner yang diminta Alvin dan mencari konsep.
“Empat kali satu setengah meter.” Aku menyesuaikan ukuran. Setelah mendownload beberapa gambar contoh, aku mendapat ide untuk memberi gambar bayangan gelap masjid yang dibelakangnya terdapat purnama besar. Kira-kira akan butuh warna ungu kebiruan seperti malam-malam di Gotham City dalam film The Dark Knight Rises.
Layer yang ini diklik dulu Kak, gak bisa langsung di klik dari gambar tengah.” Kata Bella. Aku manut mendengarnya. Sering lupa untuk mengkliklayer dulu untuk mengedit. Rajin sekali kusave supaya tampak kemajuan (seenggaknya motivasi untuk diriku sendiri).
Tapi Photoshop itu membuat laptopku loading sangat lama saat saving. Sangat lama. Kutinggal mandi pun belum tersave. Aku emosi lama-lama. “Kok lama amat sih!” Aku yang bersumbu pendek dengan jengkel mancabut flashdiskdengan kasar. Kebodohan yang pertama, ah salahmu sendiri.
Akhirnya aku meminjam Macbook Firyal yang kurasa lebih sanggup ketimbang Windows.
Tanpa kenal menyerah (walaupun disisipi omelan panjang pendek) aku mengulang lagi desain banner itu. Aku sangat berhutang budi pada Bella yang begitu sabar. Proses pembuatan kedua ini terasa lebih mudah karena ide-ide sebelumnya masih menancap kuat di ingatan kami. “Tadi kan komposisi warnanya yang langit agak pudar Kak!”
“O iya, bulan yang kita bikin terang banget kan?” aku mengutak-atik kembali layer bulan.
SELESAI JUGA TUGAS MENDESAIN BANNER. Aku membalas kebaikan Bella dengan membagi snack yang kupunya untuk camilan di malam hari dan menemaninya menjaga stand Bazis. Di sela waktu jaga stand aku memberitahu Alvin tentang bannerku.
“Udah selesai? Bagus. Konsultasi yuk sama takmir, Pak Agus.” Aku bergegas mengambil laptop dan menunjukkannya ke Pak Agus, lumayan bangga dengan hasil kerja keras aku dan Bella mengingat I know nothing about Photoshop.
“Lho, kok kayak gini? Ini gelap kayak malem. Namanya Idul Fitri itu bahagia, pake warna terang kayak hijau. Ini gelap. Harusnya konsepnya jangan malam sekalipun ada bulannya. Pagi atau langit gitu lho kan terang. Coba kamu bikin lagi banner Idul Fitri tapi pake warna hijau terang. Kalo ini saya gak setuju, jangan dicetak.” Kemudian sang takmir membuat gambar kasar bannerdi kertas kosong, dan aku diminta membuat seperti itu.
Aku kecewa sekali.
oOo

“Sayang sekali! What a shame!” Ramadhan agak bersungut-sungut membuatku terkikik sedikit, “Sudah kuduga manuisa-manusia itu belum berubah!” sungutnya, “Lihatlah shaf-shaf tarawih makin lama makin maju dan masjid sepi. Tahu apa yang mereka padati sekarang?”
“Pusat perbelanjaan,” sambungku pendek. “Kira-kira separuh umat Islam di bumi tetap menjalankan rutinitas ibadahnya tanpa kendor. Eh kau belum memberitahuku kapan tepatnya malam Qadar datang! Sudah mendapat titah dari-Nya?”
“Malam ini, Waktu.” Ramadhan berbisik. “Alam akan menunjukkan pada mereka kapan masa emas itu tiba. Langit malam bersih, tiba-tiba awan berarak memadati, hujan turun.”
Entah sudah berapa kali aku berpartner dengan bulan yang satu ini tapi tiada habis kekagumanku pada malam Qadar. “Ribuan malaikat turun, mengamini jutaan do’a yang dipanjatkan manusia, didengar Tuhannya. Alangkah beruntungnya mereka yang menunggu malam ini dengan do’a, sujud panjang dan lantunan ayat suci. Lalu Tuhannya mengabulkan sebagian Ia tunda, kau tahu, Tuhan kita sebaik-baik pengatur skenario kehidupan!

oOo

Dua bannerku selesai sudah. Banner pertama (konsep malam yang aku suka diganti jadi gradasi hijau tua dan muda, yah aku menurut perintah saja), bannerkedua berwarna putih dengan refleksi burung dan pepohonan bertuliskan Selamat Idul Fitri 1434 H.
Aku sedang menemani Shofi menjaga stand bazis ketika dua teman laki-lakiku membawa sebuah benda besar terlipat yang kuduga berisi−
Banner sudah jadi.” Kata Ahmad padaku dan Shofi. Aku cengengesan, ingin melihat hasil karya Photoshop pertamaku yang akan dipasang di masjid. Beberapa anak laki-laki mengambil tangga angkut dan tali, lalu menyimpulkan tali sedemikian rupa sehingga terpasanglah banner ‘kontroversi’ antara aku dan Pak Agus. Banner kedua dipasang di atap masjid. Alhamdulillah tugas yang kukira sulit itu beres sudah.
Rencananya malam itu kami tidak tidur untuk menyiapkan shalat id. Ada banyak hal yang harus dilakukan. Jalan arteri kota Malang yaitu Jalan Bandung tengah malam itu diblokir. Sie Perlengkapan sudah menyediakan beberapa kotak kapur untuk menggarisi shaf shalat untuk para jamaah besok. Sie Konsumsi juga sudah menyiapkan makanan dan pizza untuk kami. Alhamdulillah proses persiapan berlangsung asyik. Beberapa dari kami membersihkan jalanan dengan sapu lidi, ada yang menyesuaikan garis dengan tali supaya lurus, ada pula yang mengurus sound system dan mimbar. Beberapa karpet masjid disiapkan untuk imam shalat. Malam itu Jalan Bandung semarak oleh panitia Ramadhan dan Idul Fitri. Kami tidak merasa ngantuk sama sekali.
“Eh garis shafnya miring! Ulang lagi!”
“Zehra, kamu cek sound gih.”
“Yang ini bagian putra, belakangnya kasih space baru bagian putri.”
“Semua siap.”
Tak terasa sudah pukul 3 pagi. Malam itu kurasakan Ramadhan perlahan mundur meninggalkan bumi. Kami kembali ke kamar untuk memejamkan mata sejenak, lalu mandi dan bersiap shalat id.
oOo

“Malam qadar selalu memukau, paling berkesan meski bukan diciptakan untukku.” Kataku sedikit iri, “Apa manusia benar-benar menyadari tanda-tanda yang ditunjukkan alam? Langit malam bersih, tiba-tiba berawan dan hujan. Gemas aku melihat manusia yang terlelap, bersamaan dengan iri pada mereka yang menghabiskan waktunya untuk berdiam diri.”.
“Pekerjaanmu itu ibadah, Waktu. Sepanjang umurmu kau selalu beribadah. Nikmati pekerjaanmu. Aku bersyukur manusia memanfaatkan masaku dengan antusias walaupun belum semua. Aku tak sabar datang lagi kemari.” Ia menepuk Syawal, “Selamat bertugas!”
Pelan-pelan aku merengkuh Syawal, seiring fajar terbit di sebuah kepulauan di arah Tenggara Asia. “Manusia seringkali menangis dalam sujud ketika Ramadhan meninggalkan mereka. Tidak semua, tapi tangis mereka menggetarkan hatiku.” Ceritaku pada Syawal. “Mereka juga antusias mempersiapkan kedatanganmu di hari pertama, Syawal. Pakaian baru, bertemu sanak saudara, seisi bumi-Nya melaksanakan shalat dua rakaat. Syahdu benar!”

oOo

Ini tugas terakhir, memotret pelaksanaan shalat id. Sebenarnya aku ingin shalat id, jadilah aku memotret sekedarnya lalu mengikuti pelaksanaan shalat bersama teman-teman perempuanku. Jalan Bandung diblokir resmi bahkan beberapa polisi tampak menjaga pelaksanaan shalat.
Ini pertama kalinya aku menunaikan shalat id di Malang, di Jalan Bandung yang teduh oleh pepohonan tua. Kami shalat di jalan raya, banyak jamaah yang hadir, mereka bahkan menggelar sajadah di trotoar juga.
Seusai shalat kami, para panitia harus segera membereskan perlengkapan karena jalan akan dipakai untuk aktivitas normal. Kemudian dilanjutkan dengan sarapan bersama dan menghitung hasil kotak amal yang alhamdulillah dapat buanyaaak. Terakhir, kami memperoleh amplop sebagai ‘sangu lebaran’. Hehehe, alhamdulillah.
Assalamu’alaikum Kak. Ummi, Papa dan adek sudah di depan sekolahmu lho. Kita tadi shalat id di Malang, di rumah Bude Neni. Maaf ya gak shalat id di tempat Kakak. Sudah packing kan? Yuk langsung mudik. Ummi jemput nih ke dalem ya!”
 Bergegas aku pamitan, mengucapkan terimakasih, minta maaf lahir dan batin, lalu ke asrama mengambil koper. Oh ya, mengembalikan kamera asrama ke kantor asrama juga!
“Ivan, ini mau ngembaliin kamera. Makasih. Aku pulang dulu, assalamu’alaikum.”

oOo

Aku bersyukur Ramadhan kali ini aku bisa mendapat ilmu berorganisasi dan ilmu Photoshop yang banyak. Bisa membantu menghidupkan masjid, membantu menyediakan ta’jil, menjadi amil zakat, terutama mendesain banner untuk kelancaran acara. Alhamdulillah. Oh ya, omong-omong soal tema Unexpected Ramadhan, hal yang tak diduga terjadi di akhir cerita. Kamera yang sudah aku kembalikan mendadak hilang secara misterius. Kontan saja aku panik ketika sekembalinya dari liburan teman-teman menanyakan perihal kamera padaku. Akhirnya kami berkumpul, mendengar ‘alibi’ yang kusampaikan sambil menangis karena takut, bahwa setelah kuserahkan kamera pada Ivan tanggung jawabku dengan kamera itu sudah lepas. Dari pihak Ivan mengakui bahwa kamera sudah diterima tapi entah kenapa kamera itu kemudian luput. Kami sepakat untuk iuran mengganti kamera asrama.
Kabar baiknya, Ustadzah sudah mengetahui asal-mula kamera itu hilang dan minta kami untuk tidak perlu menggantinya. Biarlah urusan kamera itu surut sendiri. Benar-benar tidak terduga kan? Hikmah dari Ramadhan amat banyak. Jangan pernah sia-siakan satu bulan mulia itu, karena siapa yang tahu umur manusia?

Komentar

share!